الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰ

Yang menciptakan lalu menyempurnakan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّىٰalladzii khalaqa fa-sawwaayang menciptakan lalu menyempurnakan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. الَّذِيalladziiyang
  2. خَلَقَkhalaqamenciptakan
  3. فَسَوَّىٰfa-sawwaalalu menyempurnakan

Inti bacaan

Kualitas penciptaan yang sempurna: 'yang menciptakan lalu menyempurnakan', dua tahap yang menegaskan proses yang teliti, bukan penciptaan kasar tanpa penyelesaian.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (فَسَوَّىٰ, fa-sawwaa) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 75:38 dan 87:2. Di 75:38 tertulis rangkaian yang sama persis, dan di sana pun ia berada sesudah penyebutan penciptaan. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Akar (فَسَوَّىٰ, fa-sawwaa) berarti meratakan sampai pas. Akar itu dipakai di 80 ayat, antara lain 2:29, 32:9, 38:72, 82:7, dan 91:7. Di 82:7 dan 91:7 akar itu dipakai untuk penyempurnaan bentuk manusia dan jiwanya. Jadi akar yang sama menyebut penyempurnaan tubuh, penyempurnaan jiwa, dan di sini penyempurnaan segala yang diciptakan.

Huruf fa di depan (فَسَوَّىٰ, fa-sawwaa) menyatakan urutan yang rapat, bukan sekadar penyambungan. Jadi yang dinyatakan bahwa penyempurnaan itu menyusul penciptaan tanpa jeda. Susunan yang sama dipakai lagi di 87:3 dan 87:5, sehingga tiga ayat berurutan di surah ini memakai huruf yang sama untuk menyatakan urutan yang rapat.

Kata kerja (خَلَقَ, khalaqa) tidak menyebut objeknya, dan ketiadaan objek itu perlu dijaga. Menyisipkan apa yang diciptakan akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis ciptaan saja. Yang tertulis cuma bahwa Dia menciptakan, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya sendiri.

Kata sambung (الَّذِي, alladzii) di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata untuk Tuhan di 87:1. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan dari ayat sebelumnya. Bentuk yang sama diulang di 87:3, 87:4, dan 87:12, sehingga empat ayat di surah ini dibuka dengan kata sambung yang sama.

Bentuk kata kerja di ayat ini berbentuk lampau, sedangkan perintah di 87:1 berbentuk sekarang. Jadi yang diperintahkan berlangsung sekarang, dan alasannya sudah selesai terjadi. Susunan yang menaruh perintah lebih dulu dan alasannya belakangan dipakai juga di 96:1 sampai 96:2, dan di kedua tempat itu alasannya penciptaan. Bentuk (خَلَقَ, khalaqa) menyatakan perbuatan yang sudah selesai, dan itu berlaku bagi kedua kata kerjanya.

Kata (خَلَقَ, khalaqa) berbentuk lampau berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Jadi tidak ada tambahan huruf yang menyatakan kesungguhan atau pengulangan. Bandingkan dengan bentuk berpola kedua di 87:3 dan bentuk berpola keempat di 87:4, sehingga tiga ayat berurutan memakai tiga pola yang menaik.

Rangkaian dua kata kerja di ayat ini sama panjangnya dengan rangkaian di 87:3, dan keduanya memakai huruf penghubung yang sama. Bentuk (فَسَوَّىٰ, fa-sawwaa) menutup ayat ini persis seperti kata kerja kedua menutup ayat berikutnya. Jadi dua ayat berurutan dibangun dengan rangka yang sama persis, dan yang berbeda cuma isi kedua kata kerjanya.

Tafsiran

Ayat ini merinci sifat Tuhan sebagai pencipta yang menyempurnakan ciptaan-Nya, dan kata kerja terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 75:38 dan 87:2.

Akarnya dipakai di 80 ayat, antara lain 2:29, 32:9, 38:72, 82:7, dan 91:7. Di 82:7 dan 91:7 akar itu dipakai untuk penyempurnaan bentuk manusia dan jiwanya. Jadi akar yang sama menyebut penyempurnaan tubuh, penyempurnaan jiwa, dan di sini penyempurnaan segala yang diciptakan.

Kata kerja pertamanya tidak menyebut objeknya, dan ketiadaan objek itu perlu dijaga. Menyisipkan apa yang diciptakan akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis ciptaan saja. Yang tertulis cuma bahwa Dia menciptakan, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya sendiri.

Kata sambung di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata untuk Tuhan di 87:1. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan dari ayat sebelumnya. Bentuk yang sama diulang di 87:3, 87:4, dan 87:12, sehingga empat ayat di surah ini dibuka dengan kata sambung yang sama dan seluruhnya menerangkan satu pihak.

Kata kerja pertamanya berbentuk lampau berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Bandingkan dengan bentuk berpola kedua di 87:3 dan bentuk berpola keempat di 87:4, sehingga tiga ayat berurutan memakai tiga pola yang menaik bobotnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja terakhir ayat ini muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 75:38 dan 87:2. Di 75:38 tertulis rangkaian yang sama persis, dan di sana pun ia berada sesudah penyebutan penciptaan. Jadi dua surah memakai pasangan yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Yang menyambungkannya cuma bentuk yang diulang tanpa diubah. Dua surah yang memakai pasangan kata yang sama tanpa saling menyebut meninggalkan penimbangannya kepada pembaca yang menemukan keduanya sendiri.
  • Akar kata kerja terakhirnya dipakai di 80 ayat, antara lain 2:29, 32:9, 38:72, 82:7, dan 91:7. Di 82:7 dan 91:7 akar itu dipakai Allah untuk penyempurnaan bentuk manusia dan jiwanya. Jadi akar yang sama menyebut penyempurnaan tubuh, penyempurnaan jiwa, dan di sini penyempurnaan segala yang diciptakan tanpa disebut apa saja isinya. Satu akar yang menyempurnakan tubuh, jiwa, dan segala ciptaan menerangkan bahwa penyempurnaan itu satu perbuatan, bukan tiga yang kebetulan senama.
  • Kata kerja pertamanya tidak menyebut objeknya, dan ketiadaan objek itu perlu dijaga. Menyisipkan apa yang diciptakan akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis ciptaan saja. Yang tertulis cuma bahwa Allah menciptakan, dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin oleh susunannya sendiri, sehingga tidak ada satu pun yang bisa mengaku berada di luarnya. Sebuah pernyataan yang tidak menyebut objeknya tidak bisa dipersempit tanpa menambahkan sesuatu yang tidak tertulis di dalamnya.
  • Huruf di depan kata kerja terakhir menyatakan urutan yang rapat, bukan sekadar penyambungan. Jadi yang dinyatakan bahwa penyempurnaan itu menyusul penciptaan tanpa jeda. Susunan yang sama dipakai Allah lagi di 87:3 dan 87:5, sehingga tiga ayat berurutan di surah ini memakai huruf yang sama untuk menyatakan urutan yang rapat. Urutan yang rapat tanpa jeda berbeda dari urutan yang berjarak, dan surah ini memakai kedua-duanya di tempat yang berlainan.
  • Kata sambung di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata untuk Tuhan di 87:1. Bentuk yang sama diulang di 87:3, 87:4, dan 87:12, sehingga empat ayat di surah ini dibuka dengan kata sambung yang sama. Tiga yang pertama menerangkan Allah, dan yang keempat menerangkan orang yang paling celaka, sehingga satu bentuk dipakai untuk dua pihak yang berlawanan. Satu bentuk yang dipakai untuk dua pihak yang berlawanan menuntut pembacanya memperhatikan isinya, bukan cuma rangka kalimatnya.
  • Bentuk kata kerja di ayat ini lampau, sedangkan perintah di 87:1 berbentuk sekarang. Jadi yang diperintahkan Allah berlangsung sekarang, dan alasannya sudah selesai terjadi. Susunan yang menaruh perintah lebih dulu dan alasannya belakangan dipakai juga di 96:1 sampai 96:2. Apa yang lebih menggerakkan seseorang: perintah yang beralasan, atau perintah yang alasannya disebut sesudahnya? Alasan yang datang sesudah perintah menuntut pembacanya menahan pertanyaan sejenak, dan penahanan itu bagian dari cara susunannya bekerja.