سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰ

Orang yang takut akan mengambil pelajaran,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. سَيَذَّكَّرُ مَنْ يَخْشَىٰsa-yadzdzakkaru man yakhsyaaorang yang takut akan mengambil pelajaran

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. سَيَذَّكَّرُsa-yadzdzakkaruakan mengambil pelajaran
  2. مَنْmanorang yang
  3. يَخْشَىٰyakhsyaatakut

Inti bacaan

Penerima yang reseptif teridentifikasi: 'orang yang takut akan mengambil pelajaran', pengakuan bahwa kesiapan hati (rasa takut yang produktif) menjadi syarat bagi efektivitas peringatan.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 20:3, 20:44, 79:26, 80:9, dan 87:10. Dua di antaranya berada di surah 20, dan itulah sebab jumlah kemunculannya lebih banyak daripada jumlah surahnya. Akarnya berarti takut yang bercampur hormat. Ia dipakai di 40 ayat, antara lain 2:74, 4:77, 33:37, 35:28, dan 36:11.

Di 20:3 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa Al-Qur'an diturunkan sebagai peringatan bagi orang yang takut, dan di 80:9 untuk orang yang datang sambil takut. Jadi akar yang sama menyebut takut sebagai syarat menerima peringatan di lebih dari satu tempat, dan ayat ini salah satunya. Kata (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) di sini berdiri tanpa objek, berbeda dari pemakaiannya di ayat-ayat itu.

Kata kerja (سَيَذَّكَّرُ, sayadzdzakkaru) berpola kelima, sehingga artinya menerima peringatan pada dirinya sendiri, bukan mengingatkan orang lain. Jadi bentuk di ayat ini kebalikan dari bentuk (فَذَكِّرْ, fa-dzakkir) di 87:9. Satu akar dipakai dua kali di dua ayat berurutan untuk dua arah yang berlawanan.

Huruf sin di depan kata kerjanya menandai waktu yang akan datang, dan itu penanda kedua di surah ini sesudah 87:6. Jadi dua ayat memakai penanda yang sama: yang pertama menjanjikan sesuatu kepada yang disapa, dan yang kedua menyatakan apa yang akan terjadi pada orang lain. Kata (سَيَذَّكَّرُ, sayadzdzakkaru) karena itu menyebut sesuatu yang belum terjadi pada saat diucapkan.

Kata (مَنْ, man) di tengah ayat kata sambung yang tidak menyebut nama, sehingga yang dimaksud siapa pun yang sesuai gambarannya. Jadi ayat ini tidak menunjuk seorang pun secara tertentu. Bentuk yang sama dipakai di 87:14, dan di kedua tempat itu yang menentukan sifatnya, bukan namanya.

Susunan ayat ini menaruh sifatnya sesudah perbuatannya, yaitu akan menerima peringatan lebih dulu, baru siapa yang menerimanya. Jadi yang ditekankan hasilnya, dan orangnya menyusul. Bahasa Indonesia menahannya dengan menyebut orangnya lebih dulu karena tuntutan susunan kalimatnya sendiri, dan urutan Arabnya tidak bisa dipertahankan tanpa mengorbankan kewajaran.

Kata (سَيَذَّكَّرُ, sayadzdzakkaru) berbentuk sekarang, sedangkan kata kerja di 87:9 berbentuk perintah. Jadi dua ayat berurutan memakai dua bentuk yang berbeda dari satu akar: yang pertama menyuruh, dan yang kedua memberitakan hasilnya. Susunan yang menaruh perintah lalu hasilnya di dua ayat berurutan itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Kata (يَخْشَىٰ, yakhsyaa) tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan takut kepada siapa. Ketiadaan objek itu perlu dijaga, sebab menyisipkannya akan menambah keterangan yang tidak ada di dalam Arabnya. Ketiadaan objek di sini sejalan dengan ketiadaan objek di 87:2 dan 87:3, dan ketiganya sama-sama menjaga cakupannya tetap luas.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa peringatan itu akan diterima oleh orang yang takut kepada Allah, dan kata kerja terakhirnya muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 20:3, 20:44, 79:26, 80:9, dan 87:10.

Dua di antaranya berada di surah 20, dan itulah sebab jumlah kemunculannya lebih banyak daripada jumlah surahnya. Akarnya dipakai di 40 ayat, antara lain 2:74, 4:77, 33:37, 35:28, dan 36:11.

Kata kerja pertamanya berpola kelima, sehingga artinya menerima peringatan pada dirinya sendiri, bukan mengingatkan orang lain. Jadi bentuk di ayat ini kebalikan dari bentuk di 87:9. Satu akar dipakai dua kali di dua ayat berurutan untuk dua arah yang berlawanan.

Kata sambung di tengah ayat tidak menyebut nama, sehingga yang dimaksud siapa pun yang sesuai gambarannya. Jadi ayat ini tidak menunjuk seorang pun secara tertentu. Bentuk yang sama dipakai di 87:14, dan di kedua tempat itu yang menentukan sifatnya, bukan namanya.

Kata kerja terakhirnya tidak menyebut objeknya, sehingga tidak dinyatakan takut kepada siapa. Ketiadaan objek itu perlu dijaga, sebab menyisipkannya akan menambah keterangan yang tidak ada di dalam Arabnya, dan ia sejalan dengan ketiadaan objek di 87:2 dan 87:3. Jadi dua ayat berurutan memakai dua bentuk yang berbeda dari satu akar: yang pertama menyuruh, dan yang kedua memberitakan hasilnya, dan susunan itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerja pertamanya berpola kelima, sehingga artinya menerima peringatan pada dirinya sendiri, bukan mengingatkan orang lain. Jadi bentuk di ayat ini kebalikan dari bentuk di 87:9. Allah memakai satu akar dua kali di dua ayat berurutan untuk dua arah yang berlawanan: yang satu memberi, dan yang lain menerima. Satu akar yang dipakai untuk memberi dan untuk menerima menyatukan kedua sisi sebuah peringatan di dalam satu kata. Yang menentukan penerimaan bukan yang ada di telinga melainkan yang sudah ada di hati sebelumnya.
  • Kata kerja terakhirnya muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 20:3, 20:44, 79:26, 80:9, dan 87:10. Di 20:3 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa Al-Qur'an diturunkan Allah sebagai peringatan bagi orang yang takut, dan di 80:9 untuk orang yang datang sambil takut. Jadi akar yang sama menyebut takut sebagai syarat menerima di lebih dari satu tempat. Takut yang disebut sebagai syarat menerima berulang di lebih dari satu tempat, dan pengulangan itu menjadikannya pola, bukan kebetulan.
  • Kata sambung di tengah ayat tidak menyebut nama, sehingga yang dimaksud siapa pun yang sesuai gambarannya. Jadi Allah tidak menunjuk seorang pun secara tertentu. Bentuk yang sama dipakai di 87:14, dan di kedua tempat itu yang menentukan sifatnya, bukan namanya, sehingga tidak ada seorang pun yang tertutup dari kedua ayat itu. Sifat bisa dimiliki siapa pun, dan itulah sebab ayat yang menyebut sifat tidak bisa dianggap berbicara tentang orang lain saja.
  • Huruf di depan kata kerja pertamanya menandai waktu yang akan datang, dan itu penanda kedua di surah ini sesudah 87:6. Jadi dua ayat memakai penanda yang sama: yang pertama menjanjikan sesuatu kepada yang disapa, dan yang kedua menyatakan apa yang akan terjadi pada orang lain. Keduanya sama-sama janji Allah, dan keduanya tentang penerimaan. Dua janji yang memakai penanda waktu yang sama sama-sama menunggu penunaian, dan keduanya tentang penerimaan, bukan tentang pemberian.
  • Susunan ayat ini menaruh sifatnya sesudah perbuatannya, yaitu akan menerima peringatan lebih dulu, baru siapa yang menerimanya. Jadi yang ditekankan Allah hasilnya, dan orangnya menyusul. Terjemahannya menyebut orangnya lebih dulu karena tuntutan susunan kalimatnya sendiri, dan urutan Arabnya tidak bisa dipertahankan tanpa mengorbankan kewajaran. Urutan kata Arab tidak selalu bisa dipertahankan, dan yang harus dijaga penekanannya, bukan letak katanya.
  • Yang disebut Allah sebagai penerima peringatan bukan orang yang paling pandai dan bukan yang paling banyak mendengar, melainkan orang yang takut. Jadi yang menentukan bukan kemampuan menangkap melainkan keadaan hati sebelum mendengar. Apa gunanya sebuah peringatan yang sampai kepada telinga seseorang yang hatinya sudah menutup lebih dulu? Hati yang menutup lebih dulu membuat pendengaran tidak menentukan apa-apa, dan itu menjelaskan mengapa syaratnya bukan kemampuan.