وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَى

Dan orang yang paling celaka akan menjauhinya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَيَتَجَنَّبُهَا الْأَشْقَىwa-yatajannabuhaa l-asyqaadan orang yang paling celaka akan menjauhinya

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَيَتَجَنَّبُهَاwa-yatajannabuhaadan menjauhinya
  2. الْأَشْقَىl-asyqaaorang yang paling celaka

Inti bacaan

Kontras dengan yang menolak: 'dan orang yang paling celaka akan menjauhinya', pembalikan pola, mereka yang berada dalam kondisi paling buruk justru menghindari sumber perbaikan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الْأَشْقَى, al-asyqaa) berbentuk elatif bertakrif dan diterjemahkan dengan huruf kecil sebagai "yang paling celaka", konsisten dengan pola elatif di 87:1. Kata ini muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 87:11 dan 92:15, sehingga ia salah satu kata yang cuma hidup di dua tempat.

Kesejajaran dengan 92:15 tidak berhenti pada katanya. Di sana tertulis laa yashlaahaa illa l-asyqaa, dan kata kerjanya berasal dari akar yang berarti terpanggang api. Akar itu sama dengan akar (يَصْلَى, yashlaa) di 87:12. Jadi dua surah memasangkan kata yang sama dengan akar kata kerja yang sama, dan pasangan itu berdiri di dua ayat berurutan di sini.

Akar (الْأَشْقَى, al-asyqaa) berarti celaka dan payah. Akar itu dipakai di 12 ayat, yaitu 11:105, 11:106, 19:4, 19:32, 19:48, 20:2, 20:117, 20:123, 23:106, 87:11, 91:12, dan 92:15. Di 20:2 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan supaya seseorang menjadi celaka.

Kata kerja (وَيَتَجَنَّبُهَا, wa-yatajannabuhaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti sisi dan menjauhkan. Ia dipakai di 31 ayat, antara lain 4:36, 5:90, 22:36, 39:17, dan 92:17. Bentuknya berpola kelima, sehingga artinya menjauhkan diri sendiri, bukan dijauhkan oleh pihak lain.

Kata ganti pada ujung (وَيَتَجَنَّبُهَا, wa-yatajannabuhaa) berbentuk perempuan tunggal, dan yang ditunjuknya peringatan di 87:9. Jadi ayat ini menyambung kembali kepada dua ayat sebelumnya, dan yang dijauhi bukan Yang memperingatkan melainkan peringatannya.

Susunan dua ayat 87:10 dan ayat ini berhadapan langsung. Yang pertama menyebut siapa yang menerima, dan yang kedua menyebut siapa yang menjauh. Jadi Al-Qur'an membagi pendengarnya menjadi dua dan tidak menyediakan kedudukan ketiga. Bahasa Indonesia menahannya dengan kata sambung sederhana, mengikuti kependekan Arabnya.

Kata (وَيَتَجَنَّبُهَا, wa-yatajannabuhaa) dibuka huruf waw yang menyambungkannya kepada 87:10, sehingga kedua ayat itu satu kalimat majemuk. Jadi kedua golongan disebut di dalam satu tarikan, bukan di dalam dua pernyataan yang terpisah. Memisahkan keduanya akan menghilangkan pertentangan yang dibangun susunannya sendiri.

Kata (الْأَشْقَى, al-asyqaa) berbentuk tunggal, sedangkan yang dibicarakan sebuah golongan. Jadi Al-Qur'an menyebut golongan itu lewat satu orang yang mewakilinya. Susunan yang sama dipakai di 87:10 dan 87:14 lewat kata sambung yang tidak menyebut nama, sehingga tiga ayat di surah ini menyebut golongan dengan bentuk tunggal.

Akar (وَيَتَجَنَّبُهَا, wa-yatajannabuhaa) juga muncul di 92:17, dan surah itu yang sama dengan surah yang berbagi empat kata langka dengan surah ini. Jadi kesejajaran antara keduanya bertambah satu lagi lewat akar ini, meskipun bentuk katanya berbeda.

Bentuk (الْأَشْقَى, al-asyqaa) berbaris dammah karena ia pokok kalimat bagi kata kerja di depannya. Jadi susunannya menaruh perbuatan lebih dulu dan pelakunya belakangan, sama seperti susunan di 87:10. Dua ayat berurutan karena itu memakai urutan yang sama persis, dan terjemahannya membalik urutan itu demi kewajaran.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa orang yang paling celaka justru menjauhi peringatan tersebut, dan kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 87:11 dan 92:15.

Kesejajaran dengan 92:15 tidak berhenti pada katanya. Di sana kata kerjanya berasal dari akar yang sama dengan akar kata kerja di 87:12. Jadi dua surah memasangkan kata yang sama dengan akar kata kerja yang sama, dan pasangan itu berdiri di dua ayat berurutan di sini.

Akar kata terakhirnya dipakai di 12 ayat, yaitu 11:105, 11:106, 19:4, 19:32, 19:48, 20:2, 20:117, 20:123, 23:106, 87:11, 91:12, dan 92:15. Di 20:2 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan supaya seseorang menjadi celaka.

Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 31 ayat, antara lain 4:36, 5:90, 22:36, 39:17, dan 92:17. Bentuknya berpola kelima, sehingga artinya menjauhkan diri sendiri, bukan dijauhkan oleh pihak lain.

Kata kerjanya dibuka huruf yang menyambungkannya kepada 87:10, sehingga kedua ayat itu satu kalimat majemuk. Jadi kedua golongan disebut di dalam satu tarikan, bukan di dalam dua pernyataan yang terpisah, dan memisahkannya akan menghilangkan pertentangan yang dibangun susunannya. Kata terakhirnya berbentuk tunggal meskipun yang dibicarakan sebuah golongan, sehingga Al-Qur'an menyebut golongan itu lewat satu orang yang mewakilinya, sama seperti di 87:10 dan 87:14.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhir ayat ini muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 87:11 dan 92:15, sehingga ia salah satu kata yang cuma hidup di dua tempat. Kesejajaran dengan 92:15 tidak berhenti di situ: di sana kata kerjanya berasal dari akar yang sama dengan akar kata kerja di 87:12. Jadi Allah memasangkan kata yang sama dengan akar yang sama di dua surah. Kata yang sama dan akar yang sama yang muncul berpasangan di dua surah menandai keduanya sejajar tanpa satu kalimat penghubung.
  • Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan bentuknya berpola kelima, sehingga artinya menjauhkan diri sendiri, bukan dijauhkan oleh pihak lain. Jadi Allah tidak menyatakan bahwa peringatan itu dijauhkan darinya melainkan bahwa ia sendiri yang menjauh. Perbuatannya karena itu tidak bisa dialihkan kepada siapa pun di luar dirinya. Perbuatan yang dikerjakan seseorang atas dirinya sendiri tidak bisa dialihkan kepada keadaan atau kepada orang lain.
  • Kata ganti pada ujung kata kerjanya berbentuk perempuan tunggal, dan yang ditunjuknya peringatan di 87:9. Jadi ayat ini menyambung kembali kepada dua ayat sebelumnya, dan yang dijauhi bukan Allah melainkan peringatan-Nya. Perbedaan itu perlu dijaga: menjauhi kabar berbeda dari menolak Yang mengirimkannya. Menjauhi kabar berbeda dari menolak Yang mengirimkannya, dan perbedaan itu menentukan apa sebenarnya yang sedang dihindari. Dua kedudukan yang berhadapan tidak menyisakan tempat netral bagi siapa pun yang sudah mendengar.
  • Akar kata terakhirnya dipakai di 12 ayat, yaitu 11:105, 11:106, 19:4, 19:32, 19:48, 20:2, 20:117, 20:123, 23:106, 87:11, 91:12, dan 92:15. Di 20:2 akar itu dipakai Allah untuk menyatakan bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan supaya seseorang menjadi celaka. Jadi kecelakaan itu bukan maksud kitabnya melainkan akibat dari menjauhinya. Kecelakaan yang bukan maksud sebuah kitab tetapi menjadi akibat menjauhinya menaruh sebabnya pada yang menjauh. Perbuatan yang berpangkal pada diri sendiri tidak bisa dijelaskan dengan menunjuk keadaan di luar.
  • Susunan 87:10 dan ayat ini berhadapan langsung. Yang pertama menyebut siapa yang menerima, dan yang kedua menyebut siapa yang menjauh. Jadi Allah membagi pendengarnya menjadi dua dan tidak menyediakan kedudukan ketiga. Di mana letak orang yang mendengar tanpa menerima dan tanpa menjauh, kalau dua ayat ini tidak menyisakan tempat baginya? Pembagian yang cuma menyediakan dua kedudukan menutup tempat bagi sikap yang menganggap dirinya berada di tengah.
  • Kata terakhirnya berbentuk elatif bertakrif dan diterjemahkan dengan huruf kecil, konsisten dengan pola elatif di 87:1. Jadi ia dibaca sebagai sifat, bukan sebagai nama atau gelar. Disiplin yang sama dipakai di seluruh surah ini, termasuk pada kata sifat yang menerangkan Allah, sehingga kedua sisi diperlakukan dengan aturan yang satu. Aturan yang sama yang dipakai untuk sifat Allah dan sifat manusia menjaga agar tidak ada pihak yang diistimewakan penerjemahnya.