لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍ

Engkau bukanlah penguasa atas mereka.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لَسْتَ عَلَيْهِمْ بِمُصَيْطِرٍlasta 'alayhim bi-mushaythirinengkau bukanlah penguasa atas mereka

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. لَسْتَlastaengkau bukanlah
  2. عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
  3. بِمُصَيْطِرٍbi-mushaythirinorang yang berkuasa

Inti bacaan

Penolakan klaim otoritas berlebihan: 'engkau bukanlah penguasa atas mereka', pembebasan dari tanggung jawab mengendalikan hasil akhir keputusan orang lain, fokus pada penyampaian bukan pemaksaan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaithirin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti menulis berbaris. Ia dipakai di 16 ayat, antara lain 17:58, 33:6, 52:2, 54:53, dan 68:1. Di 52:2 dan 68:1 akar itu dipakai untuk apa yang dituliskan, dan di 54:53 untuk segala sesuatu yang tercatat.

Jadi akar yang di sebagian besar tempat menyebut penulisan, di sini memberi kata untuk orang yang berkuasa memaksa. Yang menyatukan keduanya gambaran menetapkan sesuatu supaya tidak berubah, sebab yang menulis menetapkan dan yang berkuasa memutuskan. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Kata (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaithirin) di sini berada di dalam pengingkaran, bukan di dalam berita.

Kata kerja (لَسْتَ, lasta) berasal dari akar yang berarti bukan dan tidak ada, dan bentuknya bentuk pengingkaran yang berorang kedua tunggal. Jadi yang diingkari bukan perbuatan melainkan kedudukan. Ayat ini karena itu bukan larangan melainkan pernyataan tentang siapa yang disapa.

Huruf ba di depan (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaithirin) huruf tambahan yang menguatkan pengingkaran. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa ia bukan penguasa melainkan bahwa ia sama sekali bukan. Susunan penguat pengingkaran seperti itu dipakai juga di 86:14, dan di kedua tempat itu yang ditutup seluruh kemungkinannya.

Kata (بِمُصَيْطِرٍ, bi-mushaithirin) tidak bertakrif, sehingga yang diingkari bukan satu kedudukan tertentu melainkan jenis kedudukan itu. Ketiadaan kata sandang di dalam pengingkaran menutup kemungkinan adanya kekecualian sebelum kemungkinan itu sempat dibayangkan.

Susunan ayat ini menaruh keterangan sebelum kata terakhirnya, yaitu atas mereka lebih dulu, baru kata yang menyatakan kedudukan. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai untuk menegaskan, dan yang ditegaskan di sini bukan bahwa ia bukan penguasa melainkan atas siapa kekuasaan itu tidak dimilikinya. Kata (لَسْتَ, lasta) mendahuluinya, dan keterangan tempatnya berdiri di antara keduanya.

Bentuk (لَسْتَ, lasta) berorang kedua tunggal, sama seperti bentuk kata kerja di 88:1 dan kata ganti di 88:21. Jadi tiga tempat di surah ini menyapa satu orang secara langsung, dan ketiganya berada di pembuka dan di penutup, bukan di bagian tengahnya.

Kata ganti pada (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) berbentuk jamak laki-laki, dan yang ditunjuknya tidak dinyatakan dengan terang di dalam ayat ini. Bentuk yang sama dipakai lagi di 88:25 dan 88:26, sehingga tiga ayat di bagian penutup menunjuk kepada pihak yang tidak dinamai satu kali pun.

Kata (عَلَيْهِمْ, 'alayhim) berdiri di antara kata kerja dan kata terakhirnya, sama seperti letak kata ganti di 88:21. Jadi dua ayat berurutan sama-sama menaruh satu kata di tengah yang memisahkan dua bagian kalimatnya. Kesejajaran letak itu mengikat keduanya menjadi satu pasangan pernyataan.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan bahwa Nabi tidak memiliki wewenang memaksa keimanan, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 16 ayat, antara lain 17:58, 33:6, 52:2, 54:53, dan 68:1.

Di 52:2 dan 68:1 akar itu dipakai untuk apa yang dituliskan, dan di 54:53 untuk segala sesuatu yang tercatat. Jadi akar yang di sebagian besar tempat menyebut penulisan, di sini memberi kata untuk orang yang berkuasa memaksa. Yang menyatukan keduanya gambaran menetapkan sesuatu supaya tidak berubah.

Kata kerja pertamanya berbentuk pengingkaran yang berorang kedua tunggal. Jadi yang diingkari bukan perbuatan melainkan kedudukan. Ayat ini karena itu bukan larangan melainkan pernyataan tentang siapa yang disapa.

Huruf di depan kata terakhirnya huruf tambahan yang menguatkan pengingkaran. Jadi yang dinyatakan bukan sekadar bahwa ia bukan penguasa melainkan bahwa ia sama sekali bukan. Susunan penguat pengingkaran seperti itu dipakai juga di 86:14, dan di kedua tempat itu yang ditutup seluruh kemungkinannya.

Bentuk kata kerja pertamanya berorang kedua tunggal, sama seperti bentuk kata kerja di 88:1 dan kata ganti di 88:21. Jadi tiga tempat di surah ini menyapa satu orang secara langsung, dan ketiganya berada di pembuka dan di penutup, bukan di bagian tengahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 16 ayat, antara lain 17:58, 33:6, 52:2, 54:53, dan 68:1. Di 52:2 dan 68:1 akar itu dipakai Allah untuk apa yang dituliskan, dan di 54:53 untuk segala sesuatu yang tercatat. Jadi akar yang hampir selalu menyebut penulisan, di sini memberi kata untuk orang yang berkuasa memaksa. Akar yang hampir selalu menyebut penulisan lalu memberi kata untuk penguasa menyatukan keduanya lewat menetapkan.
  • Yang menyatukan kedua makna akar itu gambaran menetapkan sesuatu supaya tidak berubah, sebab yang menulis menetapkan dan yang berkuasa memutuskan. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Jadi yang diingkari Allah dari orang yang disapa adalah kuasa menetapkan apa yang akan terjadi pada orang lain. Kuasa menetapkan apa yang terjadi pada orang lain justru yang diingkari, dan itu bagian yang paling ingin dimiliki siapa pun.
  • Kata kerja pertamanya berbentuk pengingkaran yang berorang kedua tunggal, sehingga yang diingkari bukan perbuatan melainkan kedudukan. Ayat ini karena itu bukan larangan melainkan pernyataan Allah tentang siapa yang disapa. Perbedaan itu menentukan: yang pertama bisa dilanggar, dan yang kedua tidak bisa diubah sama sekali. Mengingkari kedudukan berbeda dari melarang perbuatan, sebab yang pertama tidak bisa dilanggar oleh siapa pun.
  • Huruf di depan kata terakhirnya huruf tambahan yang menguatkan pengingkaran, sehingga yang dinyatakan bukan sekadar bahwa ia bukan penguasa melainkan bahwa ia sama sekali bukan. Susunan penguat pengingkaran seperti itu dipakai Allah juga di 86:14, dan di kedua tempat itu yang ditutup seluruh kemungkinannya. Huruf tambahan yang menguatkan pengingkaran menutup seluruh kemungkinan sebelum satu pun sempat dibayangkan. Jalan terakhir yang ditutup meniadakan seluruh cara cadangan yang biasa dipikirkan orang.
  • Susunan ayat ini menaruh keterangan sebelum kata terakhirnya, yaitu atas mereka lebih dulu, baru kata yang menyatakan kedudukan. Susunan yang mendahulukan keterangan dipakai Allah untuk menegaskan, dan yang ditegaskan bukan bahwa ia bukan penguasa melainkan atas siapa kekuasaan itu tidak dimilikinya. Mendahulukan keterangan menaruh tekanan pada atas siapa kekuasaan itu tidak ada, bukan pada kekuasaannya sendiri. Akar yang menyebut penulisan lalu memberi kata untuk penguasa menyatukan keduanya lewat menetapkan.
  • Ayat ini menutup satu-satunya jalan yang tersisa bagi orang yang sudah memberi peringatan dan tidak didengarkan, yaitu memaksa. Jadi Allah tidak menyediakan cara cadangan. Apa yang tersisa bagi seseorang yang sungguh-sungguh menginginkan kebaikan orang lain ketika memaksa dinyatakan berada di luar kedudukannya? Satu-satunya jalan yang tersisa bagi yang tidak didengarkan justru ditutup, dan tidak ada cara cadangan yang disebut. Akar yang menyebut penulisan lalu memberi kata untuk penguasa menyatukan keduanya lewat menetapkan.