وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ
Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْwa-ilaa l-ardhi kayfa suthihatdan bumi, bagaimana ia dihamparkan
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَإِلَىwa-ilaadan kepada
- الْأَرْضِl-ardhibumi
- كَيْفَkayfabagaimana
- سُطِحَتْsuthihatia dihamparkan
Inti bacaan
Observasi keempat tentang permukaan yang layak huni: 'dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?', penutup rangkaian empat objek pengamatan (unta, langit, gunung, bumi) yang mencakup dari yang dekat hingga yang luas, semua menjadi bukti kekuasaan yang layak direnungkan.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (سُطِحَتْ, suthihat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti menghamparkan. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Ini satu-satunya akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Dua kata di 88:15 dan 88:16 memang tidak punya akar sama sekali, tetapi keduanya kata benda; yang di sini kata kerja yang punya akar dan akarnya tidak dipakai di tempat lain mana pun. Kata (سُطِحَتْ, suthihat) di sini berdiri sendirian tanpa satu pun bentuk lain yang seakar dengannya.
Kata (الْأَرْضِ, al-ardhi) berasal dari akar yang berarti bumi. Akar itu dipakai di 461 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat ini menyandingkan kata dari akar yang paling sering dipakai dengan kata dari akar yang cuma dipakai sekali.
Kesejajaran itu patut dicatat tanpa dipaksakan. Benda yang paling sering disebut Al-Qur'an dikenai perbuatan yang namanya tidak pernah disebut lagi di mana pun. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya berdiri di dalam satu ayat pendek.
Bentuk (سُطِحَتْ, suthihat) berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menghamparkannya. Jadi empat kata kerja di 88:17 sampai ayat ini seluruhnya berbentuk pasif, dan tidak satu pun menyebut pelakunya. Rangkaian empat pasif berturut-turut itu tidak terjadi lagi di dalam surah ini.
Ayat ini menutup rangkaian empat pertanyaan, dan sesudahnya 88:21 berpindah kepada perintah. Jadi Al-Qur'an berhenti bertanya tanpa menjawab satu pun pertanyaannya. Bahasa Indonesia menahannya dengan tanda tanya di ujung ayat ini saja, sebab keempat ayat itu satu kalimat yang baru selesai di sini.
Kata (الْأَرْضِ, al-ardhi) disebut terakhir di antara empat benda, sedangkan unta disebut pertama. Jadi urutannya bergerak dari makhluk hidup kepada langit, lalu turun kepada gunung, lalu kepada bumi. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan naik turun itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma letak keempatnya.
Bentuk (سُطِحَتْ, suthihat) berbentuk perempuan, mengikuti kata bendanya yang berbentuk perempuan menurut morfologi. Kesesuaian itu sama seperti pada tiga kata kerja sebelumnya. Jadi empat kata kerja di rangkaian ini seluruhnya berbentuk pasif dan seluruhnya berbentuk perempuan, tanpa satu pun kekecualian.
Kata (الْأَرْضِ, al-ardhi) dan tiga kata benda lain di rangkaian ini seluruhnya bertakrif dan seluruhnya berbaris kasrah. Jadi empat ayat itu sejajar pada empat hal sekaligus: penakrifan, baris, kata tanya, dan bentuk kata kerja pasifnya. Kesejajaran sepadat itu tidak terjadi lagi di dalam surah ini.
Tafsiran
Ayat ini menutup rangkaian ajakan merenungkan penciptaan dengan bumi yang terhampar, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini.
Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya. Ini satu-satunya akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat.
Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 461 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Jadi ayat ini menyandingkan kata dari akar yang paling sering dipakai dengan kata dari akar yang cuma dipakai sekali.
Kesejajaran itu patut dicatat tanpa dipaksakan. Benda yang paling sering disebut Al-Qur'an dikenai perbuatan yang namanya tidak pernah disebut lagi di mana pun. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya berdiri di dalam satu ayat pendek.
Kata keduanya disebut terakhir di antara empat benda, sedangkan unta disebut pertama. Jadi urutannya bergerak dari makhluk hidup kepada langit, lalu turun kepada gunung, lalu kepada bumi. Al-Qur'an tidak menerangkan urutan naik turun itu dengan satu kalimat pun. Empat ayat di rangkaian ini, yaitu 88:17, 88:18, 88:19, dan 88:20, sejajar pada empat hal sekaligus: penakrifan, baris, kata tanya, dan bentuk kata kerja pasifnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi ia sendirian dua kali: sebagai bentuk dan sebagai akar. Ini satu-satunya akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan pembacanya tidak punya satu pun tempat lain untuk menimbang apa yang dimaksud Allah dengannya. Sesuatu yang sendirian sebagai bentuk sekaligus sebagai akar tidak punya satu pun pembanding di dalam korpusnya.
- Kata keduanya berasal dari akar yang dipakai di 461 ayat, sedangkan kata kerjanya dari akar yang cuma dipakai di 1 ayat. Jadi Allah menyandingkan kata dari akar yang paling sering dipakai dengan kata dari akar yang cuma dipakai sekali. Benda yang paling sering disebut dikenai perbuatan yang namanya tidak pernah disebut lagi di mana pun. Akar tersering dan akar yang cuma sekali bertemu di dalam satu ayat pendek, dan pertemuan itu tidak diterangkan.
- Bentuk kata kerjanya pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menghamparkannya. Jadi empat kata kerja di 88:17 sampai ayat ini seluruhnya berbentuk pasif, dan tidak satu pun menyebut pelakunya. Rangkaian empat pasif berturut-turut itu tidak terjadi lagi di dalam surah ini, dan nama Allah baru muncul di 88:24. Rangkaian empat pasif yang tidak terulang di surah ini menandai bagian itu tanpa satu kata penanda pun. Menyebut dari sudut yang memandang berbeda dari menyebut dari sudut yang membuatnya.
- Ayat ini menutup rangkaian empat pertanyaan, dan sesudahnya 88:21 berpindah kepada perintah. Jadi Allah berhenti bertanya tanpa menjawab satu pun pertanyaan-Nya. Apa yang tersisa pada orang yang ditanya empat kali berturut-turut lalu ditinggalkan tanpa satu jawaban pun diberikan kepadanya? Berhenti bertanya tanpa menjawab meninggalkan pertanyaannya hidup, dan itu berbeda dari pertanyaan yang ditutup. Sesuatu yang sendirian sebagai bentuk dan sebagai akar tidak punya pembanding di korpusnya.
- Dua kata di 88:15 dan 88:16 memang tidak punya akar sama sekali, tetapi keduanya kata benda. Yang di sini kata kerja yang punya akar, dan akarnya tidak dipakai Allah di tempat lain mana pun. Jadi surah ini memuat tiga kata yang sendirian dengan tiga cara yang berbeda, dan ketiganya berjauhan letaknya. Tiga kata yang sendirian dengan tiga cara berbeda di dalam satu surah menuntut pemeriksaan morfologi, bukan tebakan. Sesuatu yang sendirian sebagai bentuk dan sebagai akar tidak punya pembanding di korpusnya.
- Yang disebut Allah bukan bulatnya atau luasnya melainkan terhamparnya, yaitu bagaimana ia tampak bagi yang berdiri di atasnya. Jadi yang diminta diperhatikan pengalaman berpijak, bukan bentuk yang diukur dari jauh. Empat benda di rangkaian ini seluruhnya disebut dari sudut orang yang memandangnya, bukan dari sudut yang menciptakannya. Menyebut sesuatu dari sudut yang memandangnya berbeda dari menyebutnya dari sudut yang membuatnya, dan yang dipakai di sini yang pertama.