Ayat 89:9
وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ
Dan kaum Samud yang memahat batu-batu besar di lembah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِwa-tsamuuda lladziina jaabuu sh-shakhra bi-l-waadidan kaum Samud yang memahat batu-batu besar di lembah
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَثَمُودَwa-tsamuudadan Tsamud
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- جَابُواjaabuumereka memahat
- الصَّخْرَsh-shakhrabatu
- بِالْوَادِbi-l-waadidi lembah
Inti bacaan
Contoh kedua peradaban maju: 'dan kaum Tsamud yang memahat batu-batu besar di lembah', kemampuan teknis luar biasa dalam mengukir batu, keahlian yang tidak menyelamatkan mereka dari konsekuensi penolakan kebenaran.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الصَّخْرَ, ash-shakhra) berasal dari akar yang berarti batu besar. Akar itu cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:63, 31:16, dan ayat ini. Jadi ia salah satu akar yang paling jarang dipakai di seluruh Al-Qur'an.
Di 18:63 akar itu dipakai untuk batu tempat berteduh di dalam perjalanan Musa, dan di 31:16 untuk batu yang menyembunyikan sesuatu sekecil biji sawi sekalipun. Jadi akar yang sama menyebut batu tempat berlindung, batu yang menyembunyikan, dan di sini batu yang dipahat menjadi tempat tinggal. Kata (الصَّخْرَ, ash-shakhra) di sini menyebut batu yang dipahat, bukan tempat berteduh.
Kata (بِالْوَادِ, bi-l-waadi) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:12, 79:16, dan 89:9. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 20:12 dan 79:16 kata itu menyebut lembah suci tempat Musa disapa, sedangkan di sini ia menyebut lembah tempat sebuah kaum memahat batu.
Jadi satu kata yang cuma muncul di tiga tempat memikul lembah tempat wahyu diterima dan lembah tempat kaum yang binasa tinggal. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang berulang tanpa diubah. Kata (بِالْوَادِ, bi-l-waadi) menyertainya, dan keduanya menyebut tempat yang sama.
Bentuk (بِالْوَادِ, bi-l-waadi) kehilangan huruf terakhirnya, sama seperti bentuk kata kerja di 89:4. Jadi dua ayat di surah ini memakai bentuk yang dipendekkan demi menjaga rima, dan penghilangan itu tidak mengubah maknanya sama sekali.
Kata kerja (جَابُوا, jaabuu) berasal dari akar yang berarti melubangi dan memahat. Akar itu dipakai di 41 ayat, dan di hampir seluruh pemakaian lainnya akar itu memberi kata untuk menjawab atau memenuhi seruan, antara lain di 2:186, 8:24, dan 13:18. Cuma di ayat ini ia berarti memotong dan menembus.
Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut jawaban atas seruan, di sini menyebut pemahatan batu. Yang menyatukan keduanya gambaran menembus sesuatu sampai ke seberangnya, sebab yang menjawab menembus jarak antara yang menyeru dan yang diseru. Bentuk (جَابُوا, jaabuu) berbentuk lampau dan berorang ketiga jamak.
Nama kaum di awal ayat tidak berakar menurut morfologi, sama seperti nama di 89:7. Jadi dua nama diri di dalam surah ini sama-sama berdiri tanpa keluarga kata, dan keduanya nama kaum yang dibinasakan. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun.
Kata (جَابُوا, jaabuu) berbentuk lampau dan berorang ketiga jamak, sehingga yang disebut perbuatan yang sudah selesai dan dikerjakan bersama-sama. Bentuk yang sama dipakai di 89:11 dan 89:12, sehingga tiga kata kerja di bagian ini seluruhnya menyebut perbuatan bersama, bukan perbuatan perorangan.
Nama kaum di awal ayat berbaris fathah meskipun kedudukannya menuntut kasrah, sama seperti nama di 89:7 dan 89:10. Jadi tiga nama diri di dalam surah ini seluruhnya menyimpang dari aturan baris yang berlaku bagi kata benda biasa, dan penyimpangan itu memang lazim bagi nama diri tertentu.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan peringatan historis dengan kaum Samud, dan kata keempatnya berasal dari akar yang cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:63, 31:16, dan ayat ini.
Di 18:63 akar itu dipakai untuk batu tempat berteduh di dalam perjalanan Musa, dan di 31:16 untuk batu yang menyembunyikan sesuatu sekecil biji sawi sekalipun. Jadi akar yang sama menyebut batu tempat berlindung, batu yang menyembunyikan, dan di sini batu yang dipahat menjadi tempat tinggal.
Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:12, 79:16, dan 89:9. Di 20:12 dan 79:16 kata itu menyebut lembah suci tempat Musa disapa, sedangkan di sini ia menyebut lembah tempat sebuah kaum memahat batu.
Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 41 ayat, dan di hampir seluruh pemakaian lainnya akar itu memberi kata untuk menjawab atau memenuhi seruan, antara lain di 2:186, 8:24, dan 13:18. Cuma di ayat ini ia berarti memotong dan menembus, dan yang menyatukan keduanya gambaran menembus sampai ke seberang.
Kata kerjanya berbentuk lampau dan berorang ketiga jamak, sehingga yang disebut perbuatan yang sudah selesai dan dikerjakan bersama-sama. Bentuk yang sama dipakai di 89:11 dan 89:12, sehingga tiga kata kerja di bagian ini seluruhnya menyebut perbuatan bersama, bukan perbuatan perorangan. Kata terakhirnya kehilangan huruf terakhirnya, sama seperti bentuk kata kerja di 89:4, sehingga dua ayat di surah ini memakai bentuk yang dipendekkan demi menjaga rima.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:12, 79:16, dan 89:9. Di 20:12 dan 79:16 kata itu menyebut lembah suci tempat Musa disapa Allah, sedangkan di sini ia menyebut lembah tempat sebuah kaum memahat batu. Jadi satu kata yang cuma muncul di tiga tempat memikul lembah tempat wahyu diterima dan lembah tempat kaum yang binasa tinggal. Satu kata untuk lembah wahyu dan lembah kaum yang binasa menaruh keduanya di dalam satu bentuk tanpa keterangan.
- Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 41 ayat, dan di hampir seluruh pemakaian lainnya akar itu memberi kata untuk menjawab atau memenuhi seruan Allah, antara lain di 2:186, 8:24, dan 13:18. Cuma di ayat ini ia berarti memotong dan menembus, dan yang menyatukannya gambaran menembus sesuatu sampai ke seberangnya. Akar yang biasanya menjawab seruan dan sekali memahat batu menyatukan keduanya lewat gambaran menembus. Akar yang biasanya menjawab dan sekali memahat menyatukan keduanya lewat gambaran menembus.
- Kata keempatnya berasal dari akar yang cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:63, 31:16, dan 89:9. Di 18:63 akar itu dipakai untuk batu tempat berteduh, dan di 31:16 untuk batu yang menyembunyikan sesuatu sekecil biji sawi sekalipun dari pengetahuan orang, tetapi tidak dari Allah. Jadi akar yang sama menyebut tempat berlindung dan tempat bersembunyi. Akar yang cuma hidup di tiga ayat memusatkan gambarannya, dan tiap pemakaiannya menerangkan yang lain.
- Nama kaum di awal ayat tidak berakar menurut morfologi, sama seperti nama di 89:7. Jadi dua nama diri di dalam surah ini sama-sama berdiri tanpa keluarga kata, dan keduanya nama kaum yang dibinasakan Allah. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya sejajar. Dua nama tanpa keluarga kata yang keduanya kaum yang binasa berdiri sejajar tanpa satu kalimat yang menyatakannya. Lembah wahyu dan lembah kaum yang binasa berbagi satu kata tanpa satu kalimat yang menghubungkan.
- Kata terakhirnya kehilangan huruf terakhirnya, sama seperti bentuk kata kerja di 89:4. Jadi dua ayat di surah ini memakai bentuk yang dipendekkan demi menjaga rima, dan penghilangan itu tidak mengubah maknanya sama sekali. Bunyi surahnya karena itu dijaga bahkan dengan mengorbankan bentuk penuh sebuah kata. Rima yang dijaga sampai mengorbankan bentuk penuh sebuah kata menyatakan bahwa bunyi bagian dari susunannya. Lembah wahyu dan lembah kaum yang binasa berbagi satu kata tanpa satu kalimat yang menghubungkan.
- Yang disebut Allah tentang kaum ini apa yang mereka kerjakan atas batu, sama seperti kaum sebelumnya dikenalkan lewat tiang yang mereka dirikan. Jadi dua kaum berturut-turut dikenalkan lewat bangunan, bukan lewat kepercayaan mereka. Apa yang membuat sebuah kaum lebih dikenang lewat batu yang mereka pahat daripada lewat apa yang mereka yakini? Dikenang lewat batu yang dipahat menaruh seluruh keterangan pada apa yang tersisa, bukan pada apa yang diyakini.
Ayat 89:10
وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ
Dan Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِwa-fir'awna dzii l-awtaadidan Fir'aun yang mempunyai pasak-pasak
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَفِرْعَوْنَwa-fir'awnadan Firaun
- ذِيdziipemilik
- الْأَوْتَادِl-awtaadipasak-pasak
Inti bacaan
Contoh ketiga kekuasaan besar: 'dan Firaun yang mempunyai pasak-pasak', simbol kekuasaan dan kekokohan kerajaan yang pada akhirnya tetap runtuh.
Penjelasan pilihan kata
Rangkaian (ذِي الْأَوْتَادِ, dzii l-awtaadi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akar (الْأَوْتَادِ, al-awtaadi) berarti pasak. Akar itu cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 38:12, 78:7, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang paling jarang dipakai.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 38:12 tertulis rangkaian yang hampir sama persis dengan ayat ini, dan di sana pun ia menerangkan nama penguasa yang sama. Yang berbeda cuma barisnya: yang di sana berbaris dammah dan yang di sini berbaris kasrah, sebab kedudukannya di dalam kalimat berbeda.
Jadi sebagai kata rangkaian itu muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali. Dua angka itu sama-sama benar, dan yang membedakan cuma apakah yang dihitung katanya atau bentuknya. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu dengan satu tanda pun. Kata (الْأَوْتَادِ, al-awtaadi) di sini disandarkan kepada seorang penguasa, bukan kepada bumi.
Di 78:7 akar yang sama dipakai untuk gunung yang dijadikan pasak bagi bumi. Jadi akar yang cuma hidup di tiga ayat memikul pasak yang dipancangkan Yang berfirman pada bumi dan pasak yang dimiliki seorang penguasa. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun. Bentuk (ذِي الْأَوْتَادِ, dzii l-awtaadi) berbaris kasrah, berbeda dari bentuknya di 38:12.
Kesejajaran dengan 88:19 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan menyebut gunung yang ditegakkan. Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut sesuatu yang dipancangkan, dan yang di sana milik Yang berfirman sedangkan yang di sini milik manusia.
Nama penguasa di awal ayat tidak berakar menurut morfologi, sama seperti dua nama di 89:7 dan 89:9. Jadi tiga nama diri di dalam surah ini sama-sama berdiri tanpa keluarga kata, dan ketiganya berkumpul di empat ayat berturut-turut.
Susunan (ذِي الْأَوْتَادِ, dzii l-awtaadi) memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 89:5 dan 89:7. Jadi tiga ayat di bagian ini memakai susunan kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berturut-turut akal, tiang, dan pasak.
Ketiga kaum yang disebut di 89:6 sampai ayat ini seluruhnya dikenalkan lewat sesuatu yang mereka tegakkan atau miliki, yaitu tiang, batu yang dipahat, dan pasak. Jadi tidak satu pun dikenalkan lewat apa yang mereka percayai, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu dengan satu kalimat pun.
Kata (وَفِرْعَوْنَ, wa Fir'auna) dibuka huruf waw yang menyambungkannya kepada dua nama sebelumnya, sama seperti huruf di awal 89:9. Jadi tiga nama itu satu daftar yang tidak terputus, dan yang menandainya cuma dua huruf penyambung yang sama.
Yang disebut di ayat ini satu orang, sedangkan dua yang sebelumnya kaum. Jadi daftarnya tidak seragam jenisnya: dua kaum dan satu penguasa. Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseragaman itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyatukan ketiganya baru dinyatakan di 89:11.
Tafsiran
Ayat ini menambahkan Fir'aun sebagai contoh ketiga penguasa yang dibinasakan, dan rangkaian keterangannya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini.
Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 38:12, 78:7, dan ayat ini. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 38:12 tertulis rangkaian yang hampir sama persis dengan ayat ini, dan di sana pun ia menerangkan nama penguasa yang sama. Yang berbeda cuma barisnya, sebab kedudukannya di dalam kalimat berbeda.
Jadi sebagai kata rangkaian itu muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali. Dua angka itu sama-sama benar, dan yang membedakan cuma apakah yang dihitung katanya atau bentuknya.
Di 78:7 akar yang sama dipakai untuk gunung yang dijadikan pasak bagi bumi. Jadi akar yang cuma hidup di tiga ayat memikul pasak yang dipancangkan Yang berfirman pada bumi dan pasak yang dimiliki seorang penguasa.
Yang disebut di ayat ini satu orang, sedangkan dua yang sebelumnya kaum. Jadi daftarnya tidak seragam jenisnya: dua kaum dan satu penguasa. Al-Qur'an tidak menerangkan ketidakseragaman itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyatukan ketiganya baru dinyatakan di 89:11. Susunan keterangannya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 89:5 dan 89:7, dan yang dimiliki berturut-turut akal, tiang, dan pasak.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 38:12, 78:7, dan 89:10. Di 78:7 akar yang sama dipakai untuk gunung yang dijadikan Allah pasak bagi bumi. Jadi akar yang cuma hidup di tiga ayat memikul pasak yang dipancangkan-Nya pada bumi dan pasak yang dimiliki seorang penguasa, dan Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu. Satu akar untuk pasak bumi dan pasak penguasa menaruh keduanya berhadapan tanpa satu kalimat yang menghubungkan.
- Di 38:12 tertulis rangkaian yang hampir sama persis dengan ayat ini, dan di sana pun ia menerangkan nama penguasa yang sama. Yang berbeda cuma barisnya, sebab kedudukannya di dalam kalimat berbeda. Jadi sebagai kata rangkaian itu muncul dua kali, dan sebagai bentuk masing-masing sekali, dan dua angka itu sama-sama benar. Angka kata dan angka bentuk memberi dua hitungan, dan keduanya benar selama disebutkan yang mana yang dihitung. Pasak yang dipancangkan pada bumi dan pasak yang dimiliki penguasa berbagi satu akar yang langka.
- Nama penguasa di awal ayat tidak berakar menurut morfologi, sama seperti dua nama di 89:7 dan 89:9. Jadi tiga nama diri di dalam surah ini sama-sama berdiri tanpa keluarga kata, dan ketiganya berkumpul di empat ayat berturut-turut. Sesudah 89:10 tidak ada satu nama pun yang disebut Allah sampai ujung surahnya. Tiga nama tanpa keluarga kata yang berkumpul di empat ayat menandai bagian itu sebagai satu kesatuan tersendiri. Dikenalkan lewat yang dibangun berbeda dari dikenalkan lewat yang diyakini, dan pilihan itu tidak diterangkan.
- Susunan keterangannya memakai kata yang berarti yang memiliki, sama seperti susunan di 89:5 dan 89:7. Jadi tiga ayat di bagian ini memakai susunan kepemilikan yang sama, dan yang dimiliki berturut-turut akal, tiang, dan pasak. Yang pertama milik orang yang selamat, dan dua lainnya milik yang binasa. Susunan kepemilikan yang sama untuk yang selamat dan yang binasa menaruh keduanya di dalam satu rangka kalimat. Pasak yang dipancangkan pada bumi dan pasak yang dimiliki penguasa berbagi satu akar yang langka.
- Ketiga kaum yang disebut Allah di 89:6 sampai ayat ini seluruhnya dikenalkan lewat sesuatu yang mereka tegakkan atau miliki, yaitu tiang, batu yang dipahat, dan pasak. Jadi tidak satu pun dikenalkan lewat apa yang mereka percayai. Apa yang membuat sesuatu yang dibangun lebih pantas dijadikan tanda pengenal sebuah kaum daripada apa yang mereka yakini? Dikenalkan lewat yang dibangun berbeda dari dikenalkan lewat yang diyakini, dan pilihan itu tidak diterangkan.
- Kesejajaran dengan 88:19 patut dicatat, sebab surah itu tetangga langsung surah ini dan menyebut gunung yang ditegakkan Allah. Jadi dua surah berurutan sama-sama menyebut sesuatu yang dipancangkan, dan yang di sana milik-Nya sedangkan yang di sini milik manusia. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Dua surah berurutan yang menyebut sesuatu yang dipancangkan berdiri sejajar tanpa saling menyebut satu kali pun.
Ayat 89:11
الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ
Yang melampaui batas di negeri-negeri,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِalladziina thaghaw fii l-bilaadiyang melampaui batas di negeri-negeri
Terjemahan per kata (4 kata)
- الَّذِينَalladziinaorang-orang yang
- طَغَوْاthaghawmereka melampaui batas
- فِيfiidi
- الْبِلَادِl-bilaadinegeri
Inti bacaan
Benang merah yang menghubungkan ketiga contoh: 'yang melampaui batas di negeri-negeri', identifikasi kesamaan penyebab kehancuran ketiga peradaban besar tersebut, pola yang konsisten terlepas dari kehebatan masing-masing.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (طَغَوْا, thaghaw) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Bentuknya lampau dan berorang ketiga jamak, sehingga yang disebut perbuatan yang sudah selesai dan dikerjakan bersama-sama oleh ketiga kaum yang baru disebut.
Kata (الْبِلَادِ, al-bilaadi) muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:8, dan seluruh kemunculannya di Al-Qur'an ada 5 kali di 4 surah, yaitu di 3:196, 40:4, 50:36, 89:8, dan 89:11. Jadi dua dari lima kemunculan itu berada di surah ini.
Perbedaan kedua pemakaian itu patut dicatat. Di 89:8 negeri-negeri itu tempat pembanding bagi kemegahan yang tak tertandingi, dan di sini ia tempat mereka melampaui batas. Jadi satu kata dipakai untuk kebanggaan dan untuk pelanggaran, dan Al-Qur'an tidak menunjuk perbedaan itu.
Kata sambung (الَّذِينَ, alladziina) di awal ayat berbentuk jamak laki-laki dan menerangkan ketiga pihak yang disebut di 89:6 sampai 89:10 sekaligus. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan keterangan bersama bagi ketiganya, dan itulah tempat ketiga cerita itu disatukan.
Bentuk (الَّذِينَ, alladziina) berbeda dari bentuk perempuan tunggal yang dipakai di 89:8. Jadi dua kata sambung di dalam surah ini menerangkan dua pihak yang berbeda: yang di sana satu nama, dan yang di sini tiga kaum sekaligus. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri.
Sampai ayat ini Al-Qur'an belum menyebut satu pun kesalahan mereka, dan yang disebut cuma tiang, batu, dan pasak. Jadi ayat inilah yang pertama menyatakan apa yang mereka perbuat, dan pernyataan itu datang sesudah lima ayat yang seluruhnya berisi pengenalan.
Yang dinyatakan di ayat ini satu perbuatan yang sama bagi tiga kaum yang berbeda zaman dan berbeda tempat. Jadi Al-Qur'an tidak merinci kesalahan masing-masing melainkan menyatukan ketiganya di bawah satu kata. Penyatuan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun.
Kata kerja (طَغَوْا, thaghaw) berarti melampaui batas, dan yang dilampaui tidak disebutkan. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkan batas apa yang dilampaui akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pelanggaran saja, padahal yang tertulis membiarkannya seluas mungkin.
Kata (فِي الْبِلَادِ, fii l-bilaadi) menyatakan tempat, dan rangkaian yang sama dipakai lagi di 89:12 dengan kata ganti sebagai penggantinya. Jadi dua ayat berturut-turut menyebut tempat yang sama: yang pertama dengan kata bendanya dan yang kedua dengan kata ganti.
Bentuk (طَغَوْا, thaghaw) berbentuk lampau dan berpola pertama, dan itu bentuk yang paling sederhana yang tersedia bagi akarnya. Jadi tidak ada tambahan huruf yang menyatakan kesungguhan, dan yang dinyatakan perbuatannya sendiri tanpa keterangan tentang kadarnya.
Tafsiran
Ayat ini menyimpulkan sifat bersama ketiga kaum tersebut: melampaui batas, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini.
Kata terakhirnya muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:8, dan seluruh kemunculannya di Al-Qur'an ada 5 kali di 4 surah, yaitu di 3:196, 40:4, 50:36, 89:8, dan 89:11. Di 89:8 negeri-negeri itu tempat pembanding bagi kemegahan, dan di sini ia tempat mereka melampaui batas.
Kata sambung di awal ayat berbentuk jamak laki-laki dan menerangkan ketiga pihak yang disebut di 89:6 sampai 89:10 sekaligus. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan keterangan bersama bagi ketiganya, dan itulah tempat ketiga cerita itu disatukan.
Sampai ayat ini Al-Qur'an belum menyebut satu pun kesalahan mereka, dan yang disebut cuma tiang, batu, dan pasak. Jadi ayat inilah yang pertama menyatakan apa yang mereka perbuat, dan pernyataan itu datang sesudah lima ayat yang seluruhnya berisi pengenalan.
Rangkaian dua kata terakhirnya menyatakan tempat, dan rangkaian yang sama dipakai lagi di 89:12 dengan kata ganti sebagai penggantinya. Jadi dua ayat berturut-turut menyebut tempat yang sama: yang pertama dengan kata bendanya dan yang kedua dengan kata ganti yang menggantikannya. Bentuk kata sambungnya berbeda dari bentuk perempuan tunggal di 89:8, sehingga dua kata sambung di surah ini menerangkan dua pihak yang berbeda jumlahnya.
Renungan dan Hikmah
- Yang dinyatakan Allah di ayat ini satu perbuatan yang sama bagi tiga kaum yang berbeda zaman dan berbeda tempat. Jadi Al-Qur'an tidak merinci kesalahan masing-masing melainkan menyatukan ketiganya di bawah satu kata. Penyatuan itu tidak diterangkan dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa satu kata cukup bagi ketiganya. Satu kata untuk tiga kaum berbeda zaman menyatakan bahwa yang dinilai perbuatannya, bukan tempat atau masanya.
- Kata terakhirnya muncul 5 kali di 4 surah, yaitu di 3:196, 40:4, 50:36, 89:8, dan 89:11, dan dua di antaranya di surah ini. Di 89:8 negeri-negeri itu tempat pembanding bagi kemegahan yang tak tertandingi, dan di sini ia tempat mereka melampaui batas. Jadi Allah memakai satu kata untuk kebanggaan dan untuk pelanggaran. Satu kata yang dipakai untuk kebanggaan dan untuk pelanggaran menaruh keduanya di dalam satu tempat yang sama. Objek yang tidak disebut menjaga cakupannya, dan memastikannya sendiri mempersempit apa yang tertulis.
- Sampai ayat ini Allah belum menyebut satu pun kesalahan mereka, dan yang disebut cuma tiang, batu, dan pasak. Jadi ayat inilah yang pertama menyatakan apa yang mereka perbuat, dan pernyataan itu datang sesudah lima ayat yang seluruhnya berisi pengenalan. Yang dibangun disebut lebih dulu, dan yang dilanggar menyusul. Pengenalan yang mendahului tuduhan membuat pembacanya mengenal lebih dulu sebelum ia diberi tahu apa kesalahannya.
- Kata kerjanya berarti melampaui batas, dan yang dilampaui tidak disebutkan Allah. Ketiadaan objek itu perlu dijaga: menyisipkan batas apa yang dilampaui akan mempersempit ayatnya menjadi satu jenis pelanggaran saja. Apa yang hilang dari sebuah tuduhan ketika pembacanya memastikan sendiri batas mana yang dimaksud? Objek yang tidak disebut menjaga cakupannya, dan memastikannya sendiri mempersempit apa yang tertulis. Satu kata untuk tiga kaum berbeda zaman menyatakan bahwa yang dinilai perbuatannya, bukan masanya.
- Kata sambung di awal ayat berbentuk jamak laki-laki dan menerangkan ketiga pihak yang disebut di 89:6 sampai 89:10 sekaligus. Jadi ayat ini bukan kalimat baru melainkan keterangan bersama bagi ketiganya, dan itulah tempat ketiga cerita yang dikisahkan Allah disatukan menjadi satu kalimat. Kata sambung yang menyatukan beberapa pihak menjadi satu kalimat menandai tempat ketiganya bertemu. Satu kata untuk tiga kaum berbeda zaman menyatakan bahwa yang dinilai perbuatannya, bukan masanya.
- Bentuk kata sambungnya berbeda dari bentuk perempuan tunggal yang dipakai di 89:8. Jadi dua kata sambung di dalam surah ini menerangkan dua pihak yang berbeda: yang di sana satu nama, dan yang di sini tiga kaum sekaligus. Perbedaan itu terbawa di dalam bentuk katanya sendiri tanpa satu kata tambahan pun. Bentuk kata sambung yang berganti menandai pihak yang berganti pula, dan itu terbawa tanpa kata tambahan. Objek yang tidak disebut menjaga cakupannya, dan memastikannya sendiri mempersempit apa yang tertulis.
Ayat 89:12
فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ
Lalu memperbanyak kerusakan di dalamnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَfa-aktsaruu fiihaa l-fasaadalalu memperbanyak kerusakan di dalamnya
Terjemahan per kata (3 kata)
- فَأَكْثَرُواfa-aktsaruumaka mereka memperbanyak
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- الْفَسَادَl-fasaadakerusakan
Inti bacaan
Konsekuensi langsung dari melampaui batas: 'lalu memperbanyak kerusakan di dalamnya', hubungan sebab-akibat antara pelanggaran batas dan kerusakan tatanan yang meluas. Baris ini juga penutup daftar tiga kaum, dan baris pertama yang menyebut perbuatan mereka sesudah lima baris pengenalan; sesudahnya nama mereka tidak disebut lagi sampai ujung surah.
Penjelasan pilihan kata
Kata kerja (فَأَكْثَرُوا, fa-aktsaruu) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti banyak. Ia dipakai di 162 ayat, dan itu salah satu akar yang sering muncul, antara lain di 2:245, 8:43, 18:34, 63:9, dan 102:1.
Kesejajaran dengan 102:1 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana menyebut perlombaan memperbanyak yang melalaikan manusia. Jadi akar yang sama menyebut memperbanyak harta yang melalaikan dan memperbanyak kerusakan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Kata (الْفَسَادَ, al-fasaada) di sini menjadi objek, bukan pokok kalimat.
Kata (الْفَسَادَ, al-fasaada) muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:205, 28:77, 40:26, dan 89:12. Akarnya berarti rusak. Ia dipakai di 47 ayat, antara lain 2:11, 5:33, 7:56, 27:34, dan 30:41.
Di 2:205 dan 28:77 akar itu dipakai untuk larangan berbuat kerusakan di bumi, dan di 30:41 untuk kerusakan yang tampak di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia. Jadi akar yang sama menyebut larangan, akibat, dan di sini perbuatan tiga kaum terdahulu. Kata (الْفَسَادَ, al-fasaada) di sini bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya.
Bentuk (فَأَكْثَرُوا, fa-aktsaruu) berpola keempat, sehingga artinya membuat sesuatu menjadi banyak, bukan menjadi banyak sendiri. Jadi yang dinyatakan perbuatan yang disengaja, bukan keadaan yang terjadi begitu saja. Perbedaan itu perlu dijaga di dalam terjemahannya.
Huruf fa di depan (فَأَكْثَرُوا, fa-aktsaruu) menyatakan urutan yang rapat, sehingga memperbanyak kerusakan itu menyusul melampaui batas tanpa jeda. Jadi Al-Qur'an menyatakan dua perbuatan sebagai satu rangkaian sebab dan akibat, dan yang menandainya cuma satu huruf.
Kata (فِيهَا, fiihaa) memakai kata ganti yang berbentuk perempuan tunggal, dan yang ditunjuknya negeri-negeri di 89:11. Jadi ayat ini lanjutan langsung, dan dua ayat itu satu kalimat yang dipisah menjadi dua. Jeda bacaannya karena itu jatuh di tengah kalimat.
Yang dinyatakan bukan bahwa mereka membuat kerusakan melainkan bahwa mereka memperbanyaknya. Jadi kerusakan itu sudah ada sebelumnya, dan yang ditambahkan mereka jumlahnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma pola kata kerjanya.
Kata (الْفَسَادَ, al-fasaada) bertakrif, sehingga yang disebut kerusakan sebagai jenis, bukan satu kerusakan tertentu. Ketertentuan yang menyebut jenis itu memperluas cakupannya, dan menyebutnya sebagai satu perbuatan tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi lebih kecil daripada yang tertulis.
Bentuk (فِيهَا, fiihaa) menyebut tempat, dan kata ganti pada ujungnya menggantikan kata benda di 89:11. Jadi Al-Qur'an tidak mengulang kata bendanya melainkan memakai kata ganti, dan penghematan itu menandai bahwa kedua ayat satu kalimat yang tidak terputus.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa mereka memperbanyak kerusakan di negeri-negeri, dan kata kerjanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 162 ayat, antara lain 2:245, 8:43, 18:34, 63:9, dan 102:1.
Kesejajaran dengan 102:1 patut dicatat, sebab akar yang sama di sana menyebut perlombaan memperbanyak yang melalaikan manusia. Jadi akar yang sama menyebut memperbanyak harta yang melalaikan dan memperbanyak kerusakan.
Kata terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:205, 28:77, 40:26, dan 89:12. Akarnya dipakai di 47 ayat, antara lain 2:11, 5:33, 7:56, 27:34, dan 30:41. Di 2:205 dan 28:77 akar itu dipakai untuk larangan berbuat kerusakan di bumi.
Yang dinyatakan bukan bahwa mereka membuat kerusakan melainkan bahwa mereka memperbanyaknya. Jadi kerusakan itu sudah ada sebelumnya, dan yang ditambahkan mereka jumlahnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma pola kata kerjanya.
Kata terakhirnya bertakrif, sehingga yang disebut kerusakan sebagai jenis, bukan satu kerusakan tertentu. Ketertentuan yang menyebut jenis itu memperluas cakupannya, dan menyebutnya sebagai satu perbuatan tertentu akan mempersempit ayatnya menjadi lebih kecil daripada yang tertulis. Huruf di depan kata kerjanya menyatakan urutan yang rapat, sehingga memperbanyak kerusakan itu menyusul melampaui batas tanpa jeda, dan huruf yang sama dipakai di awal 89:13.
Renungan dan Hikmah
- Yang dinyatakan Allah bukan bahwa mereka membuat kerusakan melainkan bahwa mereka memperbanyaknya. Jadi kerusakan itu sudah ada sebelumnya, dan yang ditambahkan mereka jumlahnya. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun, dan yang menandainya cuma pola kata kerjanya yang berarti membuat sesuatu menjadi banyak. Memperbanyak berbeda dari memulai, dan perbedaannya terbawa di dalam pola kata kerjanya sendiri. Dua perbuatan yang disambung sebagai sebab dan akibat menuntut pembacanya menimbang hubungannya.
- Akar kata kerjanya dipakai di 162 ayat, antara lain 2:245, 8:43, 18:34, 63:9, dan 102:1. Di 102:1 akar yang sama menyebut perlombaan memperbanyak yang melalaikan manusia dari Allah. Jadi akar yang sama menyebut memperbanyak harta yang melalaikan dan memperbanyak kerusakan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Satu akar untuk memperbanyak harta dan memperbanyak kerusakan menaruh keduanya di dalam satu ukuran kata. Memperbanyak berbeda dari memulai, dan perbedaannya terbawa di dalam pola kata kerjanya sendiri.
- Kata terakhirnya muncul 4 kali di 4 surah, yaitu di 2:205, 28:77, 40:26, dan 89:12, dan akarnya dipakai di 47 ayat. Di 2:205 dan 28:77 akar itu dipakai untuk larangan Allah berbuat kerusakan di bumi, dan di 30:41 untuk kerusakan yang tampak karena perbuatan tangan manusia sendiri. Larangan, akibat, dan perbuatan yang dinamai satu akar menerangkan bahwa ketiganya menyangkut satu perkara. Dua perbuatan yang disambung sebagai sebab dan akibat menuntut pembacanya menimbang hubungannya.
- Bentuk kata kerjanya berpola keempat, sehingga artinya membuat sesuatu menjadi banyak, bukan menjadi banyak sendiri. Jadi yang dinyatakan Allah perbuatan yang disengaja, bukan keadaan yang terjadi begitu saja. Perbedaan itu perlu dijaga, sebab yang disengaja bisa dituntut sedangkan yang terjadi cuma bisa disesali. Yang disengaja bisa dituntut, dan yang terjadi cuma bisa disesali, dan bentuk katanya yang menentukan yang mana.
- Huruf di depan kata kerjanya menyatakan urutan yang rapat, sehingga memperbanyak kerusakan itu menyusul melampaui batas tanpa jeda. Jadi Allah menyatakan dua perbuatan sebagai satu rangkaian sebab dan akibat, dan yang menandainya cuma satu huruf. Apa yang menghubungkan melampaui batas dengan bertambahnya kerusakan? Dua perbuatan yang disambung sebagai sebab dan akibat menuntut pembacanya menimbang hubungan antara keduanya.
- Kata ketiganya memakai kata ganti yang berbentuk perempuan tunggal, dan yang ditunjuknya negeri-negeri di 89:11. Jadi ayat ini lanjutan langsung, dan dua ayat itu satu kalimat yang dipisah menjadi dua. Jeda bacaannya karena itu jatuh di tengah kalimat, bukan di ujungnya. Kalimat yang dipisah menjadi beberapa ayat membuat jeda bacaannya jatuh di tempat yang belum selesai maknanya. Memperbanyak berbeda dari memulai, dan perbedaannya terbawa di dalam pola kata kerjanya sendiri.
Ayat 89:13
فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ
Maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cambuk azab.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍfa-shabba 'alayhim rabbuka sawtha 'adzaabinmaka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cambuk azab
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَصَبَّfa-shabbamaka Dia menimpakan
- عَلَيْهِمْ'alayhimatas mereka
- رَبُّكَrabbukaTuhanmu
- سَوْطَsawthacambuk
- عَذَابٍ'adzaabinazab
Inti bacaan
Respons tegas terhadap kerusakan yang meluas: 'maka Tuhanmu menimpakan kepada mereka cambuk azab', metafora hukuman yang berulang dan menyakitkan, konsekuensi proporsional terhadap tingkat kerusakan yang dilakukan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (سَوْطَ, sawtha) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya berarti cambuk. Ia juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini. Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan tidak ada satu pun ayat lain yang bisa dipakai untuk menerangkannya.
Ini salah satu dari dua akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan yang lain berada di 89:20. Jadi surah tiga puluh ayat ini memuat dua hapax akar sekaligus, dan keduanya berjarak tujuh ayat. Kata (سَوْطَ, sawtha) di sini disandingkan dengan azab, dan keduanya menjadi satu satuan.
Kata kerja (فَصَبَّ, fa-shabba) berasal dari akar yang berarti menuangkan. Akar itu cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 22:19, 44:48, 80:25, dan ayat ini. Di 80:25 akar itu dipakai untuk air yang dicurahkan dari langit, dan di 22:19 serta 44:48 untuk air mendidih yang dicurahkan sebagai siksa.
Jadi akar yang cuma hidup di empat ayat memikul curahan yang menghidupkan dan curahan yang menyiksa. Kesejajaran dengan 80:25 patut dicatat, sebab susunannya di sana hampir sama dengan susunan di sini, dan yang berbeda cuma apa yang dicurahkan. Bentuk (فَصَبَّ, fa-shabba) berbentuk lampau dan berpelaku Tuhanmu.
Rangkaian (سَوْطَ عَذَابٍ, sawtha 'adzaabin) menyandingkan alat pemukul dengan azab. Jadi azabnya digambarkan sebagai cambuk, bukan disebut dengan namanya sendiri. Al-Qur'an tidak menerangkan gambaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma kata yang tidak punya pembanding.
Kata (عَذَابٍ, 'adzaabin) tidak bertakrif, sehingga yang disebut sejenis azab, bukan azab yang sudah tertentu. Bandingkan dengan 89:25 yang memakai bentuk bertakrif dengan kata ganti. Jadi dua penyebutan azab di surah ini memakai dua cara penakrifan yang berbeda.
Kata (رَبُّكَ, rabbuka) muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6, dan ia muncul sekali lagi di 89:14. Jadi tiga penyebutan itu berkumpul di bagian yang menceritakan kaum-kaum terdahulu, dan tidak ada satu pun sesudah 89:14 sampai 89:22.
Huruf fa di depan (فَصَبَّ, fa-shabba) menyatakan urutan yang rapat, sehingga azab itu menyusul kerusakan tanpa jeda. Huruf yang sama dipakai di awal 89:12, sehingga dua ayat berturut-turut memakai penyambung yang sama untuk menyatakan dua akibat yang beruntun.
Kata (عَذَابٍ, 'adzaabin) berasal dari akar yang berarti menyiksa. Akar itu dipakai di 322 ayat, dan itu salah satu akar yang paling sering muncul di seluruh Al-Qur'an. Akar yang sama muncul lagi di 89:25 dua kali, sehingga ia dipakai tiga kali di dalam surah ini.
Jadi akar untuk azab muncul di dua tempat yang berjauhan di surah ini: sekali untuk azab yang menimpa kaum terdahulu dan dua kali untuk azab pada hari perhitungan. Al-Qur'an tidak menghubungkan kedua tempat itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma akarnya. Kata (عَذَابٍ, 'adzaabin) di sini tidak bertakrif, berbeda dari bentuknya di 89:25.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan akibat yang menimpa ketiga kaum tersebut: azab dari Tuhan, dan kata keempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an sementara akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, yaitu ayat ini.
Jadi ia hapax bentuk sekaligus hapax akar, dan ini salah satu dari dua akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat. Yang lain berada di 89:20, dan keduanya berjarak tujuh ayat.
Kata kerjanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 22:19, 44:48, 80:25, dan ayat ini. Di 80:25 akar itu dipakai untuk air yang dicurahkan dari langit, dan di 22:19 serta 44:48 untuk air mendidih yang dicurahkan sebagai siksa.
Jadi akar yang cuma hidup di empat ayat memikul curahan yang menghidupkan dan curahan yang menyiksa. Kesejajaran dengan 80:25 patut dicatat, sebab susunannya di sana hampir sama dengan susunan di sini, dan yang berbeda cuma apa yang dicurahkan.
Kata terakhirnya berasal dari akar yang dipakai di 322 ayat, dan akar yang sama muncul lagi di 89:25 dua kali sehingga ia dipakai tiga kali di dalam surah ini. Jadi akar untuk azab muncul di dua tempat yang berjauhan: sekali untuk azab yang menimpa kaum terdahulu dan dua kali untuk azab pada hari perhitungan. Kata untuk Tuhan muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6, dan ia muncul sekali lagi di 89:14 sebelum berhenti sampai 89:22.
Renungan dan Hikmah
- Kata keempat ayat ini muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi ia sendirian dua kali: sebagai bentuk dan sebagai akar. Ini salah satu dari dua akar di dalam surah ini yang cuma hidup di satu ayat, dan yang lain berada di 89:20, sehingga keduanya berjarak tujuh ayat. Sesuatu yang sendirian sebagai bentuk dan sebagai akar tidak punya pembanding, dan itu memusatkan perhatian padanya.
- Kata kerjanya berasal dari akar yang cuma dipakai di 4 ayat, yaitu 22:19, 44:48, 80:25, dan 89:13. Di 80:25 akar itu dipakai untuk air yang dicurahkan Allah dari langit, dan di 22:19 serta 44:48 untuk air mendidih yang dicurahkan sebagai siksa. Jadi akar yang cuma hidup di empat ayat memikul curahan yang menghidupkan dan curahan yang menyiksa. Satu akar untuk curahan yang menghidupkan dan yang menyiksa menaruh keduanya di dalam satu perbuatan.
- Rangkaian di ayat ini menyandingkan alat pemukul dengan azab. Jadi azab dari Allah digambarkan sebagai cambuk, bukan disebut dengan namanya sendiri. Al-Qur'an tidak menerangkan gambaran itu dengan satu kalimat pun, dan yang tersedia bagi pembacanya cuma kata yang tidak punya pembanding di tempat mana pun. Gambaran yang memakai kata tanpa pembanding meninggalkan pembacanya tanpa ukuran dari tempat lain. Curahan yang menghidupkan dan curahan yang menyiksa berbagi satu akar yang cuma hidup di empat ayat. Apa yang tersisa dari sebuah gambaran ketika kata yang memikulnya tidak pernah dipakai lagi di tempat mana pun?
- Kata terakhirnya tidak bertakrif, sehingga yang disebut sejenis azab, bukan azab yang sudah tertentu. Bandingkan dengan 89:25 yang memakai bentuk bertakrif dengan kata ganti. Jadi dua penyebutan azab di surah ini memakai dua cara penakrifan yang berbeda, dan Allah tidak menerangkan perbedaan itu. Dua cara penakrifan untuk satu hal menandai dua kedudukan yang berbeda, dan keduanya dipakai di dalam satu surah. Curahan yang menghidupkan dan curahan yang menyiksa berbagi satu akar yang cuma hidup di empat ayat.
- Kata untuk Tuhan muncul untuk kedua kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6, dan ia muncul sekali lagi di 89:14. Jadi tiga penyebutan itu berkumpul di bagian yang menceritakan kaum-kaum terdahulu, dan tidak ada satu pun sesudah 89:14 sampai 89:22. Allah menahan sebutan itu sesudah ceritanya selesai. Sebutan yang berkumpul di satu bagian dan berhenti sesudahnya menandai batas bagian itu tanpa kata penanda. Sesuatu yang sendirian sebagai bentuk dan sebagai akar memusatkan perhatian pada satu tempat saja.
- Huruf di depan kata kerjanya menyatakan urutan yang rapat, sehingga azab itu menyusul kerusakan tanpa jeda. Huruf yang sama dipakai Allah di awal 89:12. Jadi dua ayat berturut-turut memakai penyambung yang sama untuk menyatakan dua akibat yang beruntun, dan tidak ada satu pun jeda yang disebut di antaranya. Dua akibat yang beruntun tanpa jeda tidak menyisakan tempat untuk berhenti di antara keduanya. Sesuatu yang sendirian sebagai bentuk dan sebagai akar memusatkan perhatian pada satu tempat saja.
Ayat 89:14
إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar di tempat pengintaian.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِinna rabbaka la-bi-l-mirshaadisesungguhnya Tuhanmu benar-benar di tempat pengintaian
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- رَبَّكَrabbakaTuhanmu
- لَبِالْمِرْصَادِla-bi-l-mirshaadibenar-benar di tempat pengintaian
Inti bacaan
Jaminan pengawasan yang tak pernah lengah: 'sesungguhnya Tuhanmu benar-benar di tempat pengintaian', penegasan bahwa keadilan selalu siaga, tidak ada yang bisa lolos dari perhatian yang konstan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (لَبِالْمِرْصَادِ, la-bi-l-mirshaadi) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya berarti mengintai. Ia cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 9:5, 9:107, 72:9, 72:27, 78:21, dan ayat ini, sehingga ia salah satu akar yang jarang dipakai.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 78:21 akar yang sama dipakai untuk Jahanam yang disebut sebagai tempat pengintaian. Jadi satu akar menyebut tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Yang berfirman sendiri. Al-Qur'an tidak menunjuk kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Kata (لَبِالْمِرْصَادِ, la-bi-l-mirshaadi) di sini menyebut kedudukan, bukan perbuatan.
Di 72:9 dan 72:27 akar itu dipakai untuk penjaga yang diawasi dan yang mengawasi, dan di 9:5 untuk duduk mengintai di tiap tempat pengintaian. Jadi akar ini memikul mengintai, menunggu, dan mengawasi, dan ketiganya berbagi gambaran menanti di tempat yang dilewati. Kata (الْمِرْصَادِ, al-mirshaadi) di sini berpola tempat, bukan pola perbuatan.
Bentuk (لَبِالْمِرْصَادِ, la-bi-l-mirshaadi) memikul dua huruf tambahan sekaligus, yaitu huruf penegas dan huruf yang menyatakan berada di. Bersama huruf inna di awal ayat, susunannya memuat tiga penanda penegasan di dalam satu ayat yang cuma tiga kata.
Jadi ayat ini yang paling padat penegasannya di dalam surah ini. Susunan berlapis seperti itu dipakai di 89:23 dengan cara yang berbeda, dan di kedua tempat itu yang dikuatkan sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan mata.
Kata (رَبَّكَ, rabbaka) muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6 dan 89:13. Jadi ayat ini menutup rangkaian tiga penyebutan itu, dan sesudahnya Allah disebut dengan bentuk yang berbeda-beda sampai ujung surahnya.
Ayat ini menutup sembilan ayat tentang kaum-kaum terdahulu, dan sesudahnya 89:15 berpindah kepada manusia secara umum. Jadi ceritanya ditutup bukan dengan menyebut kebinasaan mereka melainkan dengan menyatakan sifat Yang mengawasi, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu.
Bentuk (الْمِرْصَادِ, al-mirshaadi) berpola tempat, sehingga ia menyebut tempat mengintai, bukan perbuatan mengintai. Jadi yang dinyatakan kedudukan-Nya, bukan perbuatan-Nya. Bahasa Indonesia menahannya dengan "di tempat pengintaian", memakai kata tempat untuk menahan pola tempat yang sama.
Kata (إِنَّ, inna) huruf penegas, dan ia dipakai lagi di 89:23 pada surah ini. Jadi dua ayat di surah ini memakai huruf itu, dan keduanya berada di ayat yang menyatakan sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan mata: yang di sini kedudukan Yang mengawasi, dan yang di sana keadaan pada hari itu.
Ayat ini cuma tiga kata, sedangkan ayat sebelumnya lima kata dan ayat sesudahnya lima belas kata. Jadi ia berdiri di antara dua ayat yang jauh lebih panjang, dan kependekannya membuatnya menonjol tanpa perlu ditandai dengan kata apa pun. Bentuk (إِنَّ, inna) mendahuluinya, dan keduanya bekerja pada arah yang sama.
Tafsiran
Ayat ini menutup kisah peringatan dengan penegasan bahwa Tuhan senantiasa mengawasi, dan kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 9:5, 9:107, 72:9, 72:27, 78:21, dan ayat ini.
Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 78:21 akar yang sama dipakai untuk Jahanam yang disebut sebagai tempat pengintaian. Jadi satu akar menyebut tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Yang berfirman sendiri.
Di 72:9 dan 72:27 akar itu dipakai untuk penjaga yang diawasi dan yang mengawasi, dan di 9:5 untuk duduk mengintai di tiap tempat pengintaian. Jadi akar ini memikul mengintai, menunggu, dan mengawasi, dan ketiganya berbagi gambaran menanti di tempat yang dilewati.
Ayat ini menutup sembilan ayat tentang kaum-kaum terdahulu, dan sesudahnya 89:15 berpindah kepada manusia secara umum. Jadi ceritanya ditutup bukan dengan menyebut kebinasaan mereka melainkan dengan menyatakan sifat Yang mengawasi.
Ayat ini cuma tiga kata, sedangkan ayat sebelumnya lima kata dan ayat sesudahnya lima belas kata. Jadi ia berdiri di antara dua ayat yang jauh lebih panjang, dan kependekannya membuatnya menonjol tanpa perlu ditandai dengan kata apa pun di dalam teksnya. Huruf di awal ayat dipakai lagi di 89:23, dan keduanya berada di ayat yang menyatakan sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan mata.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 6 ayat, yaitu 9:5, 9:107, 72:9, 72:27, 78:21, dan 89:14. Di 78:21 akar yang sama dipakai untuk Jahanam yang disebut sebagai tempat pengintaian. Jadi satu akar menyebut tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Allah sendiri. Satu akar untuk tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Allah menaruh keduanya di dalam satu kata.
- Kata terakhirnya memikul dua huruf tambahan sekaligus, dan bersama huruf di awal ayat susunannya memuat tiga penanda penegasan di dalam satu ayat yang cuma tiga kata. Jadi ayat ini yang paling padat penegasannya di dalam surah ini, dan yang dikuatkan Allah sesuatu yang tidak bisa diperiksa dengan mata. Tiga penanda penegasan di dalam tiga kata membuat ayatnya paling padat, dan kepadatan itu jatuh pada yang tak terlihat. Tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Yang mengawasi berbagi satu akar yang langka.
- Bentuk kata terakhirnya berpola tempat, sehingga ia menyebut tempat mengintai, bukan perbuatan mengintai. Jadi yang dinyatakan kedudukan Allah, bukan perbuatan-Nya. Terjemahannya memakai kata tempat untuk menahan pola tempat yang sama, dan menggantinya dengan kata perbuatan akan mengubah pernyataan tetap menjadi kejadian. Menyebut kedudukan berbeda dari menyebut perbuatan, sebab yang pertama tetap dan yang kedua bisa berhenti.
- Di 72:9 dan 72:27 akar kata terakhirnya dipakai Allah untuk penjaga yang diawasi dan yang mengawasi, dan di 9:5 untuk duduk mengintai di tiap tempat pengintaian. Jadi akar ini memikul mengintai, menunggu, dan mengawasi, dan ketiganya berbagi gambaran menanti di tempat yang pasti dilewati. Menanti di tempat yang pasti dilewati berbeda dari mencari, sebab yang pertama tidak menuntut usaha sama sekali. Tempat pengintaian yang berupa neraka dan kedudukan Yang mengawasi berbagi satu akar yang langka.
- Kata untuk Tuhan muncul untuk ketiga kalinya di dalam surah ini sesudah 89:6 dan 89:13. Jadi ayat ini menutup rangkaian tiga penyebutan itu, dan sesudahnya Allah disebut dengan bentuk yang berbeda-beda sampai ujung surahnya. Tiga penyebutan itu seluruhnya berada di bagian yang menceritakan kaum terdahulu. Sebutan yang muncul tiga kali lalu berhenti menandai batas sebuah bagian tanpa satu kata penanda pun. Menutup kisah dengan sifat Yang mengawasi meninggalkan pembacanya pada kedudukan-Nya, bukan pada nasib pelakunya.
- Ayat ini menutup sembilan ayat tentang kaum-kaum terdahulu, dan ceritanya ditutup Allah bukan dengan menyebut kebinasaan mereka melainkan dengan menyatakan sifat-Nya sendiri. Apa yang berubah pada sebuah kisah peringatan ketika yang tinggal di ujungnya bukan nasib pelakunya melainkan kedudukan Yang mengawasi? Menutup kisah dengan sifat Yang mengawasi meninggalkan pembacanya pada kedudukan-Nya, bukan pada nasib pelakunya. Menutup kisah dengan sifat Yang mengawasi meninggalkan pembacanya pada kedudukan-Nya, bukan pada nasib pelakunya.