وَمَا هُوَ بِالْهَزْلِ

Dan ia sekali-kali bukan senda-gurau.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَمَا هُوَ بِالْهَزْلِwa-maa huwa bi-l-hazlidan ia sekali-kali bukan senda-gurau

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَمَاwa-maadan tidaklah
  2. هُوَhuwaia
  3. بِالْهَزْلِbi-l-hazlidengan senda gurau

Inti bacaan

Bantahan terhadap anggapan remeh: 'dan ia sekali-kali bukan senda-gurau', penegasan keseriusan mutlak pesan yang disampaikan, menolak segala upaya meremehkan bobotnya.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بِالْهَزْلِ, bi-l-hazli) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti senda gurau yang tak bersungguh. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Artinya perkataan yang tidak sungguh-sungguh, yaitu yang diucapkan untuk bermain-main. Bahasa Indonesia menahannya dengan "senda-gurau", dan padanan itu menjaga sisi tidak sungguh-sungguhnya. Kata ini bertakrif, sehingga yang diingkari bukan sembarang senda-gurau melainkan jenis perkataan itu sendiri.

Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang diperkuat huruf tambahan di depan kata terakhirnya. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa ia bukan senda-gurau melainkan bahwa ia sama sekali bukan. Bahasa Indonesia menahannya dengan "sekali-kali bukan", memakai dua kata untuk menahan penguatan yang sama.

Susunan 86:13 dan ayat ini bercermin dalam arah yang berlawanan. Yang di sana pernyataan yang diperkuat, dan yang di sini pengingkaran yang diperkuat. Jadi satu sifat dinyatakan dua kali: sekali dengan menyebut apa ia, dan sekali dengan menyebut apa ia bukan. Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun.

Yang diingkari juga patut dicatat. Yang diingkari bukan kepalsuan dan bukan kesia-siaan melainkan senda-gurau. Jadi yang dibantah bukan tuduhan bahwa ia dusta melainkan sangkaan bahwa ia tidak sungguh-sungguh. Kedua hal itu berbeda: yang pertama menyangkut isinya, dan yang kedua menyangkut bagaimana ia harus diterima.

Huruf ma di awal ayat huruf pengingkaran, dan huruf ba di depan kata (بِالْهَزْلِ, bi-l-hazli) huruf tambahan yang menguatkan pengingkarannya. Jadi ayat ini memikul dua penanda sekaligus, dan keduanya bekerja pada arah yang sama. Susunan penguat pengingkaran seperti itu dipakai juga di 86:10 dengan huruf yang berbeda, dan di kedua tempat itu yang ditutup seluruh kemungkinannya.

Bentuk kalimatnya memakai kata ganti yang sama dengan kata ganti di 86:13, sehingga keduanya berbicara tentang hal yang sama. Jadi dua ayat berurutan menerangkan satu hal dengan dua cara yang berlawanan, yaitu dengan menyatakan dan dengan mengingkari. Al-Qur'an tidak menyebut hal itu dengan nama di kedua ayat, dan yang menandainya cuma kata ganti yang diulang. Kata (بِالْهَزْلِ, bi-l-hazli) menjadi berita bagi kata ganti itu, sama seperti susunan di 86:13.

Kata (بِالْهَزْلِ, bi-l-hazli) berdiri sebagai lawan bagi kata di 86:13, sehingga keduanya membentuk pasangan yang berlawanan. Jadi Al-Qur'an menaruh yang memisahkan dan yang tidak sungguh-sungguh sebagai dua ujung, dan tidak ada kedudukan ketiga di antara keduanya yang disebut di dalam kedua ayat itu.

Tafsiran

Ayat ini menguatkan pernyataan di 86:13 dengan mengingkari kebalikannya, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat.

Artinya perkataan yang tidak sungguh-sungguh, yaitu yang diucapkan untuk bermain-main. Kata ini bertakrif, sehingga yang diingkari bukan sembarang senda-gurau melainkan jenis perkataan itu sendiri.

Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang diperkuat huruf tambahan di depan kata terakhirnya. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa ia bukan senda-gurau melainkan bahwa ia sama sekali bukan. Susunan 86:13 dan ayat ini bercermin dalam arah yang berlawanan: yang di sana pernyataan yang diperkuat, dan yang di sini pengingkaran yang diperkuat.

Yang diingkari juga patut dicatat. Yang diingkari bukan kepalsuan dan bukan kesia-siaan melainkan senda-gurau. Jadi yang dibantah bukan tuduhan bahwa ia dusta melainkan sangkaan bahwa ia tidak sungguh-sungguh. Kedua hal itu berbeda: yang pertama menyangkut isinya, dan yang kedua menyangkut bagaimana ia harus diterima.

Huruf di awal ayat huruf pengingkaran, dan huruf di depan kata terakhirnya huruf tambahan yang menguatkan pengingkarannya. Jadi ayat ini memikul dua penanda sekaligus, dan keduanya bekerja pada arah yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi ia sendirian dua kali: sebagai bentuk dan sebagai akar. Tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya, dan pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa yang diingkari Allah dengannya. Sesuatu yang sendirian sebagai bentuk sekaligus sebagai akar tidak punya pembanding, dan pembacanya cuma punya ayat ini untuk menimbang maksudnya.
  • Yang diingkari bukan kepalsuan dan bukan kesia-siaan melainkan senda-gurau. Jadi yang dibantah Allah bukan tuduhan bahwa ia dusta melainkan sangkaan bahwa ia tidak sungguh-sungguh. Kedua hal itu berbeda: yang pertama menyangkut isinya, dan yang kedua menyangkut bagaimana ia harus diterima oleh yang mendengarnya. Membantah sangkaan bahwa sesuatu tidak sungguh-sungguh berbeda dari membantah tuduhan bahwa ia dusta, sebab keduanya menyerang dari arah yang berlainan.
  • Susunan 86:13 dan ayat ini bercermin dalam arah yang berlawanan. Yang di sana pernyataan yang diperkuat, dan yang di sini pengingkaran yang diperkuat. Jadi satu sifat dinyatakan Allah dua kali: sekali dengan menyebut apa ia, dan sekali dengan menyebut apa ia bukan. Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu dengan satu kalimat pun. Menyatakan apa sesuatu itu lalu menyatakan apa ia bukan menutup dua arah sekaligus, dan penutupan itu dikerjakan dua ayat yang berurutan.
  • Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang diperkuat huruf tambahan di depan kata terakhirnya. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa ia bukan senda-gurau melainkan bahwa ia sama sekali bukan. Penguatan dipakai ketika ada sesuatu yang mungkin disangka, dan yang disangka di sini justru sikap yang paling ringan terhadapnya. Penguatan dipakai ketika ada sesuatu yang mungkin disangka, dan yang disangka di sini justru sikap yang paling ringan terhadap sebuah perkataan.
  • Kata terakhir bertakrif, sehingga yang diingkari bukan sembarang senda-gurau melainkan jenis perkataan itu sendiri. Jadi Allah menutup seluruh kemungkinan menerimanya sebagai perkataan yang tidak sungguh-sungguh, bukan cuma satu bentuk penerimaan tertentu. Ketertentuan pada kata yang diingkari memperluas cakupan pengingkarannya. Ketertentuan pada kata yang diingkari memperluas cakupan pengingkarannya, sebab yang ditutup jenisnya dan bukan satu bentuk penerimaan tertentu.
  • Menolak sesuatu masih berupa sikap; menganggapnya senda-gurau bahkan tidak memerlukan sikap. Apa yang lebih berbahaya bagi sebuah perkataan: ditolak dengan sungguh-sungguh, atau diterima tanpa dianggap sungguh-sungguh? Allah menutup kemungkinan yang kedua di ayat ini, dan yang pertama dijawab di dua ayat terakhir surahnya. Menolak sesuatu masih berupa sikap, dan menganggapnya senda-gurau bahkan tidak memerlukan sikap, sehingga yang kedua lebih sulit dijangkau bantahan.