Ayat 87:14
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ
Sungguh, beruntung orang yang menyucitumbuhkan diri,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰqad aflaha man tazakkaasungguh, beruntung orang yang menyucitumbuhkan diri
Terjemahan per kata (4 kata)
- قَدْqadsungguh
- أَفْلَحَaflahaberuntung
- مَنْmanorang yang
- تَزَكَّىٰtazakkaamenyucitumbuhkan diri
Inti bacaan
Definisi keberuntungan sejati: 'sungguh, beruntung orang yang menyucitumbuhkan diri', standar keberhasilan yang diukur dari transformasi personal, bukan pencapaian material semata.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(dari kekafiran)" tidak dipakai. Kata kerja (تَزَكَّىٰ, tazakkaa) diterjemahkan "menyucitumbuhkan diri", konsisten dengan 80:3 dan 80:7. Kata ini muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 20:76, 35:18, 79:18, 87:14, dan 92:18.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 92:18 salah satu di antara kelimanya. Kata ini karena itu menjadi kata ketiga yang dibagi surah ini dengan surah 92, sesudah kata di 87:8 dan 87:11. Akar yang berarti tumbuh dan bersih itu dipakai di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 18:81, 24:21, dan 53:32.
Bentuk (تَزَكَّىٰ, tazakkaa) berpola kelima, sehingga artinya menyucikan diri sendiri, bukan disucikan pihak lain. Padanan "menyucitumbuhkan" menahan dua sisi yang dipikul akarnya sekaligus, yaitu bersih dan bertambah. Akar yang sama memberi kata untuk zakat di 2:43 dan 9:103, dan zakat pun mengurangi harta tetapi menumbuhkan yang lain.
Kata kerja (أَفْلَحَ, aflaha) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:64, 23:1, 87:14, dan 91:9. Di 23:1 dan 91:9 ia dipakai untuk menyatakan keberuntungan orang yang beriman dan orang yang menyucikan jiwanya. Jadi tiga surah memakai kata yang sama untuk pernyataan yang berdekatan maksudnya.
Kata (قَدْ, qad) di awal ayat huruf yang menyatakan kepastian, dan bersama bentuk lampau ia menyatakan bahwa hal itu sudah terjadi. Jadi keberuntungan itu tidak dinyatakan sebagai janji melainkan sebagai perkara yang sudah selesai. Bahasa Indonesia menahannya dengan "sungguh", memakai satu kata untuk menahan kepastian yang sama.
Kata (مَنْ, man) di tengah ayat kata sambung yang tidak menyebut nama, sama seperti bentuk yang dipakai di 87:10. Jadi dua ayat di surah ini menyebut orang lewat sifatnya, bukan lewat namanya. Susunan itu menutup kemungkinan seseorang menganggap ayatnya berbicara tentang orang lain saja.
Kata (أَفْلَحَ, aflaha) berpola keempat, sehingga artinya mencapai keberuntungan, bukan diberi keberuntungan. Jadi yang dinyatakan hasil yang dicapai orangnya, bukan pemberian yang diterimanya. Perbedaan itu sejalan dengan bentuk berpola kelima pada kata kerja berikutnya, dan kedua bentuk itu sama-sama menaruh perbuatannya pada orangnya sendiri.
Kata (قَدْ, qad) huruf yang berdiri sendiri dan cuma tiga huruf, tetapi ia yang menentukan bagaimana seluruh ayat dibaca. Tanpanya kalimat ini cuma menyatakan bahwa seseorang beruntung; dengannya ia menyatakan bahwa hal itu sudah pasti terjadi. Jadi satu huruf pendek memikul beban yang tidak dipikul kata mana pun di dalam ayatnya.
Akar (تَزَكَّىٰ, tazakkaa) juga muncul di 92:18 dengan bentuk yang sama persis, dan surah itu yang sama dengan surah yang berbagi tiga kata langka lainnya dengan surah ini. Jadi kesejajaran keduanya berulang di empat tempat yang berbeda.
Bentuk (أَفْلَحَ, aflaha) berbaris fathah pada huruf terakhirnya karena ia kata kerja lampau, dan kata sesudahnya menjadi pelakunya. Jadi susunannya menaruh keberuntungan lebih dulu dan orangnya belakangan, sama seperti susunan di 87:10 dan 87:11.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan keberuntungan orang yang membersihkan dirinya, dan kata kerja terakhirnya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 20:76, 35:18, 79:18, 87:14, dan 92:18.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 92:18 salah satu di antara kelimanya. Kata ini karena itu menjadi kata ketiga yang dibagi surah ini dengan surah 92, sesudah kata di 87:8 dan 87:11. Akarnya dipakai di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 18:81, 24:21, dan 53:32.
Bentuknya berpola kelima, sehingga artinya menyucikan diri sendiri, bukan disucikan pihak lain. Padanannya menahan dua sisi yang dipikul akarnya sekaligus, yaitu bersih dan bertambah. Akar yang sama memberi kata untuk zakat di 2:43 dan 9:103, dan zakat pun mengurangi harta tetapi menumbuhkan yang lain.
Kata kerja pertamanya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:64, 23:1, 87:14, dan 91:9. Di 23:1 dan 91:9 ia dipakai untuk menyatakan keberuntungan orang yang beriman dan orang yang menyucikan jiwanya. Jadi tiga surah memakai kata yang sama untuk pernyataan yang berdekatan maksudnya.
Kata kerja pertamanya berpola keempat, sehingga artinya mencapai keberuntungan, bukan diberi keberuntungan. Jadi yang dinyatakan hasil yang dicapai orangnya, dan itu sejalan dengan bentuk berpola kelima pada kata kerja berikutnya yang juga menaruh perbuatannya pada orangnya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja terakhirnya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 20:76, 35:18, 79:18, 87:14, dan 92:18. Kata ini menjadi kata ketiga yang dibagi surah ini dengan surah 92, sesudah kata di 87:8 dan 87:11. Jadi Allah menaruh tiga kata yang sama di dua surah yang berdekatan, dan tidak satu pun ayat menerangkan pengulangan itu. Tiga kata yang sama di dua surah berdekatan menandai keduanya sepasang, dan tidak satu pun ayat menyatakan pasangan itu. Membersihkan dan menumbuhkan berjalan bersama, sehingga yang dibuang dan yang tumbuh satu perbuatan.
- Padanan kata kerja terakhirnya menahan dua sisi yang dipikul akarnya sekaligus, yaitu bersih dan bertambah. Akar yang sama memberi kata untuk zakat di 2:43 dan 9:103, dan zakat pun mengurangi harta tetapi menumbuhkan yang lain. Jadi menyucikan diri di hadapan Allah bukan cuma membuang sesuatu melainkan sekaligus menumbuhkan sesuatu yang lain. Membuang sesuatu yang kotor dan menumbuhkan sesuatu yang lain berjalan bersama di dalam satu akar, bukan bergantian.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kelima, sehingga artinya menyucikan diri sendiri, bukan disucikan pihak lain. Jadi yang dinyatakan Allah perbuatan orangnya, bukan perlakuan yang diterimanya. Perbedaan itu perlu dijaga: yang pertama bisa dituntut dari seseorang, dan yang kedua cuma bisa ditunggunya. Perbuatan yang bisa dituntut dari seseorang berbeda dari perlakuan yang cuma bisa ditunggunya, dan bentuk katanya menentukan yang mana. Kepastian yang dinyatakan sebagai perkara selesai tidak menyisakan ruang untuk ditawar.
- Kata pertama ayat ini huruf yang menyatakan kepastian, dan bersama bentuk lampau ia menyatakan bahwa hal itu sudah terjadi. Jadi keberuntungan itu tidak dinyatakan Allah sebagai janji melainkan sebagai perkara yang sudah selesai. Apa bedanya bagi seseorang antara diberi janji tentang keberuntungan dan diberi tahu bahwa ia sudah beruntung? Kepastian yang dinyatakan dengan bentuk lampau menutup ruang tawar-menawar yang biasa tersedia pada sebuah janji.
- Kata kerja pertamanya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:64, 23:1, 87:14, dan 91:9. Di 23:1 dan 91:9 ia dipakai Allah untuk menyatakan keberuntungan orang yang beriman dan orang yang menyucikan jiwanya. Jadi tiga surah memakai kata yang sama untuk pernyataan yang berdekatan maksudnya, dan ketiganya menaruh syaratnya pada diri orangnya. Tiga surah yang memakai kata yang sama untuk pernyataan yang berdekatan menaruh syaratnya pada diri orangnya, bukan pada keadaannya.
- Kata sambung di tengah ayat tidak menyebut nama, sama seperti bentuk yang dipakai di 87:10. Jadi dua ayat di surah ini menyebut orang lewat sifatnya, bukan lewat namanya. Susunan itu menutup kemungkinan seseorang menganggap ayatnya berbicara tentang orang lain saja, sebab sifat bisa dimiliki siapa pun yang membacanya. Menyebut orang lewat sifatnya menutup jalan keluar yang paling mudah, yaitu menganggap ayatnya berbicara tentang orang lain.
Ayat 87:15
وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
Dan mengingat nama Tuhannya, lalu bersalat.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰwa-dzakara sma rabbihi fa-shallaadan mengingat nama Tuhannya, lalu bersalat
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَذَكَرَwa-dzakaradan menyebut
- اسْمَsmanama
- رَبِّهِrabbihiTuhannya
- فَصَلَّىٰfa-shallaalalu ia salat
Inti bacaan
Dua tindakan kunci yang membawa keberuntungan: 'dan mengingat nama Tuhannya, lalu bersalat', urutan logis dari kesadaran batin (mengingat) menuju tindakan konkret (salat), model transformasi yang bermula dari hati menuju praktik nyata.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (اسْمَ رَبِّهِ, isma rabbihi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya dengan kata ganti orang kedua muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 73:8, 76:25, dan 87:1. Jadi surah ini memakai satu rangkaian dua kali dengan dua kata ganti yang berbeda, dan yang kedua tidak punya pembanding di tempat lain.
Kata kerja (فَصَلَّىٰ, fa-shallaa) berasal dari akar yang berarti menghadap dalam doa. Akar itu dipakai di 90 ayat, antara lain 2:3, 4:103, 20:14, 29:45, dan 107:5. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar ini berbeda dari akar yang berarti terpanggang api. Akar itu dipakai di 87:12 untuk masuk ke dalam api, meskipun kedua kata itu terlihat serupa.
Perbedaan kedua akar itu patut dicatat. Yang di sini dipakai di 90 ayat dan menyebut salat, sedangkan yang di 87:12 dipakai di 25 ayat dan menyebut masuk ke dalam api. Jadi satu surah memuat dua akar yang bunyinya berdekatan tetapi maknanya berjauhan, dan keduanya berjarak tiga ayat. Kata (فَصَلَّىٰ, fa-shallaa) karena itu tidak boleh dibaca sebagai kata yang seakar dengan masuk ke dalam api.
Kata kerja (وَذَكَرَ, wa-dzakara) berbentuk lampau dan berpola pertama, berbeda dari bentuk perintah berpola kedua di 87:9 dan bentuk berpola kelima di 87:10. Jadi akar yang sama dipakai dengan tiga pola yang berbeda di dalam satu surah, dan tiap pola menyatakan arah yang berlainan.
Huruf fa di depan (فَصَلَّىٰ, fa-shallaa) menyatakan urutan yang rapat, sama seperti huruf yang sama di 87:2, 87:3, dan 87:5. Jadi salat itu menyusul mengingat nama-Nya tanpa jeda, dan susunan sebab akibat itu terbawa di dalam satu huruf.
Susunan tiga ayat dari 87:14 sampai ayat ini menyebut tiga hal berturut-turut, yaitu menyucikan diri, mengingat nama Tuhannya, dan bersalat. Jadi yang disebut bukan satu perbuatan melainkan rangkaian yang bergerak dari dalam diri ke luar. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma letak ketiganya.
Kata (وَذَكَرَ, wa-dzakara) dibuka huruf waw yang menyambungkannya kepada 87:14, sehingga kedua ayat itu satu kalimat. Jadi yang disebut bukan dua golongan melainkan satu golongan dengan tiga ciri. Memisahkan keduanya akan membuat ciri di ayat ini terbaca sebagai syarat tambahan, padahal ia bagian dari gambaran yang sama.
Kata (فَصَلَّىٰ, fa-shallaa) berpola kedua, sedangkan kata kerja di depannya berpola pertama. Jadi satu ayat memuat dua pola yang berbeda bobotnya, sama seperti susunan di 87:3. Dua ayat yang berjauhan letaknya karena itu memakai cara yang sama untuk memasangkan dua perbuatan yang tidak sederajat beratnya.
Kata (وَذَكَرَ, wa-dzakara) berbentuk lampau, sedangkan kata kerja di 87:9 berbentuk perintah dan yang di 87:10 berbentuk sekarang. Jadi satu akar dipakai dengan tiga bentuk waktu yang berbeda di dalam satu surah, dan tiap bentuk menyatakan kedudukan yang berlainan bagi pelakunya.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi ciri keberuntungan tersebut: zikir dan salat, dan rangkaian pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sedangkan bentuknya di 87:1 muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 73:8, 76:25, dan 87:1.
Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 90 ayat, antara lain 2:3, 4:103, 20:14, 29:45, dan 107:5. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar ini berbeda dari akar yang dipakai di 87:12 untuk masuk ke dalam api, meskipun kedua kata itu terlihat serupa.
Kata kerja pertamanya berbentuk lampau dan berpola pertama, berbeda dari bentuk perintah berpola kedua di 87:9 dan bentuk berpola kelima di 87:10. Jadi akar yang sama dipakai dengan tiga pola yang berbeda di dalam satu surah, dan tiap pola menyatakan arah yang berlainan.
Susunan tiga ayat dari 87:14 sampai ayat ini menyebut tiga hal berturut-turut, yaitu menyucikan diri, mengingat nama Tuhannya, dan bersalat. Jadi yang disebut bukan satu perbuatan melainkan rangkaian yang bergerak dari dalam diri ke luar. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu dengan satu kalimat pun.
Kata kerja pertamanya dibuka huruf yang menyambungkannya kepada 87:14, sehingga kedua ayat itu satu kalimat. Jadi yang disebut bukan dua golongan melainkan satu golongan dengan tiga ciri, dan memisahkannya akan membuat ciri di ayat ini terbaca sebagai syarat tambahan.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian pertama ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan bentuknya di 87:1 dengan kata ganti orang kedua muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 73:8, 76:25, dan 87:1. Jadi Allah memakai satu rangkaian dua kali di dalam satu surah dengan dua kata ganti yang berbeda, dan yang kedua tidak punya pembanding di tempat lain. Rangkaian yang cuma muncul sekali tidak punya pembanding, dan pembacanya harus menimbangnya dari letaknya di dalam surahnya.
- Kata kerja terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 90 ayat, antara lain 2:3, 4:103, 20:14, 29:45, dan 107:5, dan akar ini berbeda dari akar yang dipakai di 87:12 untuk masuk ke dalam api. Jadi Allah menaruh dua akar yang bunyinya berdekatan tetapi maknanya berjauhan di dalam satu surah, dan keduanya berjarak tiga ayat. Dua akar yang mirip bunyinya di dalam satu surah menguji ketelitian pembacanya lebih daripada ayat mana pun yang panjang.
- Kata kerja pertamanya berbentuk lampau dan berpola pertama, berbeda dari bentuk perintah berpola kedua di 87:9 dan bentuk berpola kelima di 87:10. Jadi Allah memakai satu akar dengan tiga pola yang berbeda di dalam satu surah, dan tiap pola menyatakan arah yang berlainan: mengingatkan, menerima peringatan, dan mengingat. Satu akar dengan tiga pola yang berbeda menerangkan bahwa yang menentukan arah perbuatannya polanya, bukan akarnya. Tiga ciri yang disebut berurutan bergerak dari yang paling tersembunyi ke yang paling tampak.
- Tiga ayat dari 87:14 sampai ayat ini menyebut tiga hal berturut-turut, yaitu menyucikan diri, mengingat nama Tuhannya, dan bersalat. Jadi yang disebut Allah bukan satu perbuatan melainkan rangkaian yang bergerak dari dalam diri ke luar. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu, dan yang menandainya cuma letak ketiganya. Rangkaian yang bergerak dari dalam diri ke luar menempatkan yang tak terlihat lebih dulu, dan urutan itu tidak diterangkan.
- Huruf di depan kata kerja terakhirnya menyatakan urutan yang rapat, sama seperti huruf yang sama di 87:2, 87:3, dan 87:5. Jadi salat itu menyusul mengingat nama Allah tanpa jeda, dan susunan sebab akibat itu terbawa di dalam satu huruf. Yang mendahului salat karena itu bukan gerakannya melainkan ingatan kepada-Nya. Yang mendahului salat bukan gerakannya melainkan ingatan kepada Allah, dan satu huruf penghubung yang menyatakan urutan itu. Satu akar yang bergerak lewat tiga pola menerangkan bahwa arah perbuatan ditentukan bentuknya.
- Ayat ini menyebut sebagai perbuatan yang sudah selesai apa yang di 87:1 diperintahkan Allah kepada yang disapa. Jadi surahnya memperlihatkan perintahnya sekaligus memperlihatkan orang yang sudah mengerjakannya. Apa yang lebih menggerakkan seseorang: mendengar sebuah perintah, atau melihat bahwa orang lain sudah menunaikannya lebih dulu? Sebuah surah yang memperlihatkan perintah sekaligus orang yang sudah menunaikannya menyediakan dua jalan masuk bagi pembacanya.
Ayat 87:16
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
Tetapi kalian mengutamakan kehidupan dunia,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَاbal tu'tsiruuna l-hayaata d-dunyaatetapi kalian mengutamakan kehidupan dunia
Terjemahan per kata (4 kata)
- بَلْbalbahkan
- تُؤْثِرُونَtu'tsiruunakalian mengutamakan
- الْحَيَاةَl-hayaatakehidupan
- الدُّنْيَاd-dunyaadunia
Inti bacaan
Diagnosis prioritas yang keliru: 'tetapi kalian mengutamakan kehidupan dunia', pengungkapan kecenderungan yang menghalangi pencapaian keberuntungan sejati yang telah dijelaskan sebelumnya.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (تُؤْثِرُونَ, tu-tsiruuna) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti bekas yang tertinggal. Ia dipakai di 21 ayat, antara lain 12:91, 20:84, 30:50, 59:9, dan 79:38. Di 59:9 akar itu dipakai untuk orang yang mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri, dan di 79:38 untuk orang yang mengutamakan kehidupan dunia.
Kesejajaran dengan 79:38 patut dicatat. Di sana tertulis wa-aatsara l-hayaata d-dunyaa, dan objeknya sama persis dengan objek di ayat ini. Jadi dua surah memasangkan akar yang sama dengan rangkaian yang sama, dan yang berbeda cuma bentuk kata kerjanya: yang di sana berbentuk lampau berorang ketiga, dan yang di sini berbentuk sekarang berorang kedua jamak.
Rangkaian (الْحَيَاةَ الدُّنْيَا, al-hayaata d-dunyaa) muncul 11 kali di 11 surah, antara lain di 2:86, 4:74, 16:107, 53:29, dan 79:38. Kata (الْحَيَاةَ, al-hayaata) berasal dari akar yang berarti hidup. Akar itu sudah dipakai di 87:13, sehingga akar itu muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua kedudukan yang berlawanan.
Kata (بَلْ, bal) di awal ayat huruf yang membalikkan arah pembicaraan. Jadi ayat ini bukan lanjutan melainkan bantahan bagi apa yang baru saja disebut. Susunan yang memakai huruf itu menyatakan bahwa kenyataannya berbeda dari yang seharusnya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan siapa yang dibantahnya.
Bentuk kata kerjanya berorang kedua jamak, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyapa banyak orang sekaligus. Ayat-ayat sebelumnya menyapa satu orang atau menyebut pihak ketiga. Jadi surah ini berpindah dari menyapa seorang kepada menyapa banyak orang, dan perpindahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Kata (تُؤْثِرُونَ, tu-tsiruuna) memikul kata ganti pelakunya di dalam ujungnya sendiri.
Kata (الدُّنْيَا, ad-dunyaa) berbentuk elatif perempuan dari akar yang berarti dekat. Akar itu dipakai di 128 ayat, dan artinya yang paling dekat. Jadi yang disebut bukan kehidupan yang rendah melainkan kehidupan yang paling dekat. Perbedaan itu perlu dijaga: yang membuatnya diutamakan justru kedekatannya, bukan nilainya.
Kata (بَلْ, bal) berdiri sendiri sebagai satu kata utuh, dan ia satu-satunya huruf pembalik di dalam surah ini. Delapan belas ayat lainnya tidak memakai satu pun huruf yang membalikkan arah. Jadi belokan tajam di surah ini terjadi tepat sekali, dan letaknya di ayat keenam belas dari sembilan belas.
Kata (الْحَيَاةَ الدُّنْيَا, al-hayaata d-dunyaa) ditulis dengan alif biasa pada ujungnya, dan itu satu-satunya ujung ayat di surah ini yang tidak memakai alif maqsura. Bunyinya tetap sama dengan delapan belas ayat lainnya, sehingga rimanya tidak terputus. Jadi yang berbeda cuma tulisannya, bukan bunyinya.
Tafsiran
Ayat ini menegur kecenderungan manusia mengutamakan dunia atas akhirat, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 12:91, 20:84, 30:50, 59:9, dan 79:38.
Di 59:9 akar itu dipakai untuk orang yang mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri, dan di 79:38 untuk orang yang mengutamakan kehidupan dunia. Kesejajaran dengan 79:38 patut dicatat, sebab objeknya sama persis dengan objek di ayat ini, dan yang berbeda cuma bentuk kata kerjanya.
Rangkaian terakhirnya muncul 11 kali di 11 surah, antara lain di 2:86, 4:74, 16:107, 53:29, dan 79:38. Kata pertamanya berasal dari akar yang sudah dipakai di 87:13, sehingga akar itu muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua kedudukan yang berlawanan.
Kata pertama ayat ini huruf yang membalikkan arah pembicaraan. Jadi ayat ini bukan lanjutan melainkan bantahan bagi apa yang baru saja disebut. Bentuk kata kerjanya juga berorang kedua jamak, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyapa banyak orang sekaligus.
Kata pertamanya satu-satunya huruf pembalik di dalam surah ini, dan delapan belas ayat lainnya tidak memakai satu pun huruf yang membalikkan arah. Jadi belokan tajam di surah ini terjadi tepat sekali, dan letaknya di ayat keenam belas dari sembilan belas.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 12:91, 20:84, 30:50, 59:9, dan 79:38. Di 59:9 akar itu dipakai Allah untuk orang yang mengutamakan orang lain atas dirinya sendiri. Jadi akar yang sama memikul mengutamakan yang terpuji dan mengutamakan yang tercela, dan yang membedakan cuma objeknya. Satu akar yang memikul mengutamakan yang terpuji dan yang tercela menaruh seluruh bobotnya pada apa yang dipilih, bukan pada memilihnya.
- Kata terakhirnya berbentuk elatif perempuan dari akar yang dipakai di 128 ayat, dan artinya yang paling dekat. Jadi yang disebut Allah bukan kehidupan yang rendah melainkan kehidupan yang paling dekat. Perbedaan itu perlu dijaga: yang membuatnya diutamakan justru kedekatannya, bukan nilainya, dan kedekatan bukan sesuatu yang bisa disangkal siapa pun. Kedekatan bukan sesuatu yang bisa disangkal siapa pun, dan itulah sebab yang paling dekat paling sering menang atas yang lebih baik.
- Bentuk kata kerjanya berorang kedua jamak, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyapa banyak orang sekaligus. Ayat-ayat sebelumnya menyapa satu orang atau menyebut pihak ketiga. Jadi Allah berpindah dari menyapa seorang kepada menyapa banyak orang, dan perpindahan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun. Berpindah dari menyapa seorang kepada menyapa banyak orang menarik pembacanya masuk ke dalam ayat tanpa menyebut namanya.
- Kata pertama ayat ini huruf yang membalikkan arah pembicaraan. Jadi ayat ini bukan lanjutan melainkan bantahan bagi apa yang baru saja disebut. Allah tidak menerangkan siapa yang dibantah-Nya. Siapa yang sebenarnya sedang ditegur ketika sebuah kalimat berbalik arah tanpa menyebutkan satu nama pun? Kalimat yang berbalik arah tanpa menyebut nama meninggalkan setiap pembacanya menimbang apakah ia termasuk yang ditegur. Kedekatan mengalahkan mutu pada banyak pilihan orang, dan ayat ini menamai keadaan itu apa adanya.
- Kata untuk kehidupan berasal dari akar yang sudah dipakai di 87:13, sehingga akar itu muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua kedudukan yang berlawanan. Di 87:13 hidup itu diingkari Allah bagi penghuni api, dan di sini ia justru diutamakan orang. Jadi satu akar berdiri di dua sisi yang berjauhan di dalam satu surah pendek. Satu akar yang berdiri di dua sisi berjauhan di dalam satu surah menyatakan bahwa yang sama bisa dinilai berbeda menurut tempatnya.
- Di 79:38 akar dan objeknya sama persis dengan yang di ayat ini, dan yang berbeda cuma bentuk kata kerjanya: yang di sana berbentuk lampau berorang ketiga, dan yang di sini berbentuk sekarang berorang kedua jamak. Jadi Allah menyebut perbuatan yang sama sebagai cerita di satu tempat dan sebagai teguran langsung di tempat lain. Perbuatan yang diceritakan sebagai kisah bekerja berbeda dari perbuatan yang ditegurkan langsung, sekalipun katanya sama persis.
Ayat 87:17
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰwa-l-aakhiratu khayrun wa-abqaapadahal akhirat lebih baik dan lebih kekal
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَالْآخِرَةُwa-l-aakhiratudan akhirat
- خَيْرٌkhayrunlebih baik
- وَأَبْقَىٰwa-abqaadan lebih kekal
Inti bacaan
Perbandingan nilai yang tegas: 'padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal', dua kualifikasi (lebih baik, lebih kekal) yang menegaskan superioritas pilihan jangka panjang atas kepuasan sesaat.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ, khayrun wa-abqaa) berbentuk komparatif dan dipertahankan sebagai "lebih baik dan lebih kekal", bukan superlatif "paling", sesuai bentuk elatif Arab. Kata (وَأَبْقَىٰ, wa-abqaa) muncul 7 kali di 4 surah, yaitu di 20:71, 20:73, 20:127, 20:131, 28:60, 42:36, dan 87:17.
Empat di antaranya berada di surah 20, dan itulah sebab jumlah kemunculannya jauh lebih banyak daripada jumlah surahnya. Akar yang berarti tinggal tetap itu dipakai di 21 ayat, antara lain 2:278, 11:86, 11:116, 20:73, dan 55:27. Di 55:27 akar itu dipakai untuk wajah Tuhan yang kekal ketika segala sesuatu binasa.
Kata (وَالْآخِرَةُ, wa-l-aakhiratu) berasal dari akar yang berarti belakang dan akhir, dan ia berdiri berhadapan dengan kata (الدُّنْيَا, ad-dunyaa) di 87:16. Yang pertama berarti yang terakhir dan yang kedua berarti yang paling dekat. Jadi pasangan yang dipakai bukan pasangan tinggi dan rendah melainkan pasangan dekat dan kemudian.
Susunan ayat ini memakai dua kata sifat sekaligus, yaitu lebih baik dan lebih kekal. Yang pertama menyangkut mutunya, dan yang kedua menyangkut lamanya. Jadi Al-Qur'an tidak cukup menyatakan bahwa akhirat lebih baik, melainkan menambahkan alasan yang bisa diperiksa sendiri oleh yang membacanya. Kata (خَيْرٌ, khayrun) menyangkut yang pertama, dan kata di belakangnya menyangkut yang kedua.
Bentuk kedua kata sifat itu berbentuk elatif tanpa kata sandang, sehingga ia dibaca sebagai perbandingan, bukan sebagai puncak. Perbedaan itu perlu dijaga: menuliskannya sebagai "paling" akan menutup perbandingannya, padahal yang dibandingkan cuma dua hal yang disebut di 87:16 dan ayat ini. Kata (وَأَبْقَىٰ, wa-abqaa) pun tanpa kata sandang, sehingga keduanya sejajar dalam hal itu.
Huruf waw di awal ayat menyambungkan kalimat ini kepada 87:16, sehingga keduanya satu tarikan. Jadi teguran dan alasannya diletakkan berdampingan tanpa jeda, dan Al-Qur'an tidak memberi satu kata pun yang menyatakan hubungan sebab di antara keduanya.
Kata (وَالْآخِرَةُ, wa-l-aakhiratu) berbaris dammah karena ia pokok kalimat, sedangkan kata (الدُّنْيَا, ad-dunyaa) di 87:16 berbaris fathah karena ia objek. Jadi dua kata yang berhadapan itu tidak berdiri pada kedudukan yang sama di dalam kalimatnya. Perbedaan kedudukan itu terbawa di dalam barisnya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan.
Kata (خَيْرٌ, khayrun) tidak bertakrif, sama seperti kata sifat di belakangnya. Jadi keduanya dibaca sebagai berita bagi pokok kalimatnya, bukan sebagai keterangan yang melekat padanya. Susunan berita tanpa takrif seperti itu dipakai juga di 87:18, sehingga dua ayat berurutan memakai rangka yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan keunggulan akhirat dibanding kehidupan dunia yang fana, dan kata terakhirnya muncul 7 kali di 4 surah, yaitu di 20:71, 20:73, 20:127, 20:131, 28:60, 42:36, dan 87:17.
Empat di antaranya berada di surah 20, dan itulah sebab jumlah kemunculannya jauh lebih banyak daripada jumlah surahnya. Akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 2:278, 11:86, 11:116, 20:73, dan 55:27. Di 55:27 akar itu dipakai untuk wajah Tuhan yang kekal ketika segala sesuatu binasa.
Kata keduanya berdiri berhadapan dengan kata terakhir di 87:16. Yang pertama berarti yang terakhir dan yang kedua berarti yang paling dekat. Jadi pasangan yang dipakai bukan pasangan tinggi dan rendah melainkan pasangan dekat dan kemudian.
Susunan ayat ini memakai dua kata sifat sekaligus, yaitu lebih baik dan lebih kekal. Yang pertama menyangkut mutunya, dan yang kedua menyangkut lamanya. Jadi Al-Qur'an tidak cukup menyatakan bahwa akhirat lebih baik, melainkan menambahkan alasan yang bisa diperiksa sendiri oleh yang membacanya.
Kata keduanya berbaris dammah karena ia pokok kalimat, sedangkan kata terakhir di 87:16 berbaris fathah karena ia objek. Jadi dua kata yang berhadapan itu tidak berdiri pada kedudukan yang sama di dalam kalimatnya, dan perbedaan itu terbawa di dalam barisnya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata kedua ayat ini berdiri berhadapan dengan kata terakhir di 87:16. Yang pertama berarti yang terakhir dan yang kedua berarti yang paling dekat. Jadi pasangan yang dipakai Allah bukan pasangan tinggi dan rendah melainkan pasangan dekat dan kemudian. Yang menentukan pilihan seseorang karena itu jaraknya, bukan mutunya. Pasangan dekat dan kemudian menerangkan pilihan orang lebih jujur daripada pasangan tinggi dan rendah yang biasa dipakai.
- Susunan ayat ini memakai dua kata sifat sekaligus, yaitu lebih baik dan lebih kekal. Yang pertama menyangkut mutunya, dan yang kedua menyangkut lamanya. Jadi Allah tidak cukup menyatakan bahwa akhirat lebih baik, melainkan menambahkan alasan yang bisa diperiksa sendiri oleh yang membacanya lewat perbandingan yang sederhana. Alasan yang bisa diperiksa sendiri menuntut lebih sedikit kepercayaan daripada pernyataan yang cuma bisa diterima.
- Bentuk kedua kata sifat itu elatif tanpa kata sandang, sehingga ia dibaca sebagai perbandingan, bukan sebagai puncak. Menuliskannya sebagai paling akan menutup perbandingannya, padahal yang dibandingkan Allah cuma dua hal yang disebut di 87:16 dan ayat ini. Perbandingan menuntut pembacanya menimbang, sedangkan puncak cuma menuntutnya menerima. Perbandingan menuntut pembacanya menimbang, sedangkan puncak cuma menuntutnya menerima, dan bentuk katanya menentukan yang mana.
- Kata terakhirnya muncul 7 kali di 4 surah, yaitu di 20:71, 20:73, 20:127, 20:131, 28:60, 42:36, dan 87:17, dan akarnya dipakai di 21 ayat. Di 55:27 akar itu dipakai untuk wajah Allah yang kekal ketika segala sesuatu binasa. Jadi akar yang sama menyebut kekalnya akhirat dan kekalnya Dia sendiri. Satu akar yang menyebut kekalnya akhirat dan kekalnya Allah menaruh keduanya di dalam satu kata tanpa menyamakan keduanya. Perbandingan yang bisa diperiksa menuntut lebih sedikit kepercayaan daripada pernyataan yang mutlak.
- Empat dari tujuh kemunculan kata terakhirnya berada di surah 20, dan itulah sebab jumlah kemunculannya jauh lebih banyak daripada jumlah surahnya. Dua angka yang berbeda di satu kalimat bukan tanda salah hitung, melainkan tanda bahwa satu surah memuatnya berulang kali dalam pembicaraan yang berbeda-beda. Satu surah yang memuat sebuah kata berulang kali membuat angka kemunculan dan angka surah berbeda tanpa salah satunya keliru.
- Huruf di awal ayat menyambungkan kalimat ini kepada 87:16, sehingga keduanya satu tarikan. Jadi teguran dan alasannya diletakkan Allah berdampingan tanpa jeda. Apa yang membuat seseorang tetap memilih yang lebih dekat sesudah diberi tahu bahwa yang lain lebih baik sekaligus lebih lama? Teguran dan alasannya yang diletakkan berdampingan tanpa jeda tidak menyediakan tempat bagi pembacanya untuk berhenti di antara keduanya. Dua sifat yang disebut berdampingan menutup dua sisi sekaligus: apa mutunya dan berapa lama ia bertahan.