تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةً

Memasuki api yang sangat panas,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. تَصْلَىٰ نَارًا حَامِيَةًtashlaa naaran haamiyatanmemasuki api yang sangat panas

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. تَصْلَىٰtashlaamemasuki
  2. نَارًاnaaranapi
  3. حَامِيَةًhaamiyatanyang sangat panas

Inti bacaan

Konsekuensi fisik yang menyertai: 'memasuki-membakar api yang sangat panas', detail konkret tentang nasib yang dihadapi golongan ini.

Penjelasan pilihan kata

Kata majemuk ganjil "memasuki-membakar" disederhanakan menjadi "memasuki" saja, konsisten dengan koreksi yang sama di 84:12. Kata kerja (تَصْلَىٰ, tashlaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti terpanggang api. Ia dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 87:12.

Kesejajaran dengan 87:12 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini. Di sana akar yang sama dipakai untuk orang yang paling celaka yang memasuki api yang terbesar. Jadi dua surah yang berurutan memakai akar yang sama untuk gambaran yang sejenis, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata (حَامِيَةً, haamiyatan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya berarti panas menyengat. Ia cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 5:103, 9:35, 48:26, 88:4, dan 101:11, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai. Di 9:35 akar itu menyebut api yang dipanaskan atas harta yang ditimbun.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 101:11 memuat kedua kata yang sama dengan ayat ini, yaitu kata untuk api dan kata sifat ini, tetapi dengan baris yang berbeda. Di sana keduanya berbaris dammah karena menjadi berita, dan di sini keduanya berbaris fathah karena menjadi objek. Jadi sebagai kata keduanya muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali. Kata (حَامِيَةً, haamiyatan) di sini berbaris fathah, berbeda dari bentuknya di 101:11.

Bentuk (تَصْلَىٰ, tashlaa) berbentuk sekarang dan berbentuk perempuan, mengikuti kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) di 88:2. Jadi yang memasuki api wajah-wajah itu, bukan orang secara utuh. Al-Qur'an menahan penyebutan orangnya sepanjang enam ayat, dan yang disebut selalu wajah mereka.

Kata (نَارًا, naaran) tidak bertakrif, sehingga yang disebut api yang sesuai gambarannya, bukan satu api yang sudah dikenal namanya. Bandingkan dengan 87:12 yang memakai bentuk bertakrif. Jadi dua surah berurutan menyebut api dengan dua cara penakrifan yang berbeda, dan yang di sini menyerahkan pengenalannya kepada sifat yang menyusulnya.

Kata (نَارًا, naaran) berasal dari akar yang berarti cahaya. Akar itu dipakai di 174 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk cahaya, antara lain di 24:35 dan 57:28. Jadi satu akar memikul api yang membakar dan cahaya yang menerangi, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu.

Susunan ayat ini melanjutkan kalimat yang dimulai di 88:2, sehingga tiga ayat berturut-turut membentuk satu kalimat panjang. Bentuk (تَصْلَىٰ, tashlaa) berbentuk sekarang, sedangkan dua kata sifat di 88:3 berbentuk kata benda. Jadi keterangan yang tetap disusul perbuatan yang berlangsung, dan urutan itu tidak diterangkan.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa wajah-wajah tersebut akan memasuki api yang menyala panas, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 87:12.

Kesejajaran dengan 87:12 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini. Di sana akar yang sama dipakai untuk orang yang paling celaka yang memasuki api yang terbesar. Jadi dua surah yang berurutan memakai akar yang sama untuk gambaran yang sejenis.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan akarnya cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 5:103, 9:35, 48:26, 88:4, dan 101:11. Di 9:35 akar itu menyebut api yang dipanaskan atas harta yang ditimbun.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa 101:11 memuat kedua kata yang sama dengan ayat ini tetapi dengan baris yang berbeda. Di sana keduanya berbaris dammah karena menjadi berita, dan di sini keduanya berbaris fathah karena menjadi objek. Jadi sebagai kata keduanya muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali, dan dua angka itu sama-sama benar.

Kata untuk api berasal dari akar yang dipakai di 174 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk cahaya, antara lain di 24:35 dan 57:28. Jadi satu akar memikul api yang membakar dan cahaya yang menerangi, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerjanya dipakai di 25 ayat, antara lain 4:10, 14:29, 38:56, 69:31, dan 87:12. Kesejajaran dengan 87:12 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini, dan di sana akar yang sama dipakai Allah untuk orang yang paling celaka yang memasuki api yang terbesar. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Dua surah berurutan yang memakai akar sama untuk gambaran sejenis menandai keduanya tanpa satu kalimat penghubung.
  • Ayat 101:11 memuat kedua kata yang sama dengan ayat ini tetapi dengan baris yang berbeda: di sana keduanya berbaris dammah karena menjadi berita, dan di sini berbaris fathah karena menjadi objek. Jadi sebagai kata keduanya muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali. Dua angka itu sama-sama benar dan tidak saling menyalahkan. Angka bentuk dan angka kata memang berbeda, dan menyebut keduanya sekaligus menuntut penjelasan tentang sebabnya.
  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 5 ayat, yaitu 5:103, 9:35, 48:26, 88:4, dan 101:11. Di 9:35 akar itu menyebut api yang dipanaskan Allah atas harta yang ditimbun. Jadi akar yang jarang ini muncul di tempat-tempat yang menyebut panas yang menghukum, dan tiap pemakaiannya lebih berbobot karena sedikitnya pembanding yang tersedia. Akar yang jarang dipakai membuat tiap pemakaiannya menonjol, sebab tidak banyak tempat lain yang bisa melunakkannya.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk perempuan, mengikuti kata pertama di 88:2. Jadi yang memasuki api wajah-wajah itu, bukan orang secara utuh. Allah menahan penyebutan orangnya sepanjang enam ayat, dan yang disebut selalu wajah mereka. Menyebut bagian alih-alih keseluruhan menaruh gambarannya pada apa yang paling terlihat. Menyebut bagian alih-alih keseluruhan menaruh gambarannya pada apa yang paling dulu terlihat oleh orang lain. Dua surah bertetangga yang memakai akar sama menaruh gambarannya di dalam satu keluarga kata.
  • Kata untuk api tidak bertakrif, sehingga yang disebut api yang sesuai gambarannya, bukan satu api yang sudah dikenal namanya. Bandingkan dengan 87:12 yang memakai bentuk bertakrif. Jadi dua surah berurutan menyebut api dengan dua cara penakrifan yang berbeda, dan yang di sini menyerahkan pengenalannya kepada sifat yang menyusulnya. Dua cara penakrifan di dua surah berurutan menyerahkan pengenalan bendanya kepada sifat yang menyusulnya. Menghitung bentuk dan menghitung kata memberi dua angka, dan keduanya harus disebut sebabnya.
  • Padanan yang dipakai satu kata kerja, bukan kata majemuk, konsisten dengan koreksi yang sama di 84:12. Menumpuk dua kata kerja untuk satu kata Arab menambahkan keterangan yang tidak dinyatakan bentuknya. Apa yang hilang dari sebuah terjemahan ketika ia berusaha menampung seluruh kemungkinan makna sekaligus di dalam satu tempat? Terjemahan yang berusaha menampung seluruh kemungkinan makna sekaligus justru menambahkan yang tidak tertulis.