إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًا
Sesungguhnya mereka merencanakan suatu tipu daya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّهُمْ يَكِيدُونَ كَيْدًاinnahum yakiiduuna kaydansesungguhnya mereka merencanakan suatu tipu daya
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
- يَكِيدُونَyakiiduunamereka membuat tipu daya
- كَيْدًاkaydantipu daya
Inti bacaan
Pengakuan adanya perlawanan terorganisir: 'sesungguhnya mereka merencanakan suatu tipu daya', pengenalan bahwa penolakan terhadap kebenaran disertai strategi aktif, bukan sekadar sikap pasif.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (يَكِيدُونَ كَيْدًا, yakiiduuna kaydan) memakai susunan yang mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda, dan susunan itu dipakai di dalam bahasa Arab untuk menegaskan. Bahasa Indonesia menahannya dengan "merencanakan suatu tipu daya", memakai kata benda yang seakar dengan kata kerjanya.
Akar (يَكِيدُونَ, yakiiduuna) berarti menyusun tipu daya. Akar itu dipakai di 29 ayat, antara lain 3:120, 7:183, 12:5, 12:28, dan 21:57. Di 12:5 dan 12:28 akar itu dipakai untuk tipu daya antarmanusia, dan di 7:183 serta 68:45 untuk tipu daya yang disandarkan kepada Allah sendiri.
Jadi akar yang sama dipakai untuk rencana manusia dan rencana Allah, dan pemakaian itu berulang di 86:15 dan 86:16 secara berurutan. Dua ayat berturut-turut memakai akar yang sama dengan susunan penegasan yang sama, dan yang berbeda cuma pelakunya. Kata (يَكِيدُونَ, yakiiduuna) di sini berpelaku mereka, dan bentuk seakarnya di 86:16 berpelaku Yang berfirman.
Kesejajaran itu yang paling perlu diperhatikan. Satu susunan dipakai dua kali, sekali untuk mereka dan sekali untuk Yang berfirman. Al-Qur'an tidak menerangkan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang diulang persis.
Kata ganti di awal ayat tidak dinamai. Tidak disebutkan siapa mereka, dan keterangannya baru terbaca dari 86:17 yang menyebut orang-orang kafir. Jadi Al-Qur'an menyebut perbuatannya lebih dulu dan menamai pelakunya belakangan, dan penundaan itu membuat perbuatannya berdiri sendiri sebelum dilekatkan kepada siapa pun. Bentuk (يَكِيدُونَ, yakiiduuna) sendiri sudah memikul pelakunya di dalam katanya, tanpa kata ganti terpisah.
Bentuk (يَكِيدُونَ, yakiiduuna) berbentuk jamak orang ketiga, sedangkan kata bendanya berbentuk tunggal. Jadi banyak pelaku disandingkan dengan satu perbuatan, dan susunan itu menyatukan seluruh rencana mereka menjadi satu perkara. Bandingkan dengan 86:16 yang memakai pelaku tunggal dengan kata benda tunggal pula. Perbedaan bilangan pelaku di dua ayat berurutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.
Kata benda di dalam (يَكِيدُونَ كَيْدًا, yakiiduuna kaydan) tidak bertakrif, sehingga yang dinyatakan jenisnya, bukan satu rencana yang sudah dikenal. Jadi pengingkaran atau pembatalan satu rencana tertentu tidak menyentuh apa yang dinyatakan di sini. Ketiadaan kata sandang pada kata benda penegas semacam ini memang lazim, dan ia menjaga pernyataannya tetap berlaku bagi semua rencana yang mana pun.
Kata (يَكِيدُونَ كَيْدًا, yakiiduuna kaydan) tidak menyebut sasaran rencananya, dan ketiadaan sasaran itu perlu dijaga. Menyisipkan kepada siapa rencana itu ditujukan akan menambah keterangan yang tidak ada di dalam Arabnya. Yang tertulis cuma bahwa mereka merencanakan, dan sasarannya dibiarkan terbuka.
Tafsiran
Ayat ini mencatat tipu daya yang direncanakan oleh orang-orang yang menolak wahyu, dan susunannya mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda. Susunan itu dipakai di dalam bahasa Arab untuk menegaskan, dan terjemahannya menahan penegasan yang sama dengan memakai kata benda yang seakar.
Akar kata kerjanya dipakai di 29 ayat, antara lain 3:120, 7:183, 12:5, 12:28, dan 21:57. Di 12:5 dan 12:28 akar itu dipakai untuk tipu daya antarmanusia, dan di 7:183 serta 68:45 untuk tipu daya yang disandarkan kepada Allah sendiri.
Jadi akar yang sama dipakai untuk rencana manusia dan rencana Allah, dan pemakaian itu berulang di ayat ini dan 86:16 secara berurutan. Dua ayat berturut-turut memakai akar yang sama dengan susunan penegasan yang sama, dan yang berbeda cuma pelakunya.
Kata ganti di awal ayat tidak dinamai. Tidak disebutkan siapa mereka, dan keterangannya baru terbaca dari 86:17 yang menyebut orang-orang kafir. Jadi Al-Qur'an menyebut perbuatannya lebih dulu dan menamai pelakunya belakangan, dan penundaan itu membuat perbuatannya berdiri sendiri sebelum dilekatkan kepada siapa pun.
Kata kerjanya berbentuk jamak orang ketiga, sedangkan kata bendanya berbentuk tunggal. Jadi banyak pelaku disandingkan dengan satu perbuatan, dan susunan itu menyatukan seluruh rencana mereka menjadi satu perkara.
Renungan dan Hikmah
- Susunan ayat ini mengulang akar kata kerjanya sebagai kata benda, dan susunan itu dipakai di dalam bahasa Arab untuk menegaskan. Pola yang sama dipakai Allah di 91:1 pada kata kerja dan kata benda yang seakar. Jadi penegasannya tidak dikerjakan dengan menambahkan kata sifat melainkan dengan mengulang akarnya sendiri. Penegasan yang dikerjakan dengan mengulang akarnya sendiri tidak menambah kata baru, dan itu membuat kalimatnya tetap pendek meskipun dikuatkan.
- Akar kata kerja di ayat ini dipakai di 29 ayat, antara lain 3:120, 7:183, 12:5, 12:28, dan 21:57. Di 12:5 dan 12:28 akar itu dipakai untuk tipu daya antarmanusia, dan di 7:183 serta 68:45 untuk tipu daya yang disandarkan kepada Allah sendiri. Jadi satu akar dipakai untuk rencana manusia dan rencana Allah. Satu akar yang dipakai untuk rencana manusia dan rencana Allah menerangkan bahwa yang membedakan keduanya bukan katanya melainkan pelakunya.
- Kata ganti di awal ayat tidak dinamai Allah. Tidak disebutkan siapa mereka, dan keterangannya baru terbaca dari 86:17 yang menyebut orang-orang kafir. Jadi Al-Qur'an menyebut perbuatannya lebih dulu dan menamai pelakunya belakangan, dan penundaan itu membuat perbuatannya berdiri sendiri sebelum dilekatkan kepada siapa pun. Menyebut perbuatan lebih dulu dan menamai pelakunya belakangan membuat perbuatannya berdiri sendiri sebelum dilekatkan kepada siapa pun.
- Allah tidak menyebutkan merencanakan apa, tidak menyebutkan terhadap siapa, dan tidak menyebutkan bagaimana. Yang disebut cuma bahwa mereka merencanakan. Sebuah pernyataan yang tidak merinci isinya tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu rencana tertentu yang sudah dibatalkan, sebab yang dinyatakan kebiasaannya, bukan satu perbuatan. Pernyataan yang tidak merinci isinya tidak bisa dibantah dengan menunjuk satu rencana tertentu, sebab yang dinyatakan kebiasaannya dan bukan satu perbuatan. Ketiadaan rincian juga membuat ayat ini tidak pernah kedaluwarsa.
- Dua ayat berturut-turut, yaitu ayat ini dan 86:16, memakai akar yang sama dengan susunan penegasan yang sama, dan yang berbeda cuma pelakunya. Kesejajaran serapat itu membuat keduanya terbaca sebagai satu pasangan. Apa yang terjadi pada sebuah rencana ketika ia berhadapan dengan rencana yang disusun dengan cara yang sama? Dua ayat berurutan yang memakai susunan sama dengan pelaku berbeda terbaca sebagai satu pasangan yang tidak bisa dibaca terpisah.
- Kata kerja di ayat ini berbentuk sekarang, sehingga yang dinyatakan sesuatu yang sedang dan terus dikerjakan, bukan sesuatu yang sekali terjadi. Bentuk yang sama dipakai di 86:16 untuk Yang berfirman. Jadi kedua rencana itu digambarkan Allah sebagai sedang berlangsung pada waktu yang sama, bukan bergantian. Bentuk sekarang menyatakan sesuatu yang sedang dan terus dikerjakan, dan pemakaiannya di dua ayat berurutan menaruh keduanya pada waktu yang sama.