لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌ
Merasa puas atas usahanya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لِسَعْيِهَا رَاضِيَةٌli-sa'yihaa raadhiyatunmerasa puas atas usahanya
Terjemahan per kata (2 kata)
- لِسَعْيِهَاli-sa'yihaaatas usahanya
- رَاضِيَةٌraadhiyatunyang rida
Inti bacaan
Kepuasan yang berasal dari usaha sendiri: 'merasa puas atas usahanya', penegasan bahwa kebahagiaan ini berakar pada pencapaian personal, bukan keberuntungan acak, tanggung jawab individual yang membuahkan hasil memuaskan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) juga muncul 1 kali. Jadi dua dari tiga kata di ayat ini tidak punya pembanding di tempat lain, dan ayat ini seluruhnya dibangun dari kata-kata yang jarang.
Akar (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) berarti berusaha dan bergegas. Akar itu dipakai di 28 ayat, antara lain 2:114, 17:19, 20:15, 53:39, dan 79:22. Di 53:39 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan di 17:19 untuk usaha yang dikerjakan bagi akhirat.
Akar (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) berarti rela menerima. Akar itu dipakai di 64 ayat, antara lain 5:119, 9:100, 20:130, 89:28, dan 98:8. Di 89:28 dan 98:8 akar itu dipakai dalam susunan yang menyebut dua arah kerelaan sekaligus, yaitu rela dan direlai.
Yang khas di ayat ini adalah bahwa yang disebut cuma satu arah, yaitu wajah itu yang rela. Al-Qur'an tidak menyebut di sini bahwa Tuhan pun rela kepada mereka, meskipun susunan dua arah itu dipakai di tempat lain. Jadi yang dinyatakan keadaan mereka, bukan hubungan timbal balik.
Huruf lam di depan (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) menyatakan sebab, sehingga kerelaan itu karena usahanya. Jadi yang membuat mereka puas bukan tempat yang mereka masuki melainkan apa yang sudah mereka kerjakan. Susunan yang menaruh sebab sebelum sifatnya itu menahan tekanannya pada usahanya.
Kata ganti pada ujung (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) di 88:8. Jadi yang berusaha wajah-wajah itu, sama seperti yang memasuki api di 88:4 juga wajah. Kedua golongan karena itu diperlakukan sama di dalam susunan bahasanya.
Bentuk (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) bentuk pelaku perempuan, sama seperti seluruh kata sifat yang menerangkan wajah di surah ini. Jadi lima kata sifat memakai bentuk yang sama, dan yang membedakan cuma isinya. Kesejajaran serapat itu mengikat kedua bagian surah menjadi satu bangunan yang tidak bisa dipecah.
Kata (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) didahulukan sebelum kata sifatnya, padahal susunan biasa menaruh kata sifat lebih dulu. Jadi urutannya sendiri yang menegaskan bahwa yang menjadi sebab usahanya. Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata pun untuk menyatakan penegasan itu.
Kata (لِسَعْيِهَا, li-sa'yihaa) memakai kata ganti kepemilikan yang berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata untuk wajah. Jadi usahanya disandarkan kepada wajah itu, bukan kepada orangnya secara utuh. Penyandaran yang sama dipakai pada seluruh kata kerja dan kata sifat di 88:2 sampai 88:5, sehingga kedua golongan diperlakukan sama.
Bentuk (رَاضِيَةٌ, raadhiyatun) berbaris dammah karena menjadi berita bagi kata di 88:8, sedangkan kata sebelumnya berbaris kasrah karena didahului huruf. Jadi dua kata di dalam satu ayat berdiri pada dua kedudukan yang berbeda, dan perbedaan itu terbawa di dalam barisnya sendiri.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kepuasan mereka atas hasil usaha mereka, dan dua dari tiga katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat ini seluruhnya dibangun dari kata-kata yang jarang dipakai.
Akar kata keduanya dipakai di 28 ayat, antara lain 2:114, 17:19, 20:15, 53:39, dan 79:22. Di 53:39 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan di 17:19 untuk usaha yang dikerjakan bagi akhirat.
Akar kata terakhirnya dipakai di 64 ayat, antara lain 5:119, 9:100, 20:130, 89:28, dan 98:8. Di 89:28 dan 98:8 akar itu dipakai dalam susunan yang menyebut dua arah kerelaan sekaligus, yaitu rela dan direlai.
Yang khas di ayat ini adalah bahwa yang disebut cuma satu arah, yaitu wajah itu yang rela. Al-Qur'an tidak menyebut di sini bahwa Tuhan pun rela kepada mereka, meskipun susunan dua arah itu dipakai di tempat lain. Jadi yang dinyatakan keadaan mereka, bukan hubungan timbal balik.
Kata keduanya didahulukan sebelum kata sifatnya, padahal susunan biasa menaruh kata sifat lebih dulu. Jadi urutannya sendiri yang menegaskan bahwa yang menjadi sebab usahanya, dan Al-Qur'an tidak menambahkan satu kata pun untuk menyatakan penegasan itu. Kata keduanya memakai kata ganti kepemilikan yang berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata untuk wajah, sehingga usahanya disandarkan kepada wajah itu, bukan kepada orangnya secara utuh.
Renungan dan Hikmah
- Dua dari tiga kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat ini seluruhnya dibangun dari kata-kata yang jarang dipakai Allah, dan pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang maksudnya. Kelangkaan sepadat itu tidak terjadi lagi di ayat mana pun di dalam surah ini. Ayat yang seluruhnya dibangun dari kata langka meninggalkan pembacanya tanpa pembanding dari tempat lain mana pun. Kepuasan atas yang dikerjakan tidak bergantung pada besarnya balasan yang diterima seseorang.
- Akar kata terakhirnya dipakai di 64 ayat, antara lain 5:119, 9:100, 20:130, 89:28, dan 98:8. Di 89:28 dan 98:8 akar itu dipakai Allah dalam susunan yang menyebut dua arah kerelaan sekaligus, yaitu rela dan direlai. Yang khas di sini adalah bahwa yang disebut cuma satu arah, yaitu wajah itu yang rela. Kerelaan yang disebut satu arah saja menahan pernyataannya pada apa yang dirasakan mereka, bukan pada hubungan timbal balik. Kepuasan atas yang dikerjakan tidak bergantung pada besarnya balasan yang diterima seseorang.
- Huruf di depan kata keduanya menyatakan sebab, sehingga kerelaan itu karena usahanya. Jadi yang membuat mereka puas bukan tempat yang mereka masuki melainkan apa yang sudah mereka kerjakan. Allah menaruh sebab sebelum sifatnya, dan susunan itu menahan tekanannya pada usahanya, bukan pada balasannya. Sebab yang diletakkan sebelum sifatnya menaruh tekanan pada usahanya, dan bukan pada tempat yang mereka masuki. Kata yang jarang berkumpul di satu ayat meninggalkan pembacanya tanpa pembanding dari tempat lain.
- Akar kata keduanya dipakai di 28 ayat, antara lain 2:114, 17:19, 20:15, 53:39, dan 79:22. Di 53:39 akar itu dipakai Allah untuk menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya, dan di 17:19 untuk usaha yang dikerjakan bagi akhirat. Jadi akar yang sama menamai apa yang menentukan hasil seseorang. Akar yang menamai usaha muncul di tempat yang menyatakan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang diusahakannya.
- Kata ganti pada ujung kata keduanya berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata pertama di 88:8. Jadi yang berusaha wajah-wajah itu, sama seperti yang memasuki api di 88:4 juga wajah. Kedua golongan karena itu diperlakukan Allah sama di dalam susunan bahasanya, dan yang berbeda cuma apa yang menimpa mereka. Kedua golongan yang disebut lewat wajah diperlakukan sama di dalam bahasanya, dan yang berbeda cuma yang menimpa mereka.
- Yang disebut bukan puas atas apa yang diterima melainkan puas atas apa yang dikerjakan. Golongan di 88:3 juga bekerja sampai lelah, tetapi tidak disebut puas sama sekali. Apa yang membedakan dua kerja keras sehingga yang satu berakhir dengan kepuasan dan yang lain dengan kepayahan yang tidak berbuah? Puas atas yang dikerjakan berbeda dari puas atas yang diterima, dan yang pertama tidak bergantung pada besarnya balasan. Kata yang jarang berkumpul di satu ayat meninggalkan pembacanya tanpa pembanding dari tempat lain.