إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰ

Kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۚ إِنَّهُ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفَىٰillaa maa syaa'a llaahu innahu ya'lamu l-jahra wa-maa yakhfaakecuali jika Allah menghendaki, sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. إِلَّاillaakecuali
  2. مَاmaaapa yang
  3. شَاءَsyaa'amenghendaki
  4. اللَّهُllaahuAllah
  5. إِنَّهُinnahusesungguhnya Dia
  6. يَعْلَمُya'lamumengetahui
  7. الْجَهْرَl-jahrayang nyaring
  8. وَمَاwa-maadan apa yang
  9. يَخْفَىٰyakhfaatersembunyi

Inti bacaan

Pengecualian dalam kerangka kehendak ilahi: 'kecuali jika Allah menghendaki. Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi', pengakuan bahwa bahkan jaminan pun tetap berada dalam kerangka kehendak yang lebih besar, kerendahan hati dalam klaim kepastian.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْجَهْرَ, al-jahra) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 4:148, 21:110, dan 87:7. Akarnya berarti terang-terangan. Ia cuma dipakai di 15 ayat, antara lain 2:55, 6:3, 13:10, 17:110, dan 49:2. Di 13:10 akar itu dipakai bersama lawannya untuk menyatakan bahwa yang tersembunyi dan yang terang sama saja bagi Tuhan.

Kata kerja (يَخْفَىٰ, yakhfaa) berasal dari akar yang berarti tersembunyi. Akar itu dipakai di 31 ayat, antara lain 2:271, 3:5, 14:38, 20:7, dan 40:16. Di 3:5 dan 14:38 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Jadi pernyataan di ayat ini bukan susunan yang berdiri sendiri melainkan salah satu dari sederet pernyataan yang sama.

Susunan ayat ini menaruh yang terang lebih dulu dan yang tersembunyi belakangan. Kata (الْجَهْرَ, al-jahra) bertakrif dan berbentuk kata benda, sedangkan pasangannya berbentuk kata kerja yang didahului kata sambung. Jadi kedua sisi itu tidak disebut dengan bentuk yang sama, dan ketidaksejajaran itu terbawa di dalam susunannya sendiri.

Nama (اللَّهُ, Allaahu) disebut di ayat ini, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebut nama-Nya. Delapan belas ayat lainnya menyebut Dia sebagai Tuhanmu, sebagai Tuhannya, lewat kata ganti, atau lewat bentuk kata kerja. Jadi nama-Nya muncul sekali saja, dan tepat di ayat yang menyatakan pengecualian atas kehendak-Nya.

Kata (إِلَّا, illaa) di awal ayat huruf pengecualian, dan ia menyambung langsung kepada 87:6. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan pengecualian bagi janji di ayat sebelumnya. Susunan janji yang disusul pengecualian seperti itu menahan janjinya tetap terbuka, dan Al-Qur'an tidak menerangkan dalam hal apa pengecualian itu berlaku.

Huruf inna di tengah ayat huruf penegas, sehingga kalimat keduanya dinyatakan dengan susunan yang kuat. Jadi ayat ini memuat dua bagian: pengecualian yang tidak dirinci dan penegasan yang menyeluruh. Bahasa Indonesia menahannya dengan kata "sesungguhnya", memakai satu kata untuk menahan penegasan yang sama.

Kata (إِلَّا, illaa) huruf pengecualian, dan yang dikecualikan tidak disebut dengan kata benda melainkan dengan kalimat penuh. Jadi susunan pengecualiannya lebih panjang daripada yang dikecualikan darinya. Susunan semacam itu tidak dipakai lagi di seluruh surah ini, dan ia salah satu sebab ayat ini menyimpang dari irama ayat-ayat tetangganya.

Kata (يَخْفَىٰ, yakhfaa) berbentuk sekarang, sedangkan pasangannya berbentuk kata benda bertakrif. Jadi yang terang dinyatakan sebagai perkara yang tetap, dan yang tersembunyi sebagai sesuatu yang sedang berlangsung. Perbedaan bentuk itu terbawa di dalam susunannya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan pengecualian atas kehendak Allah dan pengetahuan-Nya yang meliputi segala sesuatu, dan kata keempatnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 4:148, 21:110, dan 87:7.

Akarnya cuma dipakai di 15 ayat, antara lain 2:55, 6:3, 13:10, 17:110, dan 49:2. Di 13:10 akar itu dipakai bersama lawannya untuk menyatakan bahwa yang tersembunyi dan yang terang sama saja bagi Tuhan.

Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 31 ayat, antara lain 2:271, 3:5, 14:38, 20:7, dan 40:16. Di 3:5 dan 14:38 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Jadi pernyataan di ayat ini bukan susunan yang berdiri sendiri melainkan salah satu dari sederet pernyataan yang sama.

Nama Allah disebut di ayat ini, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebut nama-Nya. Delapan belas ayat lainnya menyebut Dia sebagai Tuhanmu, sebagai Tuhannya, lewat kata ganti, atau lewat bentuk kata kerja. Jadi nama-Nya muncul sekali saja, dan tepat di ayat yang menyatakan pengecualian atas kehendak-Nya.

Yang dikecualikan di ayat ini tidak disebut dengan kata benda melainkan dengan kalimat penuh, sehingga susunan pengecualiannya lebih panjang daripada yang dikecualikan darinya. Susunan semacam itu tidak dipakai lagi di seluruh surah ini, dan ia salah satu sebab ayat ini menyimpang dari irama tetangganya.

Renungan dan Hikmah

  • Nama Allah disebut di ayat ini, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebut nama-Nya. Delapan belas ayat lainnya menyebut Dia sebagai Tuhanmu, sebagai Tuhannya, lewat kata ganti, atau lewat bentuk kata kerja. Jadi nama-Nya muncul sekali saja, dan tepat di ayat yang menyatakan pengecualian atas kehendak-Nya. Sebuah nama yang muncul tepat sekali di dalam satu surah menandai ayat tempatnya muncul tanpa perlu tanda apa pun yang lain.
  • Kata pertama ayat ini huruf pengecualian, dan ia menyambung langsung kepada 87:6. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan pengecualian bagi janji di ayat sebelumnya. Allah tidak menerangkan dalam hal apa pengecualian itu berlaku. Apa yang tersisa dari sebuah janji ketika Yang menjanjikannya menyisakan satu pintu yang tidak dirinci sama sekali? Pintu yang tidak dirinci di dalam sebuah janji menjaga agar yang menerimanya tidak berhenti bergantung kepada Yang menjanjikannya.
  • Kata keempatnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 4:148, 21:110, dan 87:7, dan akarnya cuma dipakai di 15 ayat. Di 13:10 akar itu dipakai bersama lawannya untuk menyatakan bahwa yang tersembunyi dan yang terang sama saja bagi Allah. Jadi kedua sisi itu tidak berbeda kedudukannya di hadapan-Nya. Yang terang dan yang tersembunyi tidak berbeda kedudukannya di hadapan Allah, dan pernyataan itu berulang di lebih dari satu tempat. Satu ayat yang menyimpang dari irama sekelilingnya menandai dirinya sendiri tanpa bantuan apa pun.
  • Susunan ayat ini menaruh yang terang lebih dulu dan yang tersembunyi belakangan. Yang pertama bertakrif dan berbentuk kata benda, sedangkan pasangannya berbentuk kata kerja yang didahului kata sambung. Jadi kedua sisi itu tidak disebut Allah dengan bentuk yang sama, dan ketidaksejajaran itu terbawa di dalam susunannya sendiri. Menyebut dua sisi dengan dua bentuk yang berbeda menjaga agar keduanya tidak terbaca sebagai pasangan yang sederajat.
  • Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 31 ayat, antara lain 2:271, 3:5, 14:38, 20:7, dan 40:16. Di 3:5 dan 14:38 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari Allah. Jadi pernyataan di ayat ini salah satu dari sederet pernyataan yang menutup kemungkinan bersembunyi. Menutup kemungkinan bersembunyi bukan ancaman melainkan keterangan tentang keadaan yang sudah berlaku sejak semula.
  • Ayat ini yang terpanjang di dalam surahnya, sedangkan delapan belas ayat lainnya rata-rata cuma tiga sampai empat kata. Jadi Allah memanjangkan justru ayat yang menyatakan pengecualian dan pengetahuan-Nya. Panjang yang menyimpang dari irama surahnya membuat ayat ini menonjol tanpa perlu ditandai dengan kata apa pun. Panjang yang menyimpang dari irama sekelilingnya menandai sebuah ayat lebih kuat daripada kata penanda mana pun. Yang menyatakan sesuatu tentang pengetahuan-Nya menutup jalan bagi perhitungan yang berdasar penampakan.