تُسْقَىٰ مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍ

Diberi minum dari mata air yang mendidih.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. تُسْقَىٰ مِنْ عَيْنٍ آنِيَةٍtusqaa min 'aynin aaniyatindiberi minum dari mata air yang mendidih

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. تُسْقَىٰtusqaadiberi minum
  2. مِنْmindari
  3. عَيْنٍ'ayninmata air
  4. آنِيَةٍaaniyatinyang mendidih

Inti bacaan

Minuman yang menyiksa: 'diberi minum dari mata air yang mendidih', pembalikan total konsep minuman yang menyegarkan menjadi sumber penderitaan tambahan.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (تُسْقَىٰ, tusqaa) berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang memberi minum. Akarnya berarti memberi minum. Ia dipakai di 24 ayat, antara lain 2:60, 12:41, 16:66, 47:15, dan 76:21. Di 47:15 dan 76:21 akar itu dipakai untuk minuman yang diberikan kepada penghuni taman.

Jadi akar yang sama menyebut minuman yang menyenangkan dan minuman yang menyiksa. Yang membedakan bukan kata kerjanya melainkan apa yang diminumkan. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang berulang. Kata (تُسْقَىٰ, tusqaa) di sini berbentuk pasif, dan pelakunya tidak disebut sama sekali.

Kata (عَيْنٍ, 'aynin) sebagai kata muncul 26 kali di 19 surah, antara lain 2:60, 5:45, 18:86, 28:9, dan 88:5. Sebagai bentuk yang berbaris kasrah ia cuma muncul tiga kali, yaitu di 18:86, 28:9, dan 88:5, dan dua angka itu sama-sama benar sebab yang pertama menghitung kata dan yang kedua menghitung bentuk. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akarnya berarti mata dan mata air. Ia muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 88:12, dan kedua mata air itu berlawanan sifatnya.

Di sini mata airnya mendidih, dan di 88:12 ia mengalir. Jadi satu kata dipakai untuk dua keadaan yang saling berhadapan di dalam satu surah, dan jaraknya tujuh ayat. Susunan berpasangan seperti itu berulang di surah ini pada beberapa kata, dan Al-Qur'an tidak menyatakan satu pun di antaranya. Kata (آنِيَةٍ, aaniyatin) yang menyifatinya menyatakan panas yang sudah sampai puncaknya.

Kata (آنِيَةٍ, aaniyatin) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 76:15 dan 88:5. Menurut morfologi yang di 76:15 berkedudukan sebagai kata benda dan yang di sini sebagai kata sifat, meskipun bentuk tulisannya sama persis. Jadi satu bentuk berdiri pada dua kedudukan yang berbeda di dua surah.

Akar (آنِيَةٍ, aaniyatin) berarti mendidih sampai puncaknya. Akar itu dipakai di 36 ayat, antara lain 33:53, 55:44, 57:16, dan 76:15. Di 55:44 akar itu dipakai untuk air yang mencapai puncak panasnya. Jadi gambaran yang dibawanya sesuatu yang sudah sampai pada waktunya atau pada batasnya, dan panas yang mendidih salah satu bentuknya.

Bentuk (تُسْقَىٰ, tusqaa) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) di 88:2, sama seperti bentuk kata kerja di 88:4. Jadi dua kata kerja berturut-turut sama-sama menyandarkan perbuatannya kepada wajah-wajah itu, bukan kepada orangnya.

Susunan empat ayat dari 88:2 sampai ayat ini menyebut keadaan, kerja, api, lalu minuman. Jadi urutannya bergerak dari yang tampak di wajah kepada apa yang dialami tubuh. Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma letak keempat ayatnya.

Kata (عَيْنٍ, 'aynin) didahului huruf min yang menyatakan asal, sehingga yang dinyatakan dari mana minuman itu datang, bukan apa yang diminum. Jadi Al-Qur'an menyebut sumbernya dan membiarkan bendanya tidak dinamai. Susunan yang sama dipakai di 88:6, dan di kedua tempat itu yang disebut asalnya, bukan wujud yang diterima.

Tafsiran

Ayat ini menambah rincian siksaan: minuman dari mata air yang mendidih, dan kata kerjanya berbentuk pasif sehingga tidak disebutkan siapa yang memberi minum. Akarnya dipakai di 24 ayat, antara lain 2:60, 12:41, 16:66, 47:15, dan 76:21.

Di 47:15 dan 76:21 akar itu dipakai untuk minuman yang diberikan kepada penghuni taman. Jadi akar yang sama menyebut minuman yang menyenangkan dan minuman yang menyiksa, dan yang membedakan bukan kata kerjanya melainkan apa yang diminumkan.

Kata keduanya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 18:86, 28:9, dan 88:5. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akarnya muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini dan di 88:12, dan kedua mata air itu berlawanan sifatnya: di sini mendidih, dan di sana mengalir.

Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 76:15 dan 88:5. Menurut morfologi yang di 76:15 berkedudukan sebagai kata benda dan yang di sini sebagai kata sifat, meskipun bentuk tulisannya sama persis. Jadi satu bentuk berdiri pada dua kedudukan yang berbeda di dua surah, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu.

Bentuk kata kerjanya berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata pertama di 88:2, sama seperti bentuk kata kerja di 88:4. Jadi dua kata kerja berturut-turut sama-sama menyandarkan perbuatannya kepada wajah-wajah itu, bukan kepada orangnya, dan penyandaran itu berlangsung sejak 88:2.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kedua ayat ini muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 18:86, 28:9, dan 88:5, dan akarnya muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:5 dan 88:12. Di sini mata airnya mendidih, dan di 88:12 ia mengalir. Jadi Allah memakai satu kata untuk dua keadaan yang saling berhadapan di dalam satu surah, dan jaraknya tujuh ayat. Satu kata untuk dua keadaan berlawanan di dalam satu surah menuntut pembacanya membandingkan keduanya sendiri. Satu benda yang berdiri di dua sisi menuntut pembacanya membaca kedua tempat itu bersama-sama.
  • Akar kata kerjanya dipakai di 24 ayat, antara lain 2:60, 12:41, 16:66, 47:15, dan 76:21. Di 47:15 dan 76:21 akar itu dipakai Allah untuk minuman yang diberikan kepada penghuni taman. Jadi akar yang sama menyebut minuman yang menyenangkan dan minuman yang menyiksa, dan yang membedakan bukan kata kerjanya melainkan apa yang diminumkan. Kata kerja yang sama untuk dua golongan menerangkan bahwa yang menentukan bukan perbuatannya melainkan isinya.
  • Kata terakhirnya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 76:15 dan 88:5, dan menurut morfologi yang di 76:15 berkedudukan sebagai kata benda sedangkan yang di sini sebagai kata sifat. Jadi satu bentuk tulisan berdiri pada dua kedudukan yang berbeda di dua surah, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu dengan satu tanda pun. Satu bentuk tulisan pada dua kedudukan yang berbeda menuntut pemeriksaan morfologi, bukan penglihatan sekilas.
  • Bentuk kata kerjanya pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang memberi minum. Jadi Allah menyembunyikan pelakunya, sama seperti bentuk pasif di 88:17 sampai 88:20 yang juga tidak menyebut pelakunya. Yang ditahan di sini bukan kejadiannya melainkan siapa yang mengerjakannya, dan penahanan itu berulang di beberapa tempat di surah ini. Bentuk pasif yang berulang di beberapa tempat menandai satu kebiasaan susunan, bukan pilihan yang kebetulan.
  • Akar kata terakhirnya dipakai di 36 ayat, antara lain 33:53, 55:44, 57:16, dan 76:15. Di 55:44 akar itu dipakai Allah untuk air yang mencapai puncak panasnya. Jadi gambaran yang dibawanya sesuatu yang sudah sampai pada waktunya atau pada batasnya, dan panas yang mendidih salah satu bentuknya, bukan satu-satunya. Gambaran sesuatu yang sampai pada batasnya lebih luas daripada satu makna yang paling sering dipakai orang. Bentuk pasif yang berulang menandai kebiasaan susunan, bukan pilihan yang kebetulan sekali dua kali.
  • Bentuk pasif menyatakan bahwa mereka diberi minum, bukan mencari minum sendiri. Jadi bahkan pada keadaan itu mereka masih menerima sesuatu, dan yang diterima justru yang menambah siksanya. Apa yang tersisa dari harapan seseorang ketika yang diberikan kepadanya sendiri menjadi bagian dari hukumannya? Pemberian yang menjadi bagian dari hukuman membalik seluruh anggapan tentang apa artinya menerima sesuatu. Satu benda yang berdiri di dua sisi menuntut pembacanya membaca kedua tempat itu bersama-sama.