سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَىٰ
Kami akan membacakan kepadamu, maka engkau tidak akan lupa,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- سَنُقْرِئُكَ فَلَا تَنْسَىٰsa-nuqri'uka fa-laa tansaaKami akan membacakan kepadamu, maka engkau tidak akan lupa
Terjemahan per kata (3 kata)
- سَنُقْرِئُكَsa-nuqri'ukaKami akan membacakan kepadamu
- فَلَاfa-laamaka tidak
- تَنْسَىٰtansaaengkau lupa
Inti bacaan
Jaminan pemeliharaan hafalan wahyu: 'Kami akan membacakan (wahyu) kepadamu, maka engkau tidak akan lupa', janji konkret tentang kemampuan mengingat yang dijamin, membebaskan dari kekhawatiran tentang keakuratan penyampaian.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(wahyu)" tidak dipakai. Kata kerja (سَنُقْرِئُكَ, sanuqri-uka) tidak menyebut objeknya, dan menyisipkan apa yang dibacakan akan menambah keterangan yang tidak ada di dalam Arabnya. Kata ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada satu pun bentuk lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Akar (سَنُقْرِئُكَ, sanuqri-uka) berarti membaca. Akar itu dipakai di 79 ayat, antara lain 2:185, 16:98, 17:106, 73:20, dan 96:1. Bentuk di sini berpola keempat, sehingga artinya membuat seseorang membaca, bukan membaca sendiri. Perbedaan itu menentukan: yang membaca bukan yang disapa melainkan Yang berfirman, dan yang disapa yang dibuat menerimanya.
Huruf sin di depan kata kerjanya menandai waktu yang akan datang, dan itu huruf pertama di surah ini yang menyebut apa yang belum terjadi. Jadi lima ayat sebelumnya seluruhnya berbentuk lampau, dan ayat ini yang pertama berpindah ke depan. Huruf yang sama dipakai lagi di 87:10, sehingga dua ayat di surah ini memakai penanda yang sama. Kata (سَنُقْرِئُكَ, sanuqri-uka) karena itu tidak bisa dibaca sebagai peristiwa yang sudah lewat.
Bentuk kata kerjanya berorang pertama jamak, dan ini penyebutan diri yang pertama di dalam surahnya. Lima ayat sebelumnya menyebut Tuhan sebagai pihak ketiga lewat kata sambung yang berulang. Jadi surah ini berpindah dari menyebut kepada menyapa, dan perpindahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Kata (سَنُقْرِئُكَ, sanuqri-uka) memikul kedua pihaknya sekaligus di dalam satu kata.
Kata kerja (تَنْسَىٰ, tansaa) berasal dari akar yang berarti lupa. Akar itu dipakai di 37 ayat, antara lain 2:44, 6:68, 18:24, 20:52, dan 59:19. Di 18:24 akar itu dipakai untuk perintah mengingat Tuhan ketika lupa, dan di 59:19 untuk orang yang dibuat lupa kepada dirinya sendiri. Jadi akar yang sama menyebut lupa yang bisa diperbaiki dan lupa yang menjadi hukuman.
Huruf fa di depan (فَلَا تَنْسَىٰ, fa-laa tansaa) menyambungkan akibat kepada sebabnya. Jadi tidak lupanya bukan perintah melainkan hasil dari pembacaan itu. Perbedaan itu perlu dijaga: bentuk kata kerjanya bentuk berita, bukan bentuk larangan, dan membacanya sebagai larangan akan memindahkan bebannya kepada yang disapa.
Bentuk (تَنْسَىٰ, tansaa) berorang kedua tunggal, sedangkan kata kerja di depannya berorang pertama jamak. Jadi satu ayat memuat dua pihak sekaligus: Yang membacakan dan yang menerimanya. Susunan yang menaruh dua orang berbeda di dalam satu kalimat pendek itu berulang di 87:8, dan di kedua tempat itu pembagian perannya sama persis.
Kata kerja (سَنُقْرِئُكَ, sanuqri-uka) memakai kata ganti objek yang menunjuk orangnya, bukan bahan bacaannya. Jadi yang dikenai perbuatan orangnya. Perbedaan itu perlu dijaga: membacakan sesuatu kepada seseorang berbeda dari membuat seseorang membaca, dan bentuk berpola keempat di sini menyatakan yang kedua.
Tafsiran
Ayat ini menjamin Nabi akan mengingat wahyu yang dibacakan kepadanya, dan kata kerja pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada satu pun bentuk lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Akarnya dipakai di 79 ayat, antara lain 2:185, 16:98, 17:106, 73:20, dan 96:1. Bentuk di sini berpola keempat, sehingga artinya membuat seseorang membaca, bukan membaca sendiri. Perbedaan itu menentukan: yang membaca bukan yang disapa melainkan Yang berfirman.
Huruf di depan kata kerjanya menandai waktu yang akan datang, dan itu penanda pertama di surah ini yang menyebut apa yang belum terjadi. Lima ayat sebelumnya seluruhnya berbentuk lampau. Bentuk kata kerjanya juga berorang pertama jamak, dan ini penyebutan diri yang pertama di dalam surahnya.
Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 37 ayat, antara lain 2:44, 6:68, 18:24, 20:52, dan 59:19. Di 18:24 akar itu dipakai untuk perintah mengingat Tuhan ketika lupa, dan di 59:19 untuk orang yang dibuat lupa kepada dirinya sendiri. Jadi akar yang sama menyebut lupa yang bisa diperbaiki dan lupa yang menjadi hukuman.
Kata kerja terakhirnya berorang kedua tunggal, sedangkan kata kerja di depannya berorang pertama jamak. Jadi satu ayat memuat dua pihak sekaligus. Susunan yang menaruh dua orang berbeda di dalam satu kalimat pendek itu berulang di 87:8 dengan pembagian peran yang sama persis.
Renungan dan Hikmah
- Bentuk kata kerja pertamanya berpola keempat, sehingga artinya membuat seseorang membaca, bukan membaca sendiri. Perbedaan itu menentukan: yang membaca Allah, dan yang disapa yang dibuat menerimanya. Jadi yang dijanjikan bukan kemampuan yang tumbuh dari dalam diri seseorang melainkan sesuatu yang dikerjakan atasnya dari luar dirinya. Sesuatu yang dikerjakan atas seseorang dari luar dirinya tidak bisa diakui sebagai hasil usahanya sendiri. Janji yang bergantung sepenuhnya pada Yang menjanjikan tidak menyisakan andil bagi penerimanya.
- Huruf di depan kata kerjanya menandai waktu yang akan datang, dan itu penanda pertama di surah ini yang menyebut apa yang belum terjadi. Lima ayat sebelumnya seluruhnya berbentuk lampau. Huruf yang sama dipakai lagi Allah di 87:10, sehingga dua ayat di surah ini memakai penanda yang sama untuk dua janji yang berbeda. Penanda waktu yang sama dipakai untuk dua janji yang berbeda menandai keduanya sebagai satu jenis, yaitu janji yang belum ditunaikan.
- Bentuk kata kerjanya berorang pertama jamak, dan ini penyebutan diri yang pertama di dalam surahnya. Lima ayat sebelumnya menyebut Allah sebagai pihak ketiga lewat kata sambung yang berulang. Jadi surah ini berpindah dari menyebut kepada menyapa, dan perpindahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Berpindah dari menyebut kepada menyapa mengubah jarak antara pembicara dan yang dibicarakan tanpa satu kalimat pun yang menerangkannya. Bentuk kata yang berganti tanpa penanda menuntut ketelitian, bukan kecepatan membaca.
- Kata kerja keduanya berasal dari akar yang dipakai di 37 ayat, antara lain 2:44, 6:68, 18:24, 20:52, dan 59:19. Di 18:24 akar itu dipakai untuk perintah mengingat Allah ketika lupa, dan di 59:19 untuk orang yang dibuat lupa kepada dirinya sendiri. Jadi akar yang sama menyebut lupa yang bisa diperbaiki dan lupa yang menjadi hukuman. Lupa yang bisa diperbaiki dan lupa yang menjadi hukuman berbagi satu akar, dan yang membedakan cuma siapa yang menyebabkannya.
- Huruf di depan kata kerja kedua menyambungkan akibat kepada sebabnya, sehingga tidak lupanya bukan perintah melainkan hasil dari pembacaan itu. Bentuk kata kerjanya bentuk berita, bukan bentuk larangan. Membacanya sebagai larangan akan memindahkan bebannya kepada yang disapa, padahal Allah menaruhnya pada diri-Nya sendiri. Bentuk berita yang dibaca sebagai larangan memindahkan bebannya kepada pihak yang salah, dan kesalahan itu tidak terlihat di terjemahan yang tergesa.
- Allah tidak menyebutkan apa yang akan dibacakan, dan ketiadaan objek itu perlu dijaga. Menyisipkannya akan menambah keterangan yang tidak ada di dalam Arabnya. Ketiadaan objek di sini sejalan dengan ketiadaan objek di 87:2 dan 87:3. Apa yang berubah pada sebuah janji ketika isinya tidak disebutkan sama sekali? Janji yang isinya tidak disebutkan menuntut kepercayaan yang lebih besar daripada janji yang dirinci, sebab tidak ada yang bisa diperiksa lebih dulu.