وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
Padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰwa-l-aakhiratu khayrun wa-abqaapadahal akhirat lebih baik dan lebih kekal
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَالْآخِرَةُwa-l-aakhiratudan akhirat
- خَيْرٌkhayrunlebih baik
- وَأَبْقَىٰwa-abqaadan lebih kekal
Inti bacaan
Perbandingan nilai yang tegas: 'padahal akhirat itu lebih baik dan lebih kekal', dua kualifikasi (lebih baik, lebih kekal) yang menegaskan superioritas pilihan jangka panjang atas kepuasan sesaat.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ, khayrun wa-abqaa) berbentuk komparatif dan dipertahankan sebagai "lebih baik dan lebih kekal", bukan superlatif "paling", sesuai bentuk elatif Arab. Kata (وَأَبْقَىٰ, wa-abqaa) muncul 7 kali di 4 surah, yaitu di 20:71, 20:73, 20:127, 20:131, 28:60, 42:36, dan 87:17.
Empat di antaranya berada di surah 20, dan itulah sebab jumlah kemunculannya jauh lebih banyak daripada jumlah surahnya. Akar yang berarti tinggal tetap itu dipakai di 21 ayat, antara lain 2:278, 11:86, 11:116, 20:73, dan 55:27. Di 55:27 akar itu dipakai untuk wajah Tuhan yang kekal ketika segala sesuatu binasa.
Kata (وَالْآخِرَةُ, wa-l-aakhiratu) berasal dari akar yang berarti belakang dan akhir, dan ia berdiri berhadapan dengan kata (الدُّنْيَا, ad-dunyaa) di 87:16. Yang pertama berarti yang terakhir dan yang kedua berarti yang paling dekat. Jadi pasangan yang dipakai bukan pasangan tinggi dan rendah melainkan pasangan dekat dan kemudian.
Susunan ayat ini memakai dua kata sifat sekaligus, yaitu lebih baik dan lebih kekal. Yang pertama menyangkut mutunya, dan yang kedua menyangkut lamanya. Jadi Al-Qur'an tidak cukup menyatakan bahwa akhirat lebih baik, melainkan menambahkan alasan yang bisa diperiksa sendiri oleh yang membacanya. Kata (خَيْرٌ, khayrun) menyangkut yang pertama, dan kata di belakangnya menyangkut yang kedua.
Bentuk kedua kata sifat itu berbentuk elatif tanpa kata sandang, sehingga ia dibaca sebagai perbandingan, bukan sebagai puncak. Perbedaan itu perlu dijaga: menuliskannya sebagai "paling" akan menutup perbandingannya, padahal yang dibandingkan cuma dua hal yang disebut di 87:16 dan ayat ini. Kata (وَأَبْقَىٰ, wa-abqaa) pun tanpa kata sandang, sehingga keduanya sejajar dalam hal itu.
Huruf waw di awal ayat menyambungkan kalimat ini kepada 87:16, sehingga keduanya satu tarikan. Jadi teguran dan alasannya diletakkan berdampingan tanpa jeda, dan Al-Qur'an tidak memberi satu kata pun yang menyatakan hubungan sebab di antara keduanya.
Kata (وَالْآخِرَةُ, wa-l-aakhiratu) berbaris dammah karena ia pokok kalimat, sedangkan kata (الدُّنْيَا, ad-dunyaa) di 87:16 berbaris fathah karena ia objek. Jadi dua kata yang berhadapan itu tidak berdiri pada kedudukan yang sama di dalam kalimatnya. Perbedaan kedudukan itu terbawa di dalam barisnya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan.
Kata (خَيْرٌ, khayrun) tidak bertakrif, sama seperti kata sifat di belakangnya. Jadi keduanya dibaca sebagai berita bagi pokok kalimatnya, bukan sebagai keterangan yang melekat padanya. Susunan berita tanpa takrif seperti itu dipakai juga di 87:18, sehingga dua ayat berurutan memakai rangka yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan keunggulan akhirat dibanding kehidupan dunia yang fana, dan kata terakhirnya muncul 7 kali di 4 surah, yaitu di 20:71, 20:73, 20:127, 20:131, 28:60, 42:36, dan 87:17.
Empat di antaranya berada di surah 20, dan itulah sebab jumlah kemunculannya jauh lebih banyak daripada jumlah surahnya. Akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 2:278, 11:86, 11:116, 20:73, dan 55:27. Di 55:27 akar itu dipakai untuk wajah Tuhan yang kekal ketika segala sesuatu binasa.
Kata keduanya berdiri berhadapan dengan kata terakhir di 87:16. Yang pertama berarti yang terakhir dan yang kedua berarti yang paling dekat. Jadi pasangan yang dipakai bukan pasangan tinggi dan rendah melainkan pasangan dekat dan kemudian.
Susunan ayat ini memakai dua kata sifat sekaligus, yaitu lebih baik dan lebih kekal. Yang pertama menyangkut mutunya, dan yang kedua menyangkut lamanya. Jadi Al-Qur'an tidak cukup menyatakan bahwa akhirat lebih baik, melainkan menambahkan alasan yang bisa diperiksa sendiri oleh yang membacanya.
Kata keduanya berbaris dammah karena ia pokok kalimat, sedangkan kata terakhir di 87:16 berbaris fathah karena ia objek. Jadi dua kata yang berhadapan itu tidak berdiri pada kedudukan yang sama di dalam kalimatnya, dan perbedaan itu terbawa di dalam barisnya sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata kedua ayat ini berdiri berhadapan dengan kata terakhir di 87:16. Yang pertama berarti yang terakhir dan yang kedua berarti yang paling dekat. Jadi pasangan yang dipakai Allah bukan pasangan tinggi dan rendah melainkan pasangan dekat dan kemudian. Yang menentukan pilihan seseorang karena itu jaraknya, bukan mutunya. Pasangan dekat dan kemudian menerangkan pilihan orang lebih jujur daripada pasangan tinggi dan rendah yang biasa dipakai.
- Susunan ayat ini memakai dua kata sifat sekaligus, yaitu lebih baik dan lebih kekal. Yang pertama menyangkut mutunya, dan yang kedua menyangkut lamanya. Jadi Allah tidak cukup menyatakan bahwa akhirat lebih baik, melainkan menambahkan alasan yang bisa diperiksa sendiri oleh yang membacanya lewat perbandingan yang sederhana. Alasan yang bisa diperiksa sendiri menuntut lebih sedikit kepercayaan daripada pernyataan yang cuma bisa diterima.
- Bentuk kedua kata sifat itu elatif tanpa kata sandang, sehingga ia dibaca sebagai perbandingan, bukan sebagai puncak. Menuliskannya sebagai paling akan menutup perbandingannya, padahal yang dibandingkan Allah cuma dua hal yang disebut di 87:16 dan ayat ini. Perbandingan menuntut pembacanya menimbang, sedangkan puncak cuma menuntutnya menerima. Perbandingan menuntut pembacanya menimbang, sedangkan puncak cuma menuntutnya menerima, dan bentuk katanya menentukan yang mana.
- Kata terakhirnya muncul 7 kali di 4 surah, yaitu di 20:71, 20:73, 20:127, 20:131, 28:60, 42:36, dan 87:17, dan akarnya dipakai di 21 ayat. Di 55:27 akar itu dipakai untuk wajah Allah yang kekal ketika segala sesuatu binasa. Jadi akar yang sama menyebut kekalnya akhirat dan kekalnya Dia sendiri. Satu akar yang menyebut kekalnya akhirat dan kekalnya Allah menaruh keduanya di dalam satu kata tanpa menyamakan keduanya. Perbandingan yang bisa diperiksa menuntut lebih sedikit kepercayaan daripada pernyataan yang mutlak.
- Empat dari tujuh kemunculan kata terakhirnya berada di surah 20, dan itulah sebab jumlah kemunculannya jauh lebih banyak daripada jumlah surahnya. Dua angka yang berbeda di satu kalimat bukan tanda salah hitung, melainkan tanda bahwa satu surah memuatnya berulang kali dalam pembicaraan yang berbeda-beda. Satu surah yang memuat sebuah kata berulang kali membuat angka kemunculan dan angka surah berbeda tanpa salah satunya keliru.
- Huruf di awal ayat menyambungkan kalimat ini kepada 87:16, sehingga keduanya satu tarikan. Jadi teguran dan alasannya diletakkan Allah berdampingan tanpa jeda. Apa yang membuat seseorang tetap memilih yang lebih dekat sesudah diberi tahu bahwa yang lain lebih baik sekaligus lebih lama? Teguran dan alasannya yang diletakkan berdampingan tanpa jeda tidak menyediakan tempat bagi pembacanya untuk berhenti di antara keduanya. Dua sifat yang disebut berdampingan menutup dua sisi sekaligus: apa mutunya dan berapa lama ia bertahan.