وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ
Dan kaum Samud yang memahat batu-batu besar di lembah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِwa-tsamuuda lladziina jaabuu sh-shakhra bi-l-waadidan kaum Samud yang memahat batu-batu besar di lembah
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَثَمُودَwa-tsamuudadan Tsamud
- الَّذِينَlladziinaorang-orang yang
- جَابُواjaabuumereka memahat
- الصَّخْرَsh-shakhrabatu
- بِالْوَادِbi-l-waadidi lembah
Inti bacaan
Contoh kedua peradaban maju: 'dan kaum Tsamud yang memahat batu-batu besar di lembah', kemampuan teknis luar biasa dalam mengukir batu, keahlian yang tidak menyelamatkan mereka dari konsekuensi penolakan kebenaran.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الصَّخْرَ, ash-shakhra) berasal dari akar yang berarti batu besar. Akar itu cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:63, 31:16, dan ayat ini. Jadi ia salah satu akar yang paling jarang dipakai di seluruh Al-Qur'an.
Di 18:63 akar itu dipakai untuk batu tempat berteduh di dalam perjalanan Musa, dan di 31:16 untuk batu yang menyembunyikan sesuatu sekecil biji sawi sekalipun. Jadi akar yang sama menyebut batu tempat berlindung, batu yang menyembunyikan, dan di sini batu yang dipahat menjadi tempat tinggal. Kata (الصَّخْرَ, ash-shakhra) di sini menyebut batu yang dipahat, bukan tempat berteduh.
Kata (بِالْوَادِ, bi-l-waadi) muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:12, 79:16, dan 89:9. Yang paling perlu diperhatikan adalah bahwa di 20:12 dan 79:16 kata itu menyebut lembah suci tempat Musa disapa, sedangkan di sini ia menyebut lembah tempat sebuah kaum memahat batu.
Jadi satu kata yang cuma muncul di tiga tempat memikul lembah tempat wahyu diterima dan lembah tempat kaum yang binasa tinggal. Al-Qur'an tidak menunjuk pertentangan itu dengan satu kalimat pun, dan yang menyambungkannya cuma bentuk yang berulang tanpa diubah. Kata (بِالْوَادِ, bi-l-waadi) menyertainya, dan keduanya menyebut tempat yang sama.
Bentuk (بِالْوَادِ, bi-l-waadi) kehilangan huruf terakhirnya, sama seperti bentuk kata kerja di 89:4. Jadi dua ayat di surah ini memakai bentuk yang dipendekkan demi menjaga rima, dan penghilangan itu tidak mengubah maknanya sama sekali.
Kata kerja (جَابُوا, jaabuu) berasal dari akar yang berarti melubangi dan memahat. Akar itu dipakai di 41 ayat, dan di hampir seluruh pemakaian lainnya akar itu memberi kata untuk menjawab atau memenuhi seruan, antara lain di 2:186, 8:24, dan 13:18. Cuma di ayat ini ia berarti memotong dan menembus.
Jadi akar yang di seluruh Al-Qur'an hampir selalu menyebut jawaban atas seruan, di sini menyebut pemahatan batu. Yang menyatukan keduanya gambaran menembus sesuatu sampai ke seberangnya, sebab yang menjawab menembus jarak antara yang menyeru dan yang diseru. Bentuk (جَابُوا, jaabuu) berbentuk lampau dan berorang ketiga jamak.
Nama kaum di awal ayat tidak berakar menurut morfologi, sama seperti nama di 89:7. Jadi dua nama diri di dalam surah ini sama-sama berdiri tanpa keluarga kata, dan keduanya nama kaum yang dibinasakan. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun.
Kata (جَابُوا, jaabuu) berbentuk lampau dan berorang ketiga jamak, sehingga yang disebut perbuatan yang sudah selesai dan dikerjakan bersama-sama. Bentuk yang sama dipakai di 89:11 dan 89:12, sehingga tiga kata kerja di bagian ini seluruhnya menyebut perbuatan bersama, bukan perbuatan perorangan.
Nama kaum di awal ayat berbaris fathah meskipun kedudukannya menuntut kasrah, sama seperti nama di 89:7 dan 89:10. Jadi tiga nama diri di dalam surah ini seluruhnya menyimpang dari aturan baris yang berlaku bagi kata benda biasa, dan penyimpangan itu memang lazim bagi nama diri tertentu.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan peringatan historis dengan kaum Samud, dan kata keempatnya berasal dari akar yang cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:63, 31:16, dan ayat ini.
Di 18:63 akar itu dipakai untuk batu tempat berteduh di dalam perjalanan Musa, dan di 31:16 untuk batu yang menyembunyikan sesuatu sekecil biji sawi sekalipun. Jadi akar yang sama menyebut batu tempat berlindung, batu yang menyembunyikan, dan di sini batu yang dipahat menjadi tempat tinggal.
Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:12, 79:16, dan 89:9. Di 20:12 dan 79:16 kata itu menyebut lembah suci tempat Musa disapa, sedangkan di sini ia menyebut lembah tempat sebuah kaum memahat batu.
Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 41 ayat, dan di hampir seluruh pemakaian lainnya akar itu memberi kata untuk menjawab atau memenuhi seruan, antara lain di 2:186, 8:24, dan 13:18. Cuma di ayat ini ia berarti memotong dan menembus, dan yang menyatukan keduanya gambaran menembus sampai ke seberang.
Kata kerjanya berbentuk lampau dan berorang ketiga jamak, sehingga yang disebut perbuatan yang sudah selesai dan dikerjakan bersama-sama. Bentuk yang sama dipakai di 89:11 dan 89:12, sehingga tiga kata kerja di bagian ini seluruhnya menyebut perbuatan bersama, bukan perbuatan perorangan. Kata terakhirnya kehilangan huruf terakhirnya, sama seperti bentuk kata kerja di 89:4, sehingga dua ayat di surah ini memakai bentuk yang dipendekkan demi menjaga rima.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 3 kali di 3 surah, yaitu di 20:12, 79:16, dan 89:9. Di 20:12 dan 79:16 kata itu menyebut lembah suci tempat Musa disapa Allah, sedangkan di sini ia menyebut lembah tempat sebuah kaum memahat batu. Jadi satu kata yang cuma muncul di tiga tempat memikul lembah tempat wahyu diterima dan lembah tempat kaum yang binasa tinggal. Satu kata untuk lembah wahyu dan lembah kaum yang binasa menaruh keduanya di dalam satu bentuk tanpa keterangan.
- Kata kerjanya berasal dari akar yang dipakai di 41 ayat, dan di hampir seluruh pemakaian lainnya akar itu memberi kata untuk menjawab atau memenuhi seruan Allah, antara lain di 2:186, 8:24, dan 13:18. Cuma di ayat ini ia berarti memotong dan menembus, dan yang menyatukannya gambaran menembus sesuatu sampai ke seberangnya. Akar yang biasanya menjawab seruan dan sekali memahat batu menyatukan keduanya lewat gambaran menembus. Akar yang biasanya menjawab dan sekali memahat menyatukan keduanya lewat gambaran menembus.
- Kata keempatnya berasal dari akar yang cuma dipakai di 3 ayat, yaitu 18:63, 31:16, dan 89:9. Di 18:63 akar itu dipakai untuk batu tempat berteduh, dan di 31:16 untuk batu yang menyembunyikan sesuatu sekecil biji sawi sekalipun dari pengetahuan orang, tetapi tidak dari Allah. Jadi akar yang sama menyebut tempat berlindung dan tempat bersembunyi. Akar yang cuma hidup di tiga ayat memusatkan gambarannya, dan tiap pemakaiannya menerangkan yang lain.
- Nama kaum di awal ayat tidak berakar menurut morfologi, sama seperti nama di 89:7. Jadi dua nama diri di dalam surah ini sama-sama berdiri tanpa keluarga kata, dan keduanya nama kaum yang dibinasakan Allah. Al-Qur'an tidak menerangkan hal itu dengan satu kalimat pun, dan yang bisa dicatat cuma bahwa keduanya sejajar. Dua nama tanpa keluarga kata yang keduanya kaum yang binasa berdiri sejajar tanpa satu kalimat yang menyatakannya. Lembah wahyu dan lembah kaum yang binasa berbagi satu kata tanpa satu kalimat yang menghubungkan.
- Kata terakhirnya kehilangan huruf terakhirnya, sama seperti bentuk kata kerja di 89:4. Jadi dua ayat di surah ini memakai bentuk yang dipendekkan demi menjaga rima, dan penghilangan itu tidak mengubah maknanya sama sekali. Bunyi surahnya karena itu dijaga bahkan dengan mengorbankan bentuk penuh sebuah kata. Rima yang dijaga sampai mengorbankan bentuk penuh sebuah kata menyatakan bahwa bunyi bagian dari susunannya. Lembah wahyu dan lembah kaum yang binasa berbagi satu kata tanpa satu kalimat yang menghubungkan.
- Yang disebut Allah tentang kaum ini apa yang mereka kerjakan atas batu, sama seperti kaum sebelumnya dikenalkan lewat tiang yang mereka dirikan. Jadi dua kaum berturut-turut dikenalkan lewat bangunan, bukan lewat kepercayaan mereka. Apa yang membuat sebuah kaum lebih dikenang lewat batu yang mereka pahat daripada lewat apa yang mereka yakini? Dikenang lewat batu yang dipahat menaruh seluruh keterangan pada apa yang tersisa, bukan pada apa yang diyakini.