Ayat 88:2

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ

Banyak wajah pada hari itu tertunduk,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌwujuuhun yawma'idzin khaasyi'atunbanyak wajah pada hari itu tertunduk

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وُجُوهٌwujuuhunwajah-wajah
  2. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  3. خَاشِعَةٌkhaasyi'atuntertunduk

Inti bacaan

Kondisi wajah golongan pertama: 'banyak wajah pada hari itu tertunduk', indikator visual pertama tentang kondisi batin yang menyertai peristiwa dahsyat tersebut.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ, wujuuhun yauma-idzin) muncul 6 kali di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa ketiga surah itu memakainya tepat dua kali, sekali untuk golongan yang senang dan sekali untuk golongan yang celaka.

Jadi susunannya sama di ketiga tempat: dua kelompok wajah disebut berpasangan, dan yang membedakan cuma kata sifat yang menyusulnya. Di 75:22 dan 75:24 kata sifatnya berseri dan bermuram, di 80:38 dan 80:40 berseri dan berdebu, dan di sini tertunduk dan berseri-seri. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.

Kata (خَاشِعَةٌ, khaasyi'atun) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 79:9 dan 88:2. Di 79:9 tertulis absaaruhaa khaasyi'ah, dan yang disifati di sana penglihatan, bukan wajah. Jadi satu kata dipakai untuk dua bagian tubuh yang berbeda di dua surah yang berdekatan.

Kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) tidak bertakrif dan berbentuk jamak, sehingga yang disebut sebagian wajah, bukan seluruhnya. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai wajah-wajah yang tertentu akan menutup kemungkinan adanya golongan lain, padahal golongan lain itu justru disebut di 88:8.

Yang disebut wajah, bukan orang. Jadi Al-Qur'an menyebut manusia lewat bagian tubuh yang paling terlihat dan paling tidak bisa disembunyikan. Bentuk (وُجُوهٌ, wujuuhun) diulang lagi di 88:8, sehingga dua golongan sama-sama disebut lewat wajah mereka, bukan lewat perbuatan atau kepercayaan mereka.

Kata (يَوْمَئِذٍ, yauma-idzin) menandai waktu, dan ia menyambung kepada peristiwa yang disebut di 88:1. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan yang menerangkan keadaan pada hari itu. Bahasa Indonesia menahannya dengan "pada hari itu", memakai kata tunjuk untuk menahan penunjukan yang sama.

Bentuk (خَاشِعَةٌ, khaasyi'atun) bentuk pelaku perempuan yang mengikuti bentuk jamak benda mati di dalam bahasa Arab. Akarnya berarti tunduk merendah. Ia dipakai di 17 ayat, antara lain 2:45, 21:90, 23:2, 42:45, dan 59:21. Di 23:2 akar itu dipakai untuk orang beriman yang khusyuk di dalam salatnya.

Jadi akar yang sama menyebut ketundukan yang dipilih di dalam ibadah dan ketundukan yang dipaksakan pada hari perhitungan. Yang membedakan bukan katanya melainkan siapa yang mengalaminya dan kapan. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (خَاشِعَةٌ, khaasyi'atun) di sini melekat pada wajah, bukan pada penglihatan.

Kata (يَوْمَئِذٍ, yauma-idzin) gabungan kata untuk hari dan kata tunjuk yang menyatakan waktu tertentu. Bentuk yang sama diulang di 88:8, dan itu satu-satunya penanda waktu di seluruh surah ini. Jadi dua puluh enam ayat surahnya bergantung pada satu waktu yang disebut dua kali saja, dan waktu itu tidak dinamai selain lewat peristiwa di 88:1.

Tafsiran

Ayat ini membuka gambaran keadaan wajah-wajah yang tertunduk pada hari itu, dan dua kata pertamanya muncul 6 kali di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa ketiga surah itu memakainya tepat dua kali, sekali untuk golongan yang senang dan sekali untuk golongan yang celaka. Jadi susunannya sama di ketiga tempat: dua kelompok wajah disebut berpasangan, dan yang membedakan cuma kata sifat yang menyusulnya.

Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 79:9 dan 88:2. Di 79:9 yang disifati penglihatan, bukan wajah. Jadi satu kata dipakai untuk dua bagian tubuh yang berbeda di dua surah yang berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.

Kata pertamanya tidak bertakrif dan berbentuk jamak, sehingga yang disebut sebagian wajah, bukan seluruhnya. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai wajah-wajah yang tertentu akan menutup kemungkinan adanya golongan lain, padahal golongan lain itu justru disebut di 88:8.

Akar kata terakhirnya dipakai di 17 ayat, antara lain 2:45, 21:90, 23:2, 42:45, dan 59:21. Di 23:2 akar itu dipakai untuk orang beriman yang khusyuk di dalam salatnya. Jadi akar yang sama menyebut ketundukan yang dipilih di dalam ibadah dan ketundukan yang dipaksakan pada hari perhitungan.

Renungan dan Hikmah

  • Dua kata pertama ayat ini muncul 6 kali di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8, dan ketiga surah itu memakainya tepat dua kali. Jadi Allah menyebut dua kelompok wajah berpasangan di ketiga tempat, dan yang membedakan cuma kata sifat yang menyusulnya. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Pola yang berulang persis di tiga surah tidak bisa disebut kebetulan, tetapi juga tidak diterangkan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun.
  • Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 79:9 dan 88:2. Di 79:9 yang disifati Allah penglihatan, bukan wajah. Jadi satu kata dipakai untuk dua bagian tubuh yang berbeda di dua surah yang berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang menyambungkannya cuma bentuk yang diulang tanpa diubah sedikit pun. Satu kata yang menyifati dua bagian tubuh di dua surah menuntut pembacanya memperhatikan apa yang disifati, bukan cuma kata sifatnya.
  • Kata pertamanya tidak bertakrif dan berbentuk jamak, sehingga yang disebut sebagian wajah, bukan seluruhnya. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai wajah-wajah yang tertentu akan menutup kemungkinan adanya golongan lain, padahal golongan itu justru disebut Allah di 88:8 dengan bentuk yang sama. Ketiadaan kata sandang menjaga pintu tetap terbuka bagi golongan lain, dan golongan itu memang datang beberapa ayat kemudian. Sebuah waktu yang disebut dua kali saja menopang seluruh gambaran di dalam surahnya.
  • Yang disebut wajah, bukan orang. Jadi Allah menyebut manusia lewat bagian tubuh yang paling terlihat dan paling tidak bisa disembunyikan. Bentuk yang sama diulang di 88:8, sehingga dua golongan sama-sama disebut lewat wajah mereka, bukan lewat perbuatan atau kepercayaan mereka, dan pembacanya tidak diberi tahu apa yang membawa mereka ke sana. Menyebut manusia lewat wajahnya memindahkan seluruh keterangan kepada apa yang tidak bisa disembunyikan seorang pun dari orang lain.
  • Ayat ini menyebut keadaan wajah itu tanpa menyebut apa yang menyebabkannya. Sebabnya baru terbaca dari 88:23 di ujung surah, dan itu pun tentang golongan yang lain. Jadi Allah memperlihatkan akibatnya lebih dulu dan menahan sebabnya sampai hampir seluruh surah terlewati. Apa yang dikerjakan urutan itu pada orang yang membacanya dari awal? Akibat yang diperlihatkan lebih dulu dan sebabnya ditahan sampai akhir membuat pembacanya membawa pertanyaan sepanjang surah.
  • Bentuk kata terakhirnya bentuk pelaku, tetapi maknanya keadaan yang menimpa, bukan perbuatan yang dipilih. Jadi wajah itu tidak digambarkan Allah sedang merendahkan diri melainkan sedang berada dalam keadaan tunduk. Perbedaan itu menentukan: yang pertama masih berupa pilihan, dan yang kedua sudah menjadi keadaan yang tidak bisa diubah. Keadaan yang tidak bisa diubah berbeda dari sikap yang masih bisa dipilih, dan bentuk katanya sendiri yang menentukan yang mana.

Ayat 88:3

عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ

Bekerja keras lagi kepayahan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ'aamilatun naashibatunbekerja keras lagi kepayahan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. عَامِلَةٌ'aamilatunyang bekerja keras
  2. نَاصِبَةٌnaashibatunyang kepayahan

Inti bacaan

Ironi usaha tanpa hasil: 'bekerja keras lagi kepayahan', gambaran pahit tentang kerja keras yang tidak membuahkan hasil positif, peringatan bahwa usaha tanpa arah spiritual yang benar bisa menjadi sia-sia.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ, 'aamilatun naashibatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kedua katanya berbentuk pelaku dan tidak bertakrif, dan keduanya menerangkan kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) di 88:2. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan keterangan bagi ayat sebelumnya.

Akar (نَاصِبَةٌ, naashibatun) berarti menegakkan dan memancangkan. Akar itu dipakai di 29 ayat, antara lain 5:3, 21:98, 38:41, 70:43, dan 94:7. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar itu muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 88:19, dan kedua pemakaiannya berjauhan maksudnya.

Di sini akar itu menyebut kepayahan, dan di 88:19 ia menyebut gunung yang ditegakkan. Jadi satu akar memikul lelah yang menimpa manusia dan tegak yang dikerjakan atas gunung. Yang menyatukan keduanya sesuatu yang dipancangkan atau ditegakkan, sebab yang lelah pun terpancang pada pekerjaannya. Kata (نَاصِبَةٌ, naashibatun) di sini memakai bentuk pelaku, bukan bentuk yang dikenai.

Akar (عَامِلَةٌ, 'aamilatun) berarti bekerja. Akar itu dipakai di 313 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut amal yang dikerjakan manusia, antara lain di 2:25, 18:110, dan 103:3, dan di hampir seluruhnya amal itu berpasangan dengan balasannya.

Yang khas di sini adalah bahwa amalnya tidak berbuah apa pun. Dua kata di ayat ini menyebut kerja dan lelah berturut-turut tanpa menyebut hasil. Jadi Al-Qur'an menaruh dua kata yang biasanya mendahului balasan, lalu tidak menyebut balasan yang baik sama sekali, dan yang menyusul di 88:4 justru api. Kata (عَامِلَةٌ, 'aamilatun) berdiri sebagai sifat, bukan sebagai kata kerja yang menyebut peristiwa.

Bentuk kedua kata itu berbentuk perempuan tunggal mengikuti bentuk jamak benda mati di dalam bahasa Arab. Bahasa Indonesia tidak membedakan bentuk laki-laki dan perempuan, sehingga kesesuaian itu tidak bisa ditahan di dalam terjemahannya. Yang tersisa cuma hubungan makna antara kata sifat dan yang disifatinya. Bentuk (عَامِلَةٌ, 'aamilatun) dan pasangannya sama-sama mengikuti bentuk jamak benda mati.

Kata (عَامِلَةٌ, 'aamilatun) dan kata (نَاصِبَةٌ, naashibatun) sama-sama tidak bertakrif dan sama-sama berbentuk pelaku. Jadi keduanya sejajar kedudukannya, dan tidak ada satu pun tanda yang menyatakan mana yang lebih pokok. Susunan dua kata sifat sejajar tanpa penghubung itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Di 5:3 akar kata keduanya dipakai untuk batu yang dipancangkan sebagai tempat penyembelihan, dan di 21:98 untuk kayu bakar. Jadi akar yang sama memikul sesuatu yang ditegakkan sebagai sesembahan dan sesuatu yang dilemparkan ke dalam api. Keduanya berjauhan maksudnya, dan yang menyatukannya cuma bentuk akarnya. Kata (نَاصِبَةٌ, naashibatun) di sini menyifati wajah, bukan menyebut batu atau kayu bakar.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan kelelahan yang sia-sia dari wajah-wajah tersebut, dan rangkaiannya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kedua katanya berbentuk pelaku dan tidak bertakrif, dan keduanya menerangkan kata pertama di 88:2.

Akar kata keduanya dipakai di 29 ayat, antara lain 5:3, 21:98, 38:41, 70:43, dan 94:7. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar itu muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 88:19, dan kedua pemakaiannya berjauhan maksudnya.

Di sini akar itu menyebut kepayahan, dan di 88:19 ia menyebut gunung yang ditegakkan. Jadi satu akar memikul lelah yang menimpa manusia dan tegak yang dikerjakan atas gunung. Yang menyatukan keduanya sesuatu yang dipancangkan, sebab yang lelah pun terpancang pada pekerjaannya.

Akar kata pertamanya dipakai di 313 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut amal yang dikerjakan manusia, antara lain di 2:25, 18:110, dan 103:3. Yang khas di sini adalah bahwa amalnya tidak berbuah apa pun, dan yang menyusul di 88:4 justru api.

Di 5:3 akar kata keduanya dipakai untuk batu yang dipancangkan sebagai tempat penyembelihan, dan di 21:98 untuk kayu bakar. Jadi akar yang sama memikul sesuatu yang ditegakkan sebagai sesembahan dan sesuatu yang dilemparkan ke dalam api, dan yang menyatukannya cuma bentuk akarnya.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kedua ayat ini dipakai di 29 ayat, antara lain 5:3, 21:98, 38:41, 70:43, dan 94:7, dan ia muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:3 dan 88:19. Di sini akar itu menyebut kepayahan, dan di 88:19 gunung yang ditegakkan Allah. Jadi satu akar memikul lelah yang menimpa manusia dan tegak yang dikerjakan atas gunung. Satu akar yang memikul dua hal berjauhan menerangkan bahwa yang tetap padanya gambarannya, bukan padanan katanya.
  • Akar kata pertamanya dipakai di 313 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut amal manusia, antara lain di 2:25, 18:110, dan 103:3, yang hampir selalu berpasangan dengan balasannya. Yang khas di sini adalah bahwa amalnya tidak berbuah apa pun. Allah menaruh dua kata yang biasanya mendahului balasan, lalu tidak menyebut balasan yang baik sama sekali. Kerja yang tidak berbuah menaruh persoalannya bukan pada banyaknya usaha melainkan pada ke mana usaha itu diarahkan.
  • Kedua kata di ayat ini berdiri berdampingan tanpa kata sambung di antaranya. Jadi bekerja dan kepayahan tidak dinyatakan Allah sebagai dua hal yang berurutan melainkan sebagai dua sifat yang melekat sekaligus. Susunan tanpa penghubung seperti itu mengikat keduanya lebih rapat daripada kalau di antaranya diletakkan satu kata penyambung. Dua sifat yang berdampingan tanpa penghubung terbaca melekat sekaligus, bukan berurutan satu sesudah yang lain.
  • Kedua kata di ayat ini menerangkan kata pertama di 88:2, sehingga ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan keterangan. Jadi tiga ayat pertama tentang golongan ini, yaitu 88:2, 88:3, dan 88:4, membentuk satu kalimat panjang yang dipisah menjadi beberapa ayat, dan jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat. Sebuah kalimat yang dipisah menjadi beberapa ayat membuat jeda bacaannya jatuh di tempat yang tidak selesai maknanya. Usaha yang tidak diarahkan tidak dihitung, dan itu berlaku bagi siapa pun yang membacanya.
  • Bentuk kedua kata itu berbentuk perempuan tunggal mengikuti bentuk jamak benda mati di dalam bahasa Arab. Bahasa Indonesia tidak membedakan bentuk laki-laki dan perempuan, sehingga kesesuaian itu tidak bisa ditahan di dalam terjemahannya. Jadi ada satu lapis keterangan di dalam Arabnya yang lenyap, dan yang tersisa cuma hubungan maknanya. Lapis keterangan yang hilang di dalam terjemahan tidak bisa dipulihkan, dan yang bisa dikerjakan cuma menyebutkannya.
  • Yang digambarkan Allah bukan orang yang menganggur melainkan orang yang bekerja sampai lelah. Jadi yang menjadikan mereka celaka bukan ketiadaan usaha. Apa yang menentukan nilai sebuah kerja kalau kerja keras dan kepayahan sekalipun bisa berujung pada api yang disebut di 88:4? Kerja keras yang berujung pada api menutup jalan bagi siapa pun yang menghitung amalnya dengan ukuran lelahnya sendiri. Akar yang gambarannya bertahan meski padanannya berganti menuntut pembacanya membaca akar, bukan kamus.

Ayat 88:4

تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً

Memasuki api yang sangat panas,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةًtashlaa naaran haamiyatanmemasuki api yang sangat panas

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. تَصْلَىٰtashlaamemasuki
  2. نَارًاnaaranapi
  3. حَامِيَةًhaamiyatanyang sangat panas

Inti bacaan

Konsekuensi fisik yang menyertai: 'memasuki-membakar api yang sangat panas', detail konkret tentang nasib yang dihadapi golongan ini.

Penjelasan pilihan kata

Kata majemuk ganjil "memasuki-membakar" disederhanakan menjadi "memasuki" saja, konsisten dengan koreksi yang sama di 84:12. Kata kerja (تَصْلَىٰ, tashlaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti terpanggang api. Ia dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 87:12.

Kesejajaran dengan 87:12 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini. Di sana akar yang sama dipakai untuk orang yang paling celaka yang memasuki api yang terbesar. Jadi dua surah yang berurutan memakai akar yang sama untuk gambaran yang sejenis, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata (حَامِيَةً, haamiyatan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya berarti panas menyengat. Ia cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 5:103, 9:35, 48:26, 88:4, dan 101:11, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai. Di 9:35 akar itu menyebut api yang dipanaskan atas harta yang ditimbun.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 101:11 memuat kedua kata yang sama dengan ayat ini, yaitu kata untuk api dan kata sifat ini, tetapi dengan baris yang berbeda. Di sana keduanya berbaris dammah karena menjadi berita, dan di sini keduanya berbaris fathah karena menjadi objek. Jadi sebagai kata keduanya muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali. Kata (حَامِيَةً, haamiyatan) di sini berbaris fathah, berbeda dari bentuknya di 101:11.

Bentuk (تَصْلَىٰ, tashlaa) berbentuk sekarang dan berbentuk perempuan, mengikuti kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) di 88:2. Jadi yang memasuki api wajah-wajah itu, bukan orang secara utuh. Al-Qur'an menahan penyebutan orangnya sepanjang enam ayat, dan yang disebut selalu wajah mereka.

Kata (نَارًا, naaran) tidak bertakrif, sehingga yang disebut api yang sesuai gambarannya, bukan satu api yang sudah dikenal namanya. Bandingkan dengan 87:12 yang memakai bentuk bertakrif. Jadi dua surah berurutan menyebut api dengan dua cara penakrifan yang berbeda, dan yang di sini menyerahkan pengenalannya kepada sifat yang menyusulnya.

Kata (نَارًا, naaran) berasal dari akar yang berarti cahaya. Akar itu dipakai di 174 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk cahaya, antara lain di 24:35 dan 57:28. Jadi satu akar memikul api yang membakar dan cahaya yang menerangi, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu.

Susunan ayat ini melanjutkan kalimat yang dimulai di 88:2, sehingga tiga ayat berturut-turut membentuk satu kalimat panjang. Bentuk (تَصْلَىٰ, tashlaa) berbentuk sekarang, sedangkan dua kata sifat di 88:3 berbentuk kata benda. Jadi keterangan yang tetap disusul perbuatan yang berlangsung, dan urutan itu tidak diterangkan.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa wajah-wajah tersebut akan memasuki api yang menyala panas, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 87:12.

Kesejajaran dengan 87:12 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini. Di sana akar yang sama dipakai untuk orang yang paling celaka yang memasuki api yang terbesar. Jadi dua surah yang berurutan memakai akar yang sama untuk gambaran yang sejenis.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan akarnya cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 5:103, 9:35, 48:26, 88:4, dan 101:11. Di 9:35 akar itu menyebut api yang dipanaskan atas harta yang ditimbun.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 101:11 memuat kedua kata yang sama dengan ayat ini tetapi dengan baris yang berbeda. Di sana keduanya berbaris dammah karena menjadi berita, dan di sini keduanya berbaris fathah karena menjadi objek. Jadi sebagai kata keduanya muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali, dan dua angka itu sama-sama benar.

Kata untuk api berasal dari akar yang dipakai di 174 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk cahaya, antara lain di 24:35 dan 57:28. Jadi satu akar memikul api yang membakar dan cahaya yang menerangi, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerjanya dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 87:12. Kesejajaran dengan 87:12 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini, dan di sana akar yang sama dipakai Allah untuk orang yang paling celaka yang memasuki api yang terbesar. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Dua surah berurutan yang memakai akar sama untuk gambaran sejenis menandai keduanya tanpa satu kalimat penghubung.
  • Ayat 101:11 memuat kedua kata yang sama dengan ayat ini tetapi dengan baris yang berbeda: di sana keduanya berbaris dammah karena menjadi berita, dan di sini berbaris fathah karena menjadi objek. Jadi sebagai kata keduanya muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali. Dua angka itu sama-sama benar dan tidak saling menyalahkan. Angka bentuk dan angka kata memang berbeda, dan menyebut keduanya sekaligus menuntut penjelasan tentang sebabnya.
  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 5:103, 9:35, 48:26, 88:4, dan 101:11. Di 9:35 akar itu menyebut api yang dipanaskan Allah atas harta yang ditimbun. Jadi akar yang jarang ini muncul di tempat-tempat yang menyebut panas yang menghukum, dan tiap pemakaiannya lebih berbobot karena sedikitnya pembanding yang tersedia. Akar yang jarang dipakai membuat tiap pemakaiannya menonjol, sebab tidak banyak tempat lain yang bisa melunakkannya.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk perempuan, mengikuti kata pertama di 88:2. Jadi yang memasuki api wajah-wajah itu, bukan orang secara utuh. Allah menahan penyebutan orangnya sepanjang enam ayat, dan yang disebut selalu wajah mereka. Menyebut bagian alih-alih keseluruhan menaruh gambarannya pada apa yang paling terlihat. Menyebut bagian alih-alih keseluruhan menaruh gambarannya pada apa yang paling dulu terlihat oleh orang lain. Dua surah bertetangga yang memakai akar sama menaruh gambarannya di dalam satu keluarga kata.
  • Kata untuk api tidak bertakrif, sehingga yang disebut api yang sesuai gambarannya, bukan satu api yang sudah dikenal namanya. Bandingkan dengan 87:12 yang memakai bentuk bertakrif. Jadi dua surah berurutan menyebut api dengan dua cara penakrifan yang berbeda, dan yang di sini menyerahkan pengenalannya kepada sifat yang menyusulnya. Dua cara penakrifan di dua surah berurutan menyerahkan pengenalan bendanya kepada sifat yang menyusulnya. Menghitung bentuk dan menghitung kata memberi dua angka, dan keduanya harus disebut sebabnya.
  • Padanan yang dipakai satu kata kerja, bukan kata majemuk, konsisten dengan koreksi yang sama di 84:12. Menumpuk dua kata kerja untuk satu kata Arab menambahkan keterangan yang tidak dinyatakan bentuknya. Apa yang hilang dari sebuah terjemahan ketika ia berusaha menampung seluruh kemungkinan makna sekaligus di dalam satu tempat? Terjemahan yang berusaha menampung seluruh kemungkinan makna sekaligus justru menambahkan yang tidak tertulis.