لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ

Tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon berduri,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍlaysa lahum tha'aamun illaa min dharii'intidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon berduri

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. لَيْسَlaysabukanlah
  2. لَهُمْlahumbagi mereka
  3. طَعَامٌtha'aamunmakanan
  4. إِلَّاillaakecuali
  5. مِنْmindari
  6. ضَرِيعٍdharii'inpohon berduri

Inti bacaan

Makanan yang tidak layak: 'tidak ada makanan bagi mereka selain dari pohon berduri', kontras tajam dengan buah-buahan lezat yang dijanjikan bagi golongan berbeda, makanan yang justru menyakitkan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (ضَرِيعٍ, dharii'in) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti merendah dan melata. Ia cuma dipakai di 8 ayat, yaitu 6:42, 6:43, 6:63, 7:55, 7:94, 7:205, 23:76, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa tujuh dari delapan ayat itu memakai akar tersebut untuk merendahkan diri di dalam doa. Di 7:55 dan 7:205 akar itu dipakai untuk berdoa dengan merendah, dan di 6:42, 6:43, 23:76 untuk orang yang tidak mau merendah meskipun ditimpa kesulitan. Cuma ayat ini yang memakainya untuk sejenis tumbuhan.

Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut merendahkan diri, di sini dipakai untuk makanan. Yang menyatukan keduanya gambaran sesuatu yang menempel rendah ke tanah, sebab yang merendah menundukkan dirinya dan tumbuhan itu menjalar dekat permukaan. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Kata (ضَرِيعٍ, dharii'in) di sini berdiri sebagai kata benda, bukan sebagai kata kerja.

Kata (طَعَامٌ, tha'aamun) berasal dari akar yang berarti makan. Akar itu dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 69:34, 76:8, dan 107:3. Di 76:8 dan 107:3 akar itu dipakai untuk memberi makan orang yang lapar, dan di 69:34 untuk orang yang tidak menganjurkan memberi makan.

Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang disusul pengecualian, sehingga artinya tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari tumbuhan itu. Susunan yang sama dipakai di 86:4, dan di kedua tempat itu ia menutup kemungkinan adanya yang lain sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan.

Kata (ضَرِيعٍ, dharii'in) tidak bertakrif dan didahului huruf min, sehingga yang disebut sebagian dari jenis itu, bukan seluruhnya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "dari pohon berduri", memakai huruf depan untuk menahan huruf yang sama alih-alih menghilangkannya.

Kata (لَيْسَ, laysa) berasal dari akar yang berarti bukan dan tidak ada, dan bentuknya bentuk pengingkaran yang berorang ketiga tunggal. Akar yang sama dipakai lagi di 88:22 dengan bentuk berorang kedua. Jadi satu akar pengingkaran muncul dua kali di dalam surah ini untuk mengingkari dua hal yang berbeda.

Kata ganti pada (لَهُمْ, lahum) berbentuk jamak laki-laki, sedangkan empat ayat sebelumnya memakai bentuk perempuan tunggal yang mengikuti kata untuk wajah. Jadi ayat ini yang pertama berpindah dari menyebut wajah kepada menyebut orangnya, dan perpindahan itu tidak diterangkan.

Kata (طَعَامٌ, tha'aamun) tidak bertakrif dan berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat pengingkarannya. Jadi susunannya menaruh yang diingkari lebih dulu dan pengecualiannya belakangan. Bentuk yang sama dipakai di 88:22 dengan kata kerja pengingkaran yang berbeda, dan di kedua tempat itu yang ditutup seluruh kemungkinannya.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa makanan mereka hanyalah tumbuhan berduri yang tidak bergizi, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 8 ayat, yaitu 6:42, 6:43, 6:63, 7:55, 7:94, 7:205, 23:76, dan ayat ini.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa tujuh dari delapan ayat itu memakai akar tersebut untuk merendahkan diri di dalam doa. Di 7:55 dan 7:205 akar itu dipakai untuk berdoa dengan merendah, dan di 6:42, 6:43, dan 23:76 untuk orang yang tidak mau merendah meskipun ditimpa kesulitan.

Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut merendahkan diri, di sini dipakai untuk makanan. Yang menyatukan keduanya gambaran sesuatu yang menempel rendah ke tanah, sebab yang merendah menundukkan dirinya dan tumbuhan itu menjalar dekat permukaan.

Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang disusul pengecualian, sehingga artinya tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari tumbuhan itu. Susunan yang sama dipakai di 86:4, dan di kedua tempat itu ia menutup kemungkinan adanya yang lain sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan.

Kata ganti di dalam ayat ini berbentuk jamak laki-laki, sedangkan empat ayat sebelumnya memakai bentuk perempuan tunggal yang mengikuti kata untuk wajah. Jadi ayat ini yang pertama berpindah dari menyebut wajah kepada menyebut orangnya, dan perpindahan itu tidak diterangkan.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 8 ayat, yaitu 6:42, 6:43, 6:63, 7:55, 7:94, 7:205, 23:76, dan 88:6, dan tujuh di antaranya memakai akar itu untuk merendahkan diri di dalam doa. Cuma ayat ini yang memakainya untuk sejenis tumbuhan. Jadi akar yang hampir selalu menyebut merendah di hadapan Allah, di sini dipakai untuk makanan. Akar yang tujuh kali berarti merendah dan sekali berarti tumbuhan menuntut pembacanya menimbang gambaran, bukan padanan.
  • Yang menyatukan kedua makna akar itu gambaran sesuatu yang menempel rendah ke tanah, sebab yang merendah menundukkan dirinya dan tumbuhan itu menjalar dekat permukaan. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Jadi yang dulu menolak merendah kepada Allah kini diberi makanan yang namanya sendiri berakar pada merendah. Nama sebuah makanan yang berakar pada merendah menaruh keterangan tentang pemakannya di dalam nama makanannya sendiri.
  • Susunan ayat ini berbentuk pengingkaran yang disusul pengecualian, sehingga artinya tidak ada makanan bagi mereka kecuali dari tumbuhan itu. Susunan yang sama dipakai Allah di 86:4, dan di kedua tempat itu ia menutup kemungkinan adanya yang lain sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan oleh pembacanya. Susunan yang menutup kemungkinan sebelum ia dibayangkan bekerja lebih kuat daripada bantahan yang datang sesudahnya. Menutup kemungkinan sebelum ia terbayang bekerja lebih kuat daripada membantahnya sesudah diucapkan.
  • Kata untuk makanan berasal dari akar yang dipakai di 41 ayat, antara lain 2:184, 5:5, 69:34, 76:8, dan 107:3. Di 76:8 dan 107:3 akar itu dipakai Allah untuk memberi makan orang yang lapar, dan di 69:34 untuk orang yang tidak menganjurkan memberi makan. Jadi akar yang sama menyebut kemurahan dan penolakannya. Satu akar yang menyebut kemurahan dan penolakannya menerangkan bahwa keduanya dua arah dari satu perbuatan yang sama. Akar yang jarang membuat tiap pemakaiannya berbobot, sebab pembandingnya tidak banyak tersedia.
  • Kata terakhirnya tidak bertakrif dan didahului huruf yang menyatakan sebagian, sehingga yang disebut sebagian dari jenis itu, bukan seluruhnya. Terjemahannya menahan huruf depan itu alih-alih menghilangkannya. Menghilangkannya akan membuat ayatnya terbaca seolah seluruh jenis itu yang diberikan, padahal yang tertulis lebih sempit. Huruf yang menyatakan sebagian menjaga ayatnya tetap sempit, dan menghilangkannya akan memperluas apa yang tertulis.
  • Yang disediakan Allah tetap disebut makanan, bukan disebut siksa. Jadi bentuknya makanan dan kedudukannya hukuman sekaligus. Apa artinya sebuah pemberian yang memakai nama yang sama dengan pemberian yang menghidupkan, tetapi tidak mengerjakan satu pun yang dikerjakan pemberian itu? Sesuatu yang memakai nama pemberian tetapi tidak mengerjakan apa pun yang dikerjakan pemberian membalik arti katanya. Akar yang jarang membuat tiap pemakaiannya berbobot, sebab pembandingnya tidak banyak tersedia.