بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Tuhanmu yang tertinggi,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَىsabbihi sma rabbika l-a'laasucikanlah nama Tuhanmu yang tertinggi

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. سَبِّحِsabbihibertasbihlah
  2. اسْمَsmanama
  3. رَبِّكَrabbikaTuhanmu
  4. الْأَعْلَىl-a'laaYang Mahatinggi

Inti bacaan

Pembukaan Al-A'la dengan perintah ibadah langsung: 'sucikanlah nama Tuhanmu Yang Paling Tinggi', instruksi konkret yang membuka surah, penegasan keagungan tertinggi sebagai fondasi bagi seluruh ajaran yang akan menyusul.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kata (الْأَعْلَى, al-a'laa) berbentuk elatif bertakrif dan diterjemahkan dengan huruf kecil sebagai "yang tertinggi", bukan bentuk berawalan superlatif yang terlarang pada draf. Bentuk elatif adalah kategori gramatikal yang terpisah dari siighat mubaalaghah yang mendapat "Sang X", dan acuannya sama dengan a'lamu yang menjadi "yang paling mengetahui" di 74:20 serta al-matsalu l-a'laa yang menjadi "sifat yang tertinggi" di 16:60 dan 30:27.

Kata (الْأَعْلَى, al-a'laa) sendiri muncul 9 kali di 9 surah, yaitu di 16:60, 20:68, 30:27, 37:8, 38:69, 53:7, 79:24, 87:1, dan 92:20. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 92:20 memakainya untuk menutup surah, sedangkan 87:1 memakainya untuk membuka. Jadi satu kata berdiri di dua ujung yang berlawanan di dua surah yang berdekatan.

Rangkaian (اسْمَ رَبِّكَ, isma rabbika) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 73:8, 76:25, dan 87:1. Di ketiga tempat itu yang diperintahkan menyebut atau mengingat nama-Nya, bukan menyebut Dia sendiri. Perbedaan itu perlu dijaga: yang disebut namanya, dan namanya berdiri sebagai perantara antara yang menyebut dan Yang disebut.

Kata kerja (سَبِّحِ, sabbihi) berasal dari akar yang berarti menyucikan. Akar itu dipakai di 87 ayat, antara lain 2:30, 17:44, 57:1, 59:24, dan 62:1. Bentuknya bentuk perintah kepada orang kedua tunggal, dan pola ini juga dipakai di 110:3 dan 56:74. Jadi perintah menyucikan itu bukan susunan yang berdiri sendiri melainkan salah satu dari sederet perintah yang memakai rangka yang sama.

Susunan surah ini juga patut dicatat. Kata (اسْمَ رَبِّكَ, isma rabbika) di ayat ini bersaudara dengan rangkaian di 87:15 yang memakai kata ganti orang ketiga, dan bentuk yang di sana tidak punya pembanding di tempat lain. Jadi satu rangkaian dipakai dua kali di dalam satu surah dengan dua kata ganti yang berbeda: yang pertama menyapa langsung, dan yang kedua menyebut pihak ketiga.

Bentuk (الْأَعْلَى, al-a'laa) melekat pada kata untuk Tuhan, bukan pada kata untuk nama. Jadi yang tertinggi Tuhannya, bukan nama-Nya. Perbedaan itu terbawa di dalam baris katanya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan. Bahasa Indonesia menahannya dengan menaruh keterangan itu langsung sesudah kata untuk Tuhan, mengikuti urutan yang tertulis.

Seluruh sembilan belas ayat surah ini berakhir dengan bunyi a panjang, dan delapan belas di antaranya ditulis dengan alif maqsura seperti pada (الْأَعْلَى, al-a'laa). Cuma 87:16 yang ditulis dengan alif biasa. Jadi rima surahnya tidak terputus satu ayat pun, dan keseragaman itu tidak dinyatakan dengan satu kata pun di dalam teksnya.

Bentuk kata kerja di awal ayat berpola kedua, sehingga (سَبِّحِ, sabbihi) berarti menyatakan Dia bersih dari kekurangan, bukan membuat-Nya menjadi bersih. Perbedaan itu perlu dijaga: yang disucikan bukan Tuhannya melainkan pengakuan tentang Dia di dalam diri yang mengucapkannya, sebab yang tidak berkekurangan tidak perlu dibersihkan oleh siapa pun.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan perintah menyucikan nama Tuhan yang tertinggi, dan kata terakhirnya muncul 9 kali di 9 surah, yaitu di 16:60, 20:68, 30:27, 37:8, 38:69, 53:7, 79:24, 87:1, dan 92:20.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 92:20 memakainya untuk menutup surah, sedangkan ayat ini memakainya untuk membuka. Jadi satu kata berdiri di dua ujung yang berlawanan di dua surah yang berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Rangkaian yang menyebut nama Tuhan muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 73:8, 76:25, dan 87:1. Di ketiga tempat itu yang diperintahkan menyebut atau mengingat nama-Nya, bukan menyebut Dia sendiri. Perbedaan itu perlu dijaga: yang disebut namanya, dan namanya berdiri sebagai perantara antara yang menyebut dan Yang disebut.

Susunan surah ini juga patut dicatat. Rangkaian di ayat ini bersaudara dengan rangkaian di 87:15 yang memakai kata ganti orang ketiga, dan bentuk yang di sana tidak punya pembanding di tempat lain. Jadi satu rangkaian dipakai dua kali di dalam satu surah dengan dua kata ganti yang berbeda: yang pertama menyapa langsung, dan yang kedua menyebut pihak ketiga yang tidak dinamai.

Seluruh sembilan belas ayat surah ini berakhir dengan bunyi a panjang, dan delapan belas di antaranya ditulis dengan alif maqsura. Cuma 87:16 yang ditulis dengan alif biasa. Jadi rima surahnya tidak terputus satu ayat pun, dan keseragaman itu tidak dinyatakan dengan satu kata pun di dalam teksnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhir ayat ini muncul 9 kali di 9 surah, yaitu di 16:60, 20:68, 30:27, 37:8, 38:69, 53:7, 79:24, 87:1, dan 92:20. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 92:20 memakainya untuk menutup surah, sedangkan ayat ini memakainya untuk membuka. Jadi satu kata yang menerangkan Allah berdiri di dua ujung yang berlawanan di dua surah yang berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Sebuah kata yang membuka satu surah dan menutup surah lain menandai keduanya sebagai satu pasangan tanpa satu kalimat pun yang menyatakannya.
  • Rangkaian yang menyebut nama Tuhan muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 73:8, 76:25, dan 87:1. Di ketiga tempat itu yang diperintahkan menyebut atau mengingat nama-Nya, bukan menyebut Dia sendiri. Perbedaan itu perlu dijaga: yang disebut namanya, dan nama itu berdiri sebagai perantara antara yang menyebut dan Allah yang disebut, sehingga perintahnya bisa dikerjakan tanpa mengaku menjangkau-Nya. Perantara semacam itu menjaga agar yang menyebut tidak mengaku sampai kepada yang disebut, dan penjagaan itu terbawa di dalam susunan katanya sendiri.
  • Kata terakhirnya berbentuk elatif bertakrif dan diterjemahkan dengan huruf kecil, bukan sebagai nama. Bentuk elatif kategori gramatikal yang terpisah dari bentuk yang mendapat sebutan Sang, dan acuannya sama dengan a'lamu yang menjadi yang paling mengetahui di 74:20 serta al-matsalu l-a'laa yang menjadi sifat yang tertinggi di 16:60 dan 30:27. Jadi yang dinyatakan sifat Allah, bukan salah satu nama-Nya. Membedakan sifat dari nama bukan kerewelan tata bahasa: ia menentukan apakah yang tertulis menerangkan Dia atau justru menamai-Nya dengan sebutan baru.
  • Kata sifat di ujung ayat melekat pada kata untuk Tuhan, bukan pada kata untuk nama. Jadi yang tertinggi Allah sendiri, bukan sebutan-Nya. Perbedaan itu terbawa di dalam baris katanya dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan. Terjemahannya menahannya dengan menaruh keterangan itu langsung sesudah kata untuk Tuhan, mengikuti urutan yang tertulis alih-alih memindahkannya ke tempat lain. Menaruh keterangan pada tempat yang tepat menjaga agar yang diterangkan tidak bergeser dari Yang dimaksud kepada sebutan yang dipakai untuk-Nya.
  • Akar kata kerjanya dipakai di 87 ayat, antara lain 2:30, 17:44, 57:1, 59:24, dan 62:1. Di 17:44 dan 57:1 akar itu dipakai untuk seluruh isi langit dan bumi yang menyucikan Allah tanpa dikecualikan satu pun. Jadi perintah di ayat ini menyuruh seseorang mengerjakan apa yang menurut ayat-ayat itu sudah dikerjakan segala sesuatu di sekelilingnya. Sebuah perintah yang menyuruh mengerjakan apa yang sudah dikerjakan segala sesuatu menaruh yang diperintah di barisan yang sudah berjalan lebih dulu.
  • Rangkaian di ayat ini bersaudara dengan rangkaian di 87:15 yang memakai kata ganti orang ketiga, dan bentuk yang di sana tidak punya pembanding di tempat lain. Jadi Allah memakai satu rangkaian dua kali di dalam satu surah dengan dua kata ganti yang berbeda: yang pertama menyapa langsung, dan yang kedua menyebut pihak ketiga. Apa yang berubah pada sebuah perintah ketika ia diulang sebagai cerita tentang orang lain yang sudah mengerjakannya? Melihat orang lain sudah menunaikan sebuah perintah bekerja berbeda dari sekadar mendengar perintahnya, dan surah ini menyediakan keduanya sekaligus.