لَا تَسْمَعُ فِيهَا لَاغِيَةً
Di sana engkau tidak mendengar yang tidak berguna.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَا تَسْمَعُ فِيهَا لَاغِيَةًlaa tasma'u fiihaa laaghiyatandi sana engkau tidak mendengar yang tidak berguna
Terjemahan per kata (4 kata)
- لَاlaatidak
- تَسْمَعُtasma'uengkau mendengar
- فِيهَاfiihaadi sana
- لَاغِيَةًlaaghiyatanperkataan sia-sia
Inti bacaan
Lingkungan komunikasi yang bersih: 'di sana engkau tidak mendengar (perkataan) yang tidak berguna', kualitas interaksi sosial yang bebas dari obrolan sia-sia, standar percakapan bermakna.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(perkataan)" tidak dipakai. Kata (لَاغِيَةً, laaghiyatan) berdiri sendiri sebagai objek, dan menyisipkan kata benda yang menerangkan jenisnya akan mempersempit ayatnya. Kata ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga tidak ada satu pun bentuk lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Akar (لَاغِيَةً, laaghiyatan) berarti perkataan sia-sia. Akar itu cuma dipakai di 11 ayat, yaitu 2:225, 5:89, 19:62, 23:3, 25:72, 28:55, 41:26, 52:23, 56:25, 78:35, dan ayat ini. Di 19:62, 56:25, dan 78:35 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa penghuni taman tidak mendengar perkataan sia-sia.
Jadi empat ayat di seluruh Al-Qur'an menyatakan hal yang sama tentang tempat itu, yaitu 19:62, 56:25, 78:35, dan ayat ini. Di 41:26 akar yang sama justru dipakai untuk perintah membuat gaduh supaya bacaan tidak terdengar. Jadi satu akar memikul kesia-siaan yang ditiadakan dan kesia-siaan yang disengaja.
Bentuk kata kerja (تَسْمَعُ, tasma'u) berorang kedua tunggal, sehingga yang disapa satu orang. Ini sapaan langsung yang pertama sesudah 88:1, dan sesudahnya surah kembali kepada pihak ketiga sampai 88:21. Jadi Al-Qur'an menyelipkan satu sapaan di tengah gambaran, dan penyelipan itu tidak diterangkan.
Akar (تَسْمَعُ, tasma'u) berarti mendengar. Akar itu dipakai di 185 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut mendengar yang disertai memperhatikan, antara lain di 2:93 dan 7:179. Jadi yang diingkari bukan cuma sampainya bunyi melainkan adanya yang pantas didengarkan.
Kata (فِيهَا, fiihaa) menyebut tempat, dan kata ganti pada ujungnya menunjuk taman di 88:10. Jadi ayat ini lanjutan langsung, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 88:12 dan 88:13. Tiga ayat berturut-turut karena itu terikat kepada satu tempat yang disebut sekali saja di 88:10.
Bentuk (لَاغِيَةً, laaghiyatan) bentuk pelaku perempuan yang tidak bertakrif dan berbaris fathah karena menjadi objek. Jadi yang diingkari sesuatu yang berbuat sia-sia, bukan sesuatu yang dikenai kesia-siaan. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan.
Di 2:225 dan 5:89 akar (لَاغِيَةً, laaghiyatan) dipakai untuk sumpah yang diucapkan tanpa maksud, sehingga tidak dikenai tuntutan. Jadi akar yang sama menyebut ucapan yang tidak dihitung dan tempat yang tidak memuat ucapan semacam itu. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu.
Kata (تَسْمَعُ, tasma'u) berbentuk sekarang, sedangkan seluruh kata sifat di sekelilingnya berbentuk kata benda. Jadi ayat ini satu-satunya di antara tujuh ayat tentang tempat itu yang memakai kata kerja penuh. Perbedaan itu tidak diterangkan, dan yang bisa dicatat cuma bahwa ayat inilah yang menyapa langsung.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kesucian suasana taman dari perkataan sia-sia, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 11 ayat, yaitu 2:225, 5:89, 19:62, 23:3, 25:72, 28:55, 41:26, 52:23, 56:25, 78:35, dan ayat ini.
Di 19:62, 56:25, dan 78:35 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa penghuni taman tidak mendengar perkataan sia-sia. Jadi empat ayat di seluruh Al-Qur'an menyatakan hal yang sama tentang tempat itu, dan ayat ini salah satunya.
Di 41:26 akar yang sama justru dipakai untuk perintah membuat gaduh supaya bacaan tidak terdengar. Jadi satu akar memikul kesia-siaan yang ditiadakan dan kesia-siaan yang disengaja, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun.
Bentuk kata kerjanya berorang kedua tunggal, sehingga yang disapa satu orang. Ini sapaan langsung yang pertama sesudah 88:1, dan sesudahnya surah kembali kepada pihak ketiga sampai 88:21. Jadi Al-Qur'an menyelipkan satu sapaan di tengah gambaran, dan penyelipan itu tidak diterangkan.
Di 2:225 dan 5:89 akar kata terakhirnya dipakai untuk sumpah yang diucapkan tanpa maksud sehingga tidak dikenai tuntutan. Jadi akar yang sama menyebut ucapan yang tidak dihitung dan tempat yang tidak memuat ucapan semacam itu, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 11 ayat, dan di 19:62, 56:25, serta 78:35 akar itu dipakai Allah untuk menyatakan bahwa penghuni taman tidak mendengar perkataan sia-sia. Jadi empat ayat di seluruh Al-Qur'an menyatakan hal yang sama tentang tempat itu, yaitu 19:62, 56:25, 78:35, dan 88:11. Empat ayat yang menyatakan hal yang sama tentang satu tempat menjadikannya sifat yang tetap, bukan keterangan sekali pakai. Empat ayat yang menyatakan hal sama menjadikannya sifat yang tetap, bukan keterangan sekali pakai.
- Di 41:26 akar yang sama justru dipakai untuk perintah membuat gaduh supaya bacaan tidak terdengar. Jadi satu akar memikul kesia-siaan yang ditiadakan Allah di dalam taman dan kesia-siaan yang sengaja dibuat orang untuk menutupi kebenaran. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Satu akar untuk kesia-siaan yang ditiadakan dan yang disengaja menaruh dua sikap manusia di dalam satu keluarga kata. Menyebut yang tidak ada menerangkan sesuatu yang tidak bisa disebut lewat daftar yang ada.
- Bentuk kata kerjanya berorang kedua tunggal, sehingga yang disapa satu orang. Ini sapaan langsung yang pertama sesudah 88:1, dan sesudahnya surah kembali kepada pihak ketiga sampai 88:21. Jadi Allah menyelipkan satu sapaan di tengah gambaran, dan pembacanya tiba-tiba ditaruh di dalam tempat yang sedang digambarkan. Sapaan yang diselipkan di tengah gambaran menarik pembacanya masuk, dan penarikan itu tidak diterangkan sama sekali.
- Kata terakhirnya berdiri sendiri sebagai objek, dan menyisipkan kata benda yang menerangkan jenisnya akan mempersempit ayatnya. Jadi yang ditiadakan Allah bukan cuma perkataan sia-sia melainkan segala yang sia-sia yang bisa didengar. Membatasinya kepada satu jenis akan menutup sesuatu yang dibiarkan terbuka oleh susunannya. Objek yang tidak dibatasi jenisnya memperluas pengingkarannya melampaui apa yang paling mudah dibayangkan orang.
- Akar kata kerjanya dipakai di 185 ayat, dan di sebagian besar pemakaiannya ia menyebut mendengar yang disertai memperhatikan, antara lain di 2:93 dan 7:179. Jadi yang diingkari Allah bukan cuma sampainya bunyi melainkan adanya yang pantas didengarkan, dan pengingkaran itu lebih luas daripada sekadar ketiadaan suara. Mendengar yang disertai memperhatikan lebih luas daripada sampainya bunyi, dan pengingkarannya pun ikut lebih luas.
- Di antara tujuh ayat yang menggambarkan tempat itu, ayat ini satu-satunya yang menyebut apa yang tidak ada di sana. Enam lainnya menyebut apa yang ada. Apa yang dikatakan sebuah gambaran tentang sebuah tempat ketika satu bagiannya dipakai untuk menyebut sesuatu yang justru tidak akan ditemui di sana? Satu bagian dari gambaran yang dipakai untuk menyebut yang tidak ada menerangkan sesuatu yang tidak bisa disebut lewat yang ada. Empat ayat yang menyatakan hal sama menjadikannya sifat yang tetap, bukan keterangan sekali pakai.