وَأَكِيدُ كَيْدًا

Dan Aku pun merencanakan suatu rencana.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَأَكِيدُ كَيْدًاwa-akiidu kaydandan Aku pun merencanakan suatu rencana

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَأَكِيدُwa-akiidudan Aku membuat tipu daya
  2. كَيْدًاkaydantipu daya

Inti bacaan

Jaminan bahwa rencana jahat akan diatasi: 'dan Aku pun merencanakan suatu rencana', penggunaan kata yang sama untuk menegaskan bahwa kekuatan yang lebih besar akan mengatasi segala tipu daya, ironi bahasa yang menunjukkan keunggulan mutlak.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (وَأَكِيدُ كَيْدًا, wa-akiidu kaydan) memakai susunan yang sama persis dengan susunan di 86:15, yaitu kata kerja yang diulang akarnya sebagai kata benda. Yang berbeda cuma pelakunya: yang di sana mereka, dan yang di sini Yang berfirman.

Kesejajaran serapat itu yang paling perlu diperhatikan di dua ayat ini. Satu susunan dipakai dua kali berturut-turut untuk dua pihak yang berhadapan, dan tidak ada satu pun kata tambahan yang membedakan bobot keduanya di dalam bentuk kalimatnya. Al-Qur'an tidak menyatakan mana yang lebih kuat.

Yang menyatakan perbedaan bobotnya bukan bentuk kalimatnya melainkan siapa pelakunya. Jadi pembacanya sendiri yang harus menimbang, dan penimbangan itu tidak disediakan teksnya. Sebuah kesejajaran yang dibiarkan tanpa keterangan bekerja berbeda dari perbandingan yang dinyatakan dengan terang. Kata (أَكِيدُ, akiidu) tidak memikul satu pun tanda yang menyatakan bahwa ia lebih kuat.

Kata kerja (أَكِيدُ, akiidu) berbentuk sekarang dan berorang pertama tunggal. Ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang memakai bentuk orang pertama. Empat belas ayat sebelumnya seluruhnya berbicara tentang pihak ketiga atau memakai kata kerja pasif, dan nama Allah tidak disebut sama sekali di seluruh surahnya.

Jadi kehadiran Yang berfirman di dalam surah ini cuma ditandai dua kali: lewat kata ganti di 86:8 dan lewat bentuk orang pertama di ayat ini. Keduanya tanpa nama. Al-Qur'an tidak menyebut nama-Nya satu kali pun di dalam surah tujuh belas ayat ini, dan itu berbeda dari 91:14 yang menyebut-Nya sebagai Tuhan mereka.

Bentuk (أَكِيدُ, akiidu) berorang pertama tunggal, sedangkan kata kerja di 86:15 berorang ketiga jamak. Jadi banyak pelaku di satu sisi berhadapan dengan satu pelaku di sisi lain, dan Al-Qur'an tidak menyatakan bahwa yang banyak lebih kuat daripada yang satu. Perbandingan bilangan itu dibiarkan berdiri apa adanya, dan pembacanya sendiri yang menimbang apa artinya.

Kata benda di dalam (وَأَكِيدُ كَيْدًا, wa-akiidu kaydan) tidak bertakrif, sama seperti kata benda di 86:15. Jadi dua ayat berurutan memakai kata yang sama tanpa kata sandang, dan tidak ada satu pun tanda di dalam bentuknya yang membedakan keduanya. Kesamaan yang serapat itu membuat perbedaan kedudukan kedua pelakunya terasa lebih tajam daripada kalau dipakai dua kata yang berlainan.

Kata (وَأَكِيدُ كَيْدًا, wa-akiidu kaydan) dibuka huruf waw yang menyambungkannya kepada 86:15. Jadi kedua ayat itu satu kalimat majemuk, bukan dua kalimat yang berdiri sendiri. Huruf sambung itu yang membuat keduanya harus dibaca berurutan, dan memisahkannya akan menghilangkan pertentangan yang dibangunnya.

Akar kedua kata pokoknya berarti menyusun tipu daya. Akar itu dipakai di 29 ayat, dan dua di antaranya berturut-turut di dalam surah ini, yaitu 86:15 dan 86:16. Bentuk (أَكِيدُ, akiidu) berorang pertama, dan itu satu-satunya bentuk berorang pertama dari akar ini yang berdiri berhadapan langsung dengan bentuk berorang ketiga di ayat sebelumnya. Kedua ayat itu tidak terpisah oleh satu kata pun di antaranya.

Tafsiran

Ayat ini memakai susunan yang sama persis dengan susunan di 86:15, yaitu kata kerja yang diulang akarnya sebagai kata benda. Yang berbeda cuma pelakunya: yang di sana mereka, dan yang di sini Yang berfirman.

Kesejajaran serapat itu yang paling perlu diperhatikan di dua ayat ini. Satu susunan dipakai dua kali berturut-turut untuk dua pihak yang berhadapan, dan tidak ada satu pun kata tambahan yang membedakan bobot keduanya di dalam bentuk kalimatnya. Al-Qur'an tidak menyatakan mana yang lebih kuat.

Yang menyatakan perbedaan bobotnya bukan bentuk kalimatnya melainkan siapa pelakunya. Jadi pembacanya sendiri yang harus menimbang, dan penimbangan itu tidak disediakan teksnya. Sebuah kesejajaran yang dibiarkan tanpa keterangan bekerja berbeda dari perbandingan yang dinyatakan dengan terang.

Kata kerjanya berbentuk sekarang dan berorang pertama tunggal, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang memakai bentuk orang pertama. Empat belas ayat sebelumnya seluruhnya berbicara tentang pihak ketiga atau memakai kata kerja pasif. Jadi kehadiran Yang berfirman di dalam surah ini cuma ditandai dua kali: lewat kata ganti di 86:8 dan lewat bentuk orang pertama di ayat ini, dan keduanya tanpa nama.

Kata kerjanya berorang pertama tunggal, sedangkan kata kerja di 86:15 berorang ketiga jamak. Jadi banyak pelaku di satu sisi berhadapan dengan satu pelaku di sisi lain, dan Al-Qur'an tidak menyatakan bahwa yang banyak lebih kuat.

Renungan dan Hikmah

  • Ayat ini memakai susunan yang sama persis dengan susunan di 86:15, yaitu kata kerja yang diulang akarnya sebagai kata benda. Yang berbeda cuma pelakunya. Satu susunan dipakai Allah dua kali berturut-turut untuk dua pihak yang berhadapan, dan tidak ada satu pun kata tambahan yang membedakan bobot keduanya di dalam bentuk kalimatnya. Satu susunan yang dipakai dua kali untuk dua pihak yang berhadapan tidak menyediakan satu pun tanda di dalam bentuknya yang membedakan bobot keduanya.
  • Yang menyatakan perbedaan bobot kedua rencana itu bukan bentuk kalimatnya melainkan siapa pelakunya. Jadi pembacanya sendiri yang harus menimbang, dan penimbangan itu tidak disediakan teksnya. Sebuah kesejajaran yang dibiarkan Allah tanpa keterangan bekerja berbeda dari perbandingan yang dinyatakan dengan terang di dalam kalimat. Kesejajaran yang dibiarkan tanpa keterangan bekerja berbeda dari perbandingan yang dinyatakan dengan terang, sebab yang pertama menyerahkan penimbangannya.
  • Kata kerja di ayat ini berbentuk sekarang dan berorang pertama tunggal, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang memakai bentuk orang pertama. Empat belas ayat sebelumnya seluruhnya berbicara tentang pihak ketiga atau memakai kata kerja pasif. Jadi Allah menahan kehadiran-Nya di dalam kalimat sampai ayat keenam belas. Menahan kehadiran diri di dalam kalimat sampai ayat keenam belas membuat kemunculannya terasa berbeda dari kalau ia hadir sejak awal.
  • Kehadiran Yang berfirman di dalam surah ini cuma ditandai dua kali: lewat kata ganti di 86:8 dan lewat bentuk orang pertama di ayat ini, dan keduanya tanpa nama. Al-Qur'an tidak menyebut nama Allah satu kali pun di dalam surah tujuh belas ayat ini, dan itu berbeda dari 91:14 yang menyebut-Nya sebagai Tuhan mereka. Menghadirkan tanpa menamai berlaku di seluruh surah ini, dan itu berbeda dari surah lain yang menyebut nama-Nya di dalam ayat penutupnya.
  • Kata kerja di ayat ini dan di 86:15 keduanya berbentuk sekarang, sehingga kedua rencana itu digambarkan Allah sebagai sedang berlangsung pada waktu yang sama, bukan bergantian. Apa yang dirasakan seseorang yang mengetahui bahwa rencananya berjalan berdampingan dengan rencana yang lain sepanjang waktu? Dua perbuatan yang berjalan berdampingan sepanjang waktu berbeda dari dua perbuatan yang bergantian, dan bentuk katanya yang menyatakan perbedaan itu.
  • Yang dikerjakan mereka dijawab dengan kata yang sama persis, bukan dengan kata yang lebih keras. Jadi Allah tidak memakai bahasa yang berbeda untuk menyatakan tindakan-Nya sendiri. Kesamaan kata itu membuat perbedaan kedudukan keduanya terasa lebih tajam daripada kalau dipakai dua kata yang berlainan bobotnya. Memakai kata yang sama persis untuk menjawab membuat perbedaan kedudukan kedua pelakunya terasa lebih tajam daripada memakai dua kata berlainan.