إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ
Iram yang mempunyai tiang-tiang tinggi,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِirama dzaati l-'imaadiIram yang mempunyai tiang-tiang tinggi
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِرَمَiramaIram
- ذَاتِdzaatiyang memiliki
- الْعِمَادِl-'imaaditiang-tiang
Inti bacaan
Identifikasi kemegahan spesifik: '(yaitu penduduk) Iram yang mempunyai tiang-tiang tinggi', detail konkret tentang kemegahan arsitektur yang menjadi kebanggaan peradaban yang akhirnya runtuh.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung "(yaitu penduduk)" tidak dipakai, sebab kalimat ini fragmen apositif lanjutan dari nama kaum di 89:6 tanpa penambahan kata pembuka. Kata (إِرَمَ, Irama) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan tidak berakar menurut morfologi, sehingga ia nama diri yang berdiri sendirian.
Kata (الْعِمَادِ, al-'imaadi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya berarti tiang penyangga. Ia cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 4:93, 5:95, 13:2, 31:10, 33:5, 89:7, dan 104:9, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 13:2 dan 31:10 akar itu dipakai untuk langit yang ditinggikan tanpa tiang yang terlihat. Jadi akar yang sama menyebut tiang yang tidak ada pada langit dan tiang yang dibanggakan sebuah kaum. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Kata (الْعِمَادِ, al-'imaadi) di sini menyebut tiang yang ada, bukan tiang yang tiada.
Di 104:9 akar yang sama dipakai untuk tiang-tiang yang memanjang pada api yang menutup penghuninya. Jadi akar ini memikul tiang langit yang tidak tampak, tiang bangunan yang dibanggakan, dan tiang yang mengurung. Ketiganya berjauhan maksudnya, dan yang menyatukannya cuma bentuk akarnya. Bentuk (الْعِمَادِ, al-'imaadi) bertakrif, sehingga yang disebut tiang sebagai jenis.
Di 4:93 dan 5:95 akar yang sama justru memberi kata untuk kesengajaan, yaitu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. Jadi satu akar yang cuma hidup di tujuh ayat memikul tiang penyangga dan niat yang disengaja, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang ditegakkan dengan maksud. Kata (إِرَمَ, Irama) mendahuluinya, dan keterangan ini melekat kepada nama itu.
Susunan (ذَاتِ الْعِمَادِ, dzaati l-'imaadi) memakai kata yang berarti yang memiliki, dan susunan itu dipakai lagi di 89:10 dengan bentuk berbeda serta di 89:5 pada kata yang lain. Jadi tiga ayat di bagian ini memakai susunan kepemilikan yang sama.
Bentuk (ذَاتِ, dzaati) berbentuk perempuan, mengikuti nama di depannya. Jadi kesesuaian bentuk itu menandai bahwa keterangan ini melekat kepada nama itu, bukan kepada kaum yang disebut di 89:6. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri dan tidak dinyatakan dengan kata tambahan.
Yang disebut di ayat ini kemegahan bangunannya, bukan kekuatan atau kekayaannya. Jadi yang dipilih Al-Qur'an untuk mengenalkan kaum itu justru apa yang mereka tegakkan dari batu, dan itulah yang tersisa dalam ingatan sesudah mereka tidak ada. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun.
Nama di awal ayat ini berbaris fathah meskipun kedudukannya menuntut kasrah, dan bentuk semacam itu memang lazim bagi nama diri tertentu di dalam bahasa Arab. Jadi ia menyimpang dari aturan baris yang berlaku bagi kata benda biasa, sama seperti dua nama di 89:9 dan 89:10.
Kata (الْعِمَادِ, al-'imaadi) berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut tiang-tiang sebagai jenis. Jadi Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak tiangnya, dan yang dinyatakan cuma bahwa kaum itu memilikinya. Bahasa Indonesia menahannya dengan bentuk jamak, mengikuti apa yang tertulis.
Tafsiran
Ayat ini merinci identitas kaum Ad: penduduk Iram yang bertiang tinggi, dan nama di awalnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an serta tidak berakar menurut morfologi.
Kata terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 4:93, 5:95, 13:2, 31:10, 33:5, 89:7, dan 104:9.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 13:2 dan 31:10 akar itu dipakai untuk langit yang ditinggikan tanpa tiang yang terlihat. Jadi akar yang sama menyebut tiang yang tidak ada pada langit dan tiang yang dibanggakan sebuah kaum, dan di 104:9 ia menyebut tiang yang mengurung penghuni api.
Yang disebut di ayat ini kemegahan bangunannya, bukan kekuatan atau kekayaannya. Jadi yang dipilih Al-Qur'an untuk mengenalkan kaum itu justru apa yang mereka tegakkan dari batu, dan itulah yang tersisa dalam ingatan sesudah mereka tidak ada.
Kata terakhirnya berbentuk jamak dan bertakrif, sehingga yang disebut tiang-tiang sebagai jenis. Jadi Al-Qur'an tidak menyebut berapa banyak tiangnya, dan yang dinyatakan cuma bahwa kaum itu memilikinya. Nama di awal ayat pun menyimpang dari aturan baris yang berlaku bagi kata benda biasa. Nama di awal ayat berbaris fathah meskipun kedudukannya menuntut kasrah, dan penyimpangan itu memang lazim bagi nama diri tertentu, sama seperti dua nama di 89:9 dan 89:10.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 7 ayat, yaitu 4:93, 5:95, 13:2, 31:10, 33:5, 89:7, dan 104:9. Di 13:2 dan 31:10 akar itu dipakai untuk langit yang ditinggikan Allah tanpa tiang yang terlihat. Jadi akar yang sama menyebut tiang yang tidak ada pada langit dan tiang yang dibanggakan sebuah kaum, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu. Satu akar untuk tiang yang tidak ada dan tiang yang dibanggakan menaruh keduanya berhadapan tanpa satu kalimat.
- Di 104:9 akar kata terakhirnya dipakai Allah untuk tiang-tiang yang memanjang pada api yang menutup penghuninya. Jadi akar ini memikul tiang langit yang tidak tampak, tiang bangunan yang dibanggakan, dan tiang yang mengurung. Ketiganya berjauhan maksudnya, dan yang menyatukannya cuma bentuk akarnya sendiri. Tiang yang menyangga dan tiang yang mengurung berbagi satu akar, dan yang membedakan cuma apa yang ada di dalamnya. Yang dibangun bertahan lebih lama dalam ingatan daripada yang diyakini, dan itu berlaku bagi siapa pun.
- Di 4:93 dan 5:95 akar kata terakhirnya justru memberi kata untuk kesengajaan, yaitu perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. Jadi satu akar yang cuma hidup di tujuh ayat memikul tiang penyangga dan niat yang disengaja, dan yang menyatukannya gambaran sesuatu yang ditegakkan dengan maksud, bukan yang terjadi tanpa dikehendaki. Akar yang memikul penyangga dan kesengajaan menyatukan keduanya lewat gambaran sesuatu yang ditegakkan dengan maksud.
- Nama di awal ayat muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan tidak berakar menurut morfologi, sehingga ia berdiri sendirian tanpa keluarga kata. Jadi tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkan apa yang dimaksud Allah dengannya, dan yang tersedia cuma keterangan yang menyusul di ayat ini sendiri. Nama tanpa keluarga kata tidak bisa diterangkan lewat akarnya, dan yang tersedia cuma keterangan yang menyertainya. Tiang yang tidak ada pada langit dan tiang yang dibanggakan berbagi satu nama tanpa satu keterangan.
- Yang disebut Allah kemegahan bangunannya, bukan kekuatan atau kekayaannya. Jadi yang dipilih untuk mengenalkan kaum itu justru apa yang mereka tegakkan dari batu, dan itulah yang tersisa dalam ingatan sesudah mereka tidak ada. Apa yang akan tersisa dari seseorang kalau yang paling diingat tentangnya adalah apa yang ia dirikan, bukan apa yang ia kerjakan? Yang dibangun bertahan lebih lama dalam ingatan daripada yang dikerjakan, dan itu berlaku bagi kaum maupun perorangan.
- Kata kedua berbentuk perempuan, mengikuti nama di depannya. Jadi kesesuaian bentuk itu menandai bahwa keterangan ini melekat kepada nama itu, bukan kepada kaum yang disebut di 89:6. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri, dan Allah tidak menyatakannya dengan satu kata tambahan pun. Kesesuaian bentuk menentukan kepada apa sebuah keterangan melekat, dan salah membacanya memindahkan seluruh maksudnya. Tiang yang tidak ada pada langit dan tiang yang dibanggakan berbagi satu nama tanpa satu keterangan.