الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰ
Yang akan memasuki api yang terbesar,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِي يَصْلَى النَّارَ الْكُبْرَىٰalladzii yashlaa n-naara l-kubraayang akan memasuki api yang terbesar
Terjemahan per kata (4 kata)
- الَّذِيalladziiyang
- يَصْلَىyashlaamemasuki
- النَّارَn-naaraapi
- الْكُبْرَىٰl-kubraayang terbesar
Inti bacaan
Konsekuensi bagi yang menjauh: '(yaitu) orang yang akan memasuki api (neraka) yang besar', hasil akhir dari penolakan terhadap kesempatan perbaikan yang telah ditawarkan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(yaitu)" dan "(neraka)" tidak dipakai. Kata (الْكُبْرَىٰ, al-kubraa) berbentuk elatif bertakrif perempuan dan diterjemahkan dengan huruf kecil sebagai "yang terbesar", konsisten dengan pola elatif di 87:1 dan 87:11. Kalimat ini lanjutan apositif dari 87:11, dan menambahkan kata pembuka akan melonggarkan hubungan antarayat.
Kata (الْكُبْرَىٰ, al-kubraa) muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 44:16, 53:18, 79:20, 79:34, dan 87:12. Dua di antaranya berada di surah 79, dan itulah sebab jumlah kemunculannya lebih banyak daripada jumlah surahnya. Akarnya berarti besar. Ia dipakai di 153 ayat di seluruh Al-Qur'an.
Kata kerja (يَصْلَى, yashlaa) berasal dari akar yang berarti terpanggang api. Akar itu dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 92:15. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar ini berbeda dari akar yang berarti menghadap dalam doa. Akar itu memberi kata untuk salat di 87:15, meskipun kedua kata itu terlihat serupa.
Perbedaan kedua akar itu patut dicatat. Akar yang di sini dipakai di 25 ayat dan menyebut masuk ke dalam api, sedangkan akar yang di 87:15 dipakai di 90 ayat dan menyebut salat. Jadi satu surah memuat dua akar yang bunyinya berdekatan tetapi maknanya berjauhan, dan Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Kata (يَصْلَى, yashlaa) karena itu tidak boleh dibaca sebagai kata yang seakar dengan salat.
Kata sambung (الَّذِي, alladzii) di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata di 87:11. Jadi bentuk yang sama dipakai untuk menerangkan Tuhan di 87:2, 87:3, dan 87:4, dan untuk menerangkan orang yang paling celaka di sini. Satu bentuk karena itu dipakai untuk dua pihak yang berlawanan di dalam satu surah.
Kata (النَّارَ, an-naara) bertakrif, sehingga yang disebut api yang sudah tertentu, bukan sembarang api. Akarnya berarti cahaya. Ia dipakai di 174 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk cahaya. Jadi satu akar memikul api yang membakar dan cahaya yang menerangi, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu.
Kata (يَصْلَى, yashlaa) berbentuk sekarang, sehingga yang dinyatakan keadaan yang berlangsung, bukan peristiwa yang sekali terjadi. Bentuk yang sama dipakai di 87:13 pada kedua kata kerjanya. Jadi tiga kata kerja berturut-turut di dua ayat berurutan seluruhnya menyebut keadaan yang tidak berhenti, dan Al-Qur'an tidak menyatakan batas waktunya.
Kata (النَّارَ, an-naara) berbentuk perempuan menurut morfologi, dan itulah sebab kata sifat di belakangnya juga berbentuk perempuan. Kesesuaian bentuk itu terbawa di dalam kalimatnya sendiri. Bahasa Indonesia tidak membedakan bentuk laki-laki dan perempuan, sehingga kesesuaian itu tidak bisa ditahan di dalam terjemahannya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan konsekuensi bagi orang yang paling celaka: memasuki api yang paling dahsyat, dan kata terakhirnya muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 44:16, 53:18, 79:20, 79:34, dan 87:12.
Dua di antaranya berada di surah 79, dan itulah sebab jumlah kemunculannya lebih banyak daripada jumlah surahnya. Akarnya dipakai di 153 ayat di seluruh Al-Qur'an.
Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 92:15. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar ini berbeda dari akar yang memberi kata untuk salat di 87:15, meskipun kedua kata itu terlihat serupa.
Perbedaan kedua akar itu patut dicatat. Akar yang di sini dipakai di 25 ayat dan menyebut masuk ke dalam api, sedangkan akar yang di 87:15 dipakai di 90 ayat dan menyebut salat. Jadi satu surah memuat dua akar yang bunyinya berdekatan tetapi maknanya berjauhan, dan Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun.
Kata kerjanya berbentuk sekarang, dan bentuk yang sama dipakai di 87:13 pada kedua kata kerjanya. Jadi tiga kata kerja berturut-turut di dua ayat berurutan seluruhnya menyebut keadaan yang tidak berhenti, dan Al-Qur'an tidak menyatakan batas waktunya dengan satu kata pun. Kata untuk api bertakrif, sehingga yang disebut api yang sudah tertentu, dan akarnya yang dipakai di 174 ayat juga memberi kata untuk cahaya yang menerangi.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 92:15, dan akar ini berbeda dari akar yang memberi kata untuk salat di 87:15 meskipun kedua kata itu terlihat serupa. Jadi Allah menaruh dua akar yang bunyinya berdekatan tetapi maknanya berjauhan di dalam satu surah yang sama. Dua akar yang bunyinya berdekatan tetapi maknanya berjauhan menuntut pembacanya memeriksa akarnya, bukan bunyinya.
- Kata sambung di awal ayat berbentuk laki-laki tunggal dan menerangkan kata di 87:11. Bentuk yang sama dipakai Allah untuk menerangkan diri-Nya di 87:2, 87:3, dan 87:4, dan untuk menerangkan orang yang paling celaka di sini. Jadi satu bentuk dipakai untuk dua pihak yang berlawanan di dalam satu surah, tanpa satu kata pun yang membedakannya. Satu bentuk yang menerangkan dua pihak berlawanan menerangkan bahwa yang menentukan isinya, bukan rangka kalimatnya.
- Kata untuk api bertakrif, sehingga yang disebut api yang sudah tertentu, bukan sembarang api. Akarnya dipakai di 174 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk cahaya. Jadi satu akar memikul api yang membakar dan cahaya yang menerangi, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Api yang membakar dan cahaya yang menerangi berbagi satu akar, dan Al-Qur'an membiarkan kesejajaran itu tanpa keterangan. Dua akar yang mirip bunyinya menguji apakah pembacanya memeriksa atau cuma menebak.
- Kata terakhirnya muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 44:16, 53:18, 79:20, 79:34, dan 87:12. Dua di antaranya berada di surah 79, dan itulah sebab jumlah kemunculannya lebih banyak daripada jumlah surahnya. Dua angka yang berbeda di satu kalimat bukan tanda salah hitung, melainkan tanda bahwa satu surah memuatnya lebih dari sekali. Dua angka yang berbeda di satu kalimat tidak saling menyalahkan bila yang satu menghitung kemunculan dan yang lain menghitung surah.
- Kata terakhirnya berbentuk elatif bertakrif perempuan dan diterjemahkan dengan huruf kecil, konsisten dengan pola elatif di 87:1 dan 87:11. Jadi tiga elatif di surah ini diperlakukan dengan aturan yang satu: yang menerangkan Allah, yang menerangkan orang yang paling celaka, dan yang menerangkan api. Ketiganya dibaca sebagai sifat, bukan sebagai nama. Memperlakukan seluruh elatif dengan satu aturan menjaga agar penerjemahnya tidak menambah kedudukan yang tidak dinyatakan bentuknya.
- Kalimat ini lanjutan apositif dari 87:11, dan menambahkan kata pembuka akan melonggarkan hubungan antarayat. Jadi akibatnya menempel langsung pada orangnya tanpa satu kata penghubung pun. Apa yang berubah pada sebuah ancaman ketika ia diletakkan Allah menempel pada sifat orangnya, bukan pada perbuatannya? Ancaman yang menempel pada sifat orangnya bekerja berbeda dari ancaman yang menempel pada satu perbuatan yang bisa dihentikan. Ancaman yang melekat pada sifat tidak bisa dihindari dengan mengubah satu perbuatan saja.