فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍ

Dalam taman yang tinggi.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فِي جَنَّةٍ عَالِيَةٍfii jannatin 'aaliyatindalam taman yang tinggi

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فِيfiidi
  2. جَنَّةٍjannatintaman
  3. عَالِيَةٍ'aaliyatinyang tinggi

Inti bacaan

Kedudukan yang istimewa: '(mereka) dalam surga yang tinggi', penekanan pada posisi yang ditinggikan sebagai bagian dari penghargaan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (جَنَّةٍ عَالِيَةٍ, jannatin 'aaliyatin) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 69:22 dan 88:10. Di 69:22 rangkaian yang sama menutup gambaran tentang orang yang menerima catatannya dengan tangan kanan. Jadi dua surah memakai rangkaian yang sama persis untuk menamai tempat yang sama.

Akar (عَالِيَةٍ, 'aaliyatin) berarti tinggi. Akar itu dipakai di 68 ayat, antara lain 17:4, 20:75, 28:83, 87:1, dan 92:20. Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai akar yang sama untuk menerangkan Tuhan.

Jadi satu akar dipakai untuk sifat Tuhan di 87:1 dan untuk letak taman di sini. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Yang di 87:1 menyebut ketinggian yang tidak berbatas, dan yang di sini ketinggian sebuah tempat. Kata (عَالِيَةٍ, 'aaliyatin) di sini menyifati taman, bukan menerangkan Tuhan.

Kata (جَنَّةٍ, jannatin) berasal dari akar yang berarti menutupi sampai tak terlihat. Akar itu dipakai di 196 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk sesuatu yang tersembunyi dan tertutup, antara lain di 6:76 untuk malam yang menutupi. Jadi taman itu dinamai dengan akar yang gambarannya sesuatu yang tertutup rapat oleh dedaunan.

Kata (جَنَّةٍ, jannatin) tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebuah taman, bukan taman yang sudah tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai taman yang tertentu akan menambah keterangan yang tidak dinyatakan bentuk katanya sendiri.

Susunan tujuh ayat dari ayat ini sampai 88:16 seluruhnya berupa keterangan tentang tempat itu. Bentuk (فِي, fii) di awal ayat menyatakan berada di dalam, dan kata yang sama dipakai lagi di 88:11, 88:12, dan 88:13. Jadi empat ayat berturut-turut dibuka dengan penanda tempat yang sama.

Bentuk (عَالِيَةٍ, 'aaliyatin) bentuk pelaku perempuan yang tidak bertakrif, mengikuti kata bendanya. Jadi keduanya terikat sebagai satu satuan, dan sifatnya tidak berdiri sendiri. Susunan benda tanpa takrif yang disusul sifat tanpa takrif itu dipakai lagi di 88:12, dan di kedua tempat itu yang dinyatakan jenisnya.

Kata (فِي, fii) di awal ayat menyatakan berada di dalam, dan ia menyambung kepada kata (وُجُوهٌ, wujuuhun) di 88:8. Jadi ayat ini keterangan bagi wajah-wajah itu, bukan kalimat baru. Tiga ayat dari 88:8 sampai ayat ini karena itu membentuk satu kalimat yang dipisah menjadi tiga.

Kata (جَنَّةٍ, jannatin) berbaris kasrah karena didahului huruf yang menyatakan tempat. Jadi kedudukan i'rabnya ditentukan huruf di depannya, sama seperti kata di 88:5 dan 88:6 yang juga didahului huruf. Tiga tempat di surah ini karena itu memakai baris yang sama karena sebab yang sama.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa wajah-wajah yang berbahagia itu berada dalam taman yang tinggi, dan rangkaiannya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 69:22 dan 88:10.

Di 69:22 rangkaian yang sama menutup gambaran tentang orang yang menerima catatannya dengan tangan kanan. Jadi dua surah memakai rangkaian yang sama persis untuk menamai tempat yang sama, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Akar kata terakhirnya dipakai di 68 ayat, antara lain 17:4, 20:75, 28:83, 87:1, dan 92:20. Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai akar yang sama untuk menerangkan Tuhan. Jadi satu akar dipakai untuk sifat-Nya di sana dan untuk letak taman di sini.

Kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 196 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk sesuatu yang tersembunyi dan tertutup, antara lain di 6:76 untuk malam yang menutupi. Jadi taman itu dinamai dengan akar yang gambarannya sesuatu yang tertutup rapat oleh dedaunan.

Kata pertamanya menyatakan berada di dalam, dan ia menyambung kepada kata pertama di 88:8. Jadi ayat ini keterangan bagi wajah-wajah itu, bukan kalimat baru, dan tiga ayat dari 88:8 sampai ayat ini membentuk satu kalimat yang dipisah menjadi tiga bagian. Kata keduanya berbaris kasrah karena didahului huruf yang menyatakan tempat, sama seperti kata di 88:5 dan 88:6.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata terakhirnya dipakai di 68 ayat, antara lain 17:4, 20:75, 28:83, 87:1, dan 92:20. Kesejajaran dengan 87:1 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai akar yang sama untuk menerangkan Allah. Jadi satu akar dipakai untuk sifat-Nya di sana dan untuk letak taman di sini, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Satu akar yang menerangkan Allah dan menerangkan letak tempat menaruh keduanya di dalam satu keluarga kata.
  • Rangkaian ayat ini muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 69:22 dan 88:10. Di 69:22 rangkaian yang sama menutup gambaran tentang orang yang menerima catatannya dengan tangan kanan. Jadi Allah memakai rangkaian yang sama persis untuk menamai tempat yang sama di dua surah, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang diulang tanpa diubah. Rangkaian yang berulang persis di dua surah menandai keduanya sejajar, dan yang menyambungkannya cuma bentuknya sendiri.
  • Kata pertamanya berasal dari akar yang dipakai di 196 ayat, dan akar yang sama memberi kata untuk sesuatu yang tersembunyi dan tertutup, antara lain di 6:76 untuk malam yang menutupi. Jadi Allah menamai taman itu dengan akar yang gambarannya sesuatu yang tertutup rapat, dan namanya sendiri sudah menyatakan bahwa ia tidak terlihat dari luar. Nama yang gambarannya sesuatu yang tertutup menyatakan bahwa tempat itu tidak bisa dilihat dari luar oleh siapa pun.
  • Kata pertamanya tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebuah taman, bukan taman yang sudah tertentu. Ketiadaan kata sandang itu perlu dijaga: menyebutnya sebagai taman yang tertentu akan menambah keterangan yang tidak dinyatakan bentuk katanya sendiri. Allah menyebut sifatnya, dan bukan namanya atau letaknya yang tepat. Ketiadaan kata sandang menyerahkan pengenalan tempatnya kepada sifat yang menyusulnya, bukan kepada namanya. Nama yang gambarannya sesuatu yang tertutup sudah menyatakan bahwa ia tidak terlihat dari luar.
  • Kata pertama ayat ini menyatakan berada di dalam, dan kata yang sama dipakai Allah lagi di 88:11, 88:12, dan 88:13. Jadi empat ayat berturut-turut dibuka dengan penanda tempat yang sama. Pengulangan serapat itu menahan perhatian pembacanya pada satu tempat, dan tidak ada satu pun kata yang membawanya keluar dari sana. Empat ayat yang dibuka penanda tempat yang sama menahan pembacanya di satu tempat tanpa satu jalan keluar. Ketinggian yang tidak diukur tidak bisa dibandingkan dengan apa pun yang sudah dikenal orang.
  • Yang disebut Allah ketinggiannya, bukan luasnya atau isinya. Ketinggian yang tidak diukur dengan angka tidak bisa dibandingkan dengan apa pun yang sudah dikenal. Apa yang bisa dibayangkan seseorang tentang sebuah tempat ketika yang diberitahukan kepadanya cuma bahwa tempat itu tinggi? Ketinggian yang tidak diukur tidak bisa dibandingkan, dan ketidakterbandingan itu bagian dari apa yang dinyatakan. Nama yang gambarannya sesuatu yang tertutup sudah menyatakan bahwa ia tidak terlihat dari luar.