فِيهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌ

Di dalamnya ada mata air yang mengalir.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فِيهَا عَيْنٌ جَارِيَةٌfiihaa 'aynun jaariyatundi dalamnya ada mata air yang mengalir

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  2. عَيْنٌ'aynunmata air
  3. جَارِيَةٌjaariyatunyang mengalir

Inti bacaan

Sumber air yang menyegarkan: 'di dalamnya ada mata air yang mengalir', kontras langsung dengan mata air mendidih golongan sebelumnya (88:5), penegasan simetri konsekuensi berdasarkan pilihan hidup.

Penjelasan pilihan kata

Kata (عَيْنٌ, 'aynun) sebagai kata muncul 26 kali di 19 surah, antara lain 2:60, 5:45, 18:86, 28:9, dan 88:5. Sebagai bentuk yang berbaris dammah ia cuma muncul sekali, yaitu di ayat ini, sedangkan bentuk yang berbaris kasrah muncul tiga kali. Jadi satu kata berdiri dengan dua baris yang berbeda di dua ayat di dalam satu surah.

Akar (عَيْنٌ, 'aynun) berarti mata dan mata air, dan ia muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:5 dan ayat ini. Di 88:5 mata airnya mendidih dan diminumkan sebagai siksa, dan di sini ia mengalir sebagai kenikmatan. Jadi satu benda yang sama berdiri di dua sisi yang berlawanan, dan jaraknya tujuh ayat.

Kata (جَارِيَةٌ, jaariyatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya berarti mengalir. Ia dipakai di 64 ayat, antara lain 2:25, 14:32, 18:61, 55:50, dan 69:11. Di 2:25 dan 55:50 akar itu dipakai untuk sungai dan mata air yang mengalir di dalam taman.

Susunan ayat ini menaruh keterangan tempat lebih dulu dan bendanya belakangan. Bentuk (فِيهَا, fiihaa) dipakai di awal, sama seperti di 88:13, sedangkan di 88:11 ia berada di tengah. Jadi tiga ayat memakai kata yang sama pada dua kedudukan yang berbeda, dan yang di sini dan di 88:13 mendahulukan tempatnya.

Kata (عَيْنٌ, 'aynun) tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebuah mata air, bukan yang sudah tertentu. Ketiadaan kata sandang itu berulang pada seluruh benda yang disebut dari ayat ini sampai 88:16, sehingga enam benda disebut tanpa satu pun kata sandang.

Akar (عَيْنٌ, 'aynun) juga memberi kata untuk mata yang melihat di banyak tempat, antara lain di 5:45 dan 20:39. Jadi satu akar memikul mata air dan mata manusia, dan yang menyatukannya sesuatu yang memancarkan. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun.

Bentuk (جَارِيَةٌ, jaariyatun) bentuk pelaku perempuan yang tidak bertakrif, mengikuti kata bendanya. Di 69:11 akar yang sama dipakai untuk bahtera yang berlayar, dan di 18:61 untuk jalan air di laut. Jadi akar itu memikul air yang mengalir dan benda yang bergerak di atasnya.

Susunan ayat ini paling pendek di antara tujuh ayat yang menggambarkan tempat itu, yaitu cuma tiga kata. Kata (فِيهَا, fiihaa) dipakai sebagai pembuka, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 88:13. Jadi dua ayat berturut-turut dibuka dengan kata yang sama persis, dan keduanya menyebut benda yang berbeda.

Kata (فِيهَا, fiihaa) dipakai sebagai pembuka di ayat ini dan di 88:13, sedangkan di 88:11 ia berada di tengah. Jadi kata yang sama berdiri pada dua kedudukan yang berbeda di tiga ayat berurutan. Perbedaan letak itu mengubah apa yang ditekankan, dan Al-Qur'an tidak menerangkannya dengan satu kalimat pun.

Bentuk (عَيْنٌ, 'aynun) berbaris dammah karena menjadi pokok kalimat, sedangkan bentuknya di 88:5 berbaris kasrah karena didahului huruf. Jadi satu kata muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua kedudukan i'rab yang berbeda, dan sebagai bentuk keduanya dihitung terpisah.

Tafsiran

Ayat ini merinci kenikmatan taman: mata air yang mengalir, dan kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berbaris dammah ini, sedangkan bentuk berbaris kasrahnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 18:86, 28:9, dan 88:5.

Akarnya muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:5 dan ayat ini. Di 88:5 mata airnya mendidih dan diminumkan sebagai siksa, dan di sini ia mengalir sebagai kenikmatan. Jadi satu benda yang sama berdiri di dua sisi yang berlawanan, dan jaraknya tujuh ayat.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya dipakai di 64 ayat, antara lain 2:25, 14:32, 18:61, 55:50, dan 69:11. Di 2:25 dan 55:50 akar itu dipakai untuk sungai dan mata air yang mengalir di dalam taman.

Susunan ayat ini menaruh keterangan tempat lebih dulu dan bendanya belakangan. Kata pertamanya dipakai di awal, sama seperti di 88:13, sedangkan di 88:11 kata yang sama berada di tengah. Jadi tiga ayat memakai kata yang sama pada dua kedudukan yang berbeda.

Di 69:11 akar kata terakhirnya dipakai untuk bahtera yang berlayar, dan di 18:61 untuk jalan air di laut. Jadi akar itu memikul air yang mengalir dan benda yang bergerak di atasnya. Ayat ini juga paling pendek di antara tujuh ayat yang menggambarkan tempat itu, yaitu cuma tiga kata.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kedua ayat ini muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:5 dan 88:12. Di 88:5 mata airnya mendidih dan diminumkan sebagai siksa, dan di sini ia mengalir sebagai kenikmatan. Jadi Allah menaruh satu benda yang sama di dua sisi yang berlawanan di dalam satu surah, dan jaraknya tujuh ayat. Satu benda di dua sisi berlawanan di dalam satu surah menuntut pembacanya membaca keduanya sebagai sepasang. Dua keadaan berlawanan pada satu benda menuntut keduanya dibaca sebagai sepasang, bukan terpisah.
  • Kata kedua muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk berbaris dammah ini, sedangkan bentuk berbaris kasrahnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 18:86, 28:9, dan 88:5. Jadi satu kata berdiri dengan dua baris yang berbeda di dua ayat di dalam satu surah, dan sebagai bentuk keduanya dihitung terpisah. Dua baris pada satu kata dihitung sebagai dua bentuk, dan angka yang berbeda itu tidak saling menyalahkan. Sesuatu yang terus bergerak menjadi kenikmatan justru karena tidak pernah berhenti berubah.
  • Akar kata kedua juga memberi kata untuk mata yang melihat di banyak tempat, antara lain di 5:45 dan 20:39. Jadi satu akar memikul mata air dan mata manusia, dan yang menyatukannya sesuatu yang memancarkan. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya berbagi satu sumber. Satu akar untuk mata air dan mata manusia menyatukan keduanya lewat gambaran memancarkan, bukan lewat wujudnya.
  • Kata kedua tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebuah mata air, bukan yang sudah tertentu. Ketiadaan kata sandang itu berulang pada seluruh benda yang disebut Allah dari ayat ini sampai 88:16, sehingga enam benda disebut tanpa satu pun kata sandang. Yang dinyatakan jenisnya, dan bukan satu benda yang sudah dikenal. Enam benda tanpa kata sandang menyatakan jenisnya, dan tidak satu pun disebut sebagai benda yang sudah dikenal.
  • Susunan ayat ini menaruh keterangan tempat lebih dulu dan bendanya belakangan, sama seperti susunan di 88:13. Jadi Allah menyebut di mana lebih dulu dan apa belakangan. Urutan itu menahan perhatian pembacanya pada tempatnya, dan bendanya datang sebagai isi, bukan sebagai pokok pembicaraan. Menyebut tempat sebelum bendanya menahan perhatian pada tempatnya, dan bendanya datang sebagai isi belaka. Dua keadaan berlawanan pada satu benda menuntut keduanya dibaca sebagai sepasang, bukan terpisah.
  • Yang disebut Allah mata air yang mengalir, bukan air yang tergenang. Yang mengalir tidak pernah sama dari saat ke saat, sedangkan yang tergenang tetap. Apa yang membuat sesuatu yang terus berubah lebih pantas disebut sebagai kenikmatan daripada sesuatu yang tetap dan tidak berkurang? Sesuatu yang terus berubah dan tidak pernah sama menjadi kenikmatan justru karena tidak pernah berhenti bergerak. Sesuatu yang terus bergerak menjadi kenikmatan justru karena tidak pernah berhenti berubah.