عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ

Bekerja keras lagi kepayahan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ'aamilatun naashibatunbekerja keras lagi kepayahan

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. عَامِلَةٌ'aamilatunyang bekerja keras
  2. نَاصِبَةٌnaashibatunyang kepayahan

Inti bacaan

Ironi usaha tanpa hasil: 'bekerja keras lagi kepayahan', gambaran pahit tentang kerja keras yang tidak membuahkan hasil positif, peringatan bahwa usaha tanpa arah spiritual yang benar bisa menjadi sia-sia.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (عَامِلَةٌ نَاصِبَةٌ, 'aamilatun naashibatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kedua katanya berbentuk pelaku dan tidak bertakrif, dan keduanya menerangkan kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) di 88:2. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan keterangan bagi ayat sebelumnya.

Akar (نَاصِبَةٌ, naashibatun) berarti menegakkan dan memancangkan. Akar itu dipakai di 29 ayat, antara lain 5:3, 21:98, 38:41, 70:43, dan 94:7. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar itu muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 88:19, dan kedua pemakaiannya berjauhan maksudnya.

Di sini akar itu menyebut kepayahan, dan di 88:19 ia menyebut gunung yang ditegakkan. Jadi satu akar memikul lelah yang menimpa manusia dan tegak yang dikerjakan atas gunung. Yang menyatukan keduanya sesuatu yang dipancangkan atau ditegakkan, sebab yang lelah pun terpancang pada pekerjaannya. Kata (نَاصِبَةٌ, naashibatun) di sini memakai bentuk pelaku, bukan bentuk yang dikenai.

Akar (عَامِلَةٌ, 'aamilatun) berarti bekerja. Akar itu dipakai di 313 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut amal yang dikerjakan manusia, antara lain di 2:25, 18:110, dan 103:3, dan di hampir seluruhnya amal itu berpasangan dengan balasannya.

Yang khas di sini adalah bahwa amalnya tidak berbuah apa pun. Dua kata di ayat ini menyebut kerja dan lelah berturut-turut tanpa menyebut hasil. Jadi Al-Qur'an menaruh dua kata yang biasanya mendahului balasan, lalu tidak menyebut balasan yang baik sama sekali, dan yang menyusul di 88:4 justru api. Kata (عَامِلَةٌ, 'aamilatun) berdiri sebagai sifat, bukan sebagai kata kerja yang menyebut peristiwa.

Bentuk kedua kata itu berbentuk perempuan tunggal mengikuti bentuk jamak benda mati di dalam bahasa Arab. Bahasa Indonesia tidak membedakan bentuk laki-laki dan perempuan, sehingga kesesuaian itu tidak bisa ditahan di dalam terjemahannya. Yang tersisa cuma hubungan makna antara kata sifat dan yang disifatinya. Bentuk (عَامِلَةٌ, 'aamilatun) dan pasangannya sama-sama mengikuti bentuk jamak benda mati.

Kata (عَامِلَةٌ, 'aamilatun) dan kata (نَاصِبَةٌ, naashibatun) sama-sama tidak bertakrif dan sama-sama berbentuk pelaku. Jadi keduanya sejajar kedudukannya, dan tidak ada satu pun tanda yang menyatakan mana yang lebih pokok. Susunan dua kata sifat sejajar tanpa penghubung itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini.

Di 5:3 akar kata keduanya dipakai untuk batu yang dipancangkan sebagai tempat penyembelihan, dan di 21:98 untuk kayu bakar. Jadi akar yang sama memikul sesuatu yang ditegakkan sebagai sesembahan dan sesuatu yang dilemparkan ke dalam api. Keduanya berjauhan maksudnya, dan yang menyatukannya cuma bentuk akarnya. Kata (نَاصِبَةٌ, naashibatun) di sini menyifati wajah, bukan menyebut batu atau kayu bakar.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan kelelahan yang sia-sia dari wajah-wajah tersebut, dan rangkaiannya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kedua katanya berbentuk pelaku dan tidak bertakrif, dan keduanya menerangkan kata pertama di 88:2.

Akar kata keduanya dipakai di 29 ayat, antara lain 5:3, 21:98, 38:41, 70:43, dan 94:7. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar itu muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 88:19, dan kedua pemakaiannya berjauhan maksudnya.

Di sini akar itu menyebut kepayahan, dan di 88:19 ia menyebut gunung yang ditegakkan. Jadi satu akar memikul lelah yang menimpa manusia dan tegak yang dikerjakan atas gunung. Yang menyatukan keduanya sesuatu yang dipancangkan, sebab yang lelah pun terpancang pada pekerjaannya.

Akar kata pertamanya dipakai di 313 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut amal yang dikerjakan manusia, antara lain di 2:25, 18:110, dan 103:3. Yang khas di sini adalah bahwa amalnya tidak berbuah apa pun, dan yang menyusul di 88:4 justru api.

Di 5:3 akar kata keduanya dipakai untuk batu yang dipancangkan sebagai tempat penyembelihan, dan di 21:98 untuk kayu bakar. Jadi akar yang sama memikul sesuatu yang ditegakkan sebagai sesembahan dan sesuatu yang dilemparkan ke dalam api, dan yang menyatukannya cuma bentuk akarnya.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kedua ayat ini dipakai di 29 ayat, antara lain 5:3, 21:98, 38:41, 70:43, dan 94:7, dan ia muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:3 dan 88:19. Di sini akar itu menyebut kepayahan, dan di 88:19 gunung yang ditegakkan Allah. Jadi satu akar memikul lelah yang menimpa manusia dan tegak yang dikerjakan atas gunung. Satu akar yang memikul dua hal berjauhan menerangkan bahwa yang tetap padanya gambarannya, bukan padanan katanya.
  • Akar kata pertamanya dipakai di 313 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut amal manusia, antara lain di 2:25, 18:110, dan 103:3, yang hampir selalu berpasangan dengan balasannya. Yang khas di sini adalah bahwa amalnya tidak berbuah apa pun. Allah menaruh dua kata yang biasanya mendahului balasan, lalu tidak menyebut balasan yang baik sama sekali. Kerja yang tidak berbuah menaruh persoalannya bukan pada banyaknya usaha melainkan pada ke mana usaha itu diarahkan.
  • Kedua kata di ayat ini berdiri berdampingan tanpa kata sambung di antaranya. Jadi bekerja dan kepayahan tidak dinyatakan Allah sebagai dua hal yang berurutan melainkan sebagai dua sifat yang melekat sekaligus. Susunan tanpa penghubung seperti itu mengikat keduanya lebih rapat daripada kalau di antaranya diletakkan satu kata penyambung. Dua sifat yang berdampingan tanpa penghubung terbaca melekat sekaligus, bukan berurutan satu sesudah yang lain.
  • Kedua kata di ayat ini menerangkan kata pertama di 88:2, sehingga ayat ini bukan kalimat baru melainkan lanjutan keterangan. Jadi tiga ayat pertama tentang golongan ini, yaitu 88:2, 88:3, dan 88:4, membentuk satu kalimat panjang yang dipisah menjadi beberapa ayat, dan jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat. Sebuah kalimat yang dipisah menjadi beberapa ayat membuat jeda bacaannya jatuh di tempat yang tidak selesai maknanya. Usaha yang tidak diarahkan tidak dihitung, dan itu berlaku bagi siapa pun yang membacanya.
  • Bentuk kedua kata itu berbentuk perempuan tunggal mengikuti bentuk jamak benda mati di dalam bahasa Arab. Bahasa Indonesia tidak membedakan bentuk laki-laki dan perempuan, sehingga kesesuaian itu tidak bisa ditahan di dalam terjemahannya. Jadi ada satu lapis keterangan di dalam Arabnya yang lenyap, dan yang tersisa cuma hubungan maknanya. Lapis keterangan yang hilang di dalam terjemahan tidak bisa dipulihkan, dan yang bisa dikerjakan cuma menyebutkannya.
  • Yang digambarkan Allah bukan orang yang menganggur melainkan orang yang bekerja sampai lelah. Jadi yang menjadikan mereka celaka bukan ketiadaan usaha. Apa yang menentukan nilai sebuah kerja kalau kerja keras dan kepayahan sekalipun bisa berujung pada api yang disebut di 88:4? Kerja keras yang berujung pada api menutup jalan bagi siapa pun yang menghitung amalnya dengan ukuran lelahnya sendiri. Akar yang gambarannya bertahan meski padanannya berganti menuntut pembacanya membaca akar, bukan kamus.