Ayat 87:2

الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ

Yang menciptakan lalu menyempurnakan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰalladzii khalaqa fa-sawwaayang menciptakan lalu menyempurnakan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. الَّذِيalladziiyang
  2. خَلَقَkhalaqamenciptakan
  3. فَسَوَّىٰfa-sawwaalalu menyempurnakan

Inti bacaan

Kualitas penciptaan yang sempurna: 'yang menciptakan lalu menyempurnakan', dua tahap yang menegaskan proses yang teliti, bukan penciptaan kasar tanpa penyelesaian.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (فَسَوَّىٰ, fa-sawwaa) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 75:38 dan 87:2. Di 75:38 tertulis rangkaian yang sama persis, dan di sana pun ia berada sesudah penyebutan penciptaan. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Akar (فَسَوَّىٰ, fa-sawwaa) berarti meratakan sampai pas. Akar itu dipakai di 80 ayat, antara lain 2:29, 32:9, 38:72, 82:7, dan 91:7. Di 82:7 dan 91:7 akar itu dipakai untuk penyempurnaan bentuk manusia dan jiwanya. Jadi akar yang sama menyebut penyempurnaan tubuh, penyempurnaan jiwa, dan di sini penyempurnaan segala yang diciptakan.

Huruf fa di depan (فَسَوَّىٰ, fa-sawwaa) menyatakan urutan yang rapat, bukan sekadar penyambungan. Jadi yang dinyatakan bahwa penyempurnaan itu menyusul penciptaan tanpa jeda. Susunan yang sama dipakai lagi di 87:3 dan 87:5, sehingga tiga ayat berurutan di surah ini memakai huruf yang sama untuk menyatakan urutan yang rapat.

Kata kerja (خَلَقَ, khalaqa) tidak menyebut objeknya, dan ketiadaan objek itu perlu dijaga. Menyisipkan apa yang diciptakan akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis ciptaan saja. Yang tertulis cuma bahwa Dia menciptakan, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya sendiri.

Kata sambung (الَّذِي, alladzii) di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata untuk Tuhan di 87:1. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan dari ayat sebelumnya. Bentuk yang sama diulang di 87:3, 87:4, dan 87:12, sehingga empat ayat di surah ini dibuka dengan kata sambung yang sama.

Bentuk kata kerja di ayat ini berbentuk lampau, sedangkan perintah di 87:1 berbentuk sekarang. Jadi yang diperintahkan berlangsung sekarang, dan alasannya sudah selesai terjadi. Susunan yang menaruh perintah lebih dulu dan alasannya belakangan dipakai juga di 96:1 sampai 96:2, dan di kedua tempat itu alasannya penciptaan. Bentuk (خَلَقَ, khalaqa) menyatakan perbuatan yang sudah selesai, dan itu berlaku bagi kedua kata kerjanya.

Kata (خَلَقَ, khalaqa) berbentuk lampau berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Jadi tidak ada tambahan huruf yang menyatakan kesungguhan atau pengulangan. Bandingkan dengan bentuk berpola kedua di 87:3 dan bentuk berpola keempat di 87:4, sehingga tiga ayat berurutan memakai tiga pola yang menaik.

Rangkaian dua kata kerja di ayat ini sama panjangnya dengan rangkaian di 87:3, dan keduanya memakai huruf penghubung yang sama. Bentuk (فَسَوَّىٰ, fa-sawwaa) menutup ayat ini persis seperti kata kerja kedua menutup ayat berikutnya. Jadi dua ayat berurutan dibangun dengan rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma isi kedua kata kerjanya.

Tafsiran

Ayat ini merinci sifat Tuhan sebagai pencipta yang menyempurnakan ciptaan-Nya, dan kata kerja terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 75:38 dan 87:2.

Akarnya dipakai di 80 ayat, antara lain 2:29, 32:9, 38:72, 82:7, dan 91:7. Di 82:7 dan 91:7 akar itu dipakai untuk penyempurnaan bentuk manusia dan jiwanya. Jadi akar yang sama menyebut penyempurnaan tubuh, penyempurnaan jiwa, dan di sini penyempurnaan segala yang diciptakan.

Kata kerja pertamanya tidak menyebut objeknya, dan ketiadaan objek itu perlu dijaga. Menyisipkan apa yang diciptakan akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis ciptaan saja. Yang tertulis cuma bahwa Dia menciptakan, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya sendiri.

Kata sambung di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata untuk Tuhan di 87:1. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan dari ayat sebelumnya. Bentuk yang sama diulang di 87:3, 87:4, dan 87:12, sehingga empat ayat di surah ini dibuka dengan kata sambung yang sama dan seluruhnya menerangkan satu pihak.

Kata kerja pertamanya berbentuk lampau berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Bandingkan dengan bentuk berpola kedua di 87:3 dan bentuk berpola keempat di 87:4, sehingga tiga ayat berurutan memakai tiga pola yang menaik bobotnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja terakhir ayat ini muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 75:38 dan 87:2. Di 75:38 tertulis rangkaian yang sama persis, dan di sana pun ia berada sesudah penyebutan penciptaan. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Yang menyambungkannya cuma bentuk yang diulang tanpa diubah. Dua surah yang memakai pasangan kata yang sama tanpa saling menyebut meninggalkan penimbangannya kepada pembaca yang menemukan keduanya sendiri.
  • Akar kata kerja terakhirnya dipakai di 80 ayat, antara lain 2:29, 32:9, 38:72, 82:7, dan 91:7. Di 82:7 dan 91:7 akar itu dipakai Allah untuk penyempurnaan bentuk manusia dan jiwanya. Jadi akar yang sama menyebut penyempurnaan tubuh, penyempurnaan jiwa, dan di sini penyempurnaan segala yang diciptakan tanpa disebut apa saja isinya. Satu akar yang menyempurnakan tubuh, jiwa, dan segala ciptaan menerangkan bahwa penyempurnaan itu satu perbuatan, bukan tiga yang kebetulan senama.
  • Kata kerja pertamanya tidak menyebut objeknya, dan ketiadaan objek itu perlu dijaga. Menyisipkan apa yang diciptakan akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis ciptaan saja. Yang tertulis cuma bahwa Allah menciptakan, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya sendiri, sehingga tidak ada satu pun yang bisa mengaku berada di luarnya. Sebuah pernyataan yang tidak menyebut objeknya tidak bisa dipersempit tanpa menambahkan sesuatu yang tidak tertulis di dalamnya.
  • Huruf di depan kata kerja terakhir menyatakan urutan yang rapat, bukan sekadar penyambungan. Jadi yang dinyatakan bahwa penyempurnaan itu menyusul penciptaan tanpa jeda. Susunan yang sama dipakai Allah lagi di 87:3 dan 87:5, sehingga tiga ayat berurutan di surah ini memakai huruf yang sama untuk menyatakan urutan yang rapat. Urutan yang rapat tanpa jeda berbeda dari urutan yang berjarak, dan surah ini memakai kedua-duanya di tempat yang berlainan.
  • Kata sambung di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata untuk Tuhan di 87:1. Bentuk yang sama diulang di 87:3, 87:4, dan 87:12, sehingga empat ayat di surah ini dibuka dengan kata sambung yang sama. Tiga yang pertama menerangkan Allah, dan yang keempat menerangkan orang yang paling celaka, sehingga satu bentuk dipakai untuk dua pihak yang berlawanan. Satu bentuk yang dipakai untuk dua pihak yang berlawanan menuntut pembacanya memperhatikan isinya, bukan cuma rangka kalimatnya.
  • Bentuk kata kerja di ayat ini lampau, sedangkan perintah di 87:1 berbentuk sekarang. Jadi yang diperintahkan Allah berlangsung sekarang, dan alasannya sudah selesai terjadi. Susunan yang menaruh perintah lebih dulu dan alasannya belakangan dipakai juga di 96:1 sampai 96:2. Apa yang lebih menggerakkan seseorang: perintah yang beralasan, atau perintah yang alasannya disebut sesudahnya? Alasan yang datang sesudah perintah menuntut pembacanya menahan pertanyaan sejenak, dan penahanan itu bagian dari cara susunannya bekerja.

Ayat 87:3

وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ

Yang menentukan kadar dan memberi petunjuk,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰwa-lladzii qaddara fa-hadaayang menentukan kadar dan memberi petunjuk

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالَّذِيwa-lladziidan yang
  2. قَدَّرَqaddaradia menetapkan
  3. فَهَدَىٰfa-hadaalalu memberi petunjuk

Inti bacaan

Perencanaan dan pemberian arah: 'yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk', kombinasi penetapan proporsi setiap makhluk sekaligus penyediaan arah bagi mereka, desain yang tidak meninggalkan sesuatu tanpa tujuan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung "(masing-masing)" tidak dipakai. Kalimat ini lanjutan apositif dari 87:2, dan menyisipkan kata yang membagi-bagi objeknya akan menambah keterangan yang tidak ada di dalam Arabnya. Rangkaian (قَدَّرَ فَهَدَىٰ, qaddara fa-hadaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada satu pun tempat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Akar (قَدَّرَ, qaddara) berarti mengukur dan menentukan. Akar itu dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 41:10, dan 80:19. Di 25:2 dan 80:19 akar itu dipakai untuk penentuan ukuran atas ciptaan, dan di 6:96 untuk penentuan peredaran matahari dan bulan. Jadi akar yang sama menyebut ukuran benda langit dan ukuran manusia.

Akar (فَهَدَىٰ, fa-hadaa) berarti menunjukkan jalan. Akar itu dipakai di 268 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa di sebagian besar pemakaiannya akar itu menyebut petunjuk kepada jalan yang benar, antara lain di 1:6, 2:2, dan 6:88, sedangkan di sini objeknya tidak disebut sama sekali.

Ketiadaan objek pada kedua kata kerja itu patut dicatat. Tidak disebut menentukan ukuran apa, dan tidak disebut memberi petunjuk kepada siapa. Jadi ayat ini sejajar dengan 87:2 yang juga tidak menyebut objek. Dua ayat berurutan karena itu sama-sama membiarkan cakupannya terbuka, dan Al-Qur'an tidak menutupnya dengan satu kata pun. Kata (قَدَّرَ, qaddara) pun tidak diikuti kata benda yang menerangkan apa yang diukurnya.

Huruf fa di depan (فَهَدَىٰ, fa-hadaa) menyatakan urutan yang rapat, sama seperti huruf yang sama di 87:2. Jadi petunjuk itu menyusul penentuan ukuran tanpa jeda, dan susunan sebab akibat itu terbawa di dalam satu huruf. Bahasa Indonesia menahannya dengan kata sambung sederhana, mengikuti kependekan yang sama.

Bentuk kedua kata kerja di ayat ini berbentuk lampau, sama seperti bentuk di 87:2. Jadi empat kata kerja di dua ayat berurutan seluruhnya menyebut perbuatan yang sudah selesai. Rangkaian sifat yang seluruhnya berbentuk lampau itu berhenti di 87:5, dan mulai 87:6 surahnya berpindah kepada bentuk yang menyebut apa yang akan datang. Bentuk (فَهَدَىٰ, fa-hadaa) menutup rangkaian itu dengan bentuk yang sama seperti pembukanya.

Bentuk (قَدَّرَ, qaddara) berpola kedua, sehingga ia menyatakan pekerjaan yang dikerjakan berulang atau dengan sungguh-sungguh. Bandingkan dengan bentuk berpola pertama di 87:2 yang paling sederhana. Jadi dua ayat berurutan memakai dua pola yang berbeda bobotnya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun.

Kata (فَهَدَىٰ, fa-hadaa) berbentuk lampau berpola pertama, sehingga di dalam satu ayat berdiri satu kata kerja berpola kedua dan satu berpola pertama. Susunan yang menaruh dua pola berbeda berdampingan itu berulang di 87:4 dan 87:5, sehingga empat ayat berurutan sama-sama memasangkan dua bentuk yang tidak sederajat.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan sifat Tuhan yang menentukan ukuran dan memberi petunjuk, dan rangkaiannya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada satu pun tempat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.

Akar kata kerja pertamanya dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 41:10, dan 80:19. Di 25:2 dan 80:19 akar itu dipakai untuk penentuan ukuran atas ciptaan, dan di 6:96 untuk penentuan peredaran matahari dan bulan.

Akar kata kerja keduanya dipakai di 268 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menyebut petunjuk kepada jalan yang benar, antara lain di 1:6, 2:2, dan 6:88, sedangkan di sini objeknya tidak disebut sama sekali.

Ketiadaan objek pada kedua kata kerja itu patut dicatat. Tidak disebut menentukan ukuran apa, dan tidak disebut memberi petunjuk kepada siapa. Jadi ayat ini sejajar dengan 87:2 yang juga tidak menyebut objek. Dua ayat berurutan karena itu sama-sama membiarkan cakupannya terbuka, dan Al-Qur'an tidak menutupnya dengan satu kata pun.

Kata kerja pertamanya berpola kedua, sehingga ia menyatakan pekerjaan yang dikerjakan berulang atau dengan sungguh-sungguh, sedangkan kata kerja keduanya berpola pertama. Jadi satu ayat memuat dua pola yang berbeda bobotnya, dan susunan itu berulang di 87:4 dan 87:5.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata kerja di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada satu pun tempat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya. Pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa hubungan antara menentukan ukuran dan memberi petunjuk, dan Allah tidak menyediakan satu kalimat pun yang menerangkan hubungan itu. Sesuatu yang cuma muncul sekali tidak bisa diterangkan dengan membandingkannya, dan pembacanya harus menimbangnya dari susunannya sendiri.
  • Akar kata kerja pertamanya dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 41:10, dan 80:19. Di 25:2 dan 80:19 akar itu dipakai Allah untuk penentuan ukuran atas ciptaan, dan di 6:96 untuk penentuan peredaran matahari dan bulan. Jadi akar yang sama menyebut ukuran benda langit dan ukuran manusia, dan keduanya sama-sama ditentukan. Ukuran yang ditentukan pada benda langit dan pada manusia sama-sama tidak dipilih sendiri oleh yang menerimanya. Ketiadaan keterangan di sini bukan kekurangan melainkan pilihan yang menjaga cakupannya.
  • Akar kata kerja keduanya dipakai di 268 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut petunjuk kepada jalan yang benar, antara lain di 1:6, 2:2, dan 6:88. Di ayat ini objeknya tidak disebut sama sekali, sehingga yang dinyatakan Allah bukan petunjuk kepada satu jalan tertentu melainkan pemberian petunjuk itu sendiri sebagai sifat. Petunjuk yang disebut tanpa tujuan tertentu berlaku lebih luas daripada petunjuk yang dibatasi kepada satu jalan yang dinamai.
  • Allah tidak menyebutkan menentukan ukuran apa, dan tidak menyebutkan memberi petunjuk kepada siapa. Jadi ayat ini sejajar dengan 87:2 yang juga tidak menyebut objek. Dua ayat berurutan karena itu sama-sama membiarkan cakupannya terbuka. Apa yang hilang dari sebuah pernyataan ketika seseorang mempersempitnya kepada satu jenis yang paling mudah ia bayangkan? Mempersempit sebuah pernyataan kepada yang paling mudah dibayangkan adalah cara paling cepat kehilangan sebagian isinya.
  • Huruf di depan kata kerja kedua menyatakan urutan yang rapat, sama seperti huruf yang sama di 87:2. Jadi petunjuk itu menyusul penentuan ukuran tanpa jeda, dan susunan sebab akibat itu terbawa di dalam satu huruf. Allah menaruh ukuran lebih dulu dan petunjuk sesudahnya, dan urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Menaruh ukuran lebih dulu dan petunjuk sesudahnya menyatakan bahwa yang kedua bekerja di atas yang pertama, bukan menggantikannya.
  • Bentuk kedua kata kerja di ayat ini lampau, sama seperti bentuk di 87:2. Jadi empat kata kerja di dua ayat berurutan seluruhnya menyebut perbuatan Allah yang sudah selesai. Rangkaian sifat yang seluruhnya berbentuk lampau itu berhenti di 87:5, dan mulai 87:6 surahnya berpindah kepada bentuk yang menyebut apa yang akan datang. Perbuatan yang seluruhnya sudah selesai tidak menunggu persetujuan siapa pun, dan bentuk lampau yang berulang itu menyatakannya tanpa satu kata tambahan.