Ayat 88:21
فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌ
Maka berilah peringatan; sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَذَكِّرْ إِنَّمَا أَنْتَ مُذَكِّرٌfa-dzakkir innamaa anta mudzakkirunmaka berilah peringatan, sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَذَكِّرْfa-dzakkirmaka berilah peringatan
- إِنَّمَاinnamaasesungguhnya hanyalah
- أَنْتَantaengkau
- مُذَكِّرٌmudzakkirunpemberi peringatan
Inti bacaan
Definisi peran yang jelas dan terbatas: 'maka berilah peringatan; sesungguhnya engkau hanyalah pemberi peringatan', penegasan tegas batas tanggung jawab, murni menyampaikan tanpa memaksakan penerimaan.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (فَذَكِّرْ, fa-dzakkir) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 50:45, 52:29, 87:9, dan 88:21. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari empat kemunculannya berada di dua surah yang berurutan, yaitu 87:9 dan ayat ini.
Jadi dua surah bertetangga sama-sama memakai perintah yang sama persis untuk membuka bagian penutupnya. Di 87:9 perintah itu disusul syarat tentang bermanfaatnya peringatan, dan di sini ia disusul pembatasan tentang kedudukan yang diperintah. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Kata (مُذَكِّرٌ, mudzakkirun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mengingat dan menyebut. Ia dipakai di 264 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul. Bentuk di sini bentuk pelaku berpola kedua, dan artinya orang yang membuat orang lain ingat.
Jadi kata kerja dan kata bendanya di ayat ini berasal dari satu akar yang sama dan dari pola yang sama. Susunan yang mengulang akar seperti itu menguatkan tanpa menambah kata baru, dan pola yang sama dipakai di 87:9 dengan bentuk yang berbeda. Dua surah berurutan karena itu memakai cara menguatkan yang sejenis. Kata (مُذَكِّرٌ, mudzakkirun) di sini bentuk pelaku, bukan bentuk yang menyebut peringatannya.
Kata (إِنَّمَا, innamaa) huruf pembatas, sehingga artinya tidak lebih dari itu. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa ia pemberi peringatan melainkan bahwa ia cuma pemberi peringatan. Bahasa Indonesia menahannya dengan kata "hanyalah", memakai satu kata untuk menahan pembatasan yang sama.
Kata (أَنْتَ, anta) kata ganti yang berdiri sendiri, padahal bentuk kata kerja sudah memikul pelakunya. Penyebutan kata ganti secara terpisah di dalam bahasa Arab dipakai untuk menegaskan. Jadi ayat ini memikul dua penegasan sekaligus: huruf pembatas dan kata ganti yang disebut ulang.
Kata (فَذَكِّرْ, fa-dzakkir) dibuka huruf fa yang menyambungkannya kepada empat pertanyaan sebelumnya. Jadi perintah memberi peringatan itu datang sebagai akibat dari apa yang baru diminta diperhatikan, bukan berdiri sendiri. Huruf yang sama dipakai di 87:9 dengan hubungan yang berbeda, sehingga dua surah memakainya untuk dua sebab yang tidak sama.
Bentuk (مُذَكِّرٌ, mudzakkirun) tidak bertakrif, sehingga yang dinyatakan jenis kedudukan, bukan satu kedudukan tertentu. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa ia pemberi peringatan yang sudah dikenal melainkan bahwa kedudukannya tidak lebih dari itu. Ketiadaan kata sandang bekerja searah dengan huruf pembatas di depannya.
Kata (أَنْتَ, anta) berdiri di antara huruf pembatas dan kata terakhirnya, sehingga susunannya menaruh penegasan tepat di tengah. Jadi ayat ini terbagi dua oleh kata ganti itu: perintah di satu sisi dan pembatasan di sisi lain. Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu dengan satu kata pun selain letaknya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan tugas Nabi hanya sebatas memberi peringatan, dan kata kerja pertamanya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 50:45, 52:29, 87:9, dan 88:21.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari empat kemunculannya berada di dua surah yang berurutan, yaitu 87:9 dan ayat ini. Jadi dua surah bertetangga sama-sama memakai perintah yang sama persis untuk membuka bagian penutupnya.
Di 87:9 perintah itu disusul syarat tentang bermanfaatnya peringatan, dan di sini ia disusul pembatasan tentang kedudukan yang diperintah. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang diulang tanpa diubah.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 264 ayat. Bentuk di sini bentuk pelaku berpola kedua, dan artinya orang yang membuat orang lain ingat. Jadi kata kerja dan kata bendanya di ayat ini berasal dari satu akar yang sama dan dari pola yang sama.
Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga yang dinyatakan jenis kedudukan, bukan satu kedudukan tertentu. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa ia pemberi peringatan yang sudah dikenal melainkan bahwa kedudukannya tidak lebih dari itu, dan ketiadaan kata sandang bekerja searah dengan huruf pembatas. Kata ganti di tengah ayat membagi kalimatnya menjadi dua: perintah di satu sisi dan pembatasan di sisi lain, tanpa satu kata penanda pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata kerja pertama ayat ini muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 50:45, 52:29, 87:9, dan 88:21, dan dua dari empat kemunculannya berada di dua surah yang berurutan. Jadi dua surah bertetangga sama-sama memakai perintah Allah yang sama persis untuk membuka bagian penutupnya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Dua surah bertetangga yang memakai perintah sama untuk membuka penutupnya menandai keduanya sebagai sepasang.
- Di 87:9 perintah itu disusul syarat tentang bermanfaatnya peringatan, dan di sini ia disusul pembatasan tentang kedudukan yang diperintah. Jadi satu perintah yang sama dilanjutkan Allah dengan dua cara yang berbeda di dua surah bertetangga. Yang satu membatasi kapan, dan yang lain membatasi sampai di mana. Satu perintah dengan dua lanjutan berbeda membatasi dari dua arah: kapan ia berlaku dan sampai di mana jangkauannya. Batas yang melepaskan tanggungan atas hasil mengubah beban tanpa mengurangi pekerjaannya.
- Kata kedua ayat ini huruf pembatas, sehingga artinya tidak lebih dari itu. Jadi yang dinyatakan Allah bukan bahwa ia pemberi peringatan melainkan bahwa ia cuma pemberi peringatan. Pembatasan itu dikerjakan satu huruf, dan tanpanya kalimatnya akan terbaca sebagai pujian, bukan sebagai batas. Satu huruf pembatas mengubah sebuah pujian menjadi sebuah batas, dan tanpanya kalimatnya akan terbaca terbalik. Batas yang melepaskan tanggungan atas hasil mengubah beban tanpa mengurangi pekerjaannya.
- Kata ganti di tengah ayat berdiri sendiri, padahal bentuk kata kerja sudah memikul pelakunya. Penyebutan kata ganti secara terpisah dipakai untuk menegaskan. Jadi ayat ini memikul dua penegasan sekaligus, yaitu huruf pembatas dan kata ganti yang disebut ulang, dan keduanya bekerja pada arah yang sama. Dua penegasan di dalam satu ayat pendek bekerja pada arah yang sama, dan keduanya menyempitkan, bukan meluaskan. Dua surah bertetangga yang memakai perintah sama menandai keduanya sebagai sepasang.
- Kata kerja dan kata benda di ayat ini berasal dari satu akar yang sama dan dari pola yang sama. Susunan yang mengulang akar seperti itu menguatkan tanpa menambah kata baru, dan Allah memakai cara sejenis di 87:9. Jadi dua surah berurutan sama-sama menghemat kata dengan mengulang akar, bukan dengan menambah kata sifat. Mengulang akar menghemat kata sekaligus mengikat perbuatannya kepada kedudukannya lebih rapat daripada kata sifat.
- Ayat ini menyebutkan batas tugas, bukan menambah bebannya. Jadi pembatasan yang diberikan Allah di sini justru melepaskan tanggungan atas hasil. Apa yang berubah pada seseorang yang bekerja keras ketika ia diberi tahu bahwa hasilnya bukan urusannya, melainkan urusan Yang menyuruhnya? Batas yang melepaskan tanggungan atas hasil mengubah beban seseorang tanpa mengurangi pekerjaannya sedikit pun. Dua surah bertetangga yang memakai perintah sama menandai keduanya sebagai sepasang.
Ayat 88:22
لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ
Engkau bukanlah penguasa atas mereka.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍlasta 'alayhim bi-mushaythirinengkau bukanlah penguasa atas mereka
Terjemahan per kata (3 kata)
- لَسْتَlastaengkau bukanlah
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- بِمُصَيْطِرٍbi-mushaythirinorang yang berkuasa
Inti bacaan
Penolakan klaim otoritas berlebihan: 'engkau bukanlah penguasa atas mereka', pembebasan dari tanggung jawab mengendalikan hasil akhir keputusan orang lain, fokus pada penyampaian bukan pemaksaan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaithirin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menulis berbaris. Ia dipakai di 16 ayat, antara lain 17:58, 33:6, 52:2, 54:53, dan 68:1. Di 52:2 dan 68:1 akar itu dipakai untuk apa yang dituliskan, dan di 54:53 untuk segala sesuatu yang tercatat.
Jadi akar yang di sebagian besar tempat menyebut penulisan, di sini memberi kata untuk orang yang berkuasa memaksa. Yang menyatukan keduanya gambaran menetapkan sesuatu supaya tidak berubah, sebab yang menulis menetapkan dan yang berkuasa memutuskan. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Kata (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaithirin) di sini berada di dalam pengingkaran, bukan di dalam berita.
Kata kerja (لَسْتَ, lasta) berasal dari akar yang berarti bukan dan tidak ada, dan bentuknya bentuk pengingkaran yang berorang kedua tunggal. Jadi yang diingkari bukan perbuatan melainkan kedudukan. Ayat ini karena itu bukan larangan melainkan pernyataan tentang siapa yang disapa.
Huruf ba di depan (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaithirin) huruf tambahan yang menguatkan pengingkaran. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa ia bukan penguasa melainkan bahwa ia sama sekali bukan. Susunan penguat pengingkaran seperti itu dipakai juga di 86:14, dan di kedua tempat itu yang ditutup seluruh kemungkinannya.
Kata (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaithirin) tidak bertakrif, sehingga yang diingkari bukan satu kedudukan tertentu melainkan jenis kedudukan itu. Ketiadaan kata sandang di dalam pengingkaran menutup kemungkinan adanya kekecualian sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan.
Susunan ayat ini menaruh keterangan sebelum kata terakhirnya, yaitu atas mereka lebih dulu, baru kata yang menyatakan kedudukan. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan, dan yang ditegaskan di sini bukan bahwa ia bukan penguasa melainkan atas siapa kekuasaan itu tidak dimilikinya. Kata (لَسْتَ, lasta) mendahuluinya, dan keterangan tempatnya berdiri di antara keduanya.
Bentuk (لَسْتَ, lasta) berorang kedua tunggal, sama seperti bentuk kata kerja di 88:1 dan kata ganti di 88:21. Jadi tiga tempat di surah ini menyapa satu orang secara langsung, dan ketiganya berada di pembuka dan di penutup, bukan di bagian tengahnya.
Kata ganti pada (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) berbentuk jamak laki-laki, dan yang ditunjuknya tidak dinyatakan dengan terang di dalam ayat ini. Bentuk yang sama dipakai lagi di 88:25 dan 88:26, sehingga tiga ayat di bagian penutup menunjuk kepada pihak yang tidak dinamai satu kali pun.
Kata (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) berdiri di antara kata kerja dan kata terakhirnya, sama seperti letak kata ganti di 88:21. Jadi dua ayat berurutan sama-sama menaruh satu kata di tengah yang memisahkan dua bagian kalimatnya. Kesejajaran letak itu mengikat keduanya menjadi satu pasangan pernyataan.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi tidak memiliki wewenang memaksa keimanan, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 16 ayat, antara lain 17:58, 33:6, 52:2, 54:53, dan 68:1.
Di 52:2 dan 68:1 akar itu dipakai untuk apa yang dituliskan, dan di 54:53 untuk segala sesuatu yang tercatat. Jadi akar yang di sebagian besar tempat menyebut penulisan, di sini memberi kata untuk orang yang berkuasa memaksa. Yang menyatukan keduanya gambaran menetapkan sesuatu supaya tidak berubah.
Kata kerja pertamanya berbentuk pengingkaran yang berorang kedua tunggal. Jadi yang diingkari bukan perbuatan melainkan kedudukan. Ayat ini karena itu bukan larangan melainkan pernyataan tentang siapa yang disapa.
Huruf di depan kata terakhirnya huruf tambahan yang menguatkan pengingkaran. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa ia bukan penguasa melainkan bahwa ia sama sekali bukan. Susunan penguat pengingkaran seperti itu dipakai juga di 86:14, dan di kedua tempat itu yang ditutup seluruh kemungkinannya.
Bentuk kata kerja pertamanya berorang kedua tunggal, sama seperti bentuk kata kerja di 88:1 dan kata ganti di 88:21. Jadi tiga tempat di surah ini menyapa satu orang secara langsung, dan ketiganya berada di pembuka dan di penutup, bukan di bagian tengahnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 16 ayat, antara lain 17:58, 33:6, 52:2, 54:53, dan 68:1. Di 52:2 dan 68:1 akar itu dipakai Allah untuk apa yang dituliskan, dan di 54:53 untuk segala sesuatu yang tercatat. Jadi akar yang hampir selalu menyebut penulisan, di sini memberi kata untuk orang yang berkuasa memaksa. Akar yang hampir selalu menyebut penulisan lalu memberi kata untuk penguasa menyatukan keduanya lewat menetapkan.
- Yang menyatukan kedua makna akar itu gambaran menetapkan sesuatu supaya tidak berubah, sebab yang menulis menetapkan dan yang berkuasa memutuskan. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Jadi yang diingkari Allah dari orang yang disapa adalah kuasa menetapkan apa yang akan terjadi pada orang lain. Kuasa menetapkan apa yang terjadi pada orang lain justru yang diingkari, dan itu bagian yang paling ingin dimiliki siapa pun.
- Kata kerja pertamanya berbentuk pengingkaran yang berorang kedua tunggal, sehingga yang diingkari bukan perbuatan melainkan kedudukan. Ayat ini karena itu bukan larangan melainkan pernyataan Allah tentang siapa yang disapa. Perbedaan itu menentukan: yang pertama bisa dilanggar, dan yang kedua tidak bisa diubah sama sekali. Mengingkari kedudukan berbeda dari melarang perbuatan, sebab yang pertama tidak bisa dilanggar oleh siapa pun.
- Huruf di depan kata terakhirnya huruf tambahan yang menguatkan pengingkaran, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar bahwa ia bukan penguasa melainkan bahwa ia sama sekali bukan. Susunan penguat pengingkaran seperti itu dipakai Allah juga di 86:14, dan di kedua tempat itu yang ditutup seluruh kemungkinannya. Huruf tambahan yang menguatkan pengingkaran menutup seluruh kemungkinan sebelum satu pun sempat dibayangkan. Jalan terakhir yang ditutup meniadakan seluruh cara cadangan yang biasa dipikirkan orang.
- Susunan ayat ini menaruh keterangan sebelum kata terakhirnya, yaitu atas mereka lebih dulu, baru kata yang menyatakan kedudukan. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai Allah untuk menegaskan, dan yang ditegaskan bukan bahwa ia bukan penguasa melainkan atas siapa kekuasaan itu tidak dimilikinya. Mendahulukan keterangan menaruh tekanan pada atas siapa kekuasaan itu tidak ada, bukan pada kekuasaannya sendiri. Akar yang menyebut penulisan lalu memberi kata untuk penguasa menyatukan keduanya lewat menetapkan.
- Ayat ini menutup satu-satunya jalan yang tersisa bagi orang yang sudah memberi peringatan dan tidak didengarkan, yaitu memaksa. Jadi Allah tidak menyediakan cara cadangan. Apa yang tersisa bagi seseorang yang sungguh-sungguh menginginkan kebaikan orang lain ketika memaksa dinyatakan berada di luar kedudukannya? Satu-satunya jalan yang tersisa bagi yang tidak didengarkan justru ditutup, dan tidak ada cara cadangan yang disebut. Akar yang menyebut penulisan lalu memberi kata untuk penguasa menyatukan keduanya lewat menetapkan.