وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌ
Dan bantal-bantal yang tersusun,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَنَمَارِقُ مَصْفُوفَةٌwa-namaariqu mashfuufatundan bantal-bantal yang tersusun
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَنَمَارِقُwa-namaariqudan bantal-bantal
- مَصْفُوفَةٌmashfuufatunyang berjajar
Inti bacaan
Detail kenyamanan tambahan: 'dan bantal-bantal yang tersusun', perhatian pada kelengkapan kenyamanan fisik hingga hal-hal kecil.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَنَمَارِقُ, wa namaariqu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan menurut morfologi Leeds kata ini tidak diberi akar sama sekali. Jadi ia salah satu dari sedikit kata di dalam Al-Qur'an yang berdiri tanpa keluarga kata, dan tidak ada satu pun bentuk lain yang seakar dengannya.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa kata (وَزَرَابِيُّ, wa zaraabiyyu) di 88:16 juga tidak diberi akar. Jadi dua ayat berturut-turut di surah ini masing-masing dibuka dengan kata yang tidak punya akar, dan tidak ada ayat lain di dalam surah ini yang memuat kata semacam itu.
Kata (مَصْفُوفَةٌ, mashfuufatun) berbentuk pasif dari akar yang berarti berbaris rapi. Akar itu cuma dipakai di 12 ayat, yaitu 18:48, 20:64, 22:36, 24:41, 37:1, 37:165, 52:20, 61:4, 67:19, 78:38, 88:15, dan 89:22. Di 37:1 dan 37:165 akar itu dipakai untuk barisan yang berjajar rapi.
Di 89:22 akar yang sama dipakai untuk malaikat yang datang berbaris pada hari perhitungan, dan surah itu tetangga langsung surah ini. Jadi dua surah berurutan memakai akar yang sama: yang di sini untuk bantal yang tersusun, dan yang di sana untuk barisan malaikat. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Kata (مَصْفُوفَةٌ, mashfuufatun) di sini menyifati bantal, bukan menyebut barisan makhluk.
Di 52:20 akar itu dipakai untuk dipan-dipan yang berjajar di dalam taman, sehingga pemakaiannya berdekatan dengan pemakaian di ayat ini. Jadi dua ayat memakai akar yang sama untuk perabot yang tersusun, dan yang berbeda cuma benda yang disusunnya. Bentuk (مَصْفُوفَةٌ, mashfuufatun) berbentuk pasif, dan yang menyusunnya tidak disebut sama sekali.
Susunan ayat ini sama persis dengan susunan 88:14 dan 88:16: huruf penyambung, kata benda jamak tanpa kata sandang, lalu kata sifat pasif. Jadi tiga ayat berturut-turut dibangun dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma isinya. Bahasa Indonesia menahannya dengan mengulang susunan yang sama persis.
Bentuk (مَصْفُوفَةٌ, mashfuufatun) berbentuk pasif perempuan, sama seperti kata sifat di 88:13, 88:14, dan 88:16. Jadi keempatnya sejajar bentuknya, dan yang berbeda cuma akar dan benda yang disifatinya. Kesejajaran serapat itu mengikat empat ayat menjadi satu daftar yang tidak bisa dipecah.
Di 18:48 akar (مَصْفُوفَةٌ, mashfuufatun) dipakai untuk manusia yang dihadapkan kepada Tuhannya dalam barisan, dan di 67:19 untuk burung yang mengembangkan sayapnya berbaris di udara. Jadi akar yang sama menyebut manusia, burung, malaikat, dan perabot yang tersusun rapi.
Kata (وَنَمَارِقُ, wa namaariqu) berbaris dammah tanpa tanwin, dan bentuk semacam itu di dalam bahasa Arab dipakai bagi kata yang tidak menerima tanwin. Jadi bentuknya sendiri menandai bahwa ia kata yang tidak lazim, sejalan dengan tidak adanya akar baginya di dalam korpus.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan rincian kenikmatan dengan bantal-bantal yang tersusun rapi, dan kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara menurut morfologi Leeds kata itu tidak diberi akar sama sekali.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa kata pertama di 88:16 juga tidak diberi akar. Jadi dua ayat berturut-turut di surah ini masing-masing dibuka dengan kata yang tidak punya keluarga kata, dan tidak ada ayat lain di dalam surah ini yang memuat kata semacam itu.
Kata terakhirnya berbentuk pasif dari akar yang cuma dipakai di 12 ayat, yaitu 18:48, 20:64, 22:36, 24:41, 37:1, 37:165, 52:20, 61:4, 67:19, 78:38, 88:15, dan 89:22. Di 37:1 dan 37:165 akar itu dipakai untuk barisan yang berjajar rapi.
Di 89:22 akar yang sama dipakai untuk malaikat yang datang berbaris pada hari perhitungan, dan surah itu tetangga langsung surah ini. Jadi dua surah berurutan memakai akar yang sama: yang di sini untuk bantal yang tersusun, dan yang di sana untuk barisan malaikat.
Di 18:48 akar kata terakhirnya dipakai untuk manusia yang dihadapkan kepada Tuhannya dalam barisan, dan di 67:19 untuk burung yang mengembangkan sayapnya berbaris di udara. Jadi akar yang sama menyebut manusia, burung, malaikat, dan perabot yang tersusun rapi. Kata pertamanya berbaris dammah tanpa tanwin, dan bentuk semacam itu dipakai bagi kata yang tidak menerima tanwin di dalam bahasa Arab.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertama ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan menurut morfologi Leeds ia tidak diberi akar sama sekali. Jadi ia salah satu dari sedikit kata yang dipakai Allah tanpa keluarga kata, dan tidak ada satu pun bentuk lain yang seakar dengannya. Pembacanya karena itu tidak punya satu pun jalan masuk lewat akarnya. Kata tanpa akar tidak membawa gambaran dari tempat lain, dan pembacanya cuma punya bunyinya dan sifat yang menyusulnya.
- Kata pertama di 88:16 juga tidak diberi akar oleh morfologi Leeds. Jadi dua ayat berturut-turut di surah ini masing-masing dibuka dengan kata yang tidak punya keluarga kata, dan tidak ada ayat lain di dalam surah ini yang memuat kata semacam itu. Kepadatan seperti itu tidak terjadi di tempat lain di surah ini. Dua kata tanpa akar di dua ayat berurutan tidak terjadi di tempat lain di surah ini, dan kepadatan itu patut dicatat. Kata tanpa akar tidak membawa gambaran dari tempat lain, dan pembacanya cuma punya bunyinya.
- Kata terakhirnya berbentuk pasif dari akar yang cuma dipakai di 12 ayat, dan di 89:22 akar yang sama dipakai Allah untuk malaikat yang datang berbaris pada hari perhitungan. Surah itu tetangga langsung surah ini. Jadi dua surah berurutan memakai akar yang sama: yang di sini untuk bantal, dan yang di sana untuk barisan malaikat. Akar yang membariskan malaikat dan menyusun bantal menyatukan keduanya lewat gambaran kerapian, bukan lewat wujudnya.
- Di 52:20 akar kata terakhirnya dipakai Allah untuk dipan-dipan yang berjajar di dalam taman, sehingga pemakaiannya berdekatan dengan pemakaian di ayat ini. Jadi dua ayat memakai akar yang sama untuk perabot yang tersusun, dan yang berbeda cuma benda yang disusunnya, sedangkan gambaran kerapiannya tetap sama. Dua ayat yang memakai akar sama untuk perabot yang tersusun menaruh gambaran kerapiannya di atas benda yang disusun. Kata tanpa akar tidak membawa gambaran dari tempat lain, dan pembacanya cuma punya bunyinya.
- Susunan ayat ini sama persis dengan susunan 88:14 dan 88:16: huruf penyambung, kata benda jamak tanpa kata sandang, lalu kata sifat pasif. Jadi tiga ayat berturut-turut dibangun Allah dengan rangka yang sama, dan yang berbeda cuma isinya. Terjemahannya mengulang susunan itu alih-alih meragamkannya demi kewajaran. Rangka kalimat yang berulang tiga kali menuntut terjemahannya mengulang pula, bukan meragamkannya demi kewajaran. Kerapian yang disebut tanpa wujud yang dirinci menaruh seluruh keterangan pada susunannya.
- Sebuah kata tanpa akar tidak membawa gambaran dari pemakaian lain, sebab tidak ada pemakaian lain. Jadi yang tersedia bagi pembacanya cuma bunyi katanya dan kata sifat yang menyusulnya. Apa yang bisa dibayangkan seseorang tentang sebuah benda ketika satu-satunya keterangan yang diberikan tentangnya adalah bahwa ia tersusun rapi? Sebuah benda yang cuma diterangkan lewat kerapiannya tidak bisa dibayangkan wujudnya oleh siapa pun yang membacanya.