فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَىٰ
Lalu menjadikannya sampah kering kehitaman,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَجَعَلَهُ غُثَاءً أَحْوَىٰfa-ja'alahu ghutsaa'an ahwaalalu menjadikannya sampah kering kehitaman
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَجَعَلَهُfa-ja'alahulalu Dia menjadikannya
- غُثَاءًghutsaa'ansampah
- أَحْوَىٰahwaakehitaman
Inti bacaan
Siklus alami yang mencakup kelayuan: 'lalu menjadikannya sampah kering kehitaman', pengakuan bahwa siklus kehidupan tumbuhan mencakup fase pertumbuhan dan kelayuan, pola alam yang lengkap bukan hanya masa subur.
Penjelasan pilihan kata
Kata (غُثَاءً, ghutsaa-an) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 23:41 dan 87:5. Akarnya berarti sampah yang hanyut. Ia pun cuma dipakai di 2 ayat itu, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai di seluruh Al-Qur'an.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 23:41 tertulis fa-ja'alnaahum ghutsaa-an, dan susunannya sama persis dengan susunan di ayat ini kecuali pada kata ganti objeknya. Di sana yang dijadikan sampah kering sebuah kaum yang dibinasakan, dan di sini tumbuhan. Jadi satu susunan dipakai untuk manusia dan untuk tanaman, dan Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Kata (أَحْوَىٰ, ahwaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti hitam kehijauan. Ia cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 6:146 dan ayat ini. Di 6:146 tertulis (أَوِ الْحَوَايَا, awi l-hawaayaa), yang menyebut isi perut binatang. Jadi satu akar yang cuma hidup di dua tempat memikul warna kehitaman dan isi perut, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang berlipat atau menggulung.
Kata kerja (فَجَعَلَهُ, fa-ja'alahu) memakai kata ganti objek yang berbentuk laki-laki tunggal, dan yang ditunjuknya padang gembala di 87:4. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan langsung, dan huruf fa di depannya menyatakan urutan yang rapat sama seperti di 87:2 dan 87:3.
Rangkaian empat ayat dari 87:2 sampai ayat ini seluruhnya berbentuk lampau. Bentuk (فَجَعَلَهُ, fa-ja'alahu) menutup rangkaian itu, dan mulai 87:6 surahnya berpindah kepada bentuk yang menyebut apa yang akan datang. Jadi perpindahan waktunya jatuh tepat di batas antara ayat ini dan ayat berikutnya, dan Al-Qur'an tidak menandainya dengan satu kata pun.
Yang disebut di ayat ini juga patut dicatat. Sesudah menyebut penciptaan, penyempurnaan, ukuran, petunjuk, dan padang gembala, yang datang justru kelayuan. Jadi rangkaian sifat itu ditutup bukan dengan puncaknya melainkan dengan kembalinya sesuatu kepada keadaan yang tak berguna, dan Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu.
Kata (فَجَعَلَهُ, fa-ja'alahu) berpola pertama dan memakai kata ganti objek, sehingga ia satu-satunya kata kerja di dalam rangkaian ini yang objeknya disebut. Empat kata kerja sebelumnya di 87:2 dan 87:3 seluruhnya tanpa objek, dan yang di 87:4 objeknya kata benda penuh. Jadi ayat ini menutup rangkaiannya dengan bentuk yang paling terikat kepada ayat sebelumnya.
Kata (غُثَاءً, ghutsaa-an) dan kata sifatnya sama-sama tidak bertakrif dan sama-sama berbaris fathah, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan. Jadi sifatnya tidak berdiri sendiri melainkan menempel pada bendanya. Susunan benda tanpa takrif yang disusul sifat tanpa takrif itu tidak dipakai lagi di seluruh surah ini.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian sifat Tuhan dengan siklus tumbuh dan layunya tumbuhan, dan kata keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 23:41 dan 87:5. Akarnya pun cuma dipakai di 2 ayat itu.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 23:41 susunannya sama persis dengan susunan di ayat ini kecuali pada kata ganti objeknya. Di sana yang dijadikan sampah kering sebuah kaum yang dibinasakan, dan di sini tumbuhan. Jadi satu susunan dipakai untuk manusia dan untuk tanaman.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 6:146 dan ayat ini. Di 6:146 akar itu menyebut isi perut binatang. Jadi satu akar yang cuma hidup di dua tempat memikul warna kehitaman dan isi perut, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang berlipat atau menggulung.
Rangkaian empat ayat dari 87:2 sampai ayat ini seluruhnya berbentuk lampau, dan mulai 87:6 surahnya berpindah kepada bentuk yang menyebut apa yang akan datang. Jadi perpindahan waktunya jatuh tepat di batas antara ayat ini dan ayat berikutnya, dan Al-Qur'an tidak menandainya dengan satu kata pun.
Kata kerjanya satu-satunya di dalam rangkaian ini yang objeknya berupa kata ganti. Empat kata kerja sebelumnya di 87:2 dan 87:3 seluruhnya tanpa objek, dan yang di 87:4 objeknya kata benda penuh. Jadi ayat ini menutup rangkaiannya dengan bentuk yang paling terikat kepada ayat sebelumnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata keduanya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 23:41 dan 87:5, dan akarnya pun cuma dipakai di dua ayat itu. Di 23:41 susunannya sama persis dengan susunan di ayat ini kecuali pada kata ganti objeknya, dan di sana yang dijadikan Allah sampah kering sebuah kaum yang dibinasakan. Jadi satu susunan dipakai untuk manusia dan untuk tanaman. Satu susunan yang dipakai untuk manusia di satu tempat dan untuk tanaman di tempat lain menyandingkan keduanya tanpa menyamakannya.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat, yaitu 6:146 dan 87:5. Di 6:146 akar itu menyebut isi perut binatang di dalam pembicaraan tentang apa yang diharamkan Allah. Jadi satu akar yang cuma hidup di dua tempat memikul warna kehitaman dan isi perut, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang berlipat. Akar yang cuma hidup di dua tempat tidak menyediakan cukup pembanding, dan pembacanya harus bersandar pada gambaran yang dibawanya sendiri.
- Sesudah menyebut penciptaan, penyempurnaan, ukuran, petunjuk, dan padang gembala, yang datang justru kelayuan. Jadi Allah menutup rangkaian sifat-Nya bukan dengan puncaknya melainkan dengan kembalinya sesuatu kepada keadaan yang tak berguna. Apa yang dinyatakan tentang Yang menumbuhkan ketika Dia sendiri yang disebut menjadikannya kering? Menutup sebuah rangkaian dengan kelayuan berbeda dari menutupnya dengan puncaknya, dan perbedaannya menentukan apa yang tinggal di ingatan.
- Rangkaian empat ayat dari 87:2 sampai ayat ini seluruhnya berbentuk lampau, dan mulai 87:6 surahnya berpindah kepada bentuk yang menyebut apa yang akan datang. Jadi perpindahan waktunya jatuh tepat di batas antara ayat ini dan ayat berikutnya, dan Allah tidak menandainya dengan satu kata pun yang menyatakan perpindahan itu. Perpindahan waktu yang tidak ditandai satu kata pun menuntut pembacanya memperhatikan bentuk kata kerjanya, bukan menunggu penanda.
- Kata kerja pertamanya memakai kata ganti objek yang berbentuk laki-laki tunggal, dan yang ditunjuknya padang gembala di 87:4. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan langsung. Huruf di depannya menyatakan urutan yang rapat sama seperti di 87:2 dan 87:3, sehingga empat ayat berurutan terikat oleh huruf yang sama. Kata ganti yang menyambung ke ayat sebelumnya mengikat keduanya lebih rapat daripada pengulangan kata bendanya. Dua tempat saja tidak cukup untuk membentuk pola, tetapi cukup untuk membentuk gema.
- Kata terakhir ayat ini menyebut warna, dan ia satu-satunya kata di seluruh rangkaian sifat ini yang menyebut warna. Jadi Allah menutup rangkaiannya dengan keterangan yang paling kecil, yaitu bagaimana rupanya sesudah kering. Keterangan sekecil itu tidak diberikan kepada penciptaan maupun kepada petunjuk yang disebut sebelumnya. Keterangan sekecil warna yang diberikan pada yang layu, dan tidak diberikan pada penciptaan, membalik urutan bobot yang biasa dipakai orang.