وَلَيَالٍ عَشْرٍ

Dan malam yang sepuluh,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَيَالٍ عَشْرٍwa-layaalin 'asyrindan malam yang sepuluh

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَلَيَالٍwa-layaalindan malam-malam
  2. عَشْرٍ'asyrinsepuluh

Inti bacaan

Sumpah demi periode waktu spesifik: 'dan malam yang sepuluh', rujukan pada rentang waktu tertentu, kekayaan makna yang sengaja dibiarkan terbuka bagi berbagai interpretasi.

Penjelasan pilihan kata

Kata (عَشْرٍ, 'asyrin) muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 7:142 dan 89:2. Di 7:142 tertulis bilangan itu sebagai tambahan bagi tiga puluh malam sehingga genap empat puluh, dan di sini ia berdiri sendiri tanpa bilangan lain.

Akar (عَشْرٍ, 'asyrin) berarti sepuluh. Akar itu dipakai di 26 ayat, antara lain 2:196, 5:89, 7:142, 11:13, dan 81:4. Di 2:196 dan 5:89 akar itu dipakai untuk hitungan hari yang ditetapkan, dan di 11:13 untuk tantangan mendatangkan sepuluh surah.

Kata (وَلَيَالٍ, wa layaalin) tidak bertakrif, berbeda dari kata bertakrif di 89:1 dan dua kata bertakrif di 89:3. Jadi ayat ini satu-satunya di dalam rangkaian sumpah yang bendanya tidak bertakrif, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu dengan satu kalimat pun.

Bentuk (وَلَيَالٍ, wa layaalin) berbentuk jamak, sedangkan kata di 89:4 berbentuk tunggal dan bertakrif. Jadi kata untuk malam muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua bentuk yang berbeda: yang di sini banyak dan tak tertentu, dan yang di sana satu dan tertentu.

Akar (وَلَيَالٍ, wa layaalin) berarti malam. Akar itu dipakai di 92 ayat, antara lain 2:164, 17:1, 73:2, 92:1, dan 97:3. Di 97:3 akar itu dipakai untuk malam yang lebih baik daripada seribu bulan, dan di 17:1 untuk malam perjalanan yang dijalankan.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebutkan malam yang mana, tidak disebutkan pada bulan apa, dan tidak disebutkan mengapa sepuluh. Al-Qur'an membiarkan seluruhnya terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.

Susunan ayat ini menaruh bilangan sesudah bendanya, yaitu malam lebih dulu dan sepuluh belakangan. Susunan yang sama dipakai di 7:142 pada kata yang lain. Jadi yang ditekankan bendanya, dan bilangannya datang sebagai keterangan yang menyusul.

Ayat ini yang terpendek kedua di dalam rangkaian sumpahnya, dan seluruh empat ayat pembuka surah ini tidak satu pun lebih dari empat kata. Jadi rangkaian sumpahnya dibangun dari ayat-ayat yang sangat pendek, dan kependekan itu berhenti di 89:5 yang jauh lebih panjang.

Kata (وَلَيَالٍ, wa layaalin) memakai huruf waw yang bisa dibaca sebagai huruf sumpah yang berulang atau sebagai kata sambung. Al-Qur'an tidak menyatakan mana yang dimaksud, sehingga keduanya tetap terbuka. Ketidakpastian itu berlaku pula pada tiga huruf waw di 89:3 dan 89:4, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama.

Bentuk (عَشْرٍ, 'asyrin) berbaris kasrah mengikuti kata bendanya, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan. Jadi bilangan itu tidak berdiri sendiri melainkan menempel pada malamnya. Susunan bilangan yang menempel seperti itu tidak dipakai lagi di dalam surah ini, sebab ayat-ayat lainnya tidak memuat bilangan.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian sumpah dengan sepuluh malam, dan kata bilangannya muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 7:142 dan 89:2.

Di 7:142 bilangan itu tertulis sebagai tambahan bagi tiga puluh malam sehingga genap empat puluh, dan di sini ia berdiri sendiri tanpa bilangan lain. Akarnya dipakai di 26 ayat, antara lain 2:196, 5:89, 7:142, 11:13, dan 81:4.

Kata pertamanya tidak bertakrif, berbeda dari kata bertakrif di 89:1 dan dua kata bertakrif di 89:3. Jadi ayat ini satu-satunya di dalam rangkaian sumpah yang bendanya tidak bertakrif, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.

Yang tidak disebut di ayat ini juga menerangkan. Tidak disebutkan malam yang mana, tidak disebutkan pada bulan apa, dan tidak disebutkan mengapa sepuluh. Al-Qur'an membiarkan seluruhnya terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih menutupnya dengan satu pilihan.

Huruf di depan kata pertamanya bisa dibaca sebagai huruf sumpah yang berulang atau sebagai kata sambung, dan Al-Qur'an tidak menyatakan mana yang dimaksud. Ketidakpastian itu berlaku pula pada tiga huruf yang sama di 89:3 dan 89:4, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama alih-alih memilihkan salah satunya. Bentuk bilangannya berbaris kasrah mengikuti kata bendanya, sehingga keduanya terikat sebagai satu satuan dan bilangan itu tidak berdiri sendiri.

Renungan dan Hikmah

  • Kata bilangan di ayat ini muncul 2 kali di 2 surah, yaitu di 7:142 dan 89:2. Di 7:142 bilangan itu tertulis sebagai tambahan bagi tiga puluh malam sehingga genap empat puluh, dan di sini ia berdiri sendiri tanpa bilangan lain. Jadi Allah memakai bilangan yang sama di dua kedudukan yang berbeda: sebagai tambahan dan sebagai berdiri sendiri. Satu bilangan pada dua kedudukan berbeda menerangkan bahwa yang menentukan bukan angkanya melainkan letaknya.
  • Kata pertamanya tidak bertakrif, berbeda dari kata bertakrif di 89:1 dan dua kata bertakrif di 89:3. Jadi ayat ini satu-satunya di dalam rangkaian sumpah yang bendanya tidak bertakrif. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu, dan yang bisa dicatat cuma bahwa Allah tidak menyeragamkan penakrifan di dalam satu rangkaian. Ketiadaan kata sandang di tengah rangkaian yang bertakrif menandai bahwa keseragaman bukan yang dituju.
  • Kata pertamanya berbentuk jamak, sedangkan kata untuk malam di 89:4 berbentuk tunggal dan bertakrif. Jadi kata untuk malam muncul dua kali di dalam surah ini dengan dua bentuk yang berbeda: yang di sini banyak dan tak tertentu, dan yang di sana satu dan tertentu. Allah tidak menerangkan perbedaan itu. Dua bentuk dari satu akar di dalam satu rangkaian menuntut pembacanya memperhatikan bentuk, bukan cuma arti. Rangkaian yang tidak seragam penakrifannya menandai bahwa keseragaman bukan yang dituju susunannya.
  • Allah tidak menyebutkan malam yang mana, tidak menyebutkan pada bulan apa, dan tidak menyebutkan mengapa sepuluh. Al-Qur'an membiarkan seluruhnya terbuka, dan terjemahannya menahan keterbukaan yang sama. Apa yang ditambahkan seseorang ke dalam ayat ini ketika ia memastikan malam mana yang dimaksud tanpa satu kata pun di dalamnya yang menyebutnya? Yang dibiarkan terbuka teksnya tidak boleh ditutup penerjemahnya, sebab menutupnya menambahkan yang tidak tertulis.
  • Akar kata bilangannya dipakai di 26 ayat, antara lain 2:196, 5:89, 7:142, 11:13, dan 81:4. Di 2:196 dan 5:89 akar itu dipakai Allah untuk hitungan hari yang ditetapkan, dan di 11:13 untuk tantangan mendatangkan sepuluh surah. Jadi akar yang sama menghitung hari ibadah dan menghitung surah yang ditantangkan. Akar yang menghitung hari ibadah dan menghitung tantangan menaruh keduanya di dalam satu ukuran kata. Bilangan yang tidak diterangkan sebabnya menuntut pembacanya menahan diri dari mengisinya sendiri.
  • Ayat ini yang terpendek kedua di dalam rangkaian sumpahnya, dan seluruh empat ayat pembuka surah ini tidak satu pun lebih dari empat kata. Jadi Allah membangun rangkaian sumpahnya dari ayat-ayat yang sangat pendek, dan kependekan itu berhenti di 89:5 yang jauh lebih panjang daripada keempatnya. Ayat-ayat yang sangat pendek membuat pembacanya bergerak cepat, dan pergerakan itu berhenti tiba-tiba di ayat kelima. Bilangan yang tidak diterangkan sebabnya menuntut pembacanya menahan diri dari mengisinya sendiri.