Ayat 89:6
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ
Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍa-lam tara kayfa fa'ala rabbuka bi-'aadintidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum Ad
Terjemahan per kata (6 kata)
- أَلَمْa-lamtidakkah
- تَرَtaraengkau memperhatikan
- كَيْفَkayfabagaimana
- فَعَلَfa'alamelakukan
- رَبُّكَrabbukaTuhanmu
- بِعَادٍbi-'aadindengan kaum Ad
Inti bacaan
Transisi menuju bukti historis: 'tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap kaum 'Ad', pengalihan dari sumpah kosmik menuju contoh serupa sejarah konkret sebagai bukti tambahan bagi argumen yang akan dibangun.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (تَرَ, tara) berasal dari akar yang berarti melihat dan menimbang. Akar itu dipakai di 271 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Bentuknya kehilangan huruf terakhirnya sebab didahului huruf yang menuntut pemotongan.
Susunan (أَلَمْ تَرَ, alam tara) berbentuk pertanyaan yang mengandung penegasan, sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan kepastian. Susunan itu dipakai di banyak tempat, antara lain di 2:243, 14:19, 22:18, 31:29, dan 105:1. Jadi ayat ini bukan susunan yang berdiri sendiri.
Kesejajaran dengan 105:1 patut dicatat, sebab surah itu juga membuka dengan rangkaian yang sama untuk mengingatkan sebuah peristiwa yang menimpa satu kaum. Jadi dua surah memakai pembuka yang sama untuk maksud yang berdekatan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.
Kata (رَبُّكَ, rabbuka) berasal dari akar yang berarti memelihara sampai matang, dan bentuk ini muncul tiga kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini, di 89:13, dan di 89:14. Jadi Allah disebut sebagai Tuhanmu tiga kali di dalam bagian yang menceritakan kaum-kaum terdahulu, dan penyebutan itu berhenti sesudah 89:14.
Bentuk (بِعَادٍ, bi-'aadin) nama diri dan tidak berakar menurut morfologi. Jadi ia salah satu dari beberapa nama diri yang disebut di dalam surah ini, bersama nama di 89:7, di 89:9, dan di 89:10. Empat nama itu seluruhnya berkumpul di lima ayat berturut-turut.
Kata kerja (فَعَلَ, fa'ala) berasal dari akar yang berarti berbuat. Akar itu dipakai di 100 ayat, antara lain 2:24, 5:79, 21:63, 26:19, dan 105:1. Di 105:1 akar itu dipakai di dalam rangkaian yang sama persis dengan ayat ini, yaitu bagaimana Tuhan berbuat terhadap suatu kaum.
Kata (كَيْفَ, kayfa) berbentuk kata tanya, dan yang ditanyakan caranya, bukan kejadiannya. Jadi yang diminta diperhatikan bukan bahwa hal itu terjadi melainkan bagaimana ia terjadi. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab keduanya menuntut perhatian yang berbeda.
Bagian yang dibuka ayat ini berlangsung sampai 89:14, yaitu sembilan ayat. Jadi cerita tentang kaum-kaum terdahulu memakan hampir sepertiga surahnya, dan sesudah itu 89:15 berpindah kepada manusia secara umum tanpa satu kata penghubung pun.
Kata (بِعَادٍ, bi-'aadin) didahului huruf ba yang menyatakan sasaran perbuatan, sehingga yang dinyatakan apa yang diperbuat terhadap mereka, bukan apa yang mereka perbuat. Jadi ayat ini menyebut mereka sebagai pihak yang dikenai, dan baru di 89:11 mereka disebut sebagai pihak yang berbuat.
Bentuk (فَعَلَ, fa'ala) berbentuk lampau, sehingga yang dinyatakan perbuatan yang sudah selesai. Bentuk lampau dipakai pada seluruh kata kerja di 89:6 sampai 89:13, sehingga delapan ayat berturut-turut menyebut perbuatan yang sudah terjadi tanpa satu pun bentuk yang menyebut apa yang akan datang.
Tafsiran
Ayat ini membuka peringatan historis tentang kaum Ad yang dibinasakan, dan susunan dua kata pertamanya berbentuk pertanyaan yang mengandung penegasan sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan kepastian.
Susunan itu dipakai di banyak tempat, antara lain di 2:243, 14:19, 22:18, 31:29, dan 105:1. Kesejajaran dengan 105:1 patut dicatat, sebab surah itu juga membuka dengan rangkaian yang sama untuk mengingatkan sebuah peristiwa yang menimpa satu kaum.
Kata untuk Tuhan di ayat ini muncul tiga kali di dalam surah ini, yaitu di ayat ini, di 89:13, dan di 89:14. Jadi Allah disebut sebagai Tuhanmu tiga kali di dalam bagian yang menceritakan kaum-kaum terdahulu, dan penyebutan itu berhenti sesudah 89:14.
Bagian yang dibuka ayat ini berlangsung sampai 89:14, yaitu sembilan ayat. Jadi cerita tentang kaum-kaum terdahulu memakan hampir sepertiga surahnya, dan sesudah itu 89:15 berpindah kepada manusia secara umum tanpa satu kata penghubung pun.
Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan sasaran perbuatan, sehingga yang dinyatakan apa yang diperbuat terhadap mereka, bukan apa yang mereka perbuat. Jadi ayat ini menyebut mereka sebagai pihak yang dikenai, dan baru di 89:11 mereka disebut sebagai pihak yang berbuat. Kata untuk Tuhan di ayat ini berbentuk laki-laki tunggal dengan kata ganti orang kedua, dan bentuk yang sama dipakai lagi di 89:13, 89:14, dan 89:22 sebelum berganti di 89:28.
Renungan dan Hikmah
- Susunan dua kata pertamanya dipakai di banyak tempat, antara lain di 2:243, 14:19, 22:18, 31:29, dan 105:1. Kesejajaran dengan 105:1 patut dicatat, sebab surah itu juga membuka dengan rangkaian yang sama untuk mengingatkan sebuah peristiwa yang menimpa satu kaum. Allah tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Pembuka yang berulang di banyak surah menandai keluarga bentuk, dan tiap anggotanya membawa peristiwanya sendiri.
- Kata ketiganya berbentuk kata tanya, dan yang ditanyakan caranya, bukan kejadiannya. Jadi yang diminta Allah diperhatikan bukan bahwa hal itu terjadi melainkan bagaimana ia terjadi. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya, sebab mengetahui bahwa sesuatu terjadi dan memperhatikan bagaimana ia terjadi menuntut perhatian yang berlainan. Bertanya tentang caranya menuntut perhatian yang berbeda dari sekadar mengetahui bahwa sesuatu pernah terjadi.
- Kata untuk Tuhan di ayat ini muncul tiga kali di dalam surah ini, yaitu di 89:6, 89:13, dan 89:14. Jadi Allah disebut sebagai Tuhanmu tiga kali di dalam bagian yang menceritakan kaum-kaum terdahulu, dan penyebutan itu berhenti sesudah 89:14. Sesudah itu Dia disebut dengan bentuk yang berbeda-beda sampai ujung surahnya. Sebuah sebutan yang berhenti dipakai sesudah satu bagian selesai menandai batas bagian itu tanpa kata penanda. Bertanya tentang caranya menuntut perhatian yang lebih daripada mengetahui bahwa sesuatu pernah terjadi.
- Bagian yang dibuka ayat ini berlangsung sampai 89:14, yaitu sembilan ayat. Jadi cerita tentang kaum-kaum terdahulu memakan hampir sepertiga surahnya, dan sesudah itu 89:15 berpindah kepada manusia secara umum tanpa satu kata penghubung pun. Allah tidak menandai peralihan itu dengan satu kata pun. Sepertiga surah yang diberikan kepada kisah terdahulu menyatakan bobotnya tanpa satu kalimat yang menerangkannya. Bertanya tentang caranya menuntut perhatian yang lebih daripada mengetahui bahwa sesuatu pernah terjadi.
- Kata terakhirnya nama diri dan tidak berakar menurut morfologi, dan ia salah satu dari beberapa nama yang disebut Allah di dalam surah ini bersama nama di 89:7, 89:9, dan 89:10. Empat nama itu seluruhnya berkumpul di lima ayat berturut-turut, dan tidak ada satu nama pun yang disebut di dua puluh lima ayat lainnya. Nama yang berkumpul di beberapa ayat lalu tidak muncul lagi menandai bagian itu sebagai satu kesatuan tersendiri. Sebutan yang berkumpul di satu bagian lalu berhenti menandai batas bagian itu tanpa kata penanda.
- Susunan pembukanya berbentuk pertanyaan yang mengandung penegasan, sehingga yang dinyatakan bukan keraguan melainkan kepastian. Jadi Allah bertanya untuk menegaskan, bukan untuk meminta keterangan. Sebuah pertanyaan yang jawabannya sudah pasti menuntut pembacanya mengakui, bukan menimbang, dan pengakuan itu tidak bisa ditunda. Pertanyaan yang jawabannya sudah pasti menuntut pengakuan, dan pengakuan tidak bisa ditunda seperti penimbangan. Apa yang berubah pada seseorang ketika ia diminta memperhatikan bagaimana sesuatu terjadi, bukan sekadar mengakui bahwa hal itu pernah terjadi?
Ayat 89:7
إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ
Iram yang mempunyai tiang-tiang tinggi,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِirama dzaati l-'imaadiIram yang mempunyai tiang-tiang tinggi
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِرَمَiramaIram
- ذَاتِdzaatiyang memiliki
- الْعِمَادِl-'imaaditiang-tiang
Inti bacaan
Identifikasi kemegahan spesifik: '(yaitu penduduk) Iram yang mempunyai tiang-tiang tinggi', detail konkret tentang kemegahan arsitektur yang menjadi kebanggaan peradaban yang akhirnya runtuh.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(yaitu penduduk)" tidak dipakai, sebab kalimat ini fragmen apositif lanjutan dari nama kaum di 89:6 tanpa penambahan kata pembuka. Kata (إِرَمَ, Irama) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan tidak berakar menurut morfologi, sehingga ia nama diri yang berdiri sendirian.
Kata (الْعِمَادِ, al-'imaadi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya berarti tiang penyangga. Ia cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 4:93, 5:95, 13:2, 31:10, 33:5, 89:7, dan 104:9, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 13:2 dan 31:10 akar itu dipakai untuk langit yang ditinggikan tanpa tiang yang terlihat. Jadi akar yang sama menyebut tiang yang tidak ada pada langit dan tiang yang dibanggakan sebuah kaum. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Kata (الْعِمَادِ, al-'imaadi) di sini menyebut tiang yang ada, bukan tiang yang tiada.
Di 104:9 akar yang sama dipakai untuk tiang-tiang yang memanjang pada api yang menutup penghuninya. Jadi akar ini memikul tiang langit yang tidak tampak, tiang bangunan yang dibanggakan, dan tiang yang mengurung. Ketiganya berjauhan maksudnya, dan yang menyatukannya cuma bentuk akarnya. Bentuk (الْعِمَادِ, al-'imaadi) bertakrif, sehingga yang disebut tiang sebagai jenis.
Di 4:93 dan 5:95 akar yang sama justru memberi kata untuk kesengajaan, yaitu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. Jadi satu akar yang cuma hidup di tujuh ayat memikul tiang penyangga dan niat yang disengaja, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang ditegakkan dengan maksud. Kata (إِرَمَ, Irama) mendahuluinya, dan keterangan ini melekat kepada nama itu.
Susunan (ذَاتِ الْعِمَادِ, dzaati l-'imaadi) memakai kata yang berarti yang memiliki, dan susunan itu dipakai lagi di 89:10 dengan bentuk berbeda serta di 89:5 pada kata yang lain. Jadi tiga ayat di bagian ini memakai susunan kepemilikan yang sama.
Bentuk (ذَاتِ, dzaati) berbentuk perempuan, mengikuti nama di depannya. Jadi kesesuaian bentuk itu menandai bahwa keterangan ini melekat kepada nama itu, bukan kepada kaum yang disebut di 89:6. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan.
Yang disebut di ayat ini kemegahan bangunannya, bukan kekuatan atau kekayaannya. Jadi yang dipilih Al-Qur'an untuk mengenalkan kaum itu justru apa yang mereka tegakkan dari batu, dan itulah yang tersisa dalam ingatan sesudah mereka tidak ada. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun.
Nama di awal ayat ini berbaris fathah meskipun kedudukannya menuntut kasrah, dan bentuk semacam itu memang lazim bagi nama diri tertentu di dalam bahasa Arab. Jadi ia menyimpang dari aturan baris yang berlaku bagi kata benda biasa, sama seperti dua nama di 89:9 dan 89:10.
Kata (الْعِمَادِ, al-'imaadi) berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut tiang-tiang sebagai jenis. Jadi Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak tiangnya, dan yang dinyatakan cuma bahwa kaum itu memilikinya. Bahasa Indonesia menahannya dengan bentuk jamak, mengikuti apa yang tertulis.
Tafsiran
Ayat ini merinci identitas kaum Ad: penduduk Iram yang bertiang tinggi, dan nama di awalnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an serta tidak berakar menurut morfologi.
Kata terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 4:93, 5:95, 13:2, 31:10, 33:5, 89:7, dan 104:9.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 13:2 dan 31:10 akar itu dipakai untuk langit yang ditinggikan tanpa tiang yang terlihat. Jadi akar yang sama menyebut tiang yang tidak ada pada langit dan tiang yang dibanggakan sebuah kaum, dan di 104:9 ia menyebut tiang yang mengurung penghuni api.
Yang disebut di ayat ini kemegahan bangunannya, bukan kekuatan atau kekayaannya. Jadi yang dipilih Al-Qur'an untuk mengenalkan kaum itu justru apa yang mereka tegakkan dari batu, dan itulah yang tersisa dalam ingatan sesudah mereka tidak ada.
Kata terakhirnya berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut tiang-tiang sebagai jenis. Jadi Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak tiangnya, dan yang dinyatakan cuma bahwa kaum itu memilikinya. Nama di awal ayat pun menyimpang dari aturan baris yang berlaku bagi kata benda biasa. Nama di awal ayat berbaris fathah meskipun kedudukannya menuntut kasrah, dan penyimpangan itu memang lazim bagi nama diri tertentu, sama seperti dua nama di 89:9 dan 89:10.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 4:93, 5:95, 13:2, 31:10, 33:5, 89:7, dan 104:9. Di 13:2 dan 31:10 akar itu dipakai untuk langit yang ditinggikan Allah tanpa tiang yang terlihat. Jadi akar yang sama menyebut tiang yang tidak ada pada langit dan tiang yang dibanggakan sebuah kaum, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu. Satu akar untuk tiang yang tidak ada dan tiang yang dibanggakan menaruh keduanya berhadapan tanpa satu kalimat.
- Di 104:9 akar kata terakhirnya dipakai Allah untuk tiang-tiang yang memanjang pada api yang menutup penghuninya. Jadi akar ini memikul tiang langit yang tidak tampak, tiang bangunan yang dibanggakan, dan tiang yang mengurung. Ketiganya berjauhan maksudnya, dan yang menyatukannya cuma bentuk akarnya sendiri. Tiang yang menyangga dan tiang yang mengurung berbagi satu akar, dan yang membedakan cuma apa yang ada di dalamnya. Yang dibangun bertahan lebih lama dalam ingatan daripada yang diyakini, dan itu berlaku bagi siapa pun.
- Di 4:93 dan 5:95 akar kata terakhirnya justru memberi kata untuk kesengajaan, yaitu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. Jadi satu akar yang cuma hidup di tujuh ayat memikul tiang penyangga dan niat yang disengaja, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang ditegakkan dengan maksud, bukan yang terjadi tanpa dikehendaki. Akar yang memikul penyangga dan kesengajaan menyatukan keduanya lewat gambaran sesuatu yang ditegakkan dengan maksud.
- Nama di awal ayat muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan tidak berakar menurut morfologi, sehingga ia berdiri sendirian tanpa keluarga kata. Jadi tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkan apa yang dimaksud Allah dengannya, dan yang tersedia cuma keterangan yang menyusul di ayat ini sendiri. Nama tanpa keluarga kata tidak bisa diterangkan lewat akarnya, dan yang tersedia cuma keterangan yang menyertainya. Tiang yang tidak ada pada langit dan tiang yang dibanggakan berbagi satu nama tanpa satu keterangan.
- Yang disebut Allah kemegahan bangunannya, bukan kekuatan atau kekayaannya. Jadi yang dipilih untuk mengenalkan kaum itu justru apa yang mereka tegakkan dari batu, dan itulah yang tersisa dalam ingatan sesudah mereka tidak ada. Apa yang akan tersisa dari seseorang kalau yang paling diingat tentangnya adalah apa yang ia dirikan, bukan apa yang ia kerjakan? Yang dibangun bertahan lebih lama dalam ingatan daripada yang dikerjakan, dan itu berlaku bagi kaum maupun perorangan.
- Kata kedua berbentuk perempuan, mengikuti nama di depannya. Jadi kesesuaian bentuk itu menandai bahwa keterangan ini melekat kepada nama itu, bukan kepada kaum yang disebut di 89:6. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan Allah tidak menyatakannya dengan satu kata tambahan pun. Kesesuaian bentuk menentukan kepada apa sebuah keterangan melekat, dan salah membacanya memindahkan seluruh maksudnya. Tiang yang tidak ada pada langit dan tiang yang dibanggakan berbagi satu nama tanpa satu keterangan.