فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَ
Allah akan mengazabnya dengan azab yang terbesar.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَيُعَذِّبُهُ اللَّهُ الْعَذَابَ الْأَكْبَرَfa-yu'adzdzibuhu llaahu l-'adzaaba l-akbaraAllah akan mengazabnya dengan azab yang terbesar
Terjemahan per kata (4 kata)
- فَيُعَذِّبُهُfa-yu'adzdzibuhumaka Dia mengazabnya
- اللَّهُllaahuAllah
- الْعَذَابَl-'adzaabaazab
- الْأَكْبَرَl-akbarayang terbesar
Inti bacaan
Konsekuensi tegas bagi penolakan yang disengaja: 'Allah akan mengazabnya dengan azab yang paling besar', penegasan bahwa meski penyampai pesan tidak bertanggung jawab atas hasil, konsekuensi bagi yang menolak tetap nyata dan serius.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْأَكْبَرَ, al-akbara) berbentuk elatif bertakrif dan diterjemahkan dengan huruf kecil sebagai "yang terbesar", bukan "yang paling besar" seperti pada draf, konsisten dengan pola elatif dan dengan rangkaian yang sama persis di 87:12 yang menyebut api yang terbesar. Kata ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini.
Akar (الْأَكْبَرَ, al-akbara) berarti besar. Akar itu dipakai di 153 ayat, antara lain 2:217, 9:3, 24:11, 40:57, dan 87:12. Kesejajaran dengan 87:12 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai elatif dari akar yang sama untuk menerangkan azab.
Nama (اللَّهُ, Allaahu) disebut di ayat ini, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebut nama-Nya. Dua puluh lima ayat lainnya menyebut Dia lewat kata ganti, lewat bentuk kata kerja, atau tidak menyebut-Nya sama sekali. Jadi nama-Nya muncul sekali saja, dan tepat di ayat yang menyebut azab.
Kesejajaran dengan 87:7 patut dicatat, sebab di surah itu pun nama-Nya cuma disebut sekali dari sembilan belas ayat. Jadi dua surah bertetangga sama-sama menahan penyebutan nama-Nya sampai satu tempat saja. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Kata kerja (فَيُعَذِّبُهُ, fa-yu'adzdzibuhu) berpola kedua dan berbentuk sekarang, dan pelakunya disebut sesudahnya. Jadi susunannya menaruh perbuatan lebih dulu dan pelakunya belakangan, sehingga nama-Nya jatuh di tengah ayat, bukan di awalnya.
Kata (الْعَذَابَ, al-'adzaaba) berasal dari akar yang sama dengan kata kerjanya, sehingga perbuatan dan objeknya berbagi satu sumber. Susunan yang mengulang akar seperti itu dipakai untuk menegaskan, sama seperti susunan di 88:21. Jadi dua ayat di bagian penutup surah ini memakai cara menguatkan yang sama.
Bentuk (فَيُعَذِّبُهُ, fa-yu'adzdzibuhu) dibuka huruf fa yang menyambungkannya kepada 88:23, sehingga kedua ayat itu satu kalimat. Jadi yang berpaling dan yang diazab tidak disebut sebagai dua perkara melainkan sebagai satu rangkaian sebab dan akibat.
Kata (الْعَذَابَ, al-'adzaaba) bertakrif, sedangkan kata sifatnya juga bertakrif. Jadi keduanya terikat sebagai satu satuan, dan azabnya disebut sebagai yang sudah tertentu. Bandingkan dengan api di 88:4 yang tidak bertakrif, sehingga dua penyebutan siksa di surah ini memakai dua cara penakrifan yang berbeda.
Kata (اللَّهُ, Allaahu) berbaris dammah karena menjadi pelaku bagi kata kerja di depannya. Jadi nama-Nya tidak berdiri sebagai pokok kalimat yang disebut lebih dulu melainkan sebagai pelaku yang menyusul perbuatannya. Susunan itu tidak dipakai lagi di surah ini, sebab nama-Nya cuma disebut sekali.
Tafsiran
Ayat ini mengancam orang yang berpaling dan kufur dengan azab Allah sendiri, bukan Nabi, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya dipakai di 153 ayat, antara lain 2:217, 9:3, 24:11, 40:57, dan 87:12.
Kesejajaran dengan 87:12 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan memakai elatif dari akar yang sama untuk menerangkan azab. Jadi dua surah berurutan menutup ancamannya dengan bentuk kata yang sejenis.
Nama Allah disebut di ayat ini, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebut nama-Nya. Dua puluh lima ayat lainnya menyebut Dia lewat kata ganti, lewat bentuk kata kerja, atau tidak menyebut-Nya sama sekali. Jadi nama-Nya muncul sekali saja, dan tepat di ayat yang menyebut azab.
Kesejajaran dengan 87:7 patut dicatat, sebab di surah itu pun nama-Nya cuma disebut sekali dari sembilan belas ayat. Jadi dua surah bertetangga sama-sama menahan penyebutan nama-Nya sampai satu tempat saja, dan Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Kata ketiganya bertakrif, sedangkan kata sifatnya juga bertakrif, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan dan azabnya disebut sebagai yang sudah tertentu. Bandingkan dengan api di 88:4 yang tidak bertakrif, sehingga dua penyebutan siksa di surah ini memakai dua cara penakrifan yang berbeda. Nama Allah berbaris dammah karena menjadi pelaku bagi kata kerja di depannya, bukan pokok kalimat yang disebut lebih dulu.
Renungan dan Hikmah
- Nama Allah disebut di ayat ini, dan ini satu-satunya tempat di dalam surah ini yang menyebut nama-Nya. Dua puluh lima ayat lainnya menyebut Dia lewat kata ganti, lewat bentuk kata kerja, atau tidak menyebut-Nya sama sekali. Jadi nama-Nya muncul sekali saja, dan tepat di ayat yang menyebut azab, bukan di ayat yang menyebut taman. Sebuah nama yang muncul tepat sekali di dalam satu surah menandai ayat tempatnya muncul tanpa tanda lain apa pun.
- Kesejajaran dengan 87:7 patut dicatat, sebab di surah itu pun nama Allah cuma disebut sekali dari sembilan belas ayat. Jadi dua surah bertetangga sama-sama menahan penyebutan nama-Nya sampai satu tempat saja. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya berdekatan. Dua surah bertetangga yang sama-sama menahan nama-Nya sampai satu tempat saja menandai keduanya tanpa saling menyebut.
- Kata terakhirnya berbentuk elatif bertakrif dan muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya dipakai di 153 ayat, antara lain 2:217, 9:3, 24:11, 40:57, dan 87:12. Di 87:12 Allah memakai elatif dari akar yang sama untuk menerangkan api. Jadi dua surah berurutan menutup ancamannya dengan bentuk kata yang sejenis. Dua surah berurutan yang menutup ancamannya dengan bentuk kata sejenis menaruh keduanya di dalam satu pola.
- Kata kerjanya berpola kedua dan berbentuk sekarang, dan pelakunya disebut sesudahnya. Jadi susunannya menaruh perbuatan lebih dulu dan pelakunya belakangan, sehingga nama Allah jatuh di tengah ayat, bukan di awalnya. Urutan itu membuat perbuatannya terbaca lebih dulu daripada siapa yang mengerjakannya. Menaruh perbuatan sebelum pelakunya membuat yang dikerjakan terbaca lebih dulu daripada siapa yang mengerjakannya. Memisahkan yang memperingatkan dari yang menghukum mengubah cara peringatan itu disampaikan.
- Kata ketiganya berasal dari akar yang sama dengan kata kerjanya, sehingga perbuatan dan objeknya berbagi satu sumber. Susunan yang mengulang akar seperti itu dipakai Allah untuk menegaskan, sama seperti susunan di 88:21. Jadi dua ayat di bagian penutup surah ini memakai cara menguatkan yang sama tanpa menambah kata baru. Mengulang akar untuk perbuatan dan objeknya menegaskan tanpa menambah satu kata baru pun ke dalam kalimatnya. Sebuah nama yang muncul tepat sekali menandai ayat tempatnya muncul tanpa tanda lain apa pun.
- Ayat 88:22 mengingkari kekuasaan orang yang disapa, dan ayat ini menyebut siapa yang berkuasa. Jadi Allah memisahkan dengan tegas antara yang memberi peringatan dan yang menjatuhkan hukuman. Apa yang berubah pada cara seseorang menyampaikan sesuatu ketika ia tahu bahwa akibatnya sepenuhnya bukan di tangannya? Memisahkan yang memberi peringatan dari yang menjatuhkan hukuman mengubah cara peringatan itu disampaikan. Sebuah nama yang muncul tepat sekali menandai ayat tempatnya muncul tanpa tanda lain apa pun.