وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَىٰ

Dan yang mengeluarkan padang gembala,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالَّذِي أَخْرَجَ الْمَرْعَىٰwa-lladzii akhraja l-mar'aadan yang mengeluarkan padang gembala

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَالَّذِيwa-lladziidan yang
  2. أَخْرَجَakhrajamengeluarkan
  3. الْمَرْعَىٰl-mar'aarumput

Inti bacaan

Penyediaan sumber pangan hewan: 'dan yang mengeluarkan padang gembala', perhatian pada kebutuhan makhluk yang bergantung pada vegetasi alami.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْمَرْعَىٰ, al-mar'aa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menggembalakan dan menjaga. Ia cuma dipakai di 9 ayat, yaitu 2:104, 4:46, 20:54, 23:8, 28:23, 57:27, 70:32, 79:31, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai.

Pemakaian di beberapa ayat lainnya menerangkan luasnya. Di 2:104 dan 4:46 akar itu memberi kata raa'inaa yang justru dilarang diucapkan. Di 23:8 dan 70:32 ia memberi kata untuk memelihara amanat. Jadi satu akar memikul menggembala, memelihara amanat, dan sebuah kata yang dilarang, dan yang menyatukannya menjaga sesuatu supaya tetap terpelihara. Kata (الْمَرْعَىٰ, al-mar'aa) di sini memakai makna yang paling harfiah di antara seluruhnya.

Kesejajaran dengan 79:31 patut dicatat. Di sana tertulis (أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا, akhraja minhaa maa-ahaa wa mar'aahaa), dan kata kerjanya sama persis dengan kata kerja di ayat ini. Jadi dua surah memasangkan kata kerja mengeluarkan dengan kata untuk padang gembala, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata kerja (أَخْرَجَ, akhraja) berbentuk lampau dan berpola keempat, sehingga artinya membuat sesuatu keluar, bukan keluar sendiri. Jadi yang dinyatakan perbuatan yang menyebabkan, bukan peristiwa yang terjadi begitu saja. Bentuk yang sama dipakai di 79:31, dan di kedua tempat itu pelakunya Tuhan.

Kata (الْمَرْعَىٰ, al-mar'aa) bertakrif, sehingga yang disebut padang gembala sebagai jenis, bukan satu padang tertentu. Ketertentuan yang menyebut jenis itu sejalan dengan ketiadaan objek di 87:2 dan 87:3, dan ketiganya sama-sama menjaga cakupannya tetap luas.

Bentuk kata benda ini berpola tempat, sehingga ia menyebut tempat penggembalaan, bukan perbuatan menggembala. Perbedaan itu perlu dijaga: yang dikeluarkan tempatnya, dan yang memakainya tidak disebut sama sekali di dalam ayatnya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "padang gembala", memakai kata tempat untuk menahan pola tempat yang sama. Kata (أَخْرَجَ, akhraja) di depannya yang menyatakan perbuatannya, sehingga keduanya tidak bertindih.

Kata (أَخْرَجَ, akhraja) berpola keempat, dan itu pola yang menyatakan membuat sesuatu terjadi. Jadi tiga ayat berurutan memakai tiga pola yang berbeda: yang pertama pola paling sederhana di 87:2, yang kedua pola kedua di 87:3, dan yang ketiga pola keempat di sini. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan yang menaik itu dengan satu kalimat pun.

Kata (الْمَرْعَىٰ, al-mar'aa) satu-satunya kata benda di dalam rangkaian empat ayat ini yang menyebut benda yang bisa dilihat. Tiga ayat sebelumnya seluruhnya menyebut perbuatan tanpa objek yang tampak. Jadi rangkaian sifat ini bergerak dari yang tidak kelihatan kepada yang kelihatan, dan perpindahan itu jatuh tepat di ayat ini.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan sifat Tuhan yang menumbuhkan padang gembala, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 9 ayat, yaitu 2:104, 4:46, 20:54, 23:8, 28:23, 57:27, 70:32, 79:31, dan ayat ini.

Pemakaian di beberapa ayat lainnya menerangkan luasnya. Di 2:104 dan 4:46 akar itu memberi kata yang justru dilarang diucapkan. Di 23:8 dan 70:32 ia memberi kata untuk memelihara amanat. Jadi satu akar memikul menggembala, memelihara amanat, dan sebuah kata yang dilarang.

Kesejajaran dengan 79:31 patut dicatat. Di sana kata kerjanya sama persis dengan kata kerja di ayat ini, dan objeknya pun kata yang seakar. Jadi dua surah memasangkan kata kerja mengeluarkan dengan kata untuk padang gembala, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata kerjanya berbentuk lampau dan berpola keempat, sehingga artinya membuat sesuatu keluar, bukan keluar sendiri. Jadi yang dinyatakan perbuatan yang menyebabkan, bukan peristiwa yang terjadi begitu saja. Bentuk yang sama dipakai di 79:31, dan di kedua tempat itu pelakunya Tuhan.

Kata bendanya satu-satunya kata di dalam rangkaian empat ayat ini yang menyebut benda yang bisa dilihat. Tiga ayat sebelumnya seluruhnya menyebut perbuatan tanpa objek yang tampak. Jadi rangkaian sifat ini bergerak dari yang tidak kelihatan kepada yang kelihatan, dan perpindahan itu jatuh tepat di ayat ini.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhir ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 9 ayat, yaitu 2:104, 4:46, 20:54, 23:8, 28:23, 57:27, 70:32, 79:31, dan 87:4. Jadi ia salah satu akar yang jarang dipakai Allah, dan tiap pemakaiannya karena itu lebih berbobot daripada pemakaian akar yang tersebar di ratusan ayat. Akar yang jarang dipakai membuat tiap pemakaiannya lebih menonjol, sebab tidak ada banyak tempat lain yang bisa melunakkan gambarannya.
  • Di 2:104 dan 4:46 akar yang sama memberi sebuah kata yang justru dilarang Allah diucapkan, dan di 23:8 serta 70:32 ia memberi kata untuk memelihara amanat. Jadi satu akar memikul menggembala, memelihara amanat, dan sebuah kata terlarang, dan yang menyatukannya menjaga sesuatu supaya tetap terpelihara. Menjaga sesuatu supaya tetap terpelihara menyatukan menggembala dan memegang amanat, dan satu akar memikul keduanya tanpa keterangan tambahan.
  • Di 79:31 kata kerjanya sama persis dengan kata kerja di ayat ini, dan objeknya pun kata yang seakar. Jadi dua surah memasangkan kata kerja mengeluarkan dengan kata untuk padang gembala. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma pasangan kata yang berulang tanpa diubah. Pasangan kata yang berulang tanpa diubah di dua surah menandai keduanya sebagai sejajar, sekalipun tidak ada kalimat yang menghubungkannya.
  • Kata kerjanya berbentuk lampau dan berpola keempat, sehingga artinya membuat sesuatu keluar, bukan keluar sendiri. Jadi yang dinyatakan perbuatan Allah yang menyebabkan, bukan peristiwa yang terjadi begitu saja. Bentuk yang sama dipakai di 79:31, dan di kedua tempat itu pelakunya Dia, bukan tanahnya sendiri. Membuat sesuatu keluar berbeda dari membiarkannya keluar, dan bentuk katanya sendiri yang menentukan pembacaan mana yang benar. Kelangkaan sebuah akar mengubah cara sebuah ayat harus dibaca, sebab pembandingnya sedikit.
  • Bentuk kata bendanya berpola tempat, sehingga ia menyebut tempat penggembalaan, bukan perbuatan menggembala. Jadi yang dikeluarkan Allah tempatnya, dan yang memakainya tidak disebut sama sekali di dalam ayatnya. Terjemahannya menahan pola tempat itu, dan menggantinya dengan kata perbuatan akan memindahkan yang dikeluarkan kepada pihak yang tidak disebut. Menyebut tempat alih-alih perbuatan menjaga agar yang memakainya tidak masuk ke dalam ayat tanpa disebut lebih dulu.
  • Tiga ayat sebelumnya menyebut penciptaan, penyempurnaan, penentuan ukuran, dan petunjuk. Ayat ini menyebut rumput. Jadi Allah menutup rangkaian sifat-Nya bukan dengan sesuatu yang paling besar melainkan dengan sesuatu yang paling sederhana. Apa yang membuat rumput pantas berdiri di baris yang sama dengan penciptaan dan petunjuk? Sesuatu yang paling sederhana yang berdiri di baris yang sama dengan yang paling besar menuntut pembacanya menimbang ulang ukuran yang dipakainya.