صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ
Lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰshuhufi ibraahiima wa-muusaalembaran-lembaran Ibrahim dan Musa
Terjemahan per kata (3 kata)
- صُحُفِshuhufilembaran-lembaran
- إِبْرَاهِيمَibraahiimaIbrahim
- وَمُوسَىٰwa-muusaadan Musa
Inti bacaan
Identifikasi sumber historis spesifik: '(yaitu) lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa', rujukan konkret pada tradisi kenabian sebelumnya, menegaskan kesatuan inti ajaran sepanjang sejarah.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(yaitu)" tidak dipakai, sebab kalimat ini fragmen apositif lanjutan dari 87:18 tanpa penambahan kata pembuka. Dari 9 ayat yang memakai akar yang berarti lembaran tulisan, cuma dua yang menyandarkan lembaran itu kepada nama orang, yaitu 53:36 dan ayat ini. Tujuh sisanya menyebutnya tanpa pemilik: 20:133 dan 87:18 menyebutnya sebagai yang terdahulu, 74:52, 80:13, dan 98:2 menyebut sifatnya, 81:10 menyebut keadaannya pada hari kiamat, dan 43:71 memakai bentuk lain dari akar yang sama untuk piring emas.
Pasangan kedua nama itu muncul juga di 53:36 dan 53:37, tetapi urutannya terbalik. Di sana tertulis (صُحُفِ مُوسَىٰ, shuhufi muusaa) lebih dulu, dan nama Ibrahim menyusul di ayat berikutnya. Jadi dua tempat menyebut pasangan yang sama dengan urutan yang berlawanan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan urutan itu.
Kata (صُحُفِ, shuhufi) di ayat ini tidak bertakrif, berbeda dari bentuknya di 87:18 yang memakai kata sandang. Jadi satu kata muncul dua kali di dua ayat berurutan dengan dua cara penakrifan yang berbeda: yang pertama menyebut jenisnya sebagai yang sudah dikenal, dan yang kedua menyandarkannya kepada nama.
Akar (صُحُفِ, shuhufi) berarti lembaran tulisan. Akar itu cuma dipakai di 9 ayat, yaitu 20:133, 43:71, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan 98:2. Di 74:52 dan 81:10 akar itu menyebut lembaran yang dibentangkan pada hari perhitungan, sehingga satu akar memikul kitab yang diturunkan dan catatan yang dibuka.
Kedua nama di ayat ini nama diri, dan keduanya tidak berakar menurut morfologi. Jadi ayat penutup surah ini satu-satunya ayat yang menyebut nama manusia, sedangkan delapan belas ayat sebelumnya tidak menyebut satu nama pun kecuali nama Allah di 87:7.
Susunan surah ini karena itu ditutup dengan dua nama. Bahasa Indonesia menahannya dengan menyebut keduanya berurutan tanpa kata penghubung tambahan, mengikuti kependekan Arabnya. Menyisipkan kata pembuka akan mengubah fragmen apositif ini menjadi kalimat yang berdiri sendiri, dan hubungannya dengan 87:18 akan melonggar.
Kata (صُحُفِ, shuhufi) berbaris kasrah karena ia menjadi pengganti bagi kata yang sama di 87:18. Jadi kedudukan i'rabnya ditentukan oleh ayat sebelumnya, bukan oleh susunan ayatnya sendiri. Ketergantungan itu bukti tambahan bahwa kedua ayat harus dibaca sebagai satu kalimat yang tidak terpisah.
Kata (إِبْرَاهِيمَ, ibraahiima) dan kata (وَمُوسَىٰ, wa muusaa) sama-sama nama diri dan sama-sama berbaris fathah meskipun kedudukannya menuntut kasrah. Bentuk semacam itu memang lazim bagi nama diri tertentu di dalam bahasa Arab. Jadi dua nama di ujung surah ini menyimpang dari aturan baris yang berlaku bagi kata benda biasa.
Kata (وَمُوسَىٰ, wa muusaa) ditutup alif maqsura, sehingga ayat terakhir surah ini memikul rima yang sama dengan delapan belas ayat sebelumnya. Jadi nama diri pun jatuh pada bunyi yang sama, dan keseragaman rima surahnya bertahan sampai kata yang paling akhir.
Tafsiran
Ayat penutup surah ini menyebut secara eksplisit sumber kitab terdahulu tersebut: lembaran Ibrahim dan Musa. Dari 9 ayat yang memakai akar kata pertamanya, cuma dua yang menyandarkan lembaran itu kepada nama orang, yaitu 53:36 dan ayat ini, sedangkan tujuh sisanya menyebutnya tanpa pemilik.
Pasangan kedua nama itu muncul juga di 53:36 dan 53:37, tetapi urutannya terbalik. Di sana nama Musa disebut lebih dulu, dan nama Ibrahim menyusul di ayat berikutnya. Jadi dua tempat menyebut pasangan yang sama dengan urutan yang berlawanan, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan urutan itu.
Kata pertamanya tidak bertakrif, berbeda dari bentuknya di 87:18 yang memakai kata sandang. Jadi satu kata muncul dua kali di dua ayat berurutan dengan dua cara penakrifan yang berbeda: yang pertama menyebut jenisnya sebagai yang sudah dikenal, dan yang kedua menyandarkannya kepada nama.
Kedua nama di ayat ini nama diri, dan keduanya tidak berakar menurut morfologi. Jadi ayat penutup surah ini satu-satunya ayat yang menyebut nama manusia, sedangkan delapan belas ayat sebelumnya tidak menyebut satu nama pun kecuali nama Allah di 87:7.
Kata pertamanya berbaris kasrah karena ia menjadi pengganti bagi kata yang sama di 87:18. Jadi kedudukan i'rabnya ditentukan oleh ayat sebelumnya, bukan oleh susunan ayatnya sendiri, dan ketergantungan itu bukti tambahan bahwa kedua ayat harus dibaca sebagai satu kalimat.
Renungan dan Hikmah
- Pasangan kedua nama di ayat ini muncul juga di 53:36 dan 53:37, tetapi urutannya terbalik: di sana nama Musa disebut lebih dulu, dan nama Ibrahim menyusul di ayat berikutnya. Jadi Allah menyebut pasangan yang sama dengan urutan yang berlawanan di dua tempat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan urutan itu. Pasangan nama yang sama dengan urutan yang berlawanan di dua tempat menuntut pembacanya memperhatikan urutannya, bukan cuma isinya.
- Kata pertamanya tidak bertakrif, berbeda dari bentuknya di 87:18 yang memakai kata sandang. Jadi satu kata muncul dua kali di dua ayat berurutan dengan dua cara penakrifan yang berbeda: yang pertama menyebut jenisnya sebagai yang sudah dikenal, dan yang kedua menyandarkannya kepada nama. Dua cara itu sama-sama dipakai Allah. Dua cara penakrifan pada satu kata di dua ayat berurutan menerangkan bahwa yang berubah kedudukannya, bukan bendanya.
- Akar kata pertamanya cuma dipakai di 9 ayat, yaitu 20:133, 43:71, 53:36, 74:52, 80:13, 81:10, 87:18, 87:19, dan 98:2. Di 74:52 dan 81:10 akar itu menyebut lembaran yang dibentangkan pada hari perhitungan. Jadi satu akar memikul kitab yang diturunkan Allah dan catatan yang dibuka atas manusia. Satu akar yang memikul kitab yang diturunkan dan catatan yang dibuka menyandingkan apa yang diberikan dan apa yang diperhitungkan. Menutup dengan menoleh ke belakang menyatakan kesinambungan tanpa satu kalimat pun yang mengumumkannya.
- Kedua nama di ayat ini nama diri, dan keduanya tidak berakar menurut morfologi. Jadi ayat penutup surah ini satu-satunya ayat yang menyebut nama manusia, sedangkan delapan belas ayat sebelumnya tidak menyebut satu nama pun kecuali nama Allah di 87:7. Surah ini karena itu memuat tepat tiga nama, dan dua di antaranya di ayat terakhirnya. Sebuah surah yang cuma memuat tiga nama, dan dua di antaranya di ayat terakhir, menaruh seluruh bobot penamaan di ujungnya.
- Surah yang dibuka dengan perintah menyucikan nama Allah ditutup dengan menyebut dua orang yang sudah menerima lembaran sebelum ini. Jadi ujungnya menoleh ke belakang, bukan ke depan. Apa yang dinyatakan sebuah kitab tentang dirinya sendiri ketika ia menutup dengan menunjuk kitab-kitab yang mendahuluinya? Menutup dengan menoleh ke belakang menyatakan bahwa yang dibawa bukan barang baru, dan pernyataan itu dikerjakan tanpa satu kalimat pun. Dua nama di ujung surah menaruh seluruh bobot penamaannya di tempat yang paling akhir dibaca.
- Kalimat ini fragmen apositif lanjutan dari 87:18 tanpa penambahan kata pembuka. Menyisipkan kata pembuka akan mengubahnya menjadi kalimat yang berdiri sendiri, dan hubungannya dengan ayat sebelumnya akan melonggar. Jadi ayat terakhir surah ini bahkan tidak berdiri sebagai kalimat penuh, dan ia bergantung sepenuhnya pada ayat di depannya. Ayat yang bahkan tidak berdiri sebagai kalimat penuh menutup surahnya, dan ketergantungan itu bagian dari cara ia menutup.