إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰ
Sesungguhnya ini benar-benar ada dalam lembaran-lembaran yang terdahulu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ هَٰذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَىٰinna haadzaa la-fii sh-shuhufi l-uulaasesungguhnya ini benar-benar ada dalam lembaran-lembaran yang terdahulu
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- هَٰذَاhaadzaaini
- لَفِيla-fiibenar-benar dalam
- الصُّحُفِsh-shuhufilembaran-lembaran
- الْأُولَىٰl-uulaayang terdahulu
Inti bacaan
Kontinuitas pesan lintas generasi: 'sesungguhnya ini benar-benar ada dalam lembaran-lembaran yang terdahulu', pengakuan bahwa prinsip dasar (prioritas akhirat atas dunia) bukan ajaran baru, melainkan kesinambungan pesan yang konsisten.
Penjelasan pilihan kata
Kata tunjuk (هَٰذَا, haadzaa) menunjuk sesuatu yang dekat dan dikonfirmasi morfologi, sehingga diterjemahkan "ini" dan draf sudah tepat pada bagian itu. Yang ditunjuknya tidak dinamai, dan Al-Qur'an membiarkan rujukan itu terbuka alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.
Rangkaian (الصُّحُفِ الْأُولَىٰ, ash-shuhufi l-uulaa) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 20:133 dan 87:18. Di 20:133 rangkaian yang sama dipakai di dalam pertanyaan tentang bukti yang sudah ada pada lembaran-lembaran terdahulu. Jadi dua surah memakai rangkaian yang sama untuk maksud yang berdekatan.
Akar (الصُّحُفِ, ash-shuhufi) berarti lembaran tulisan. Akar itu cuma dipakai di 9 ayat, yaitu 20:133, 43:71, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan 98:2. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari sembilan ayat itu berada di surah ini, yaitu ayat ini dan 87:19.
Kata (الْأُولَىٰ, al-uulaa) berbentuk elatif perempuan dari akar yang berarti pertama dan pangkal. Akar itu dipakai di 158 ayat, dan artinya yang pertama atau yang terdahulu. Jadi ia berdiri berhadapan dengan kata (وَالْآخِرَةُ, wa-l-aakhiratu) di 87:17 yang berarti yang terakhir. Dua ayat berurutan karena itu memakai dua kata yang saling berlawanan waktunya.
Huruf inna di awal ayat dan huruf lam di depan kata (لَفِي, la-fii) membentuk dua penguatan sekaligus. Jadi pernyataan ini disampaikan dengan susunan yang paling kuat yang tersedia di dalam bahasanya. Susunan berlapis yang sama dipakai di 87:7, sehingga dua ayat di surah ini memakai cara menegaskan yang sama.
Bentuk (الصُّحُفِ, ash-shuhufi) berbentuk jamak, sehingga yang disebut bukan satu lembaran melainkan beberapa. Bahasa Indonesia menahannya dengan "lembaran-lembaran", memakai perulangan untuk menahan bentuk jamak yang sama alih-alih menyebutkannya dengan kata bilangan.
Kata (هَٰذَا, haadzaa) menunjuk yang dekat, dan Al-Qur'an menyediakan kata lain untuk menunjuk yang jauh. Jadi pilihan kata ini menyatakan bahwa yang ditunjuk berada di dekat pembicaraannya, bukan di tempat lain. Menggantinya dengan kata yang menunjuk yang jauh akan mengubah hubungannya dengan ayat-ayat sebelumnya.
Kata (لَفِي, la-fii) gabungan huruf penegas dan huruf yang menyatakan berada di dalam. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa hal itu mirip dengan isi lembaran terdahulu melainkan bahwa ia berada di dalamnya. Perbedaan itu perlu dijaga: berada di dalam sesuatu lebih kuat daripada menyerupainya.
Kata (الصُّحُفِ, ash-shuhufi) berbaris kasrah karena ia berada sesudah huruf yang menyatakan berada di dalam. Jadi kedudukan i'rabnya ditentukan huruf di depannya, dan bentuk yang sama diulang di 87:19 dengan sebab yang berbeda. Dua ayat berurutan karena itu memakai baris yang sama karena dua alasan yang tidak sama.
Kata (الْأُولَىٰ, al-uulaa) berbentuk perempuan mengikuti kata bendanya yang berbentuk jamak, sebab jamak benda mati di dalam bahasa Arab diperlakukan sebagai perempuan tunggal. Jadi kesesuaian bentuk itu bukan tanda bahwa lembarannya satu, melainkan aturan tata bahasa yang berlaku umum.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa ajaran ini telah ada dalam kitab-kitab terdahulu, dan rangkaian terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 20:133 dan 87:18.
Di 20:133 rangkaian yang sama dipakai di dalam pertanyaan tentang bukti yang sudah ada pada lembaran-lembaran terdahulu. Jadi dua surah memakai rangkaian yang sama untuk maksud yang berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Akar kata keempatnya cuma dipakai di 9 ayat, yaitu 20:133, 43:71, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan 98:2. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari sembilan ayat itu berada di surah ini, yaitu ayat ini dan 87:19.
Kata terakhirnya berbentuk elatif perempuan dan artinya yang pertama atau yang terdahulu. Jadi ia berdiri berhadapan dengan kata kedua di 87:17 yang berarti yang terakhir. Dua ayat berurutan karena itu memakai dua kata yang saling berlawanan waktunya, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu.
Kata ketiganya gabungan huruf penegas dan huruf yang menyatakan berada di dalam. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa hal itu mirip dengan isi lembaran terdahulu melainkan bahwa ia berada di dalamnya, dan berada di dalam sesuatu lebih kuat daripada menyerupainya. Bentuk kata keempatnya jamak, sehingga yang disebut bukan satu lembaran melainkan beberapa, dan menyebutkan bilangannya akan menutup sesuatu yang dibiarkan terbuka.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata keempatnya cuma dipakai di 9 ayat, yaitu 20:133, 43:71, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan 98:2. Dua dari sembilan ayat itu berada di surah ini, yaitu 87:18 dan 87:19. Jadi Allah memadatkan seperlima pemakaian sebuah akar yang jarang ke dalam dua ayat yang berurutan. Memadatkan seperlima pemakaian sebuah akar yang jarang ke dalam dua ayat berurutan menandai kedua ayat itu tanpa satu kata penanda. Kabar yang dinyatakan sudah ada sebelumnya menyingkirkan tuduhan bahwa ia baru dikarang.
- Kata tunjuk di awal ayat menunjuk sesuatu yang dekat, dan yang ditunjuknya tidak dinamai. Allah membiarkan rujukan itu terbuka alih-alih menutupnya dengan satu pilihan. Apa sebenarnya yang dinyatakan sudah ada di lembaran terdahulu: seluruh surahnya, atau cuma dua ayat yang baru saja disebut sebelumnya? Rujukan yang dibiarkan terbuka menjaga agar pembacanya tidak menutup ayat dengan pilihan yang tidak dinyatakan teksnya. Rujukan yang dibiarkan terbuka menjaga agar pembacanya tidak menutup ayat dengan pilihannya sendiri.
- Kata terakhirnya berbentuk elatif perempuan dan artinya yang pertama atau yang terdahulu, sehingga ia berdiri berhadapan dengan kata kedua di 87:17 yang berarti yang terakhir. Jadi dua ayat berurutan memakai dua kata yang saling berlawanan waktunya, dan Allah tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Dua kata yang berlawanan waktunya di dua ayat berurutan menaruh yang terdahulu dan yang terakhir di dalam satu pandangan.
- Huruf di awal ayat dan huruf di depan kata ketiganya membentuk dua penguatan sekaligus, sehingga pernyataan ini disampaikan Allah dengan susunan yang paling kuat yang tersedia di dalam bahasanya. Susunan berlapis yang sama dipakai di 87:7, sehingga dua ayat di surah ini memakai cara menegaskan yang sama. Penguatan berlapis dipakai ketika ada sesuatu yang mungkin disangkal, dan yang disangkal di sini justru kesinambungan kabarnya.
- Rangkaian terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 20:133 dan 87:18. Di 20:133 rangkaian yang sama dipakai Allah di dalam pertanyaan tentang bukti yang sudah ada pada lembaran-lembaran terdahulu. Jadi dua surah memakai rangkaian yang sama untuk maksud yang berdekatan, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang diulang. Rangkaian yang berulang tanpa diubah di dua surah menandai keduanya sejajar, dan yang menyambungkannya cuma bentuknya sendiri.
- Kata keempatnya berbentuk jamak, sehingga yang disebut Allah bukan satu lembaran melainkan beberapa. Terjemahannya memakai perulangan untuk menahan bentuk jamak yang sama alih-alih menyebutkannya dengan kata bilangan. Menyebutkan bilangannya akan menutup sesuatu yang dibiarkan terbuka oleh bentuk katanya sendiri. Bentuk jamak yang tidak menyebut bilangan menjaga cakupannya tetap terbuka, dan menyebut bilangannya akan menutupnya. Kabar yang dinyatakan sudah ada sebelumnya menyingkirkan tuduhan bahwa ia baru dikarang.