بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

وَالْفَجْرِ

Demi fajar,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالْفَجْرِwa-l-fajridemi fajar

Terjemahan per kata (1 kata)

  1. وَالْفَجْرِwa-l-fajridemi fajar

Inti bacaan

Pembukaan Al-Fajr dengan sumpah demi waktu subuh: 'demi fajar', penggunaan momen transisi dari gelap ke terang sebagai objek sumpah pembuka yang penuh makna simbolis.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Kata (وَالْفَجْرِ, wa-l-fajri) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan ia sekaligus menjadi nama surahnya.

Akar (وَالْفَجْرِ, wa-l-fajri) berarti membelah dan menerobos. Akar itu dipakai di 21 ayat, antara lain 2:60, 17:78, 54:12, 82:14, dan 97:5. Di 2:60 dan 54:12 akar itu dipakai untuk air yang memancar keluar setelah sesuatu terbelah, dan di 17:78 serta 97:5 untuk waktu fajar.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar yang sama juga memberi kata untuk kedurhakaan, antara lain di 82:14 dan 91:8. Jadi satu akar memikul fajar, air yang memancar, dan pelanggaran batas. Yang menyatukan seluruhnya sesuatu yang membelah dan menerobos, sebab fajar membelah gelap dan yang durhaka menerobos batas. Kata (وَالْفَجْرِ, wa-l-fajri) sendiri tidak dipakai untuk kedurhakaan di satu pun tempat.

Kesejajaran dengan 91:8 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana menyebut kedurhakaan yang diilhamkan kepada jiwa. Jadi akar yang menamai surah ini juga menamai lawan dari yang dituntutnya. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Bentuk (وَالْفَجْرِ, wa-l-fajri) berbaris kasrah karena berada sesudah huruf sumpah.

Huruf waw di depan (وَالْفَجْرِ, wa-l-fajri) huruf sumpah, bukan kata sambung, dan itulah yang membuat kata sesudahnya berbaris kasrah. Bentuk sumpah semacam ini dipakai untuk membuka banyak surah pendek, antara lain di 86:1, 91:1, 92:1, 93:1, dan 95:1.

Kata (وَالْفَجْرِ, wa-l-fajri) bertakrif, sehingga yang disumpahkan fajar sebagai jenis, bukan satu fajar tertentu. Ketertentuan yang menyebut jenis itu berlaku pula pada dua kata di 89:3, sedangkan kata di 89:2 justru tidak bertakrif. Jadi rangkaian sumpah ini tidak seragam penakrifannya.

Susunan surah ini juga patut dicatat. Empat ayat pertama seluruhnya berupa sumpah, dan 89:5 menyela dengan pertanyaan sebelum jawaban sumpahnya datang. Susunan yang menyela rangkaian sumpah dengan pertanyaan itu dipakai juga di 86:2, dan kedua surah itu berdekatan letaknya.

Sumpah di surah ini seluruhnya menyebut waktu atau bilangan, yaitu fajar, malam yang sepuluh, yang genap dan yang ganjil, serta malam yang berlalu. Jadi tidak ada satu pun benda berwujud yang disumpahkan, berbeda dari 86:1 yang menyumpahkan langit dan 91:1 yang menyumpahkan matahari.

Rima surah ini patut dicatat. Dua puluh tiga ayat pertamanya berakhir dengan bunyi yang berdekatan, dan mulai 89:24 bunyi ujungnya berganti. Jadi surahnya terbagi dua oleh bunyi, dan batas itu jatuh di ayat yang memuat ucapan penyesalan manusia. Al-Qur'an tidak menandai pembagian itu dengan satu kata pun.

Kata (وَالْفَجْرِ, wa-l-fajri) berdiri sendirian sebagai satu ayat penuh, dan ia ayat terpendek di dalam surah ini. Ayat sependek satu kata jarang dipakai di dalam Al-Qur'an, dan di sini ia dipakai untuk membuka surahnya. Jadi surah tiga puluh ayat ini dibuka dengan satu kata saja.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan sumpah demi fajar, dan katanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini sekaligus menjadi nama surahnya.

Akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 2:60, 17:78, 54:12, 82:14, dan 97:5. Di 2:60 dan 54:12 akar itu dipakai untuk air yang memancar keluar setelah sesuatu terbelah, dan di 17:78 serta 97:5 untuk waktu fajar.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa akar yang sama juga memberi kata untuk kedurhakaan, antara lain di 82:14 dan 91:8. Jadi satu akar memikul fajar, air yang memancar, dan pelanggaran batas. Yang menyatukan seluruhnya sesuatu yang membelah dan menerobos.

Sumpah di surah ini seluruhnya menyebut waktu atau bilangan, yaitu fajar, malam yang sepuluh, yang genap dan yang ganjil, serta malam yang berlalu. Jadi tidak ada satu pun benda berwujud yang disumpahkan, berbeda dari 86:1 yang menyumpahkan langit dan 91:1 yang menyumpahkan matahari.

Rima surah ini patut dicatat. Dua puluh tiga ayat pertamanya berakhir dengan bunyi yang berdekatan, dan mulai 89:24 bunyi ujungnya berganti. Jadi surahnya terbagi dua oleh bunyi, dan batas itu jatuh di ayat yang memuat ucapan penyesalan manusia. Katanya juga berdiri sendirian sebagai satu ayat penuh, dan ia ayat terpendek di dalam surah ini. Ayat sependek satu kata jarang dipakai di dalam Al-Qur'an, dan di sini ia dipakai untuk membuka surahnya yang berisi tiga puluh ayat.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata ayat ini dipakai di 21 ayat, antara lain 2:60, 17:78, 54:12, 82:14, dan 97:5, dan akar yang sama juga memberi kata untuk kedurhakaan di 82:14 dan 91:8. Jadi satu akar memikul fajar, air yang memancar, dan pelanggaran batas. Yang menyatukan seluruhnya sesuatu yang membelah, sebab fajar membelah gelap dan yang durhaka menerobos batas yang ditetapkan Allah. Satu akar yang memikul dua hal berlawanan menuntut pembacanya membaca gambarannya, bukan padanan katanya saja.
  • Kata ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan ia sekaligus menjadi nama surahnya. Jadi seluruh surah tiga puluh ayat ini dinamai dengan sebuah kata yang tidak muncul lagi di tempat mana pun dalam bentuk itu. Nama yang dipilih Allah bagi surahnya karena itu tidak bisa diterangkan lewat pemakaian di tempat lain. Nama yang tidak punya pembanding di tempat lain tidak bisa diterangkan lewat pemakaian, dan cuma bisa ditimbang dari letaknya.
  • Sumpah di surah ini seluruhnya menyebut waktu atau bilangan, yaitu fajar, malam yang sepuluh, yang genap dan yang ganjil, serta malam yang berlalu. Jadi tidak ada satu pun benda berwujud yang disumpahkan Allah, berbeda dari 86:1 yang menyumpahkan langit dan 91:1 yang menyumpahkan matahari. Apa yang bisa dipegang seseorang ketika yang dijadikan saksi seluruhnya perkara yang tidak bisa disentuh? Sesuatu yang tidak bisa disentuh tetap bisa dijadikan saksi, dan itu menuntut kepercayaan yang berbeda dari melihat benda.
  • Kata ini bertakrif, sehingga yang disumpahkan fajar sebagai jenis, bukan satu fajar tertentu. Ketertentuan itu berlaku pula pada dua kata di 89:3, sedangkan kata di 89:2 justru tidak bertakrif. Jadi rangkaian sumpah yang dipakai Allah di sini tidak seragam penakrifannya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Penakrifan yang tidak seragam di dalam satu rangkaian menandai bahwa keseragaman bukan yang dituju susunannya.
  • Empat ayat pertama seluruhnya berupa sumpah, dan 89:5 menyela dengan pertanyaan sebelum jawaban sumpahnya datang. Susunan yang menyela rangkaian sumpah dengan pertanyaan itu dipakai Allah juga di 86:2, dan kedua surah itu berdekatan letaknya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Sebuah pertanyaan yang menyela rangkaian sumpah menahan jawabannya, dan penahanan itu bagian dari cara ayatnya bekerja. Gambaran yang bertahan di balik padanan yang berganti menerangkan lebih banyak daripada kamus mana pun.
  • Huruf di depan katanya huruf sumpah, bukan kata sambung, dan itulah yang membuat kata sesudahnya berbaris kasrah. Bentuk sumpah semacam ini dipakai Allah untuk membuka banyak surah pendek, antara lain di 86:1, 91:1, 92:1, 93:1, dan 95:1. Jadi pembuka surah ini salah satu dari sederet pembuka yang memakai rangka yang sama. Rangka pembuka yang berulang di banyak surah menandai keluarga bentuk, bukan pengulangan yang kebetulan terjadi.