وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌ
Dan permadani-permadani yang terhampar.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَزَرَابِيُّ مَبْثُوثَةٌwa-zaraabiyyu mabtsuutsatundan permadani-permadani yang terhampar
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَزَرَابِيُّwa-zaraabiyyudan permadani
- مَبْثُوثَةٌmabtsuutsatunyang bertebaran
Inti bacaan
Kemewahan visual yang menghampar: 'dan permadani-permadani yang terhampar', penutup gambaran kenikmatan material dengan detail estetis yang kaya.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَزَرَابِيُّ, wa zaraabiyyu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan menurut morfologi Leeds kata ini pun tidak diberi akar. Jadi ia kata kedua di surah ini yang berdiri tanpa keluarga kata, sesudah kata pembuka 88:15, dan keduanya berada di dua ayat yang berurutan.
Kata (مَبْثُوثَةٌ, mabtsuutsatun) berbentuk pasif dari akar yang berarti menyebar berhamburan. Akar itu cuma dipakai di 9 ayat, yaitu 2:164, 4:1, 12:86, 31:10, 42:29, 45:4, 56:6, 88:16, dan 101:4. Di 2:164, 31:10, dan 45:4 akar itu dipakai untuk makhluk melata yang disebarkan di bumi.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 101:4 akar yang sama dipakai untuk manusia yang pada hari itu seperti anai-anai yang berterbangan. Jadi satu akar memikul permadani yang terhampar rapi dan manusia yang berhamburan tanpa tatanan. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Kata (مَبْثُوثَةٌ, mabtsuutsatun) di sini menyifati permadani, bukan menyebut makhluk yang tersebar.
Di 12:86 akar yang sama dipakai untuk kesedihan yang dicurahkan Yakub kepada Tuhannya. Jadi akar ini memikul menyebarkan makhluk, menghamparkan permadani, menghamburkan manusia, dan mencurahkan isi hati. Yang menyatukan seluruhnya sesuatu yang dikeluarkan sampai memenuhi ruang. Bentuk (مَبْثُوثَةٌ, mabtsuutsatun) berbentuk pasif, dan yang menghamparkannya tidak disebut.
Ayat ini menutup tujuh ayat berturut-turut yang menggambarkan tempat itu, yaitu 88:10 sampai 88:16. Susunannya sama persis dengan susunan 88:14 dan 88:15, sehingga tiga ayat terakhir dari rangkaian itu memakai rangka yang sama. Jadi daftarnya berhenti tanpa satu kata pun yang menandai bahwa ia sudah selesai.
Kata (وَزَرَابِيُّ, wa zaraabiyyu) berbentuk jamak dan tidak bertakrif, sama seperti seluruh benda yang disebut dari 88:12 sampai ayat ini. Bahasa Indonesia menahan bentuk jamaknya dengan perulangan, mengikuti apa yang tertulis alih-alih menyebutkan jumlahnya dengan kata bilangan.
Bentuk (مَبْثُوثَةٌ, mabtsuutsatun) berbentuk pasif perempuan, dan ia kata sifat terakhir dari empat kata sifat berpola sama di 88:13 sampai ayat ini. Jadi daftar itu ditutup dengan bentuk yang sama seperti pembukanya, dan tidak ada satu pun tanda yang menyatakan bahwa daftarnya selesai.
Di 42:29 akar (مَبْثُوثَةٌ, mabtsuutsatun) dipakai untuk makhluk melata yang disebarkan di langit dan di bumi, dan di 56:6 untuk debu yang beterbangan. Jadi akar ini memikul yang tersebar teratur dan yang berhamburan tanpa tatanan, dan kedua arah itu sama-sama hidup di dalamnya.
Kata (وَزَرَابِيُّ, wa zaraabiyyu) juga berbaris dammah tanpa tanwin, sama seperti kata pembuka 88:15. Jadi dua kata tanpa akar itu juga berbagi satu ciri tata bahasa, yaitu sama-sama tidak menerima tanwin. Kesejajaran serapat itu mengikat kedua ayat lebih kuat daripada sekadar letaknya yang berdampingan.
Tafsiran
Ayat ini menutup rincian kenikmatan taman dengan permadani yang terhampar luas, dan kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara menurut morfologi Leeds kata itu pun tidak diberi akar.
Jadi ia kata kedua di surah ini yang berdiri tanpa keluarga kata, sesudah kata pembuka 88:15, dan keduanya berada di dua ayat yang berurutan. Tidak ada ayat lain di dalam surah ini yang memuat kata semacam itu.
Kata terakhirnya berbentuk pasif dari akar yang cuma dipakai di 9 ayat, yaitu 2:164, 4:1, 12:86, 31:10, 42:29, 45:4, 56:6, 88:16, dan 101:4. Di 2:164, 31:10, dan 45:4 akar itu dipakai untuk makhluk melata yang disebarkan di bumi.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 101:4 akar yang sama dipakai untuk manusia yang pada hari itu seperti anai-anai yang berterbangan. Jadi satu akar memikul permadani yang terhampar rapi dan manusia yang berhamburan tanpa tatanan, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun.
Di 42:29 akar kata terakhirnya dipakai untuk makhluk melata yang disebarkan di langit dan di bumi, dan di 56:6 untuk debu yang beterbangan. Jadi akar ini memikul yang tersebar teratur dan yang berhamburan tanpa tatanan, dan kedua arah itu sama-sama hidup di dalamnya. Kata pertamanya juga berbaris dammah tanpa tanwin, sama seperti kata pembuka 88:15, sehingga dua kata tanpa akar itu berbagi satu ciri tata bahasa.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya berbentuk pasif dari akar yang cuma dipakai di 9 ayat, dan di 101:4 akar yang sama dipakai Allah untuk manusia yang pada hari itu seperti anai-anai yang berterbangan. Jadi satu akar memikul permadani yang terhampar rapi dan manusia yang berhamburan tanpa tatanan, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu. Satu akar untuk yang terhampar rapi dan yang berhamburan menaruh dua keadaan berlawanan di dalam satu keluarga kata.
- Kata pertama ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan menurut morfologi Leeds ia pun tidak diberi akar. Jadi ia kata kedua di surah ini yang berdiri tanpa keluarga kata, sesudah kata pembuka 88:15. Dua kata semacam itu berdiri di dua ayat yang berurutan, dan tidak ada ayat lain di surah ini yang memuatnya. Kata kedua tanpa akar di surah ini berdiri berdampingan dengan yang pertama, dan keduanya menutup daftar bendanya.
- Di 12:86 akar kata terakhirnya dipakai untuk kesedihan yang dicurahkan Yakub kepada Allah. Jadi akar ini memikul menyebarkan makhluk, menghamparkan permadani, menghamburkan manusia, dan mencurahkan isi hati. Yang menyatukan seluruhnya sesuatu yang dikeluarkan sampai memenuhi ruang yang tersedia baginya. Akar yang mencurahkan isi hati dan menghamparkan permadani menyatukan keduanya lewat gambaran memenuhi ruang. Daftar yang berhenti tanpa tanda menuntut pembacanya menyadari sendiri pergantian pokoknya.
- Ayat ini menutup tujuh ayat berturut-turut yang menggambarkan tempat itu, yaitu 88:10 sampai 88:16, dan susunannya sama persis dengan susunan 88:14 dan 88:15. Jadi daftarnya berhenti tanpa satu kata pun yang menandai bahwa ia sudah selesai, dan yang menandainya cuma pergantian pokok pembicaraan di 88:17. Daftar yang berhenti tanpa tanda menuntut pembacanya menyadari sendiri bahwa pokok pembicaraannya sudah berganti. Daftar yang berhenti tanpa tanda menuntut pembacanya menyadari sendiri pergantian pokoknya.
- Di 2:164, 31:10, dan 45:4 akar kata terakhirnya dipakai Allah untuk makhluk melata yang disebarkan di bumi. Jadi akar yang menamai permadani di sini juga menamai penyebaran makhluk hidup di seluruh bumi. Satu perbuatan yang sama, yaitu menghamparkan, dipakai untuk dua hal yang jauh berbeda ukurannya. Satu perbuatan yang sama untuk makhluk seluruh bumi dan untuk permadani menaruh keduanya dalam satu ukuran kata. Satu akar untuk yang tertata dan yang berhamburan menaruh dua keadaan di dalam satu kata.
- Tujuh ayat tentang tempat itu menyebut enam benda, dan tidak satu pun disebut Allah sebagai milik seseorang. Yang disebut cuma bahwa benda-benda itu ada di sana. Apa yang membedakan tempat semacam itu dari tempat mana pun yang isinya harus dimiliki lebih dulu sebelum bisa dipakai? Benda yang ada tanpa disebut milik siapa pun meniadakan seluruh persoalan yang biasa melekat pada kepemilikan. Satu akar untuk yang tertata dan yang berhamburan menaruh dua keadaan di dalam satu kata.