بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى

Sucikanlah nama Tuhanmu yang tertinggi,

Terjemahan bertahap (1 jeda)
  1. سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَىsabbihi sma rabbika l-a'laasucikanlah nama Tuhanmu yang tertinggi
Catatan pilihan kata (ringkas)

keluarga kbr/Elw: sebutan per takrif corpus ('besar'/'tinggi'; Sang bila takrif); istakbara diterjemahkan 'menyombongkan diri' & ta'aalaa (doksologi) passthrough; per kelas morfologi; pasangan belum-dibedah dipertahankan sementara. Konvensi kbr/Elw: kabiir diterjemahkan 'besar' (takrif 'Sang Besar'), aliyy diterjemahkan 'tinggi' (takrif 'Sang Tinggi'); formula al-'aliyyu l-kabiir diterjemahkan 'Sang Tinggi lagi Sang Besar' (22:62 dst.), kini beda dari al-'aliyyu l-'azhiim 2:255 'Sang Tinggi lagi Sang Agung'. Registri ukuran: besar=kabiir, agung='azhiim, tinggi='aliyy, luhur=majiid, mulia=kariim, digdaya='aziiz. ta'aalaa/muta'aal & hukm = sub-putusan pending. Lih.. of saghiir, but see azhiim'; keluarga memuat 'the greatest, or oldest, ancestor' (cabang usia). aliyy (-l-w): tinggi/exalted; a'laa = elatif. ⟶ سبح: verba sabbaha di ayat ini (berobjek langsung; corpus sabbih + objek langsung), beda dari 27 ayat lain yang memakai bentuk *li-* (mis. 57:1 *sabbaha -llaahi*, intransitif). Karena 'bertasbih' dalam bahasa Indonesia INTRANSITIF (bertasbih, tak bisa berobjek langsung), rendering di sini terpaksa berbeda: 'Sucikanlah nama Tuhanmu'. Ini kendala TATA BAHASA, bukan pelunakan makna, konvensi verba sabbaha diterjemahkan 'bertasbih' (putusan doksologi 18 Jul) tetap berlaku di 27 ayat intransitif; nomina subhaan diterjemahkan 'Mahasuci' (23/23). Ditemukan lewat detektor penyimpangan-terisolasi, lalu diverifikasi ke sintaksis corpus (18 Jul). ⚠ Pilihan kata untuk kasus transitif ini (menyucikan vs alternatif yang mempertahankan keluarga tasbih) = keputusan terbuka Pak FD.

Aplikasi

Pembukaan Al-A'la dengan perintah ibadah langsung: 'sucikanlah nama Tuhanmu Yang Paling Tinggi', instruksi konkret yang membuka surah, penegasan keagungan tertinggi sebagai fondasi bagi seluruh ajaran yang akan menyusul.