وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰ
Yang menentukan kadar dan memberi petunjuk,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَىٰwa-lladzii qaddara fa-hadaayang menentukan kadar dan memberi petunjuk
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَالَّذِيwa-lladziidan yang
- قَدَّرَqaddaradia menetapkan
- فَهَدَىٰfa-hadaalalu memberi petunjuk
Inti bacaan
Perencanaan dan pemberian arah: 'yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk', kombinasi penetapan proporsi setiap makhluk sekaligus penyediaan arah bagi mereka, desain yang tidak meninggalkan sesuatu tanpa tujuan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(masing-masing)" tidak dipakai. Kalimat ini lanjutan apositif dari 87:2, dan menyisipkan kata yang membagi-bagi objeknya akan menambah keterangan yang tidak ada di dalam Arabnya. Rangkaian (قَدَّرَ فَهَدَىٰ, qaddara fa-hadaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada satu pun tempat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Akar (قَدَّرَ, qaddara) berarti mengukur dan menentukan. Akar itu dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 41:10, dan 80:19. Di 25:2 dan 80:19 akar itu dipakai untuk penentuan ukuran atas ciptaan, dan di 6:96 untuk penentuan peredaran matahari dan bulan. Jadi akar yang sama menyebut ukuran benda langit dan ukuran manusia.
Akar (فَهَدَىٰ, fa-hadaa) berarti menunjukkan jalan. Akar itu dipakai di 268 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa di sebagian besar pemakaiannya akar itu menyebut petunjuk kepada jalan yang benar, antara lain di 1:6, 2:2, dan 6:88, sedangkan di sini objeknya tidak disebut sama sekali.
Ketiadaan objek pada kedua kata kerja itu patut dicatat. Tidak disebut menentukan ukuran apa, dan tidak disebut memberi petunjuk kepada siapa. Jadi ayat ini sejajar dengan 87:2 yang juga tidak menyebut objek. Dua ayat berurutan karena itu sama-sama membiarkan cakupannya terbuka, dan Al-Qur'an tidak menutupnya dengan satu kata pun. Kata (قَدَّرَ, qaddara) pun tidak diikuti kata benda yang menerangkan apa yang diukurnya.
Huruf fa di depan (فَهَدَىٰ, fa-hadaa) menyatakan urutan yang rapat, sama seperti huruf yang sama di 87:2. Jadi petunjuk itu menyusul penentuan ukuran tanpa jeda, dan susunan sebab akibat itu terbawa di dalam satu huruf. Bahasa Indonesia menahannya dengan kata sambung sederhana, mengikuti kependekan yang sama.
Bentuk kedua kata kerja di ayat ini berbentuk lampau, sama seperti bentuk di 87:2. Jadi empat kata kerja di dua ayat berurutan seluruhnya menyebut perbuatan yang sudah selesai. Rangkaian sifat yang seluruhnya berbentuk lampau itu berhenti di 87:5, dan mulai 87:6 surahnya berpindah kepada bentuk yang menyebut apa yang akan datang. Bentuk (فَهَدَىٰ, fa-hadaa) menutup rangkaian itu dengan bentuk yang sama seperti pembukanya.
Bentuk (قَدَّرَ, qaddara) berpola kedua, sehingga ia menyatakan pekerjaan yang dikerjakan berulang atau dengan sungguh-sungguh. Bandingkan dengan bentuk berpola pertama di 87:2 yang paling sederhana. Jadi dua ayat berurutan memakai dua pola yang berbeda bobotnya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun.
Kata (فَهَدَىٰ, fa-hadaa) berbentuk lampau berpola pertama, sehingga di dalam satu ayat berdiri satu kata kerja berpola kedua dan satu berpola pertama. Susunan yang menaruh dua pola berbeda berdampingan itu berulang di 87:4 dan 87:5, sehingga empat ayat berurutan sama-sama memasangkan dua bentuk yang tidak sederajat.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan sifat Tuhan yang menentukan ukuran dan memberi petunjuk, dan rangkaiannya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada satu pun tempat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Akar kata kerja pertamanya dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 41:10, dan 80:19. Di 25:2 dan 80:19 akar itu dipakai untuk penentuan ukuran atas ciptaan, dan di 6:96 untuk penentuan peredaran matahari dan bulan.
Akar kata kerja keduanya dipakai di 268 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di sebagian besar pemakaiannya akar itu menyebut petunjuk kepada jalan yang benar, antara lain di 1:6, 2:2, dan 6:88, sedangkan di sini objeknya tidak disebut sama sekali.
Ketiadaan objek pada kedua kata kerja itu patut dicatat. Tidak disebut menentukan ukuran apa, dan tidak disebut memberi petunjuk kepada siapa. Jadi ayat ini sejajar dengan 87:2 yang juga tidak menyebut objek. Dua ayat berurutan karena itu sama-sama membiarkan cakupannya terbuka, dan Al-Qur'an tidak menutupnya dengan satu kata pun.
Kata kerja pertamanya berpola kedua, sehingga ia menyatakan pekerjaan yang dikerjakan berulang atau dengan sungguh-sungguh, sedangkan kata kerja keduanya berpola pertama. Jadi satu ayat memuat dua pola yang berbeda bobotnya, dan susunan itu berulang di 87:4 dan 87:5.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata kerja di ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada satu pun tempat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya. Pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa hubungan antara menentukan ukuran dan memberi petunjuk, dan Allah tidak menyediakan satu kalimat pun yang menerangkan hubungan itu. Sesuatu yang cuma muncul sekali tidak bisa diterangkan dengan membandingkannya, dan pembacanya harus menimbangnya dari susunannya sendiri.
- Akar kata kerja pertamanya dipakai di 121 ayat, antara lain 6:96, 25:2, 36:39, 41:10, dan 80:19. Di 25:2 dan 80:19 akar itu dipakai Allah untuk penentuan ukuran atas ciptaan, dan di 6:96 untuk penentuan peredaran matahari dan bulan. Jadi akar yang sama menyebut ukuran benda langit dan ukuran manusia, dan keduanya sama-sama ditentukan. Ukuran yang ditentukan pada benda langit dan pada manusia sama-sama tidak dipilih sendiri oleh yang menerimanya. Ketiadaan keterangan di sini bukan kekurangan melainkan pilihan yang menjaga cakupannya.
- Akar kata kerja keduanya dipakai di 268 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut petunjuk kepada jalan yang benar, antara lain di 1:6, 2:2, dan 6:88. Di ayat ini objeknya tidak disebut sama sekali, sehingga yang dinyatakan Allah bukan petunjuk kepada satu jalan tertentu melainkan pemberian petunjuk itu sendiri sebagai sifat. Petunjuk yang disebut tanpa tujuan tertentu berlaku lebih luas daripada petunjuk yang dibatasi kepada satu jalan yang dinamai.
- Allah tidak menyebutkan menentukan ukuran apa, dan tidak menyebutkan memberi petunjuk kepada siapa. Jadi ayat ini sejajar dengan 87:2 yang juga tidak menyebut objek. Dua ayat berurutan karena itu sama-sama membiarkan cakupannya terbuka. Apa yang hilang dari sebuah pernyataan ketika seseorang mempersempitnya kepada satu jenis yang paling mudah ia bayangkan? Mempersempit sebuah pernyataan kepada yang paling mudah dibayangkan adalah cara paling cepat kehilangan sebagian isinya.
- Huruf di depan kata kerja kedua menyatakan urutan yang rapat, sama seperti huruf yang sama di 87:2. Jadi petunjuk itu menyusul penentuan ukuran tanpa jeda, dan susunan sebab akibat itu terbawa di dalam satu huruf. Allah menaruh ukuran lebih dulu dan petunjuk sesudahnya, dan urutan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Menaruh ukuran lebih dulu dan petunjuk sesudahnya menyatakan bahwa yang kedua bekerja di atas yang pertama, bukan menggantikannya.
- Bentuk kedua kata kerja di ayat ini lampau, sama seperti bentuk di 87:2. Jadi empat kata kerja di dua ayat berurutan seluruhnya menyebut perbuatan Allah yang sudah selesai. Rangkaian sifat yang seluruhnya berbentuk lampau itu berhenti di 87:5, dan mulai 87:6 surahnya berpindah kepada bentuk yang menyebut apa yang akan datang. Perbuatan yang seluruhnya sudah selesai tidak menunggu persetujuan siapa pun, dan bentuk lampau yang berulang itu menyatakannya tanpa satu kata tambahan.