وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌ
Banyak wajah pada hari itu tertunduk,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ خَاشِعَةٌwujuuhun yawma'idzin khaasyi'atunbanyak wajah pada hari itu tertunduk
Terjemahan per kata (3 kata)
- وُجُوهٌwujuuhunwajah-wajah
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- خَاشِعَةٌkhaasyi'atuntertunduk
Inti bacaan
Kondisi wajah golongan pertama: 'banyak wajah pada hari itu tertunduk', indikator visual pertama tentang kondisi batin yang menyertai peristiwa dahsyat tersebut.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ, wujuuhun yauma-idzin) muncul 6 kali di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa ketiga surah itu memakainya tepat dua kali, sekali untuk golongan yang senang dan sekali untuk golongan yang celaka.
Jadi susunannya sama di ketiga tempat: dua kelompok wajah disebut berpasangan, dan yang membedakan cuma kata sifat yang menyusulnya. Di 75:22 dan 75:24 kata sifatnya berseri dan bermuram, di 80:38 dan 80:40 berseri dan berdebu, dan di sini tertunduk dan berseri-seri. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Kata (خَاشِعَةٌ, khaasyi'atun) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 79:9 dan 88:2. Di 79:9 tertulis absaaruhaa khaasyi'ah, dan yang disifati di sana penglihatan, bukan wajah. Jadi satu kata dipakai untuk dua bagian tubuh yang berbeda di dua surah yang berdekatan.
Kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) tidak bertakrif dan berbentuk jamak, sehingga yang disebut sebagian wajah, bukan seluruhnya. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai wajah-wajah yang tertentu akan menutup kemungkinan adanya golongan lain, padahal golongan lain itu justru disebut di 88:8.
Yang disebut wajah, bukan orang. Jadi Al-Qur'an menyebut manusia lewat bagian tubuh yang paling terlihat dan paling tidak bisa disembunyikan. Bentuk (وُجُوهٌ, wujuuhun) diulang lagi di 88:8, sehingga dua golongan sama-sama disebut lewat wajah mereka, bukan lewat perbuatan atau kepercayaan mereka.
Kata (يَوْمَئِذٍ, yauma-idzin) menandai waktu, dan ia menyambung kepada peristiwa yang disebut di 88:1. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan yang menerangkan keadaan pada hari itu. Bahasa Indonesia menahannya dengan "pada hari itu", memakai kata tunjuk untuk menahan penunjukan yang sama.
Bentuk (خَاشِعَةٌ, khaasyi'atun) bentuk pelaku perempuan yang mengikuti bentuk jamak benda mati di dalam bahasa Arab. Akarnya berarti tunduk merendah. Ia dipakai di 17 ayat, antara lain 2:45, 21:90, 23:2, 42:45, dan 59:21. Di 23:2 akar itu dipakai untuk orang beriman yang khusyuk di dalam salatnya.
Jadi akar yang sama menyebut ketundukan yang dipilih di dalam ibadah dan ketundukan yang dipaksakan pada hari perhitungan. Yang membedakan bukan katanya melainkan siapa yang mengalaminya dan kapan. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (خَاشِعَةٌ, khaasyi'atun) di sini melekat pada wajah, bukan pada penglihatan.
Kata (يَوْمَئِذٍ, yauma-idzin) gabungan kata untuk hari dan kata tunjuk yang menyatakan waktu tertentu. Bentuk yang sama diulang di 88:8, dan itu satu-satunya penanda waktu di seluruh surah ini. Jadi dua puluh enam ayat surahnya bergantung pada satu waktu yang disebut dua kali saja, dan waktu itu tidak dinamai selain lewat peristiwa di 88:1.
Tafsiran
Ayat ini membuka gambaran keadaan wajah-wajah yang tertunduk pada hari itu, dan dua kata pertamanya muncul 6 kali di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa ketiga surah itu memakainya tepat dua kali, sekali untuk golongan yang senang dan sekali untuk golongan yang celaka. Jadi susunannya sama di ketiga tempat: dua kelompok wajah disebut berpasangan, dan yang membedakan cuma kata sifat yang menyusulnya.
Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 79:9 dan 88:2. Di 79:9 yang disifati penglihatan, bukan wajah. Jadi satu kata dipakai untuk dua bagian tubuh yang berbeda di dua surah yang berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Kata pertamanya tidak bertakrif dan berbentuk jamak, sehingga yang disebut sebagian wajah, bukan seluruhnya. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai wajah-wajah yang tertentu akan menutup kemungkinan adanya golongan lain, padahal golongan lain itu justru disebut di 88:8.
Akar kata terakhirnya dipakai di 17 ayat, antara lain 2:45, 21:90, 23:2, 42:45, dan 59:21. Di 23:2 akar itu dipakai untuk orang beriman yang khusyuk di dalam salatnya. Jadi akar yang sama menyebut ketundukan yang dipilih di dalam ibadah dan ketundukan yang dipaksakan pada hari perhitungan.
Renungan dan Hikmah
- Dua kata pertama ayat ini muncul 6 kali di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8, dan ketiga surah itu memakainya tepat dua kali. Jadi Allah menyebut dua kelompok wajah berpasangan di ketiga tempat, dan yang membedakan cuma kata sifat yang menyusulnya. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Pola yang berulang persis di tiga surah tidak bisa disebut kebetulan, tetapi juga tidak diterangkan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun.
- Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 79:9 dan 88:2. Di 79:9 yang disifati Allah penglihatan, bukan wajah. Jadi satu kata dipakai untuk dua bagian tubuh yang berbeda di dua surah yang berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang menyambungkannya cuma bentuk yang diulang tanpa diubah sedikit pun. Satu kata yang menyifati dua bagian tubuh di dua surah menuntut pembacanya memperhatikan apa yang disifati, bukan cuma kata sifatnya.
- Kata pertamanya tidak bertakrif dan berbentuk jamak, sehingga yang disebut sebagian wajah, bukan seluruhnya. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai wajah-wajah yang tertentu akan menutup kemungkinan adanya golongan lain, padahal golongan itu justru disebut Allah di 88:8 dengan bentuk yang sama. Ketiadaan kata sandang menjaga pintu tetap terbuka bagi golongan lain, dan golongan itu memang datang beberapa ayat kemudian. Sebuah waktu yang disebut dua kali saja menopang seluruh gambaran di dalam surahnya.
- Yang disebut wajah, bukan orang. Jadi Allah menyebut manusia lewat bagian tubuh yang paling terlihat dan paling tidak bisa disembunyikan. Bentuk yang sama diulang di 88:8, sehingga dua golongan sama-sama disebut lewat wajah mereka, bukan lewat perbuatan atau kepercayaan mereka, dan pembacanya tidak diberi tahu apa yang membawa mereka ke sana. Menyebut manusia lewat wajahnya memindahkan seluruh keterangan kepada apa yang tidak bisa disembunyikan seorang pun dari orang lain.
- Ayat ini menyebut keadaan wajah itu tanpa menyebut apa yang menyebabkannya. Sebabnya baru terbaca dari 88:23 di ujung surah, dan itu pun tentang golongan yang lain. Jadi Allah memperlihatkan akibatnya lebih dulu dan menahan sebabnya sampai hampir seluruh surah terlewati. Apa yang dikerjakan urutan itu pada orang yang membacanya dari awal? Akibat yang diperlihatkan lebih dulu dan sebabnya ditahan sampai akhir membuat pembacanya membawa pertanyaan sepanjang surah.
- Bentuk kata terakhirnya bentuk pelaku, tetapi maknanya keadaan yang menimpa, bukan perbuatan yang dipilih. Jadi wajah itu tidak digambarkan Allah sedang merendahkan diri melainkan sedang berada dalam keadaan tunduk. Perbedaan itu menentukan: yang pertama masih berupa pilihan, dan yang kedua sudah menjadi keadaan yang tidak bisa diubah. Keadaan yang tidak bisa diubah berbeda dari sikap yang masih bisa dipilih, dan bentuk katanya sendiri yang menentukan yang mana.