بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.
هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِ
Sampaikah padamu tuturan peristiwa dahsyat?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- هَلْ أَتَاكَ حَدِيثُ الْغَاشِيَةِhal ataaka hadiitsu l-ghaasyiyatisampaikah padamu tuturan peristiwa dahsyat
Terjemahan per kata (4 kata)
- هَلْhalapakah
- أَتَاكَataakadatang kepadamu
- حَدِيثُhadiitsukisah
- الْغَاشِيَةِl-ghaasyiyatiperistiwa dahsyat
Inti bacaan
Pembukaan Al-Ghashiyah dengan pertanyaan yang menggugah: 'sampaikah padamu tuturan peristiwa dahsyat?', teknik retoris yang membangun antisipasi tentang topik penting yang akan dibahas.
Penjelasan pilihan kata
Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kata (الْغَاشِيَةِ, al-ghaasyiyati) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menyelubungi. Ia dipakai di 26 ayat, antara lain 2:7, 7:41, 14:50, 24:40, dan 53:54.
Di 7:41 dan 14:50 akar itu dipakai untuk sesuatu yang menyelimuti dari atas, dan di 2:7 untuk penutup pada penglihatan. Jadi akar yang sama menyebut selimut api, penutup mata, dan di sini nama bagi sebuah peristiwa. Yang menyatukan seluruhnya sesuatu yang menutupi sampai tidak ada yang tersisa di luarnya. Kata (الْغَاشِيَةِ, al-ghaasyiyati) sendiri tidak dipakai untuk selimut di satu pun tempat lain.
Rangkaian (هَلْ أَتَاكَ, hal ataaka) muncul 6 kali di 6 surah, yaitu di 20:9, 38:21, 51:24, 79:15, 85:17, dan 88:1. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa kata yang menyusulnya, yaitu kata untuk tuturan, hadir di lima dari enam tempat itu, yaitu di 20:9, 51:24, 79:15, 85:17, dan 88:1, sedangkan 38:21 memakai kata yang berbeda.
Jadi lima surah memakai rangkaian yang sama persis untuk membuka sebuah kabar. Di 20:9 yang dikabarkan Musa, di 51:24 tamu Ibrahim, di 79:15 kembali Musa, dan di 85:17 pasukan-pasukan. Yang di sini berbeda dari keempatnya: yang dikabarkan bukan orang melainkan sebuah peristiwa.
Bentuk kata kerja (أَتَاكَ, ataaka) berbentuk lampau, sehingga pertanyaannya menyangkut sesuatu yang mungkin sudah sampai. Jadi yang ditanyakan bukan apakah ia akan datang melainkan apakah kabarnya sudah tiba. Perbedaan itu perlu dijaga: yang datang kabarnya, bukan peristiwanya sendiri.
Kata (الْغَاشِيَةِ, al-ghaasyiyati) bertakrif, sehingga yang disebut peristiwa yang sudah tertentu, bukan sembarang peristiwa. Tetapi apa persisnya tidak diterangkan di dalam surah ini dengan satu kalimat pun. Bahasa Indonesia menahannya dengan "peristiwa dahsyat", memakai kata sifat untuk menahan muatan yang di dalam Arabnya terbawa oleh katanya sendiri.
Bentuk (الْغَاشِيَةِ, al-ghaasyiyati) bentuk pelaku perempuan, sehingga ia menyebut sesuatu yang menyelimuti, bukan sesuatu yang diselimuti. Perbedaan itu perlu dijaga: bentuk pelaku menaruh perbuatannya pada bendanya sendiri. Jadi peristiwa itu bukan yang tertimpa melainkan yang menimpa, dan tidak disebutkan apa yang ditimpanya.
Susunan surah ini juga patut dicatat. Ia dibuka pertanyaan di ayat ini, lalu enam ayat tentang satu golongan, sembilan ayat tentang golongan lain, empat ayat pertanyaan lagi, dan enam ayat penutup. Jadi bangunannya terbagi lima bagian yang tidak sama panjangnya, dan Al-Qur'an tidak menandai satu pun batas di antaranya dengan kata pemisah.
Tafsiran
Ayat ini membuka surah dengan pertanyaan retoris tentang peristiwa dahsyat Hari Kiamat, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 26 ayat, antara lain 2:7, 7:41, 14:50, 24:40, dan 53:54.
Di 7:41 dan 14:50 akar itu dipakai untuk sesuatu yang menyelimuti dari atas, dan di 2:7 untuk penutup pada penglihatan. Jadi akar yang sama menyebut selimut api, penutup mata, dan di sini nama bagi sebuah peristiwa. Yang menyatukan seluruhnya sesuatu yang menutupi sampai tidak ada yang tersisa di luarnya.
Rangkaian dua kata pertamanya muncul 6 kali di 6 surah, yaitu di 20:9, 38:21, 51:24, 79:15, 85:17, dan 88:1. Kata ketiganya menyusul di lima dari enam tempat itu, yaitu di 20:9, 51:24, 79:15, 85:17, dan 88:1, sedangkan 38:21 memakai kata yang berbeda.
Jadi lima surah memakai rangkaian yang sama persis untuk membuka sebuah kabar. Di 20:9 yang dikabarkan Musa, di 51:24 tamu Ibrahim, di 79:15 kembali Musa, dan di 85:17 pasukan-pasukan. Yang di sini berbeda dari keempatnya: yang dikabarkan bukan orang melainkan sebuah peristiwa, dan Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun.
Bentuk kata terakhirnya bentuk pelaku perempuan, sehingga ia menyebut sesuatu yang menyelimuti, bukan sesuatu yang diselimuti. Jadi peristiwa itu bukan yang tertimpa melainkan yang menimpa, dan tidak disebutkan apa yang ditimpanya. Ketiadaan objek itu menjaga cakupannya tetap seluas mungkin.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian dua kata pertama ayat ini muncul 6 kali di 6 surah, yaitu di 20:9, 38:21, 51:24, 79:15, 85:17, dan 88:1, dan kata ketiganya menyusul di lima di antaranya. Jadi lima surah memakai rangkaian yang sama persis untuk membuka sebuah kabar dari Allah. Yang di sini berbeda dari empat lainnya: yang dikabarkan bukan orang melainkan sebuah peristiwa, dan Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu. Sebuah pembuka yang berulang di lima surah menandai kelimanya sebagai satu keluarga tanpa satu kalimat pun yang menyatakannya.
- Akar kata terakhirnya dipakai di 26 ayat, antara lain 2:7, 7:41, 14:50, 24:40, dan 53:54. Di 7:41 dan 14:50 akar itu dipakai Allah untuk sesuatu yang menyelimuti dari atas, dan di 2:7 untuk penutup pada penglihatan. Jadi akar yang sama menyebut selimut api, penutup mata, dan di sini nama bagi sebuah peristiwa, dan yang menyatukannya sesuatu yang menutupi sampai tidak ada yang tersisa di luarnya. Akar yang memikul beberapa gambaran sekaligus menuntut pembacanya memeriksa seluruh pemakaiannya, bukan cuma yang paling dekat.
- Bentuk kata kerjanya lampau, sehingga pertanyaannya menyangkut sesuatu yang mungkin sudah sampai. Jadi yang ditanyakan Allah bukan apakah peristiwanya akan datang melainkan apakah kabarnya sudah tiba. Perbedaan itu perlu dijaga: yang datang kabarnya, bukan peristiwanya sendiri, dan seluruh surah ini berdiri di atas kabar itu, bukan di atas kejadiannya. Kabar yang datang lebih dulu daripada peristiwanya memberi waktu, dan waktu itu satu-satunya yang tersedia bagi yang menerimanya.
- Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disebut peristiwa yang sudah tertentu, bukan sembarang peristiwa. Tetapi apa persisnya tidak diterangkan Allah di dalam surah ini dengan satu kalimat pun. Jadi sebuah nama diberikan tanpa penjelasan, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma gambaran yang dibawa akarnya, yaitu sesuatu yang menyelimuti. Sebuah nama tanpa keterangan menahan perhatian pada namanya sendiri, dan gambaran yang dibawa akarnya menjadi satu-satunya jalan masuk.
- Ayat ini berbentuk pertanyaan, tetapi tidak ada jawaban yang diberikan di ayat berikutnya. Yang datang sesudahnya justru gambaran, bukan jawaban ya atau tidak. Jadi Allah memakai bentuk tanya untuk membuka, bukan untuk meminta keterangan. Apa yang dikerjakan sebuah pertanyaan pada orang yang membacanya ketika jawabannya tidak pernah diminta? Pertanyaan yang tidak menunggu jawaban bekerja dengan cara lain: ia menaruh pokoknya di kepala pembacanya sebelum apa pun diceritakan.
- Kata kerjanya memakai kata ganti orang kedua tunggal, sehingga yang disapa satu orang. Dua puluh ayat sesudahnya berbicara tentang pihak ketiga, dan sapaan langsung baru kembali di 88:21 dan 88:22. Jadi Allah membuka dan menutup surah ini dengan menyapa satu orang, dan bagian tengahnya seluruhnya berupa gambaran tentang orang lain. Sapaan kepada satu orang di pembuka dan penutup mengapit seluruh gambaran di tengahnya, dan susunan itu tidak diterangkan sama sekali.