Ayat 88:8
وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌ
Banyak wajah pada hari itu berseri-seri,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاعِمَةٌwujuuhun yawma'idzin naa'imatunbanyak wajah pada hari itu berseri-seri
Terjemahan per kata (3 kata)
- وُجُوهٌwujuuhunwajah-wajah
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- نَاعِمَةٌnaa'imatunpenuh nikmat
Inti bacaan
Kontras positif dengan golongan sebelumnya: 'banyak wajah pada hari itu berseri-seri', pembalikan total dari wajah tertunduk (88:2), menegaskan bahwa nasib berbeda menghasilkan ekspresi yang sama sekali berlawanan.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ, wujuuhun yauma-idzin) diulang persis dari 88:2, dan itulah pemakaian keenam dari enam kemunculannya di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Jadi surah ini memakainya dua kali, sama seperti surah 75 dan surah 80.
Kata (نَاعِمَةٌ, naa'imatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti hidup senang dan tercukupi. Ia dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 56:89, dan 102:8. Di 56:89 dan 102:8 akar itu dipakai untuk kenikmatan yang dijanjikan dan kenikmatan yang akan ditanyakan.
Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat untuk menyebut nikmat, di sini dipakai sekali saja sebagai sifat wajah. Perbedaan itu perlu dijaga: yang disifati bukan nikmatnya melainkan orang yang menerimanya, dan tandanya terbaca pada wajahnya. Kata (نَاعِمَةٌ, naa'imatun) di sini menyifati wajah, bukan menyebut nikmat itu sendiri.
Susunan ayat ini sama persis dengan susunan 88:2, dan yang berbeda cuma kata sifat terakhirnya. Jadi dua golongan disebut dengan rangka kalimat yang sama, dan pembacanya diminta menimbang perbedaannya lewat satu kata. Al-Qur'an tidak menambahkan satu pun keterangan yang membedakan keduanya selain kata sifat itu. Bentuk (نَاعِمَةٌ, naa'imatun) berdiri persis di kedudukan yang sama dengan kata sifat di 88:2.
Bentuk (نَاعِمَةٌ, naa'imatun) berbentuk pelaku, sama seperti (خَاشِعَةٌ, khaasyi'atun) di 88:2. Jadi kedua golongan disifati dengan bentuk kata yang sama, dan yang berlawanan cuma isinya. Kesejajaran serapat itu mengikat kedua bagian surah menjadi satu bangunan.
Perpindahan dari 88:7 ke ayat ini terjadi tanpa satu kata penghubung. Jadi Al-Qur'an tidak menyatakan bahwa golongan kedua ini berbeda, dan yang menandainya cuma pengulangan rangkaian pembukanya. Bahasa Indonesia menahannya dengan mengulang susunan yang sama persis, mengikuti pengulangan yang tertulis. Kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) diulang utuh, bukan diganti dengan kata ganti.
Bentuk (نَاعِمَةٌ, naa'imatun) bentuk pelaku perempuan, sama seperti bentuk kata sifat di 88:2 dan dua kata sifat di 88:3. Jadi empat kata sifat di dalam surah ini memakai bentuk yang sama, dan dua di antaranya untuk golongan yang celaka sedangkan dua lainnya untuk yang lain.
Susunan sembilan ayat dari ayat ini sampai 88:16 lebih panjang daripada enam ayat tentang golongan pertama. Jadi Al-Qur'an memberi tempat yang lebih luas kepada gambaran yang menyenangkan, dan perbedaan panjang itu tidak dinyatakan dengan satu kata pun.
Kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) diulang utuh dari 88:2, bukan diganti kata ganti. Bahasa biasanya mengganti sesuatu yang baru disebut supaya tidak berulang, dan di sini penghematan itu tidak dipakai. Jadi pengulangan penuh itu yang menandai bahwa golongan kedua sedang dibuka, sebab tidak ada satu pun kata lain yang menandainya.
Tafsiran
Ayat ini beralih menggambarkan golongan wajah yang berbahagia pada hari itu, dan dua kata pertamanya diulang persis dari 88:2. Itulah pemakaian keenam dari enam kemunculannya di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 56:89, dan 102:8. Di 56:89 dan 102:8 akar itu dipakai untuk kenikmatan yang dijanjikan dan kenikmatan yang akan ditanyakan.
Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat untuk menyebut nikmat, di sini dipakai sekali saja sebagai sifat wajah. Perbedaan itu perlu dijaga: yang disifati bukan nikmatnya melainkan orang yang menerimanya, dan tandanya terbaca pada wajahnya.
Susunan ayat ini sama persis dengan susunan 88:2, dan yang berbeda cuma kata sifat terakhirnya. Jadi dua golongan disebut dengan rangka kalimat yang sama, dan pembacanya diminta menimbang perbedaannya lewat satu kata. Al-Qur'an tidak menambahkan satu pun keterangan yang membedakan keduanya selain kata sifat itu.
Sembilan ayat dari ayat ini sampai 88:16 lebih panjang daripada enam ayat tentang golongan pertama. Jadi Al-Qur'an memberi tempat yang lebih luas kepada gambaran yang menyenangkan, dan perbedaan panjang itu tidak dinyatakan dengan satu kata pun di dalam teksnya.
Renungan dan Hikmah
- Susunan ayat ini sama persis dengan susunan 88:2, dan yang berbeda cuma kata sifat terakhirnya. Jadi Allah menyebut dua golongan dengan rangka kalimat yang sama, dan pembacanya diminta menimbang perbedaannya lewat satu kata. Al-Qur'an tidak menambahkan satu pun keterangan yang membedakan keduanya selain kata sifat itu. Dua golongan yang disebut dengan rangka kalimat yang sama menaruh seluruh perbedaannya pada satu kata saja. Peralihan yang ditandai pengulangan menuntut pembacanya memperhatikan bentuk, bukan penanda.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 128 ayat, antara lain 2:211, 14:34, 16:18, 56:89, dan 102:8. Jadi akar yang tersebar di ratusan ayat untuk menyebut nikmat, di sini dipakai Allah sekali saja sebagai sifat wajah. Yang disifati bukan nikmatnya melainkan orang yang menerimanya. Akar yang tersebar di ratusan ayat lalu dipakai sekali sebagai sifat wajah memindahkan nikmat dari benda kepada orangnya.
- Dua kata pertamanya diulang persis dari 88:2, dan itulah pemakaian keenam dari enam kemunculannya di 3 surah, yaitu di 75:22, 75:24, 80:38, 80:40, 88:2, dan 88:8. Jadi surah ini memakainya dua kali, sama seperti surah 75 dan surah 80, dan pola dua kali itu tidak pernah menyimpang di ketiganya. Pola yang tidak pernah menyimpang di tiga surah menandai susunan yang disengaja, bukan pengulangan yang kebetulan. Rangka kalimat yang sama untuk dua golongan menaruh seluruh perbedaannya pada satu kata.
- Kata terakhirnya berbentuk pelaku, sama seperti kata terakhir di 88:2. Jadi kedua golongan disifati Allah dengan bentuk kata yang sama, dan yang berlawanan cuma isinya. Kesejajaran serapat itu mengikat kedua bagian surah menjadi satu bangunan, dan memisahkan keduanya akan menghilangkan pertentangan yang dibangunnya. Bentuk kata yang sama untuk dua sifat berlawanan mengikat kedua bagian surah menjadi satu bangunan yang utuh. Rangka kalimat yang sama untuk dua golongan menaruh seluruh perbedaannya pada satu kata.
- Perpindahan dari 88:7 ke ayat ini terjadi tanpa satu kata penghubung. Jadi Allah tidak menyatakan bahwa golongan kedua ini berbeda, dan yang menandainya cuma pengulangan rangkaian pembukanya. Terjemahannya mengulang susunan yang sama persis, mengikuti pengulangan yang tertulis alih-alih menyisipkan kata yang menandai peralihan. Pengulangan yang menandai peralihan tanpa kata penghubung menuntut pembacanya memperhatikan bentuk, bukan penanda.
- Sifat yang disebut Allah terbaca pada wajah, bukan pada tempat tinggal atau pada perbuatan. Jadi pada hari itu keadaan seseorang tidak perlu ditanyakan sebab sudah terbaca dari rupanya. Apa yang tersisa dari kemampuan seseorang menyembunyikan keadaannya ketika wajahnya sendiri yang mengabarkannya lebih dulu? Wajah yang mengabarkan keadaan lebih dulu meniadakan seluruh gunanya kemampuan seseorang menyembunyikan dirinya. Peralihan yang ditandai pengulangan menuntut pembacanya memperhatikan bentuk, bukan penanda.
Ayat 88:9
لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ
Merasa puas atas usahanya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌli-sa'yihaa raadhiyatunmerasa puas atas usahanya
Terjemahan per kata (2 kata)
- لِسَعْيِهَاli-sa'yihaaatas usahanya
- رَاضِيَةٌraadhiyatunyang rida
Inti bacaan
Kepuasan yang berasal dari usaha sendiri: 'merasa puas atas usahanya', penegasan bahwa kebahagiaan ini berakar pada pencapaian personal, bukan keberuntungan acak, tanggung jawab individual yang membuahkan hasil memuaskan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) juga muncul 1 kali. Jadi dua dari tiga kata di ayat ini tidak punya pembanding di tempat lain, dan ayat ini seluruhnya dibangun dari kata-kata yang jarang.
Akar (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) berarti berusaha dan bergegas. Akar itu dipakai di 28 ayat, antara lain 2:114, 17:19, 20:15, 53:39, dan 79:22. Di 53:39 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan di 17:19 untuk usaha yang dikerjakan bagi akhirat.
Akar (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) berarti rela menerima. Akar itu dipakai di 64 ayat, antara lain 5:119, 9:100, 20:130, 89:28, dan 98:8. Di 89:28 dan 98:8 akar itu dipakai dalam susunan yang menyebut dua arah kerelaan sekaligus, yaitu rela dan direlai.
Yang khas di ayat ini adalah bahwa yang disebut cuma satu arah, yaitu wajah itu yang rela. Al-Qur'an tidak menyebut di sini bahwa Tuhan pun rela kepada mereka, meskipun susunan dua arah itu dipakai di tempat lain. Jadi yang dinyatakan keadaan mereka, bukan hubungan timbal balik.
Huruf lam di depan (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) menyatakan sebab, sehingga kerelaan itu karena usahanya. Jadi yang membuat mereka puas bukan tempat yang mereka masuki melainkan apa yang sudah mereka kerjakan. Susunan yang menaruh sebab sebelum sifatnya itu menahan tekanannya pada usahanya.
Kata ganti pada ujung (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) di 88:8. Jadi yang berusaha wajah-wajah itu, sama seperti yang memasuki api di 88:4 juga wajah. Kedua golongan karena itu diperlakukan sama di dalam susunan bahasanya.
Bentuk (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) bentuk pelaku perempuan, sama seperti seluruh kata sifat yang menerangkan wajah di surah ini. Jadi lima kata sifat memakai bentuk yang sama, dan yang membedakan cuma isinya. Kesejajaran serapat itu mengikat kedua bagian surah menjadi satu bangunan yang tidak bisa dipecah.
Kata (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) didahulukan sebelum kata sifatnya, padahal susunan biasa menaruh kata sifat lebih dulu. Jadi urutannya sendiri yang menegaskan bahwa yang menjadi sebab usahanya. Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata pun untuk menyatakan penegasan itu.
Kata (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) memakai kata ganti kepemilikan yang berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata untuk wajah. Jadi usahanya disandarkan kepada wajah itu, bukan kepada orangnya secara utuh. Penyandaran yang sama dipakai pada seluruh kata kerja dan kata sifat di 88:2 sampai 88:5, sehingga kedua golongan diperlakukan sama.
Bentuk (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) berbaris dammah karena menjadi berita bagi kata di 88:8, sedangkan kata sebelumnya berbaris kasrah karena didahului huruf. Jadi dua kata di dalam satu ayat berdiri pada dua kedudukan yang berbeda, dan perbedaan itu terbawa di dalam barisnya sendiri.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kepuasan mereka atas hasil usaha mereka, dan dua dari tiga katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat ini seluruhnya dibangun dari kata-kata yang jarang dipakai.
Akar kata keduanya dipakai di 28 ayat, antara lain 2:114, 17:19, 20:15, 53:39, dan 79:22. Di 53:39 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan di 17:19 untuk usaha yang dikerjakan bagi akhirat.
Akar kata terakhirnya dipakai di 64 ayat, antara lain 5:119, 9:100, 20:130, 89:28, dan 98:8. Di 89:28 dan 98:8 akar itu dipakai dalam susunan yang menyebut dua arah kerelaan sekaligus, yaitu rela dan direlai.
Yang khas di ayat ini adalah bahwa yang disebut cuma satu arah, yaitu wajah itu yang rela. Al-Qur'an tidak menyebut di sini bahwa Tuhan pun rela kepada mereka, meskipun susunan dua arah itu dipakai di tempat lain. Jadi yang dinyatakan keadaan mereka, bukan hubungan timbal balik.
Kata keduanya didahulukan sebelum kata sifatnya, padahal susunan biasa menaruh kata sifat lebih dulu. Jadi urutannya sendiri yang menegaskan bahwa yang menjadi sebab usahanya, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata pun untuk menyatakan penegasan itu. Kata keduanya memakai kata ganti kepemilikan yang berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata untuk wajah, sehingga usahanya disandarkan kepada wajah itu, bukan kepada orangnya secara utuh.
Renungan dan Hikmah
- Dua dari tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat ini seluruhnya dibangun dari kata-kata yang jarang dipakai Allah, dan pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang maksudnya. Kelangkaan sepadat itu tidak terjadi lagi di ayat mana pun di dalam surah ini. Ayat yang seluruhnya dibangun dari kata langka meninggalkan pembacanya tanpa pembanding dari tempat lain mana pun. Kepuasan atas yang dikerjakan tidak bergantung pada besarnya balasan yang diterima seseorang.
- Akar kata terakhirnya dipakai di 64 ayat, antara lain 5:119, 9:100, 20:130, 89:28, dan 98:8. Di 89:28 dan 98:8 akar itu dipakai Allah dalam susunan yang menyebut dua arah kerelaan sekaligus, yaitu rela dan direlai. Yang khas di sini adalah bahwa yang disebut cuma satu arah, yaitu wajah itu yang rela. Kerelaan yang disebut satu arah saja menahan pernyataannya pada apa yang dirasakan mereka, bukan pada hubungan timbal balik. Kepuasan atas yang dikerjakan tidak bergantung pada besarnya balasan yang diterima seseorang.
- Huruf di depan kata keduanya menyatakan sebab, sehingga kerelaan itu karena usahanya. Jadi yang membuat mereka puas bukan tempat yang mereka masuki melainkan apa yang sudah mereka kerjakan. Allah menaruh sebab sebelum sifatnya, dan susunan itu menahan tekanannya pada usahanya, bukan pada balasannya. Sebab yang diletakkan sebelum sifatnya menaruh tekanan pada usahanya, dan bukan pada tempat yang mereka masuki. Kata yang jarang berkumpul di satu ayat meninggalkan pembacanya tanpa pembanding dari tempat lain.
- Akar kata keduanya dipakai di 28 ayat, antara lain 2:114, 17:19, 20:15, 53:39, dan 79:22. Di 53:39 akar itu dipakai Allah untuk menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan di 17:19 untuk usaha yang dikerjakan bagi akhirat. Jadi akar yang sama menamai apa yang menentukan hasil seseorang. Akar yang menamai usaha muncul di tempat yang menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya.
- Kata ganti pada ujung kata keduanya berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata pertama di 88:8. Jadi yang berusaha wajah-wajah itu, sama seperti yang memasuki api di 88:4 juga wajah. Kedua golongan karena itu diperlakukan Allah sama di dalam susunan bahasanya, dan yang berbeda cuma apa yang menimpa mereka. Kedua golongan yang disebut lewat wajah diperlakukan sama di dalam bahasanya, dan yang berbeda cuma yang menimpa mereka.
- Yang disebut bukan puas atas apa yang diterima melainkan puas atas apa yang dikerjakan. Golongan di 88:3 juga bekerja sampai lelah, tetapi tidak disebut puas sama sekali. Apa yang membedakan dua kerja keras sehingga yang satu berakhir dengan kepuasan dan yang lain dengan kepayahan yang tidak berbuah? Puas atas yang dikerjakan berbeda dari puas atas yang diterima, dan yang pertama tidak bergantung pada besarnya balasan. Kata yang jarang berkumpul di satu ayat meninggalkan pembacanya tanpa pembanding dari tempat lain.
Ayat 88:10
فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ
Dalam taman yang tinggi.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍfii jannatin 'aaliyatindalam taman yang tinggi
Terjemahan per kata (3 kata)
- فِيfiidi
- جَنَّةٍjannatintaman
- عَالِيَةٍ'aaliyatinyang tinggi
Inti bacaan
Kedudukan yang istimewa: '(mereka) dalam surga yang tinggi', penekanan pada posisi yang ditinggikan sebagai bagian dari penghargaan.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (جَنَّةٍ عَالِيَةٍ, jannatin 'aaliyatin) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 69:22 dan 88:10. Di 69:22 rangkaian yang sama menutup gambaran tentang orang yang menerima catatannya dengan tangan kanan. Jadi dua surah memakai rangkaian yang sama persis untuk menamai tempat yang sama.
Akar (عَالِيَةٍ, 'aaliyatin) berarti tinggi. Akar itu dipakai di 68 ayat, antara lain 17:4, 20:75, 28:83, 87:1, dan 92:20. Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai akar yang sama untuk menerangkan Tuhan.
Jadi satu akar dipakai untuk sifat Tuhan di 87:1 dan untuk letak taman di sini. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Yang di 87:1 menyebut ketinggian yang tidak berbatas, dan yang di sini ketinggian sebuah tempat. Kata (عَالِيَةٍ, 'aaliyatin) di sini menyifati taman, bukan menerangkan Tuhan.
Kata (جَنَّةٍ, jannatin) berasal dari akar yang berarti menutupi sampai tak terlihat. Akar itu dipakai di 196 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk sesuatu yang tersembunyi dan tertutup, antara lain di 6:76 untuk malam yang menutupi. Jadi taman itu dinamai dengan akar yang gambarannya sesuatu yang tertutup rapat oleh dedaunan.
Kata (جَنَّةٍ, jannatin) tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebuah taman, bukan taman yang sudah tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai taman yang tertentu akan menambah keterangan yang tidak dinyatakan bentuk katanya sendiri.
Susunan tujuh ayat dari ayat ini sampai 88:16 seluruhnya berupa keterangan tentang tempat itu. Bentuk (فِي, fii) di awal ayat menyatakan berada di dalam, dan kata yang sama dipakai lagi di 88:11, 88:12, dan 88:13. Jadi empat ayat berturut-turut dibuka dengan penanda tempat yang sama.
Bentuk (عَالِيَةٍ, 'aaliyatin) bentuk pelaku perempuan yang tidak bertakrif, mengikuti kata bendanya. Jadi keduanya terikat sebagai satu satuan, dan sifatnya tidak berdiri sendiri. Susunan benda tanpa takrif yang disusul sifat tanpa takrif itu dipakai lagi di 88:12, dan di kedua tempat itu yang dinyatakan jenisnya.
Kata (فِي, fii) di awal ayat menyatakan berada di dalam, dan ia menyambung kepada kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) di 88:8. Jadi ayat ini keterangan bagi wajah-wajah itu, bukan kalimat baru. Tiga ayat dari 88:8 sampai ayat ini karena itu membentuk satu kalimat yang dipisah menjadi tiga.
Kata (جَنَّةٍ, jannatin) berbaris kasrah karena didahului huruf yang menyatakan tempat. Jadi kedudukan i'rabnya ditentukan huruf di depannya, sama seperti kata di 88:5 dan 88:6 yang juga didahului huruf. Tiga tempat di surah ini karena itu memakai baris yang sama karena sebab yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa wajah-wajah yang berbahagia itu berada dalam taman yang tinggi, dan rangkaiannya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 69:22 dan 88:10.
Di 69:22 rangkaian yang sama menutup gambaran tentang orang yang menerima catatannya dengan tangan kanan. Jadi dua surah memakai rangkaian yang sama persis untuk menamai tempat yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Akar kata terakhirnya dipakai di 68 ayat, antara lain 17:4, 20:75, 28:83, 87:1, dan 92:20. Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai akar yang sama untuk menerangkan Tuhan. Jadi satu akar dipakai untuk sifat-Nya di sana dan untuk letak taman di sini.
Kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 196 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk sesuatu yang tersembunyi dan tertutup, antara lain di 6:76 untuk malam yang menutupi. Jadi taman itu dinamai dengan akar yang gambarannya sesuatu yang tertutup rapat oleh dedaunan.
Kata pertamanya menyatakan berada di dalam, dan ia menyambung kepada kata pertama di 88:8. Jadi ayat ini keterangan bagi wajah-wajah itu, bukan kalimat baru, dan tiga ayat dari 88:8 sampai ayat ini membentuk satu kalimat yang dipisah menjadi tiga bagian. Kata keduanya berbaris kasrah karena didahului huruf yang menyatakan tempat, sama seperti kata di 88:5 dan 88:6.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya dipakai di 68 ayat, antara lain 17:4, 20:75, 28:83, 87:1, dan 92:20. Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai akar yang sama untuk menerangkan Allah. Jadi satu akar dipakai untuk sifat-Nya di sana dan untuk letak taman di sini, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Satu akar yang menerangkan Allah dan menerangkan letak tempat menaruh keduanya di dalam satu keluarga kata.
- Rangkaian ayat ini muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 69:22 dan 88:10. Di 69:22 rangkaian yang sama menutup gambaran tentang orang yang menerima catatannya dengan tangan kanan. Jadi Allah memakai rangkaian yang sama persis untuk menamai tempat yang sama di dua surah, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang diulang tanpa diubah. Rangkaian yang berulang persis di dua surah menandai keduanya sejajar, dan yang menyambungkannya cuma bentuknya sendiri.
- Kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 196 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk sesuatu yang tersembunyi dan tertutup, antara lain di 6:76 untuk malam yang menutupi. Jadi Allah menamai taman itu dengan akar yang gambarannya sesuatu yang tertutup rapat, dan namanya sendiri sudah menyatakan bahwa ia tidak terlihat dari luar. Nama yang gambarannya sesuatu yang tertutup menyatakan bahwa tempat itu tidak bisa dilihat dari luar oleh siapa pun.
- Kata pertamanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebuah taman, bukan taman yang sudah tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai taman yang tertentu akan menambah keterangan yang tidak dinyatakan bentuk katanya sendiri. Allah menyebut sifatnya, dan bukan namanya atau letaknya yang tepat. Ketiadaan kata sandang menyerahkan pengenalan tempatnya kepada sifat yang menyusulnya, bukan kepada namanya. Nama yang gambarannya sesuatu yang tertutup sudah menyatakan bahwa ia tidak terlihat dari luar.
- Kata pertama ayat ini menyatakan berada di dalam, dan kata yang sama dipakai Allah lagi di 88:11, 88:12, dan 88:13. Jadi empat ayat berturut-turut dibuka dengan penanda tempat yang sama. Pengulangan serapat itu menahan perhatian pembacanya pada satu tempat, dan tidak ada satu pun kata yang membawanya keluar dari sana. Empat ayat yang dibuka penanda tempat yang sama menahan pembacanya di satu tempat tanpa satu jalan keluar. Ketinggian yang tidak diukur tidak bisa dibandingkan dengan apa pun yang sudah dikenal orang.
- Yang disebut Allah ketinggiannya, bukan luasnya atau isinya. Ketinggian yang tidak diukur dengan angka tidak bisa dibandingkan dengan apa pun yang sudah dikenal. Apa yang bisa dibayangkan seseorang tentang sebuah tempat ketika yang diberitahukan kepadanya cuma bahwa tempat itu tinggi? Ketinggian yang tidak diukur tidak bisa dibandingkan, dan ketidakterbandingan itu bagian dari apa yang dinyatakan. Nama yang gambarannya sesuatu yang tertutup sudah menyatakan bahwa ia tidak terlihat dari luar.
Ayat 88:11
لَا تَسْمَعُ فِيهَا لَاغِيَةً
Di sana engkau tidak mendengar yang tidak berguna.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَا تَسْمَعُ فِيهَا لَاغِيَةًlaa tasma'u fiihaa laaghiyatandi sana engkau tidak mendengar yang tidak berguna
Terjemahan per kata (4 kata)
- لَاlaatidak
- تَسْمَعُtasma'uengkau mendengar
- فِيهَاfiihaadi sana
- لَاغِيَةًlaaghiyatanperkataan sia-sia
Inti bacaan
Lingkungan komunikasi yang bersih: 'di sana engkau tidak mendengar (perkataan) yang tidak berguna', kualitas interaksi sosial yang bebas dari obrolan sia-sia, standar percakapan bermakna.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(perkataan)" tidak dipakai. Kata (لَاغِيَةً, laaghiyatan) berdiri sendiri sebagai objek, dan menyisipkan kata benda yang menerangkan jenisnya akan mempersempit ayatnya. Kata ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada satu pun bentuk lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Akar (لَاغِيَةً, laaghiyatan) berarti perkataan sia-sia. Akar itu cuma dipakai di 11 ayat, yaitu 2:225, 5:89, 19:62, 23:3, 25:72, 28:55, 41:26, 52:23, 56:25, 78:35, dan ayat ini. Di 19:62, 56:25, dan 78:35 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa penghuni taman tidak mendengar perkataan sia-sia.
Jadi empat ayat di seluruh Al-Qur'an menyatakan hal yang sama tentang tempat itu, yaitu 19:62, 56:25, 78:35, dan ayat ini. Di 41:26 akar yang sama justru dipakai untuk perintah membuat gaduh supaya bacaan tidak terdengar. Jadi satu akar memikul kesia-siaan yang ditiadakan dan kesia-siaan yang disengaja.
Bentuk kata kerja (تَسْمَعُ, tasma'u) berorang kedua tunggal, sehingga yang disapa satu orang. Ini sapaan langsung yang pertama sesudah 88:1, dan sesudahnya surah kembali kepada pihak ketiga sampai 88:21. Jadi Al-Qur'an menyelipkan satu sapaan di tengah gambaran, dan penyelipan itu tidak diterangkan.
Akar (تَسْمَعُ, tasma'u) berarti mendengar. Akar itu dipakai di 185 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut mendengar yang disertai memperhatikan, antara lain di 2:93 dan 7:179. Jadi yang diingkari bukan cuma sampainya bunyi melainkan adanya yang pantas didengarkan.
Kata (فِيهَا, fiihaa) menyebut tempat, dan kata ganti pada ujungnya menunjuk taman di 88:10. Jadi ayat ini lanjutan langsung, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 88:12 dan 88:13. Tiga ayat berturut-turut karena itu terikat kepada satu tempat yang disebut sekali saja di 88:10.
Bentuk (لَاغِيَةً, laaghiyatan) bentuk pelaku perempuan yang tidak bertakrif dan berbaris fathah karena menjadi objek. Jadi yang diingkari sesuatu yang berbuat sia-sia, bukan sesuatu yang dikenai kesia-siaan. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan.
Di 2:225 dan 5:89 akar (لَاغِيَةً, laaghiyatan) dipakai untuk sumpah yang diucapkan tanpa maksud, sehingga tidak dikenai tuntutan. Jadi akar yang sama menyebut ucapan yang tidak dihitung dan tempat yang tidak memuat ucapan semacam itu. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu.
Kata (تَسْمَعُ, tasma'u) berbentuk sekarang, sedangkan seluruh kata sifat di sekelilingnya berbentuk kata benda. Jadi ayat ini satu-satunya di antara tujuh ayat tentang tempat itu yang memakai kata kerja penuh. Perbedaan itu tidak diterangkan, dan yang bisa dicatat cuma bahwa ayat inilah yang menyapa langsung.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kesucian suasana taman dari perkataan sia-sia, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 11 ayat, yaitu 2:225, 5:89, 19:62, 23:3, 25:72, 28:55, 41:26, 52:23, 56:25, 78:35, dan ayat ini.
Di 19:62, 56:25, dan 78:35 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa penghuni taman tidak mendengar perkataan sia-sia. Jadi empat ayat di seluruh Al-Qur'an menyatakan hal yang sama tentang tempat itu, dan ayat ini salah satunya.
Di 41:26 akar yang sama justru dipakai untuk perintah membuat gaduh supaya bacaan tidak terdengar. Jadi satu akar memikul kesia-siaan yang ditiadakan dan kesia-siaan yang disengaja, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun.
Bentuk kata kerjanya berorang kedua tunggal, sehingga yang disapa satu orang. Ini sapaan langsung yang pertama sesudah 88:1, dan sesudahnya surah kembali kepada pihak ketiga sampai 88:21. Jadi Al-Qur'an menyelipkan satu sapaan di tengah gambaran, dan penyelipan itu tidak diterangkan.
Di 2:225 dan 5:89 akar kata terakhirnya dipakai untuk sumpah yang diucapkan tanpa maksud sehingga tidak dikenai tuntutan. Jadi akar yang sama menyebut ucapan yang tidak dihitung dan tempat yang tidak memuat ucapan semacam itu, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 11 ayat, dan di 19:62, 56:25, serta 78:35 akar itu dipakai Allah untuk menyatakan bahwa penghuni taman tidak mendengar perkataan sia-sia. Jadi empat ayat di seluruh Al-Qur'an menyatakan hal yang sama tentang tempat itu, yaitu 19:62, 56:25, 78:35, dan 88:11. Empat ayat yang menyatakan hal yang sama tentang satu tempat menjadikannya sifat yang tetap, bukan keterangan sekali pakai. Empat ayat yang menyatakan hal sama menjadikannya sifat yang tetap, bukan keterangan sekali pakai.
- Di 41:26 akar yang sama justru dipakai untuk perintah membuat gaduh supaya bacaan tidak terdengar. Jadi satu akar memikul kesia-siaan yang ditiadakan Allah di dalam taman dan kesia-siaan yang sengaja dibuat orang untuk menutupi kebenaran. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Satu akar untuk kesia-siaan yang ditiadakan dan yang disengaja menaruh dua sikap manusia di dalam satu keluarga kata. Menyebut yang tidak ada menerangkan sesuatu yang tidak bisa disebut lewat daftar yang ada.
- Bentuk kata kerjanya berorang kedua tunggal, sehingga yang disapa satu orang. Ini sapaan langsung yang pertama sesudah 88:1, dan sesudahnya surah kembali kepada pihak ketiga sampai 88:21. Jadi Allah menyelipkan satu sapaan di tengah gambaran, dan pembacanya tiba-tiba ditaruh di dalam tempat yang sedang digambarkan. Sapaan yang diselipkan di tengah gambaran menarik pembacanya masuk, dan penarikan itu tidak diterangkan sama sekali.
- Kata terakhirnya berdiri sendiri sebagai objek, dan menyisipkan kata benda yang menerangkan jenisnya akan mempersempit ayatnya. Jadi yang ditiadakan Allah bukan cuma perkataan sia-sia melainkan segala yang sia-sia yang bisa didengar. Membatasinya kepada satu jenis akan menutup sesuatu yang dibiarkan terbuka oleh susunannya. Objek yang tidak dibatasi jenisnya memperluas pengingkarannya melampaui apa yang paling mudah dibayangkan orang.
- Akar kata kerjanya dipakai di 185 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut mendengar yang disertai memperhatikan, antara lain di 2:93 dan 7:179. Jadi yang diingkari Allah bukan cuma sampainya bunyi melainkan adanya yang pantas didengarkan, dan pengingkaran itu lebih luas daripada sekadar ketiadaan suara. Mendengar yang disertai memperhatikan lebih luas daripada sampainya bunyi, dan pengingkarannya pun ikut lebih luas.
- Di antara tujuh ayat yang menggambarkan tempat itu, ayat ini satu-satunya yang menyebut apa yang tidak ada di sana. Enam lainnya menyebut apa yang ada. Apa yang dikatakan sebuah gambaran tentang sebuah tempat ketika satu bagiannya dipakai untuk menyebut sesuatu yang justru tidak akan ditemui di sana? Satu bagian dari gambaran yang dipakai untuk menyebut yang tidak ada menerangkan sesuatu yang tidak bisa disebut lewat yang ada. Empat ayat yang menyatakan hal sama menjadikannya sifat yang tetap, bukan keterangan sekali pakai.
Ayat 88:12
فِيهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ
Di dalamnya ada mata air yang mengalir.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فِيهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌfiihaa 'aynun jaariyatundi dalamnya ada mata air yang mengalir
Terjemahan per kata (3 kata)
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- عَيْنٌ'aynunmata air
- جَارِيَةٌjaariyatunyang mengalir
Inti bacaan
Sumber air yang menyegarkan: 'di dalamnya ada mata air yang mengalir', kontras langsung dengan mata air mendidih golongan sebelumnya (88:5), penegasan simetri konsekuensi berdasarkan pilihan hidup.
Penjelasan pilihan kata
Kata (عَيْنٌ, 'aynun) sebagai kata muncul 26 kali di 19 surah, antara lain 2:60, 5:45, 18:86, 28:9, dan 88:5. Sebagai bentuk yang berbaris dammah ia cuma muncul sekali, yaitu di ayat ini, sedangkan bentuk yang berbaris kasrah muncul tiga kali. Jadi satu kata berdiri dengan dua baris yang berbeda di dua ayat di dalam satu surah.
Akar (عَيْنٌ, 'aynun) berarti mata dan mata air, dan ia muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:5 dan ayat ini. Di 88:5 mata airnya mendidih dan diminumkan sebagai siksa, dan di sini ia mengalir sebagai kenikmatan. Jadi satu benda yang sama berdiri di dua sisi yang berlawanan, dan jaraknya tujuh ayat.
Kata (جَارِيَةٌ, jaariyatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya berarti mengalir. Ia dipakai di 64 ayat, antara lain 2:25, 14:32, 18:61, 55:50, dan 69:11. Di 2:25 dan 55:50 akar itu dipakai untuk sungai dan mata air yang mengalir di dalam taman.
Susunan ayat ini menaruh keterangan tempat lebih dulu dan bendanya belakangan. Bentuk (فِيهَا, fiihaa) dipakai di awal, sama seperti di 88:13, sedangkan di 88:11 ia berada di tengah. Jadi tiga ayat memakai kata yang sama pada dua kedudukan yang berbeda, dan yang di sini dan di 88:13 mendahulukan tempatnya.
Kata (عَيْنٌ, 'aynun) tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebuah mata air, bukan yang sudah tertentu. Ketiadaan kata sandang itu berulang pada seluruh benda yang disebut dari ayat ini sampai 88:16, sehingga enam benda disebut tanpa satu pun kata sandang.
Akar (عَيْنٌ, 'aynun) juga memberi kata untuk mata yang melihat di banyak tempat, antara lain di 5:45 dan 20:39. Jadi satu akar memikul mata air dan mata manusia, dan yang menyatukannya sesuatu yang memancarkan. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun.
Bentuk (جَارِيَةٌ, jaariyatun) bentuk pelaku perempuan yang tidak bertakrif, mengikuti kata bendanya. Di 69:11 akar yang sama dipakai untuk bahtera yang berlayar, dan di 18:61 untuk jalan air di laut. Jadi akar itu memikul air yang mengalir dan benda yang bergerak di atasnya.
Susunan ayat ini paling pendek di antara tujuh ayat yang menggambarkan tempat itu, yaitu cuma tiga kata. Kata (فِيهَا, fiihaa) dipakai sebagai pembuka, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 88:13. Jadi dua ayat berturut-turut dibuka dengan kata yang sama persis, dan keduanya menyebut benda yang berbeda.
Kata (فِيهَا, fiihaa) dipakai sebagai pembuka di ayat ini dan di 88:13, sedangkan di 88:11 ia berada di tengah. Jadi kata yang sama berdiri pada dua kedudukan yang berbeda di tiga ayat berurutan. Perbedaan letak itu mengubah apa yang ditekankan, dan Al-Qur'an tidak menerangkannya dengan satu kalimat pun.
Bentuk (عَيْنٌ, 'aynun) berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat, sedangkan bentuknya di 88:5 berbaris kasrah karena didahului huruf. Jadi satu kata muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua kedudukan i'rab yang berbeda, dan sebagai bentuk keduanya dihitung terpisah.
Tafsiran
Ayat ini merinci kenikmatan taman: mata air yang mengalir, dan kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berbaris dammah ini, sedangkan bentuk berbaris kasrahnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 18:86, 28:9, dan 88:5.
Akarnya muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:5 dan ayat ini. Di 88:5 mata airnya mendidih dan diminumkan sebagai siksa, dan di sini ia mengalir sebagai kenikmatan. Jadi satu benda yang sama berdiri di dua sisi yang berlawanan, dan jaraknya tujuh ayat.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya dipakai di 64 ayat, antara lain 2:25, 14:32, 18:61, 55:50, dan 69:11. Di 2:25 dan 55:50 akar itu dipakai untuk sungai dan mata air yang mengalir di dalam taman.
Susunan ayat ini menaruh keterangan tempat lebih dulu dan bendanya belakangan. Kata pertamanya dipakai di awal, sama seperti di 88:13, sedangkan di 88:11 kata yang sama berada di tengah. Jadi tiga ayat memakai kata yang sama pada dua kedudukan yang berbeda.
Di 69:11 akar kata terakhirnya dipakai untuk bahtera yang berlayar, dan di 18:61 untuk jalan air di laut. Jadi akar itu memikul air yang mengalir dan benda yang bergerak di atasnya. Ayat ini juga paling pendek di antara tujuh ayat yang menggambarkan tempat itu, yaitu cuma tiga kata.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata kedua ayat ini muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:5 dan 88:12. Di 88:5 mata airnya mendidih dan diminumkan sebagai siksa, dan di sini ia mengalir sebagai kenikmatan. Jadi Allah menaruh satu benda yang sama di dua sisi yang berlawanan di dalam satu surah, dan jaraknya tujuh ayat. Satu benda di dua sisi berlawanan di dalam satu surah menuntut pembacanya membaca keduanya sebagai sepasang. Dua keadaan berlawanan pada satu benda menuntut keduanya dibaca sebagai sepasang, bukan terpisah.
- Kata kedua muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berbaris dammah ini, sedangkan bentuk berbaris kasrahnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 18:86, 28:9, dan 88:5. Jadi satu kata berdiri dengan dua baris yang berbeda di dua ayat di dalam satu surah, dan sebagai bentuk keduanya dihitung terpisah. Dua baris pada satu kata dihitung sebagai dua bentuk, dan angka yang berbeda itu tidak saling menyalahkan. Sesuatu yang terus bergerak menjadi kenikmatan justru karena tidak pernah berhenti berubah.
- Akar kata kedua juga memberi kata untuk mata yang melihat di banyak tempat, antara lain di 5:45 dan 20:39. Jadi satu akar memikul mata air dan mata manusia, dan yang menyatukannya sesuatu yang memancarkan. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya berbagi satu sumber. Satu akar untuk mata air dan mata manusia menyatukan keduanya lewat gambaran memancarkan, bukan lewat wujudnya.
- Kata kedua tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebuah mata air, bukan yang sudah tertentu. Ketiadaan kata sandang itu berulang pada seluruh benda yang disebut Allah dari ayat ini sampai 88:16, sehingga enam benda disebut tanpa satu pun kata sandang. Yang dinyatakan jenisnya, dan bukan satu benda yang sudah dikenal. Enam benda tanpa kata sandang menyatakan jenisnya, dan tidak satu pun disebut sebagai benda yang sudah dikenal.
- Susunan ayat ini menaruh keterangan tempat lebih dulu dan bendanya belakangan, sama seperti susunan di 88:13. Jadi Allah menyebut di mana lebih dulu dan apa belakangan. Urutan itu menahan perhatian pembacanya pada tempatnya, dan bendanya datang sebagai isi, bukan sebagai pokok pembicaraan. Menyebut tempat sebelum bendanya menahan perhatian pada tempatnya, dan bendanya datang sebagai isi belaka. Dua keadaan berlawanan pada satu benda menuntut keduanya dibaca sebagai sepasang, bukan terpisah.
- Yang disebut Allah mata air yang mengalir, bukan air yang tergenang. Yang mengalir tidak pernah sama dari saat ke saat, sedangkan yang tergenang tetap. Apa yang membuat sesuatu yang terus berubah lebih pantas disebut sebagai kenikmatan daripada sesuatu yang tetap dan tidak berkurang? Sesuatu yang terus berubah dan tidak pernah sama menjadi kenikmatan justru karena tidak pernah berhenti bergerak. Sesuatu yang terus bergerak menjadi kenikmatan justru karena tidak pernah berhenti berubah.