وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ

Dan demi malam apabila berlalu,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِwa-l-layli idzaa yasridan demi malam apabila berlalu

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَاللَّيْلِwa-l-laylidan demi malam
  2. إِذَاidzaaapabila
  3. يَسْرِyasriberlalu

Inti bacaan

Sumpah demi pergerakan malam: 'dan demi malam apabila berlalu', penekanan pada sifat sementara dan berlalu dari waktu, pengingat tentang kefanaan setiap momen.

Penjelasan pilihan kata

Kata kerja (يَسْرِ, yasri) berasal dari akar yang berarti berjalan di malam hari. Akar itu cuma dipakai di 8 ayat, yaitu 11:81, 15:65, 17:1, 19:24, 20:77, 26:52, 44:23, dan ayat ini. Jadi ia salah satu akar yang jarang dipakai di seluruh Al-Qur'an.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 17:1 akar itu dipakai untuk perjalanan malam yang dijalankan atas hamba-Nya. Di 11:81, 15:65, 20:77, 26:52, dan 44:23 akar yang sama dipakai untuk perintah berjalan pada malam hari meninggalkan negeri yang akan dibinasakan. Kata (يَسْرِ, yasri) di sini berpelaku malam, bukan manusia yang diperintah berjalan.

Jadi akar yang di enam ayat lain selalu menyebut perjalanan malam yang diperintahkan, di sini menyebut malam itu sendiri yang berlalu. Yang berjalan bukan lagi manusia melainkan malamnya, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pemindahan itu dengan satu kalimat pun. Bentuk (يَسْرِ, yasri) berbentuk sekarang, berbeda dari bentuk lampau di ayat-ayat itu.

Bentuk (يَسْرِ, yasri) kehilangan huruf terakhirnya, sebab bentuk penuhnya berakhir dengan ya panjang. Penghilangan itu menjaga rima surahnya tetap seragam, dan bentuk semacam itu dipakai juga di 89:9 pada kata untuk lembah. Jadi dua ayat di surah ini memakai bentuk yang dipendekkan demi bunyi.

Kata untuk malam di ayat ini bertakrif dan berbentuk tunggal, berbeda dari bentuk jamak tak bertakrif di 89:2. Bentuk (يَسْرِ, yasri) yang menyusulnya menerangkan keadaannya. Jadi dua ayat di dalam satu rangkaian sumpah memakai kata yang seakar dengan dua bentuk yang berlawanan penakrifannya.

Kata (إِذَا, idzaa) menandai waktu, sehingga yang disumpahkan bukan malam secara umum melainkan malam pada saat ia berlalu. Susunan yang sama dipakai di 92:1 dan 93:2, dan di ketiga tempat itu yang disumpahkan malam pada keadaan tertentu, bukan malam sebagai benda.

Bentuk (يَسْرِ, yasri) berbentuk sekarang, sedangkan tiga ayat sumpah sebelumnya seluruhnya berupa kata benda. Jadi ayat ini satu-satunya di dalam rangkaian sumpahnya yang memuat kata kerja. Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu, dan yang bisa dicatat cuma bahwa ayat inilah yang menutup rangkaiannya.

Ayat ini menutup empat ayat sumpah, dan sesudahnya 89:5 berpindah kepada pertanyaan. Jadi rangkaian sumpahnya berhenti tanpa satu kata pun yang menandai bahwa ia selesai, dan yang menandainya cuma pergantian bentuk kalimat di ayat berikutnya.

Kata untuk malam di ayat ini berdiri di penutup rangkaian sumpah, sedangkan kata seakarnya di 89:2 berdiri di ayat kedua. Bentuk (يَسْرِ, yasri) menyusulnya sebagai kata kerja. Jadi rangkaian itu dibuka dan hampir ditutup oleh dua kata dari satu akar yang sama, dan di antaranya berdiri dua bilangan yang berlawanan.

Bentuk (إِذَا, idzaa) menandai waktu yang akan datang atau yang berulang, bukan waktu yang sudah lewat. Jadi malam yang disumpahkan bukan satu malam tertentu yang sudah berlalu melainkan malam mana pun pada saat ia berlalu. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian sumpah dengan malam yang berlalu, dan kata kerjanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 8 ayat, yaitu 11:81, 15:65, 17:1, 19:24, 20:77, 26:52, 44:23, dan ayat ini.

Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 17:1 akar itu dipakai untuk perjalanan malam yang dijalankan atas hamba-Nya, dan di 11:81, 15:65, 20:77, 26:52, serta 44:23 untuk perintah berjalan pada malam hari meninggalkan negeri yang akan dibinasakan.

Jadi akar yang di enam ayat lain selalu menyebut perjalanan malam yang diperintahkan, di sini menyebut malam itu sendiri yang berlalu. Yang berjalan bukan lagi manusia melainkan malamnya, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pemindahan itu dengan satu kalimat pun.

Bentuk kata kerjanya kehilangan huruf terakhirnya, sebab bentuk penuhnya berakhir dengan ya panjang. Penghilangan itu menjaga rima surahnya tetap seragam, dan bentuk semacam itu dipakai juga di 89:9 pada kata untuk lembah. Jadi dua ayat di surah ini memakai bentuk yang dipendekkan demi bunyi.

Kata keduanya berdiri di ayat penutup rangkaian sumpah, sedangkan kata seakarnya di 89:2 berdiri di ayat kedua. Jadi rangkaian itu dibuka dan hampir ditutup oleh dua kata dari satu akar yang sama, dan di antaranya berdiri dua bilangan yang berlawanan di 89:3. Kata ketiganya menandai waktu, sehingga yang disumpahkan bukan malam secara umum melainkan malam pada saat ia berlalu, dan susunan yang sama dipakai di 92:1 dan 93:2.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata kerjanya cuma dipakai di 8 ayat, yaitu 11:81, 15:65, 17:1, 19:24, 20:77, 26:52, 44:23, dan 89:4. Di 17:1 akar itu dipakai Allah untuk perjalanan malam yang dijalankan atas hamba-Nya, dan di lima ayat lainnya untuk perintah berjalan pada malam hari meninggalkan negeri yang akan dibinasakan. Akar yang jarang dipakai membuat tiap pemakaiannya menonjol, sebab pembandingnya sedikit dan mudah dihitung. Yang berjalan bisa berganti dari manusia kepada waktu tanpa satu huruf akarnya berubah sedikit pun.
  • Akar yang di enam ayat lain selalu menyebut perjalanan malam yang diperintahkan Allah, di sini menyebut malam itu sendiri yang berlalu. Jadi yang berjalan bukan lagi manusia melainkan malamnya. Al-Qur'an tidak menunjuk pemindahan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya yang cuma hidup di delapan ayat. Memindahkan perbuatan dari manusia kepada benda mengubah siapa yang bergerak tanpa mengubah satu huruf akarnya.
  • Bentuk kata kerjanya kehilangan huruf terakhirnya, sebab bentuk penuhnya berakhir dengan ya panjang. Penghilangan itu menjaga rima surahnya tetap seragam, dan bentuk semacam itu dipakai Allah juga di 89:9 pada kata untuk lembah. Jadi dua ayat di surah ini memakai bentuk yang dipendekkan demi bunyi, bukan demi makna. Bentuk yang dipendekkan demi bunyi menandai bahwa rima bagian dari susunannya, bukan hiasan yang bisa dilepaskan.
  • Bentuk kata kerjanya berbentuk sekarang, sedangkan tiga ayat sumpah sebelumnya seluruhnya berupa kata benda. Jadi ayat ini satu-satunya di dalam rangkaian sumpahnya yang memuat kata kerja. Allah tidak menerangkan perbedaan itu, dan yang bisa dicatat cuma bahwa ayat inilah yang menutup rangkaiannya. Satu kata kerja di antara kata benda menandai ayat tempatnya berdiri tanpa satu kata penanda pun. Yang berjalan bisa berganti dari manusia kepada waktu tanpa satu huruf akarnya berubah sedikit pun.
  • Kata ketiganya menandai waktu, sehingga yang disumpahkan bukan malam secara umum melainkan malam pada saat ia berlalu. Susunan yang sama dipakai Allah di 92:1 dan 93:2, dan di ketiga tempat itu yang disumpahkan malam pada keadaan tertentu, bukan malam sebagai benda yang berdiri sendiri. Menyumpahkan sesuatu pada keadaan tertentu lebih sempit daripada menyumpahkan bendanya, dan keduanya berbeda maksudnya. Rima yang dijaga sampai memendekkan kata menyatakan bahwa bunyi bagian dari susunan, bukan hiasan.
  • Ayat ini menutup empat ayat sumpah, dan sesudahnya 89:5 berpindah kepada pertanyaan. Jadi rangkaian sumpahnya berhenti tanpa satu kata pun yang menandai bahwa ia selesai. Apa yang dikerjakan sebuah rangkaian pada pembacanya ketika ia berhenti tanpa satu tanda pun bahwa yang berikutnya sudah berlainan jenis? Rangkaian yang berhenti tanpa tanda menuntut pembacanya menyadari sendiri bahwa yang berikutnya sudah berlainan. Rima yang dijaga sampai memendekkan kata menyatakan bahwa bunyi bagian dari susunan, bukan hiasan.