ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰ
Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak hidup.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- ثُمَّ لَا يَمُوتُ فِيهَا وَلَا يَحْيَىٰtsumma laa yamuutu fiihaa wa-laa yahyaakemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak hidup
Terjemahan per kata (6 kata)
- ثُمَّtsummakemudian
- لَاlaatidak
- يَمُوتُyamuutumati
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- يَحْيَىٰyahyaahidup
Inti bacaan
Kondisi siksaan yang paradoks: 'kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup', gambaran keadaan antara yang menyiksa, tidak ada kelegaan kematian maupun kenyamanan kehidupan.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(pula)" tidak dipakai. Kata kerja (يَحْيَىٰ, yahyaa) berasal dari akar yang berarti hidup. Akar itu dipakai di 161 ayat, antara lain 2:28, 3:156, 30:19, 36:12, dan 41:39. Akar yang sama muncul lagi di 87:16 lewat kata (الْحَيَاةَ, al-hayaata), sehingga ia dipakai dua kali di dalam surah ini.
Kata kerja (يَمُوتُ, yamuutu) berasal dari akar yang berarti mati. Akar itu dipakai di 143 ayat, antara lain 2:19, 3:145, 21:34, 39:42, dan 67:2. Di 67:2 akar itu disandingkan dengan akar untuk hidup di dalam satu ayat, sama seperti di ayat ini. Jadi dua ayat memasangkan mati dan hidup berdampingan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Susunan ayat ini mengingkari dua hal yang saling berlawanan sekaligus. Kata (لَا, laa) dipakai dua kali, sekali di depan tiap kata kerja. Jadi yang dinyatakan bukan salah satu di antara keduanya melainkan ketiadaan keduanya, dan tidak ada kedudukan ketiga yang disebut sebagai gantinya.
Kata (ثُمَّ, tsumma) di awal ayat menyatakan urutan yang berjarak, berbeda dari huruf fa yang dipakai di 87:2, 87:3, dan 87:5. Jadi keadaan yang disebut di sini tidak menyusul langsung melainkan datang sesudah tenggang. Perbedaan antara kedua huruf itu terbawa di dalam bentuknya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan.
Bentuk kedua kata kerja di ayat ini berbentuk sekarang, sehingga yang dinyatakan keadaan yang berlangsung terus, bukan peristiwa yang sekali terjadi. Jadi yang diingkari bukan satu kematian dan satu kehidupan melainkan keduanya sebagai keadaan yang berulang tanpa henti. Kata (يَمُوتُ, yamuutu) dan pasangannya sama-sama memakai bentuk itu tanpa kecuali.
Kata ganti pada (فِيهَا, fiihaa) berbentuk perempuan tunggal, dan yang ditunjuknya api di 87:12. Jadi ayat ini menyambung langsung kepada ayat sebelumnya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "di dalamnya", memakai kata ganti untuk menahan kata ganti yang sama alih-alih mengulang kata bendanya.
Kata (ثُمَّ, tsumma) huruf penyambung yang berdiri sendiri, berbeda dari huruf fa yang selalu menempel pada kata sesudahnya. Jadi bentuk tulisannya sendiri sudah menyatakan jarak yang lebih longgar. Perbedaan antara keduanya bukan perbedaan gaya melainkan perbedaan makna, dan yang di sini menyatakan tenggang.
Kata (فِيهَا, fiihaa) menyebut tempat, dan itu satu-satunya keterangan tempat di dalam ayat ini. Jadi yang dinyatakan bukan cuma keadaannya melainkan juga di mana keadaan itu berlangsung. Menghilangkan keterangan tempat itu akan membuat pengingkarannya terbaca sebagai pernyataan umum, padahal ia terikat kepada api yang disebut di 87:12.
Kata (يَحْيَىٰ, yahyaa) berdiri di ujung ayat sehingga ia yang memikul rimanya, sama seperti kata terakhir di delapan belas ayat lainnya. Jadi kata yang menutup pengingkaran kedua sekaligus menjaga bunyi surahnya tetap seragam.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan keadaan tersiksa yang tak berkesudahan: tak mati namun juga tak hidup, dan kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 161 ayat, antara lain 2:28, 3:156, 30:19, 36:12, dan 41:39.
Akar yang sama muncul lagi di 87:16, sehingga ia dipakai dua kali di dalam surah ini. Kata kerja pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 143 ayat, antara lain 2:19, 3:145, 21:34, 39:42, dan 67:2. Di 67:2 akar itu disandingkan dengan akar untuk hidup di dalam satu ayat, sama seperti di ayat ini.
Susunan ayat ini mengingkari dua hal yang saling berlawanan sekaligus. Huruf pengingkaran dipakai dua kali, sekali di depan tiap kata kerja. Jadi yang dinyatakan bukan salah satu di antara keduanya melainkan ketiadaan keduanya, dan tidak ada kedudukan ketiga yang disebut sebagai gantinya.
Kata pertama ayat ini menyatakan urutan yang berjarak, berbeda dari huruf yang dipakai di 87:2, 87:3, dan 87:5. Jadi keadaan yang disebut di sini tidak menyusul langsung melainkan datang sesudah tenggang. Perbedaan antara kedua huruf itu terbawa di dalam bentuknya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan.
Kata pertamanya huruf penyambung yang berdiri sendiri, berbeda dari huruf yang selalu menempel pada kata sesudahnya. Jadi bentuk tulisannya sendiri sudah menyatakan jarak yang lebih longgar, dan perbedaan antara keduanya bukan perbedaan gaya melainkan perbedaan makna.
Renungan dan Hikmah
- Susunan ayat ini mengingkari dua hal yang saling berlawanan sekaligus, dan huruf pengingkarannya dipakai dua kali, sekali di depan tiap kata kerja. Jadi yang dinyatakan Allah bukan salah satu di antara keduanya melainkan ketiadaan keduanya. Tidak ada kedudukan ketiga yang disebut sebagai gantinya, dan ketiadaan itu sendiri yang menjadi gambarannya. Keadaan yang cuma bisa dinyatakan lewat dua pengingkaran tidak punya nama, dan ketiadaan nama itu bagian dari gambarannya.
- Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 161 ayat, antara lain 2:28, 3:156, 30:19, 36:12, dan 41:39, dan akar yang sama muncul lagi di 87:16. Jadi Allah memakainya dua kali di dalam surah ini: sekali untuk hidup yang diingkari di dalam api, dan sekali untuk kehidupan dunia yang diutamakan orang. Satu akar yang berdiri di dua sisi berjauhan di dalam satu surah menuntut pembacanya memperhatikan letaknya, bukan cuma artinya.
- Kata pertama ayat ini menyatakan urutan yang berjarak, berbeda dari huruf yang dipakai di 87:2, 87:3, dan 87:5. Jadi keadaan yang disebut Allah di sini tidak menyusul langsung melainkan datang sesudah tenggang. Perbedaan antara kedua huruf itu terbawa di dalam bentuknya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan. Urutan yang berjarak menyisakan tenggang, dan tenggang itu tidak diterangkan panjangnya oleh satu kata pun. Dua pengingkaran yang berdampingan menutup kedua arah sekaligus tanpa menyediakan arah ketiga.
- Bentuk kedua kata kerja di ayat ini berbentuk sekarang, sehingga yang dinyatakan keadaan yang berlangsung terus, bukan peristiwa yang sekali terjadi. Jadi yang diingkari Allah bukan satu kematian dan satu kehidupan melainkan keduanya sebagai keadaan yang berulang tanpa henti, dan bentuk katanya sendiri yang menyatakan keberlanjutan itu. Keadaan yang berlangsung terus berbeda dari peristiwa yang sekali terjadi, dan bentuk katanya sendiri yang menyatakan perbedaan itu.
- Kata ganti di tengah ayat berbentuk perempuan tunggal, dan yang ditunjuknya api di 87:12. Jadi ayat ini menyambung langsung kepada ayat sebelumnya tanpa mengulang kata bendanya. Terjemahannya menahan kata ganti itu alih-alih menyebut ulang bendanya, mengikuti kehematan yang sama seperti yang tertulis. Kata ganti yang menyambung ke ayat sebelumnya menghemat kata sekaligus mengikat kedua ayat menjadi satu bacaan. Bahasa yang kehabisan kata menandai batas pengalaman yang membentuknya, bukan batas kenyataannya.
- Keadaan yang digambarkan ayat ini tidak diberi nama oleh Allah. Ia cuma dinyatakan lewat dua pengingkaran, dan bahasa manusia tidak menyediakan satu kata pun untuk sesuatu yang bukan hidup dan bukan mati. Apa yang bisa dibayangkan seseorang tentang keadaan yang cuma bisa disebut dengan menyebut apa yang bukan? Bahasa yang tidak menyediakan kata bagi sesuatu menandai bahwa hal itu berada di luar pengalaman yang membentuk bahasanya.