وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ
Dan yang genap dan yang ganjil,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِwa-sy-syaf'i wa-l-witridan yang genap dan yang ganjil
Terjemahan per kata (2 kata)
- وَالشَّفْعِwa-sy-syaf'idan demi yang genap
- وَالْوَتْرِwa-l-witridan yang ganjil
Inti bacaan
Sumpah demi konsep matematis universal: 'dan yang genap dan yang ganjil', penggunaan konsep bilangan dasar sebagai objek sumpah, prinsip yang mencakup keseluruhan realitas terstruktur.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَالشَّفْعِ, wa-sy-syaf'i) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan kata (وَالْوَتْرِ, wa-l-watri) juga muncul 1 kali. Jadi kedua kata di ayat ini sama-sama tidak punya pembanding di tempat lain mana pun.
Akar (وَالشَّفْعِ, wa-sy-syaf'i) berarti menggenapkan yang ganjil. Akar itu dipakai di 26 ayat, antara lain 2:48, 2:255, 20:109, 53:26, dan 74:48. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di hampir seluruh pemakaian lainnya akar itu memberi kata untuk pertolongan yang diminta kepada Allah, bukan untuk bilangan.
Jadi akar yang di dua puluh lima ayat lain menyebut syafaat, di sini dipakai untuk bilangan yang genap. Yang menyatukan keduanya gambaran sesuatu yang menjadi berpasangan, sebab yang memberi pertolongan menggenapi yang ditolongnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Kata (وَالشَّفْعِ, wa-sy-syaf'i) di sini menyebut bilangan, bukan pertolongan.
Akar (وَالْوَتْرِ, wa-l-watri) berarti ganjil. Akar itu cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 23:44, 47:35, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai. Di 23:44 akar itu dipakai untuk rasul yang dikirim berturut-turut, dan di 47:35 untuk amal yang tidak dikurangi.
Jadi satu akar yang cuma hidup di tiga ayat memikul berturut-turut, tidak dikurangi, dan bilangan ganjil. Yang menyatukan seluruhnya gambaran sesuatu yang berdiri sendiri tanpa pasangan atau yang menyusul satu demi satu, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya. Kata (وَالْوَتْرِ, wa-l-watri) menjadi pasangannya, dan keduanya berbaris kasrah.
Kedua kata di ayat ini bertakrif, sama seperti kata di 89:1 dan berbeda dari kata di 89:2. Jadi ayat ini memuat dua dari tiga kata bertakrif di dalam seluruh rangkaian sumpahnya. Ketertentuan itu menyatakan bahwa yang disumpahkan jenisnya, bukan satu bilangan tertentu. Bentuk (وَالْوَتْرِ, wa-l-watri) bertakrif, sama seperti pasangannya di ayat yang sama.
Susunan ayat ini menyandingkan dua hal yang saling berlawanan di dalam satu ayat pendek. Susunan berpasangan seperti itu berulang di surah ini pada beberapa tempat, antara lain di 89:15 dan 89:16 serta di 89:25 dan 89:26. Jadi surah ini berulang kali menaruh dua sisi berhadapan.
Yang disumpahkan di ayat ini mencakup seluruh bilangan tanpa kecuali, sebab tiap bilangan pasti genap atau ganjil. Jadi Al-Qur'an menyumpahkan sesuatu yang tidak menyisakan satu pun di luarnya. Bahasa Indonesia menahannya dengan dua kata sifat yang berlawanan, mengikuti kependekan yang sama.
Kata (وَالشَّفْعِ, wa-sy-syaf'i) dan pasangannya sama-sama berbaris kasrah karena berada sesudah huruf sumpah, sama seperti kata di 89:1 dan 89:2. Jadi keempat ayat pembuka surah ini seluruhnya memakai baris yang sama pada kata pokoknya, dan kesejajaran itu mengikat keempatnya menjadi satu rangkaian.
Ayat ini satu-satunya di dalam rangkaian sumpahnya yang memuat dua benda sekaligus, sedangkan tiga ayat lainnya masing-masing cuma satu. Jadi rangkaian sumpah surah ini menyebut lima hal di dalam empat ayat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu dengan satu kalimat pun.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan rangkaian sumpah dengan yang genap dan ganjil, dan kedua katanya masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an.
Akar kata pertamanya dipakai di 26 ayat, antara lain 2:48, 2:255, 20:109, 53:26, dan 74:48. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di hampir seluruh pemakaian lainnya akar itu memberi kata untuk pertolongan yang diminta kepada Allah, bukan untuk bilangan. Yang menyatukan keduanya gambaran sesuatu yang menjadi berpasangan.
Akar kata keduanya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 23:44, 47:35, dan ayat ini. Di 23:44 akar itu dipakai untuk rasul yang dikirim berturut-turut, dan di 47:35 untuk amal yang tidak dikurangi. Jadi satu akar yang cuma hidup di tiga ayat memikul berturut-turut, tidak dikurangi, dan bilangan ganjil.
Yang disumpahkan di ayat ini mencakup seluruh bilangan tanpa kecuali, sebab tiap bilangan pasti genap atau ganjil. Jadi Al-Qur'an menyumpahkan sesuatu yang tidak menyisakan satu pun di luarnya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun.
Ayat ini satu-satunya di dalam rangkaian sumpahnya yang memuat dua benda sekaligus, sedangkan tiga ayat lainnya masing-masing cuma satu. Jadi rangkaian sumpah surah ini menyebut lima hal di dalam empat ayat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu dengan satu kalimat pun. Kedua katanya bertakrif, sama seperti kata di 89:1 dan berbeda dari kata di 89:2, sehingga ayat ini memuat dua dari tiga kata bertakrif di dalam rangkaian sumpahnya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata pertama ayat ini dipakai di 26 ayat, antara lain 2:48, 2:255, 20:109, 53:26, dan 74:48, dan di hampir seluruh pemakaian lainnya akar itu memberi kata untuk pertolongan yang diminta kepada Allah. Jadi akar yang di dua puluh lima ayat lain menyebut syafaat, di sini dipakai untuk bilangan yang genap, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang menjadi berpasangan. Akar yang di puluhan ayat berarti satu hal dan sekali berarti hal lain menaruh gambarannya di atas padanannya.
- Akar kata keduanya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 23:44, 47:35, dan 89:3. Di 23:44 akar itu dipakai Allah untuk rasul yang dikirim berturut-turut, dan di 47:35 untuk amal yang tidak dikurangi. Jadi satu akar yang cuma hidup di tiga ayat memikul berturut-turut, tidak dikurangi, dan bilangan ganjil, dan ketiganya tidak dihubungkan Al-Qur'an. Akar yang cuma hidup di tiga ayat tidak menyediakan cukup pembanding, dan tiap pemakaiannya menjadi lebih berbobot.
- Yang disumpahkan di ayat ini mencakup seluruh bilangan tanpa kecuali, sebab tiap bilangan pasti genap atau ganjil. Jadi Allah menyumpahkan sesuatu yang tidak menyisakan satu pun di luarnya. Sebuah sumpah yang cakupannya menyeluruh bekerja berbeda dari sumpah atas satu benda tertentu yang bisa dibayangkan wujudnya. Sumpah yang cakupannya menyeluruh tidak menyisakan satu pun di luarnya, dan itu berbeda dari sumpah atas satu benda.
- Kedua kata di ayat ini masing-masing muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sehingga keduanya sama-sama tidak punya pembanding di tempat lain mana pun. Jadi pembacanya cuma punya ayat ini sendiri untuk menimbang apa yang dimaksud Allah dengan keduanya, dan kelangkaan sepadat itu tidak terjadi lagi di dalam surah ini. Dua kata langka di dalam satu ayat pendek memusatkan kelangkaan pada satu tempat yang tidak terulang. Akar yang berpindah maknanya tetap membawa gambaran yang sama, dan itulah yang menyatukan pemakaiannya.
- Kedua kata di ayat ini bertakrif, sama seperti kata di 89:1 dan berbeda dari kata di 89:2. Jadi ayat ini memuat dua dari tiga kata bertakrif di dalam seluruh rangkaian sumpahnya. Ketertentuan itu menyatakan bahwa yang disumpahkan Allah jenisnya, bukan satu bilangan tertentu yang sudah dikenal. Ketertentuan yang menyebut jenis berbeda dari ketertentuan yang menunjuk satu benda, dan keduanya memakai tanda yang sama. Sumpah yang tidak menyisakan satu pun di luarnya menuntut kepercayaan yang berbeda dari sumpah atas benda.
- Susunan ayat ini menyandingkan dua hal yang saling berlawanan di dalam satu ayat pendek. Susunan berpasangan seperti itu berulang di surah ini, antara lain di 89:15 dan 89:16 serta di 89:25 dan 89:26. Apa yang dikerjakan sebuah surah pada pembacanya ketika ia berulang kali menaruh dua sisi berhadapan tanpa menyatakan mana yang dimaksud? Dua sisi yang berhadapan tanpa keterangan menyerahkan penimbangannya kepada tiap orang yang membacanya sendiri.