Ayat 88:8

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌ

Banyak wajah pada hari itu berseri-seri,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌwujuuhun yawma'idzin naa'imatunbanyak wajah pada hari itu berseri-seri

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وُجُوهٌwujuuhunwajah-wajah
  2. يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
  3. نَاعِمَةٌnaa'imatunpenuh nikmat

Inti bacaan

Kontras positif dengan golongan sebelumnya: 'banyak wajah pada hari itu berseri-seri', pembalikan total dari wajah tertunduk (88:2), menegaskan bahwa nasib berbeda menghasilkan ekspresi yang sama sekali berlawanan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ, wujuuhun yauma-idzin) diulang persis dari 88:2, dan itulah pemakaian keenam dari enam kemunculannya di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Jadi surah ini memakainya dua kali, sama seperti surah 75 dan surah 80.

Kata (نَاعِمَةٌ, naa'imatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti hidup senang dan tercukupi. Ia dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 56:89, dan 102:8. Di 56:89 dan 102:8 akar itu dipakai untuk kenikmatan yang dijanjikan dan kenikmatan yang akan ditanyakan.

Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat untuk menyebut nikmat, di sini dipakai sekali saja sebagai sifat wajah. Perbedaan itu perlu dijaga: yang disifati bukan nikmatnya melainkan orang yang menerimanya, dan tandanya terbaca pada wajahnya. Kata (نَاعِمَةٌ, naa'imatun) di sini menyifati wajah, bukan menyebut nikmat itu sendiri.

Susunan ayat ini sama persis dengan susunan 88:2, dan yang berbeda cuma kata sifat terakhirnya. Jadi dua golongan disebut dengan rangka kalimat yang sama, dan pembacanya diminta menimbang perbedaannya lewat satu kata. Al-Qur'an tidak menambahkan satu pun keterangan yang membedakan keduanya selain kata sifat itu. Bentuk (نَاعِمَةٌ, naa'imatun) berdiri persis di kedudukan yang sama dengan kata sifat di 88:2.

Bentuk (نَاعِمَةٌ, naa'imatun) berbentuk pelaku, sama seperti (خَاشِعَةٌ, khaasyi'atun) di 88:2. Jadi kedua golongan disifati dengan bentuk kata yang sama, dan yang berlawanan cuma isinya. Kesejajaran serapat itu mengikat kedua bagian surah menjadi satu bangunan.

Perpindahan dari 88:7 ke ayat ini terjadi tanpa satu kata penghubung. Jadi Al-Qur'an tidak menyatakan bahwa golongan kedua ini berbeda, dan yang menandainya cuma pengulangan rangkaian pembukanya. Bahasa Indonesia menahannya dengan mengulang susunan yang sama persis, mengikuti pengulangan yang tertulis. Kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) diulang utuh, bukan diganti dengan kata ganti.

Bentuk (نَاعِمَةٌ, naa'imatun) bentuk pelaku perempuan, sama seperti bentuk kata sifat di 88:2 dan dua kata sifat di 88:3. Jadi empat kata sifat di dalam surah ini memakai bentuk yang sama, dan dua di antaranya untuk golongan yang celaka sedangkan dua lainnya untuk yang lain.

Susunan sembilan ayat dari ayat ini sampai 88:16 lebih panjang daripada enam ayat tentang golongan pertama. Jadi Al-Qur'an memberi tempat yang lebih luas kepada gambaran yang menyenangkan, dan perbedaan panjang itu tidak dinyatakan dengan satu kata pun.

Kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) diulang utuh dari 88:2, bukan diganti kata ganti. Bahasa biasanya mengganti sesuatu yang baru disebut supaya tidak berulang, dan di sini penghematan itu tidak dipakai. Jadi pengulangan penuh itu yang menandai bahwa golongan kedua sedang dibuka, sebab tidak ada satu pun kata lain yang menandainya.

Tafsiran

Ayat ini beralih menggambarkan golongan wajah yang berbahagia pada hari itu, dan dua kata pertamanya diulang persis dari 88:2. Itulah pemakaian keenam dari enam kemunculannya di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 56:89, dan 102:8. Di 56:89 dan 102:8 akar itu dipakai untuk kenikmatan yang dijanjikan dan kenikmatan yang akan ditanyakan.

Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat untuk menyebut nikmat, di sini dipakai sekali saja sebagai sifat wajah. Perbedaan itu perlu dijaga: yang disifati bukan nikmatnya melainkan orang yang menerimanya, dan tandanya terbaca pada wajahnya.

Susunan ayat ini sama persis dengan susunan 88:2, dan yang berbeda cuma kata sifat terakhirnya. Jadi dua golongan disebut dengan rangka kalimat yang sama, dan pembacanya diminta menimbang perbedaannya lewat satu kata. Al-Qur'an tidak menambahkan satu pun keterangan yang membedakan keduanya selain kata sifat itu.

Sembilan ayat dari ayat ini sampai 88:16 lebih panjang daripada enam ayat tentang golongan pertama. Jadi Al-Qur'an memberi tempat yang lebih luas kepada gambaran yang menyenangkan, dan perbedaan panjang itu tidak dinyatakan dengan satu kata pun di dalam teksnya.

Renungan dan Hikmah

  • Susunan ayat ini sama persis dengan susunan 88:2, dan yang berbeda cuma kata sifat terakhirnya. Jadi Allah menyebut dua golongan dengan rangka kalimat yang sama, dan pembacanya diminta menimbang perbedaannya lewat satu kata. Al-Qur'an tidak menambahkan satu pun keterangan yang membedakan keduanya selain kata sifat itu. Dua golongan yang disebut dengan rangka kalimat yang sama menaruh seluruh perbedaannya pada satu kata saja. Peralihan yang ditandai pengulangan menuntut pembacanya memperhatikan bentuk, bukan penanda.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 56:89, dan 102:8. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat untuk menyebut nikmat, di sini dipakai Allah sekali saja sebagai sifat wajah. Yang disifati bukan nikmatnya melainkan orang yang menerimanya. Akar yang tersebar di ratusan ayat lalu dipakai sekali sebagai sifat wajah memindahkan nikmat dari benda kepada orangnya.
  • Dua kata pertamanya diulang persis dari 88:2, dan itulah pemakaian keenam dari enam kemunculannya di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Jadi surah ini memakainya dua kali, sama seperti surah 75 dan surah 80, dan pola dua kali itu tidak pernah menyimpang di ketiganya. Pola yang tidak pernah menyimpang di tiga surah menandai susunan yang disengaja, bukan pengulangan yang kebetulan. Rangka kalimat yang sama untuk dua golongan menaruh seluruh perbedaannya pada satu kata.
  • Kata terakhirnya berbentuk pelaku, sama seperti kata terakhir di 88:2. Jadi kedua golongan disifati Allah dengan bentuk kata yang sama, dan yang berlawanan cuma isinya. Kesejajaran serapat itu mengikat kedua bagian surah menjadi satu bangunan, dan memisahkan keduanya akan menghilangkan pertentangan yang dibangunnya. Bentuk kata yang sama untuk dua sifat berlawanan mengikat kedua bagian surah menjadi satu bangunan yang utuh. Rangka kalimat yang sama untuk dua golongan menaruh seluruh perbedaannya pada satu kata.
  • Perpindahan dari 88:7 ke ayat ini terjadi tanpa satu kata penghubung. Jadi Allah tidak menyatakan bahwa golongan kedua ini berbeda, dan yang menandainya cuma pengulangan rangkaian pembukanya. Terjemahannya mengulang susunan yang sama persis, mengikuti pengulangan yang tertulis alih-alih menyisipkan kata yang menandai peralihan. Pengulangan yang menandai peralihan tanpa kata penghubung menuntut pembacanya memperhatikan bentuk, bukan penanda.
  • Sifat yang disebut Allah terbaca pada wajah, bukan pada tempat tinggal atau pada perbuatan. Jadi pada hari itu keadaan seseorang tidak perlu ditanyakan sebab sudah terbaca dari rupanya. Apa yang tersisa dari kemampuan seseorang menyembunyikan keadaannya ketika wajahnya sendiri yang mengabarkannya lebih dulu? Wajah yang mengabarkan keadaan lebih dulu meniadakan seluruh gunanya kemampuan seseorang menyembunyikan dirinya. Peralihan yang ditandai pengulangan menuntut pembacanya memperhatikan bentuk, bukan penanda.

Ayat 88:9

لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ

Merasa puas atas usahanya,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌli-sa'yihaa raadhiyatunmerasa puas atas usahanya

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. لِسَعْيِهَاli-sa'yihaaatas usahanya
  2. رَاضِيَةٌraadhiyatunyang rida

Inti bacaan

Kepuasan yang berasal dari usaha sendiri: 'merasa puas atas usahanya', penegasan bahwa kebahagiaan ini berakar pada pencapaian personal, bukan keberuntungan acak, tanggung jawab individual yang membuahkan hasil memuaskan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) juga muncul 1 kali. Jadi dua dari tiga kata di ayat ini tidak punya pembanding di tempat lain, dan ayat ini seluruhnya dibangun dari kata-kata yang jarang.

Akar (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) berarti berusaha dan bergegas. Akar itu dipakai di 28 ayat, antara lain 2:114, 17:19, 20:15, 53:39, dan 79:22. Di 53:39 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan di 17:19 untuk usaha yang dikerjakan bagi akhirat.

Akar (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) berarti rela menerima. Akar itu dipakai di 64 ayat, antara lain 5:119, 9:100, 20:130, 89:28, dan 98:8. Di 89:28 dan 98:8 akar itu dipakai dalam susunan yang menyebut dua arah kerelaan sekaligus, yaitu rela dan direlai.

Yang khas di ayat ini adalah bahwa yang disebut cuma satu arah, yaitu wajah itu yang rela. Al-Qur'an tidak menyebut di sini bahwa Tuhan pun rela kepada mereka, meskipun susunan dua arah itu dipakai di tempat lain. Jadi yang dinyatakan keadaan mereka, bukan hubungan timbal balik.

Huruf lam di depan (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) menyatakan sebab, sehingga kerelaan itu karena usahanya. Jadi yang membuat mereka puas bukan tempat yang mereka masuki melainkan apa yang sudah mereka kerjakan. Susunan yang menaruh sebab sebelum sifatnya itu menahan tekanannya pada usahanya.

Kata ganti pada ujung (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) di 88:8. Jadi yang berusaha wajah-wajah itu, sama seperti yang memasuki api di 88:4 juga wajah. Kedua golongan karena itu diperlakukan sama di dalam susunan bahasanya.

Bentuk (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) bentuk pelaku perempuan, sama seperti seluruh kata sifat yang menerangkan wajah di surah ini. Jadi lima kata sifat memakai bentuk yang sama, dan yang membedakan cuma isinya. Kesejajaran serapat itu mengikat kedua bagian surah menjadi satu bangunan yang tidak bisa dipecah.

Kata (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) didahulukan sebelum kata sifatnya, padahal susunan biasa menaruh kata sifat lebih dulu. Jadi urutannya sendiri yang menegaskan bahwa yang menjadi sebab usahanya. Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata pun untuk menyatakan penegasan itu.

Kata (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) memakai kata ganti kepemilikan yang berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata untuk wajah. Jadi usahanya disandarkan kepada wajah itu, bukan kepada orangnya secara utuh. Penyandaran yang sama dipakai pada seluruh kata kerja dan kata sifat di 88:2 sampai 88:5, sehingga kedua golongan diperlakukan sama.

Bentuk (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) berbaris dammah karena menjadi berita bagi kata di 88:8, sedangkan kata sebelumnya berbaris kasrah karena didahului huruf. Jadi dua kata di dalam satu ayat berdiri pada dua kedudukan yang berbeda, dan perbedaan itu terbawa di dalam barisnya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan kepuasan mereka atas hasil usaha mereka, dan dua dari tiga katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat ini seluruhnya dibangun dari kata-kata yang jarang dipakai.

Akar kata keduanya dipakai di 28 ayat, antara lain 2:114, 17:19, 20:15, 53:39, dan 79:22. Di 53:39 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan di 17:19 untuk usaha yang dikerjakan bagi akhirat.

Akar kata terakhirnya dipakai di 64 ayat, antara lain 5:119, 9:100, 20:130, 89:28, dan 98:8. Di 89:28 dan 98:8 akar itu dipakai dalam susunan yang menyebut dua arah kerelaan sekaligus, yaitu rela dan direlai.

Yang khas di ayat ini adalah bahwa yang disebut cuma satu arah, yaitu wajah itu yang rela. Al-Qur'an tidak menyebut di sini bahwa Tuhan pun rela kepada mereka, meskipun susunan dua arah itu dipakai di tempat lain. Jadi yang dinyatakan keadaan mereka, bukan hubungan timbal balik.

Kata keduanya didahulukan sebelum kata sifatnya, padahal susunan biasa menaruh kata sifat lebih dulu. Jadi urutannya sendiri yang menegaskan bahwa yang menjadi sebab usahanya, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata pun untuk menyatakan penegasan itu. Kata keduanya memakai kata ganti kepemilikan yang berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata untuk wajah, sehingga usahanya disandarkan kepada wajah itu, bukan kepada orangnya secara utuh.

Renungan dan Hikmah

  • Dua dari tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat ini seluruhnya dibangun dari kata-kata yang jarang dipakai Allah, dan pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang maksudnya. Kelangkaan sepadat itu tidak terjadi lagi di ayat mana pun di dalam surah ini. Ayat yang seluruhnya dibangun dari kata langka meninggalkan pembacanya tanpa pembanding dari tempat lain mana pun. Kepuasan atas yang dikerjakan tidak bergantung pada besarnya balasan yang diterima seseorang.
  • Akar kata terakhirnya dipakai di 64 ayat, antara lain 5:119, 9:100, 20:130, 89:28, dan 98:8. Di 89:28 dan 98:8 akar itu dipakai Allah dalam susunan yang menyebut dua arah kerelaan sekaligus, yaitu rela dan direlai. Yang khas di sini adalah bahwa yang disebut cuma satu arah, yaitu wajah itu yang rela. Kerelaan yang disebut satu arah saja menahan pernyataannya pada apa yang dirasakan mereka, bukan pada hubungan timbal balik. Kepuasan atas yang dikerjakan tidak bergantung pada besarnya balasan yang diterima seseorang.
  • Huruf di depan kata keduanya menyatakan sebab, sehingga kerelaan itu karena usahanya. Jadi yang membuat mereka puas bukan tempat yang mereka masuki melainkan apa yang sudah mereka kerjakan. Allah menaruh sebab sebelum sifatnya, dan susunan itu menahan tekanannya pada usahanya, bukan pada balasannya. Sebab yang diletakkan sebelum sifatnya menaruh tekanan pada usahanya, dan bukan pada tempat yang mereka masuki. Kata yang jarang berkumpul di satu ayat meninggalkan pembacanya tanpa pembanding dari tempat lain.
  • Akar kata keduanya dipakai di 28 ayat, antara lain 2:114, 17:19, 20:15, 53:39, dan 79:22. Di 53:39 akar itu dipakai Allah untuk menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan di 17:19 untuk usaha yang dikerjakan bagi akhirat. Jadi akar yang sama menamai apa yang menentukan hasil seseorang. Akar yang menamai usaha muncul di tempat yang menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya.
  • Kata ganti pada ujung kata keduanya berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata pertama di 88:8. Jadi yang berusaha wajah-wajah itu, sama seperti yang memasuki api di 88:4 juga wajah. Kedua golongan karena itu diperlakukan Allah sama di dalam susunan bahasanya, dan yang berbeda cuma apa yang menimpa mereka. Kedua golongan yang disebut lewat wajah diperlakukan sama di dalam bahasanya, dan yang berbeda cuma yang menimpa mereka.
  • Yang disebut bukan puas atas apa yang diterima melainkan puas atas apa yang dikerjakan. Golongan di 88:3 juga bekerja sampai lelah, tetapi tidak disebut puas sama sekali. Apa yang membedakan dua kerja keras sehingga yang satu berakhir dengan kepuasan dan yang lain dengan kepayahan yang tidak berbuah? Puas atas yang dikerjakan berbeda dari puas atas yang diterima, dan yang pertama tidak bergantung pada besarnya balasan. Kata yang jarang berkumpul di satu ayat meninggalkan pembacanya tanpa pembanding dari tempat lain.