قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ
Sungguh, beruntung orang yang menyucitumbuhkan diri,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰqad aflaha man tazakkaasungguh, beruntung orang yang menyucitumbuhkan diri
Terjemahan per kata (4 kata)
- قَدْqadsungguh
- أَفْلَحَaflahaberuntung
- مَنْmanorang yang
- تَزَكَّىٰtazakkaamenyucitumbuhkan diri
Inti bacaan
Definisi keberuntungan sejati: 'sungguh, beruntung orang yang menyucitumbuhkan diri', standar keberhasilan yang diukur dari transformasi personal, bukan pencapaian material semata.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(dari kekafiran)" tidak dipakai. Kata kerja (تَزَكَّىٰ, tazakkaa) diterjemahkan "menyucitumbuhkan diri", konsisten dengan 80:3 dan 80:7. Kata ini muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 20:76, 35:18, 79:18, 87:14, dan 92:18.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 92:18 salah satu di antara kelimanya. Kata ini karena itu menjadi kata ketiga yang dibagi surah ini dengan surah 92, sesudah kata di 87:8 dan 87:11. Akar yang berarti tumbuh dan bersih itu dipakai di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 18:81, 24:21, dan 53:32.
Bentuk (تَزَكَّىٰ, tazakkaa) berpola kelima, sehingga artinya menyucikan diri sendiri, bukan disucikan pihak lain. Padanan "menyucitumbuhkan" menahan dua sisi yang dipikul akarnya sekaligus, yaitu bersih dan bertambah. Akar yang sama memberi kata untuk zakat di 2:43 dan 9:103, dan zakat pun mengurangi harta tetapi menumbuhkan yang lain.
Kata kerja (أَفْلَحَ, aflaha) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:64, 23:1, 87:14, dan 91:9. Di 23:1 dan 91:9 ia dipakai untuk menyatakan keberuntungan orang yang beriman dan orang yang menyucikan jiwanya. Jadi tiga surah memakai kata yang sama untuk pernyataan yang berdekatan maksudnya.
Kata (قَدْ, qad) di awal ayat huruf yang menyatakan kepastian, dan bersama bentuk lampau ia menyatakan bahwa hal itu sudah terjadi. Jadi keberuntungan itu tidak dinyatakan sebagai janji melainkan sebagai perkara yang sudah selesai. Bahasa Indonesia menahannya dengan "sungguh", memakai satu kata untuk menahan kepastian yang sama.
Kata (مَنْ, man) di tengah ayat kata sambung yang tidak menyebut nama, sama seperti bentuk yang dipakai di 87:10. Jadi dua ayat di surah ini menyebut orang lewat sifatnya, bukan lewat namanya. Susunan itu menutup kemungkinan seseorang menganggap ayatnya berbicara tentang orang lain saja.
Kata (أَفْلَحَ, aflaha) berpola keempat, sehingga artinya mencapai keberuntungan, bukan diberi keberuntungan. Jadi yang dinyatakan hasil yang dicapai orangnya, bukan pemberian yang diterimanya. Perbedaan itu sejalan dengan bentuk berpola kelima pada kata kerja berikutnya, dan kedua bentuk itu sama-sama menaruh perbuatannya pada orangnya sendiri.
Kata (قَدْ, qad) huruf yang berdiri sendiri dan cuma tiga huruf, tetapi ia yang menentukan bagaimana seluruh ayat dibaca. Tanpanya kalimat ini cuma menyatakan bahwa seseorang beruntung; dengannya ia menyatakan bahwa hal itu sudah pasti terjadi. Jadi satu huruf pendek memikul beban yang tidak dipikul kata mana pun di dalam ayatnya.
Akar (تَزَكَّىٰ, tazakkaa) juga muncul di 92:18 dengan bentuk yang sama persis, dan surah itu yang sama dengan surah yang berbagi tiga kata langka lainnya dengan surah ini. Jadi kesejajaran keduanya berulang di empat tempat yang berbeda.
Bentuk (أَفْلَحَ, aflaha) berbaris fathah pada huruf terakhirnya karena ia kata kerja lampau, dan kata sesudahnya menjadi pelakunya. Jadi susunannya menaruh keberuntungan lebih dulu dan orangnya belakangan, sama seperti susunan di 87:10 dan 87:11.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan keberuntungan orang yang membersihkan dirinya, dan kata kerja terakhirnya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 20:76, 35:18, 79:18, 87:14, dan 92:18.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 92:18 salah satu di antara kelimanya. Kata ini karena itu menjadi kata ketiga yang dibagi surah ini dengan surah 92, sesudah kata di 87:8 dan 87:11. Akarnya dipakai di 56 ayat, antara lain 2:43, 9:103, 18:81, 24:21, dan 53:32.
Bentuknya berpola kelima, sehingga artinya menyucikan diri sendiri, bukan disucikan pihak lain. Padanannya menahan dua sisi yang dipikul akarnya sekaligus, yaitu bersih dan bertambah. Akar yang sama memberi kata untuk zakat di 2:43 dan 9:103, dan zakat pun mengurangi harta tetapi menumbuhkan yang lain.
Kata kerja pertamanya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:64, 23:1, 87:14, dan 91:9. Di 23:1 dan 91:9 ia dipakai untuk menyatakan keberuntungan orang yang beriman dan orang yang menyucikan jiwanya. Jadi tiga surah memakai kata yang sama untuk pernyataan yang berdekatan maksudnya.
Kata kerja pertamanya berpola keempat, sehingga artinya mencapai keberuntungan, bukan diberi keberuntungan. Jadi yang dinyatakan hasil yang dicapai orangnya, dan itu sejalan dengan bentuk berpola kelima pada kata kerja berikutnya yang juga menaruh perbuatannya pada orangnya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja terakhirnya muncul 5 kali di 5 surah, yaitu di 20:76, 35:18, 79:18, 87:14, dan 92:18. Kata ini menjadi kata ketiga yang dibagi surah ini dengan surah 92, sesudah kata di 87:8 dan 87:11. Jadi Allah menaruh tiga kata yang sama di dua surah yang berdekatan, dan tidak satu pun ayat menerangkan pengulangan itu. Tiga kata yang sama di dua surah berdekatan menandai keduanya sepasang, dan tidak satu pun ayat menyatakan pasangan itu. Membersihkan dan menumbuhkan berjalan bersama, sehingga yang dibuang dan yang tumbuh satu perbuatan.
- Padanan kata kerja terakhirnya menahan dua sisi yang dipikul akarnya sekaligus, yaitu bersih dan bertambah. Akar yang sama memberi kata untuk zakat di 2:43 dan 9:103, dan zakat pun mengurangi harta tetapi menumbuhkan yang lain. Jadi menyucikan diri di hadapan Allah bukan cuma membuang sesuatu melainkan sekaligus menumbuhkan sesuatu yang lain. Membuang sesuatu yang kotor dan menumbuhkan sesuatu yang lain berjalan bersama di dalam satu akar, bukan bergantian.
- Bentuk kata kerja terakhirnya berpola kelima, sehingga artinya menyucikan diri sendiri, bukan disucikan pihak lain. Jadi yang dinyatakan Allah perbuatan orangnya, bukan perlakuan yang diterimanya. Perbedaan itu perlu dijaga: yang pertama bisa dituntut dari seseorang, dan yang kedua cuma bisa ditunggunya. Perbuatan yang bisa dituntut dari seseorang berbeda dari perlakuan yang cuma bisa ditunggunya, dan bentuk katanya menentukan yang mana. Kepastian yang dinyatakan sebagai perkara selesai tidak menyisakan ruang untuk ditawar.
- Kata pertama ayat ini huruf yang menyatakan kepastian, dan bersama bentuk lampau ia menyatakan bahwa hal itu sudah terjadi. Jadi keberuntungan itu tidak dinyatakan Allah sebagai janji melainkan sebagai perkara yang sudah selesai. Apa bedanya bagi seseorang antara diberi janji tentang keberuntungan dan diberi tahu bahwa ia sudah beruntung? Kepastian yang dinyatakan dengan bentuk lampau menutup ruang tawar-menawar yang biasa tersedia pada sebuah janji.
- Kata kerja pertamanya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 20:64, 23:1, 87:14, dan 91:9. Di 23:1 dan 91:9 ia dipakai Allah untuk menyatakan keberuntungan orang yang beriman dan orang yang menyucikan jiwanya. Jadi tiga surah memakai kata yang sama untuk pernyataan yang berdekatan maksudnya, dan ketiganya menaruh syaratnya pada diri orangnya. Tiga surah yang memakai kata yang sama untuk pernyataan yang berdekatan menaruh syaratnya pada diri orangnya, bukan pada keadaannya.
- Kata sambung di tengah ayat tidak menyebut nama, sama seperti bentuk yang dipakai di 87:10. Jadi dua ayat di surah ini menyebut orang lewat sifatnya, bukan lewat namanya. Susunan itu menutup kemungkinan seseorang menganggap ayatnya berbicara tentang orang lain saja, sebab sifat bisa dimiliki siapa pun yang membacanya. Menyebut orang lewat sifatnya menutup jalan keluar yang paling mudah, yaitu menganggap ayatnya berbicara tentang orang lain.