هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ
Bukankah pada yang demikian itu ada sumpah bagi orang yang berakal?
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍhal fii dzaalika qasamun li-dzii hijrinbukankah pada yang demikian itu ada sumpah bagi orang yang berakal
Terjemahan per kata (6 kata)
- هَلْhalapakah
- فِيfiipada
- ذَٰلِكَdzaalikaitu
- قَسَمٌqasamunsumpah
- لِذِيli-dziibagi pemilik
- حِجْرٍhijrinterlarang
Inti bacaan
Pertanyaan retoris tentang signifikansi rangkaian sumpah: 'bukankah pada yang demikian itu ada sumpah bagi orang yang berakal?', penegasan bahwa makna mendalam dari sumpah-sumpah ini hanya bisa diapresiasi oleh yang menggunakan akal secara aktif.
Penjelasan pilihan kata
Kata tunjuk (ذَٰلِكَ, dzaalika) menunjuk yang jauh dan dikonfirmasi morfologi, sehingga diterjemahkan "itu" dan draf sudah tepat pada bagian itu. Yang ditunjuknya empat ayat sumpah sebelumnya, dan Al-Qur'an tidak menamainya dengan satu kata pun.
Kata (حِجْرٍ, hijrin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya berarti menahan dan membatasi. Ia dipakai di 18 ayat, antara lain 6:138, 15:80, 17:22, 25:22, dan 25:53. Di 25:22 dan 25:53 akar itu dipakai untuk penghalang yang menahan sesuatu supaya tidak lewat.
Jadi akar yang di sebagian besar tempat menyebut penghalang, di sini memberi kata untuk akal. Yang menyatukan keduanya gambaran sesuatu yang menahan, sebab akal menahan seseorang dari perbuatan yang merugikannya. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Kata (حِجْرٍ, hijrin) di sini menyebut akal, bukan penghalang yang berupa benda.
Kata (قَسَمٌ, qasamun) berasal dari akar yang berarti membagi dan bersumpah. Akar itu dipakai di 33 ayat, antara lain 5:106, 56:75, 68:17, 69:38, dan 90:1. Di 56:75, 69:38, dan 90:1 akar itu dipakai untuk sumpah yang diucapkan Yang berfirman sendiri, sama seperti di ayat ini.
Susunan ayat ini berbentuk pertanyaan, tetapi tidak ada jawaban yang diberikan di ayat berikutnya. Yang datang sesudahnya justru pertanyaan lain di 89:6. Jadi dua pertanyaan berturut-turut dibiarkan tanpa jawaban, dan Al-Qur'an tidak menutup satu pun di antaranya.
Ayat ini jauh lebih panjang daripada empat ayat sebelumnya, yaitu enam kata berbanding satu sampai empat kata. Jadi panjangnya menyimpang tajam dari irama pembukanya, dan penyimpangan itu sendiri menandai bahwa bagian yang baru sedang dimulai tanpa satu kata penanda pun. Bentuk (قَسَمٌ, qasamun) tidak bertakrif, sehingga yang dinyatakan sebuah sumpah.
Kata (لِذِي, li-dzii) berarti bagi yang memiliki, dan susunan itu dipakai lagi di 89:7 dan 89:10 dengan bentuk yang berdekatan. Jadi tiga ayat di dalam bagian awal surah ini memakai susunan kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berbeda-beda: akal, tiang, dan pasak.
Bentuk (قَسَمٌ, qasamun) tidak bertakrif, sehingga yang dinyatakan sebuah sumpah, bukan sumpah yang sudah tertentu. Bahasa Indonesia menahannya dengan "ada sumpah", memakai kata keberadaan untuk menahan ketiadaan kata sandang alih-alih menyebutnya sebagai yang tertentu.
Kata (هَلْ, hal) huruf tanya, dan ia dipakai di sini untuk pertanyaan yang jawabannya sudah pasti. Bentuk semacam itu dipakai juga di 88:1 pada surah tetangga, dan di kedua tempat itu pertanyaannya tidak menunggu jawaban. Jadi dua surah berurutan sama-sama memakai bentuk tanya yang tidak meminta keterangan.
Kata (فِي ذَٰلِكَ, fii dzaalika) menyatakan berada di dalam, sehingga sumpahnya dinyatakan berada di dalam apa yang baru disebut. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa rangkaian itu berupa sumpah melainkan bahwa di dalamnya ada sumpah. Perbedaan itu terbawa di dalam satu huruf.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa rangkaian sumpah tersebut cukup sebagai bukti bagi orang yang berakal, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini.
Akarnya dipakai di 18 ayat, antara lain 6:138, 15:80, 17:22, 25:22, dan 25:53. Di 25:22 dan 25:53 akar itu dipakai untuk penghalang yang menahan sesuatu supaya tidak lewat. Jadi akar yang di sebagian besar tempat menyebut penghalang, di sini memberi kata untuk akal.
Yang menyatukan keduanya gambaran sesuatu yang menahan, sebab akal menahan seseorang dari perbuatan yang merugikannya. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya.
Ayat ini jauh lebih panjang daripada empat ayat sebelumnya, yaitu enam kata berbanding satu sampai empat kata. Jadi panjangnya menyimpang tajam dari irama pembukanya, dan penyimpangan itu sendiri menandai bahwa bagian yang baru sedang dimulai tanpa satu kata penanda pun.
Kata pertamanya huruf tanya yang dipakai untuk pertanyaan yang jawabannya sudah pasti. Bentuk semacam itu dipakai juga di 88:1 pada surah tetangga, dan di kedua tempat itu pertanyaannya tidak menunggu jawaban. Jadi dua surah berurutan sama-sama memakai bentuk tanya yang tidak meminta keterangan. Kata kelimanya berarti bagi yang memiliki, dan susunan itu dipakai lagi di 89:7 dan 89:10 dengan bentuk yang berdekatan, sehingga tiga ayat memakai rangka kepemilikan yang sama.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, dan akarnya dipakai di 18 ayat, antara lain 6:138, 15:80, 17:22, 25:22, dan 25:53. Di 25:22 dan 25:53 akar itu dipakai Allah untuk penghalang yang menahan sesuatu supaya tidak lewat. Jadi akal dinamai dengan akar yang gambarannya menahan, sebab akal menahan seseorang dari perbuatan yang merugikannya. Akal yang dinamai dengan akar yang berarti menahan menaruh gunanya pada apa yang dicegahnya, bukan pada apa yang dicapainya.
- Susunan ayat ini berbentuk pertanyaan, tetapi tidak ada jawaban yang diberikan di ayat berikutnya, sebab yang datang sesudahnya justru pertanyaan lain di 89:6. Jadi Allah membiarkan dua pertanyaan berturut-turut tanpa jawaban. Apa yang dikerjakan dua pertanyaan beruntun pada orang yang tidak diberi satu pun jawabannya? Dua pertanyaan beruntun tanpa jawaban memindahkan seluruh pekerjaan menjawab kepada yang membacanya.
- Ayat ini jauh lebih panjang daripada empat ayat sebelumnya, yaitu enam kata berbanding satu sampai empat kata. Jadi panjangnya menyimpang tajam dari irama pembukanya, dan penyimpangan itu sendiri menandai bahwa bagian yang baru sedang dimulai. Allah tidak menaruh satu kata penanda pun untuk peralihan itu. Panjang yang menyimpang dari irama sekelilingnya menandai peralihan lebih kuat daripada kata penanda mana pun. Akal yang dinamai penahan menaruh gunanya pada apa yang dicegahnya, bukan pada apa yang dihasilkannya.
- Kata tunjuk di ayat ini menunjuk yang jauh dan dikonfirmasi morfologi, dan yang ditunjuknya empat ayat sumpah sebelumnya. Allah tidak menamainya dengan satu kata pun. Jadi pembacanya harus menoleh sendiri ke belakang untuk mengetahui apa yang dimaksud, dan penunjukan itu tidak ditutup dengan penjelasan. Penunjukan yang tidak disertai penamaan menuntut pembacanya menoleh sendiri ke belakang untuk menemukannya. Pertanyaan yang tidak dijawab memindahkan seluruh pekerjaan menjawab kepada yang membacanya.
- Kata keempatnya berasal dari akar yang dipakai di 33 ayat, antara lain 5:106, 56:75, 68:17, 69:38, dan 90:1. Di 56:75, 69:38, dan 90:1 akar itu dipakai untuk sumpah yang diucapkan Allah sendiri, sama seperti di ayat ini. Jadi akar yang sama menamai sumpah manusia dan sumpah-Nya. Satu akar yang menamai sumpah manusia dan sumpah Allah menaruh keduanya di dalam satu kata tanpa menyamakannya. Akal yang dinamai penahan menaruh gunanya pada apa yang dicegahnya, bukan pada apa yang dihasilkannya.
- Kata kelimanya berarti bagi yang memiliki, dan susunan itu dipakai Allah lagi di 89:7 dan 89:10 dengan bentuk yang berdekatan. Jadi tiga ayat di dalam bagian awal surah ini memakai susunan kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berbeda-beda: akal, tiang, dan pasak. Yang pertama milik yang selamat, dan dua lainnya milik yang binasa. Susunan kepemilikan yang berulang di tiga ayat menandai ketiganya sebagai satu keluarga bentuk yang disengaja.