الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ
Yang belum pernah diciptakan yang seperti itu di negeri-negeri,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِallatii lam yukhlaq mitsluhaa fii l-bilaadiyang belum pernah diciptakan yang seperti itu di negeri-negeri
Terjemahan per kata (6 kata)
- الَّتِيallatiiyang
- لَمْlamtidak
- يُخْلَقْyukhlaqdiperanakkan
- مِثْلُهَاmitsluhaayang serupa dengannya
- فِيfiidi
- الْبِلَادِl-bilaadinegeri
Inti bacaan
Superlatif yang menegaskan skala kehebatan: 'yang belum pernah diciptakan yang seperti itu di negeri-negeri', pengakuan bahwa peradaban ini mencapai puncak pencapaian yang belum tertandingi, namun tetap tidak luput dari kehancuran.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْبِلَادِ, al-bilaadi) muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 3:196, 40:4, 50:36, 89:8, dan 89:11. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari lima kemunculannya berada di surah ini, yaitu di ayat ini dan di 89:11.
Jadi satu kata dipakai dua kali di dalam satu surah dengan jarak tiga ayat, dan kedua pemakaiannya berbeda maksudnya. Di sini negeri-negeri itu tempat pembanding bagi kemegahan yang tak tertandingi, dan di 89:11 ia tempat mereka melampaui batas. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu. Kata (الْبِلَادِ, al-bilaadi) di sini menjadi tempat pembanding, bukan tempat pelanggaran.
Akar (الْبِلَادِ, al-bilaadi) berarti negeri. Akar itu dipakai di 19 ayat, antara lain 2:126, 7:57, 14:35, 35:9, dan 90:1. Di 90:1 dan 2:126 akar itu dipakai untuk sebuah negeri tertentu yang disumpahkan dan yang dimintakan keamanan.
Kata kerja (يُخْلَقْ, yukhlaq) berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menciptakan. Jadi Al-Qur'an menyatakan bahwa tidak ada yang seperti itu diciptakan tanpa menyebut Yang menciptakannya, dan bentuk pasif itu berulang di beberapa tempat di surah ini.
Bentuk (لَمْ يُخْلَقْ, lam yukhlaq) memakai huruf pengingkaran yang mengubah bentuk sekarang menjadi bermakna lampau. Jadi yang dinyatakan bukan bahwa hal itu tidak akan diciptakan melainkan bahwa hal itu belum pernah diciptakan sampai saat itu. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam hurufnya sendiri.
Kata (مِثْلُهَا, mitsluhaa) memakai kata ganti kepemilikan yang berbentuk perempuan tunggal, mengikuti nama di 89:7. Jadi yang tidak ada bandingnya nama itu, bukan kaum yang disebut di 89:6. Kesesuaian bentuk itu meneruskan penyandaran yang sudah dimulai di ayat sebelumnya.
Kata sambung (الَّتِي, allatii) di awal ayat berbentuk perempuan tunggal dan menerangkan nama di 89:7. Jadi tiga ayat dari 89:6 sampai ayat ini membentuk satu kalimat panjang yang dipisah menjadi tiga, dan jeda bacaannya jatuh di tengah kalimat.
Ayat ini menutup keterangan tentang kaum yang pertama, dan sesudahnya 89:9 berpindah kepada kaum yang kedua. Jadi tiga ayat diberikan kepada kaum pertama, satu ayat kepada kaum kedua, dan satu ayat kepada yang ketiga. Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu dengan satu kalimat pun.
Kata (مِثْلُهَا, mitsluhaa) berasal dari akar yang berarti serupa dan perumpamaan. Akar itu dipakai di 169 ayat, antara lain 2:17, 13:17, 16:60, 30:27, dan 42:11. Di 42:11 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah.
Jadi akar yang sama menyatakan ketiadaan banding bagi Allah dan ketiadaan banding bagi bangunan sebuah kaum. Perbedaannya menentukan: yang pertama berlaku selamanya, dan yang kedua cuma berlaku sampai kaum itu dibinasakan. Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu dengan satu kalimat pun. Kata (مِثْلُهَا, mitsluhaa) di sini menunjuk nama di 89:7, bukan kaum di 89:6.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan keunikan kemegahan Iram yang tak tertandingi, dan kata terakhirnya muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 3:196, 40:4, 50:36, 89:8, dan 89:11.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa dua dari lima kemunculannya berada di surah ini, yaitu di ayat ini dan di 89:11. Jadi satu kata dipakai dua kali di dalam satu surah dengan jarak tiga ayat, dan kedua pemakaiannya berbeda maksudnya.
Kata kerjanya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menciptakan. Jadi Al-Qur'an menyatakan bahwa tidak ada yang seperti itu diciptakan tanpa menyebut Yang menciptakannya, dan bentuk pasif itu berulang di beberapa tempat di surah ini.
Ayat ini menutup keterangan tentang kaum yang pertama, dan sesudahnya 89:9 berpindah kepada kaum yang kedua. Jadi tiga ayat diberikan kepada kaum pertama, satu ayat kepada kaum kedua, dan satu ayat kepada yang ketiga. Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu dengan satu kalimat pun.
Kata ketiganya berasal dari akar yang dipakai di 169 ayat, antara lain 2:17, 13:17, 16:60, 30:27, dan 42:11. Di 42:11 akar itu dipakai untuk menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah. Jadi akar yang sama menyatakan ketiadaan banding bagi-Nya dan bagi bangunan sebuah kaum. Kata sambung di awal ayat berbentuk perempuan tunggal dan menerangkan nama di 89:7, sehingga tiga ayat dari 89:6 sampai ayat ini membentuk satu kalimat panjang yang dipisah menjadi tiga.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 3:196, 40:4, 50:36, 89:8, dan 89:11, dan dua dari lima kemunculannya berada di surah ini. Jadi Allah memakai satu kata dua kali di dalam satu surah dengan jarak tiga ayat: di sini sebagai tempat pembanding bagi kemegahan, dan di 89:11 sebagai tempat mereka melampaui batas. Satu kata yang dipakai dua kali di dalam satu surah menuntut kedua tempatnya dibaca bersama, bukan sendiri-sendiri.
- Bentuk pengingkarannya mengubah bentuk sekarang menjadi bermakna lampau. Jadi yang dinyatakan Allah bukan bahwa hal itu tidak akan diciptakan melainkan bahwa hal itu belum pernah diciptakan sampai saat itu. Perbedaan waktu itu terbawa di dalam hurufnya sendiri, dan menggesernya akan mengubah pernyataannya menjadi lebih luas daripada yang tertulis. Perbedaan waktu yang terbawa di dalam satu huruf tidak boleh digeser, sebab pergeserannya memperluas apa yang dinyatakan.
- Ayat ini menutup keterangan tentang kaum yang pertama, dan sesudahnya 89:9 berpindah kepada kaum yang kedua. Jadi tiga ayat diberikan Allah kepada kaum pertama, satu ayat kepada kaum kedua, dan satu ayat kepada yang ketiga. Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseimbangan itu dengan satu kalimat pun. Ketidakseimbangan tempat yang diberikan kepada tiga hal menyatakan sesuatu yang tidak dinyatakan satu kalimat pun. Satu kata di dua tempat di dalam satu surah menuntut kedua tempatnya dibaca bersama-sama.
- Kata kerjanya berbentuk pasif, sehingga tidak disebutkan siapa yang menciptakan. Jadi Al-Qur'an menyatakan bahwa tidak ada yang seperti itu diciptakan tanpa menyebut Allah sebagai Yang menciptakannya. Bentuk pasif itu berulang di beberapa tempat di surah ini, dan ia menahan perhatian pada hasilnya, bukan pada pelakunya. Bentuk pasif menahan perhatian pada hasilnya, dan pelakunya baru terbaca dari tempat lain di dalam surahnya. Satu kata di dua tempat di dalam satu surah menuntut kedua tempatnya dibaca bersama-sama.
- Kata ketiganya memakai kata ganti kepemilikan yang berbentuk perempuan tunggal, mengikuti nama di 89:7. Jadi yang tidak ada bandingnya nama itu, bukan kaum yang disebut di 89:6. Kesesuaian bentuk itu meneruskan penyandaran yang sudah dimulai di ayat sebelumnya, dan ia mengikat ketiga ayat menjadi satu kalimat. Kesesuaian bentuk yang meneruskan penyandaran mengikat beberapa ayat menjadi satu kalimat yang tidak terputus. Keunikan yang tidak menghalangi apa pun menyatakan bahwa ukuran manusia bukan ukuran yang menentukan.
- Yang dinyatakan Allah bahwa tidak ada bandingnya di negeri mana pun, dan sesudah itu 89:13 menyebut apa yang menimpa mereka. Jadi keunikan yang disebut di sini tidak menghalangi apa pun. Apa gunanya menjadi yang tidak ada bandingnya kalau ketiadaan banding itu justru yang membuat namanya dikenang sebagai peringatan? Keunikan yang tidak menghalangi apa pun menyatakan bahwa ukuran yang dipakai manusia bukan ukuran yang menentukan.