وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ

Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْwa-ilaa l-jibaali kayfa nushibatdan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَإِلَىwa-ilaadan kepada
  2. الْجِبَالِl-jibaaligunung-gunung
  3. كَيْفَkayfabagaimana
  4. نُصِبَتْnushibatditegakkan

Inti bacaan

Observasi ketiga tentang stabilitas geologis: 'dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan', perhatian pada elemen yang memberikan kestabilan bagi permukaan bumi.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (نُصِبَتْ, nushibat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menegakkan dan memancangkan. Ia dipakai di 29 ayat, antara lain 5:3, 21:98, 38:41, 70:43, dan 94:7. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar itu muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:3 dan ayat ini.

Di 88:3 akar itu menyebut kepayahan yang menimpa wajah-wajah, dan di sini gunung yang ditegakkan. Jadi satu akar memikul lelah manusia dan tegak gunung, dan yang menyatukannya sesuatu yang dipancangkan. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua pemakaian itu dengan satu kalimat pun, dan jaraknya enam belas ayat. Kata (نُصِبَتْ, nushibat) di sini menyebut gunung, bukan kepayahan seperti di 88:3.

Di 70:43 akar yang sama dipakai untuk tanda yang dipancangkan, dan di 94:7 untuk perintah bekerja keras sampai lelah. Jadi akar ini memikul memancangkan sesuatu, berdiri tegak, dan menanggung kepayahan. Ketiganya berbagi gambaran sesuatu yang ditegakkan dan tidak boleh roboh. Bentuk (نُصِبَتْ, nushibat) berbentuk pasif, dan yang menegakkannya tidak disebut sama sekali.

Kata (الْجِبَالِ, al-jibaali) berasal dari akar yang berarti bawaan yang tertanam. Akar itu dipakai di 39 ayat, antara lain 7:143, 13:31, 20:105, 59:21, dan 78:7. Di 78:7 akar itu dipakai untuk gunung sebagai pasak, dan di 59:21 untuk gunung yang akan terpecah karena takut kepada Tuhan.

Bentuk (نُصِبَتْ, nushibat) berbentuk pasif dan berbentuk perempuan, mengikuti bentuk jamak benda mati di dalam bahasa Arab. Jadi tidak disebutkan siapa yang menegakkannya, sama seperti tiga kata kerja lain di rangkaian ini. Empat ayat berturut-turut karena itu menyembunyikan pelakunya.

Susunan ayat ini sama persis dengan susunan 88:18 dan 88:20: huruf penyambung, huruf yang menyatakan arah, kata benda bertakrif, kata tanya, lalu kata kerja pasif. Jadi tiga ayat berturut-turut dibangun dengan rangka yang sama, dan 88:17 memakai rangka itu pula kecuali pada pembukanya.

Kata (الْجِبَالِ, al-jibaali) berbentuk jamak, sedangkan tiga kata benda lain di rangkaian ini berbentuk tunggal. Jadi cuma benda di ayat ini yang disebut dalam bentuk banyak, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun.

Bentuk (نُصِبَتْ, nushibat) berbentuk perempuan meskipun kata bendanya jamak laki-laki, sebab jamak benda mati di dalam bahasa Arab diperlakukan sebagai perempuan tunggal. Jadi kesesuaian bentuknya bukan tanda bahwa gunungnya satu, melainkan aturan tata bahasa yang berlaku umum di seluruh Al-Qur'an.

Kata (الْجِبَالِ, al-jibaali) berbaris kasrah karena didahului huruf yang menyatakan arah, sama seperti tiga kata benda lain di rangkaian ini. Jadi keempatnya sejajar sampai ke barisnya, dan kesejajaran itu berlaku pada penakrifan, pada baris, dan pada bentuk kata kerja yang menyusulnya.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan ajakan merenungkan tegaknya gunung-gunung, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 29 ayat, antara lain 5:3, 21:98, 38:41, 70:43, dan 94:7.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar itu muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:3 dan ayat ini. Di 88:3 akar itu menyebut kepayahan yang menimpa wajah-wajah, dan di sini gunung yang ditegakkan. Jadi satu akar memikul lelah manusia dan tegak gunung.

Di 70:43 akar yang sama dipakai untuk tanda yang dipancangkan, dan di 94:7 untuk perintah bekerja keras sampai lelah. Jadi akar ini memikul memancangkan sesuatu, berdiri tegak, dan menanggung kepayahan, dan ketiganya berbagi gambaran sesuatu yang ditegakkan dan tidak boleh roboh.

Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 39 ayat, antara lain 7:143, 13:31, 20:105, 59:21, dan 78:7. Di 78:7 akar itu dipakai untuk gunung sebagai pasak, dan di 59:21 untuk gunung yang akan terpecah karena takut kepada Tuhan.

Kata keduanya berbentuk jamak, sedangkan tiga kata benda lain di rangkaian ini berbentuk tunggal. Jadi cuma benda di ayat ini yang disebut dalam bentuk banyak, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun di dalam teksnya. Kata keduanya berbaris kasrah karena didahului huruf yang menyatakan arah, sama seperti tiga kata benda lain di rangkaian ini.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerjanya dipakai di 29 ayat dan muncul dua kali di dalam surah ini, yaitu di 88:3 dan 88:19. Di 88:3 akar itu menyebut kepayahan yang menimpa wajah-wajah, dan di sini gunung yang ditegakkan Allah. Jadi satu akar memikul lelah manusia dan tegak gunung, dan yang menyatukannya sesuatu yang dipancangkan dan tidak boleh roboh. Satu akar untuk lelah manusia dan tegak gunung menaruh keduanya di dalam gambaran sesuatu yang dipancangkan.
  • Di 70:43 akar kata kerjanya dipakai untuk tanda yang dipancangkan, dan di 94:7 untuk perintah Allah bekerja keras sampai lelah. Jadi akar ini memikul memancangkan sesuatu, berdiri tegak, dan menanggung kepayahan. Ketiganya berbagi satu gambaran, dan Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Akar yang memancangkan tanda dan menuntut kerja keras menyatukan ketiganya lewat gambaran yang tidak boleh roboh. Kekukuhan yang diberikan berbeda dari kekukuhan yang dimiliki sejak semula oleh bendanya.
  • Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 39 ayat, antara lain 7:143, 13:31, 20:105, 59:21, dan 78:7. Di 78:7 akar itu dipakai Allah untuk gunung sebagai pasak, dan di 59:21 untuk gunung yang akan terpecah karena takut kepada-Nya. Jadi yang ditegakkan sekarang disebut di tempat lain sebagai yang kelak runtuh. Yang ditegakkan sekarang disebut di tempat lain sebagai yang kelak runtuh, dan kedua ayat tidak saling menyebut.
  • Susunan ayat ini sama persis dengan susunan 88:18 dan 88:20: huruf penyambung, huruf yang menyatakan arah, kata benda bertakrif, kata tanya, lalu kata kerja pasif. Jadi tiga ayat berturut-turut dibangun Allah dengan rangka yang sama, dan 88:17 memakai rangka itu pula kecuali pada pembukanya. Rangka kalimat yang berulang tiga kali mengikat ketiganya, dan yang pertama memakai rangka itu kecuali pembukanya. Satu akar untuk lelah dan untuk tegak menaruh keduanya di dalam gambaran yang dipancangkan.
  • Bentuk kata kerjanya pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menegakkannya, sama seperti tiga kata kerja lain di rangkaian ini. Empat ayat berturut-turut karena itu menyembunyikan pelakunya, dan nama Allah baru disebut sekali di 88:24. Yang diminta diperhatikan hasilnya lebih dulu, dan pelakunya menyusul. Empat pasif berturut-turut menaruh hasilnya lebih dulu, dan siapa yang mengerjakannya menyusul jauh kemudian. Satu akar untuk lelah dan untuk tegak menaruh keduanya di dalam gambaran yang dipancangkan.
  • Bentuk pasif menyatakan bahwa gunung itu ditegakkan, bukan berdiri dengan sendirinya. Jadi tegaknya hasil, bukan sifat bawaan. Apa yang berubah pada pandangan seseorang terhadap sesuatu yang tampak paling kukuh ketika ia tahu bahwa kekukuhan itu diberikan kepadanya, bukan miliknya sejak semula? Kekukuhan yang diberikan berbeda dari kekukuhan yang dimiliki sejak semula, dan bentuk pasif yang menyatakannya. Kekukuhan yang diberikan berbeda dari kekukuhan yang dimiliki sejak semula oleh bendanya.